Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Fenomena El Nino ‘Godzilla’ akan menguat di bulan April-Oktober 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Ancaman kekeringan dan kebakaran lahan kian mengintai.
Anomali pemanasan suhu permukaan yang sangat signifikan menjadi salah satu kejadian krisis iklim yang makin sering kita rasakan. Kejadian lingkungan tak pernah berhenti selama aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan dan sikap serakah terus terjadi. Bulan Maret ini banyak kejadian bagaimana kejadian alam tak lepas dari hubungannya dengan manusia.
Salah satunya, spesies ular beludak di Gunung Muria yang terancam akibat minimnya pengetahuan masyarakat terkait karakternya. Alih-alih berbahaya dan mengancam, ular ini justru pengendali ekosistem yang baik. Selain itu, kita juga akan menceritakan tentang kerbau yang memiliki kemampuan unik. Salah satunya, kerbau rawa di Kalimantan Selatan. Berbeda dengan kebiasaannya untuk membajak sawah, kerbau ini ternyata juga mampu menyelam.
Ada juga laporan investigasi yang mengungkap terkait kerugian negara akibat praktik tambang emas ilegal. Perputaran uang dari aktivitas ini mencapai Rp 992 Triliun atau mendekati seperempat APBN. Sementara itu, di industri perikanan, praktik kerja paksa masih ditemukan dalam rantai produksi tuna.
Selain cerita permasalahan lingkungan, ada cerita baik dari Jambi tentang perempuan-perempuan Komunitas Batin Sembilan yang merawat pengetahuan tentang pengobatan alami dari hutan. Ini tak hanya bicara tradisi, tapi ini upaya mereka mempertahankan hubungan mereka dengan alam.
Berikut lima artikel dalam bulan Maret dengan pembaca terbanyak melalui kurasi editorial:
1. Ular beludak, penjaga ekosistem Gunung Muria

Ular beludak di Gunung Muria kerap dianggap sebagai satwa berbahaya yang harus dihindari atau dibunuh saat bertemu manusia. Persepsi ini membuat keberadaannya sering terancam, meskipun ular tersebut memiliki peran penting dalam ekosistem.
Sebagai predator alami, ular beludak membantu mengendalikan populasi hewan kecil seperti tikus dan kadal yang berpotensi menjadi hama. Peran ini menjadikan ular beludak bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungan sekitar.
Namun, minimnya pemahaman masyarakat terhadap perilaku ular yang cenderung tidak agresif memperkuat stigma negatif. Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi agar keberadaan satwa liar tidak terus terancam dan fungsi ekologisnya tetap terjaga.
2. Kerbau rawa: perenang tangguh se-ASEAN

Kerbau rawa dikenal sebagai satwa dengan kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan perairan, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Hewan ini mampu berenang dalam jarak jauh bahkan menyelam, menjadikannya sangat cocok hidup di ekosistem rawa yang tergenang air.
Kemampuan tersebut didukung oleh karakteristik fisik dan kebiasaan berendam untuk menjaga suhu tubuh. Adaptasi ini menunjukkan hubungan erat antara kerbau rawa dengan habitatnya, sekaligus menegaskan perannya dalam sistem lingkungan perairan.
Selain sebagai bagian dari keanekaragaman hayati, kerbau rawa juga memiliki nilai penting bagi manusia, baik sebagai sumber pangan maupun penopang aktivitas ekonomi masyarakat. Hal ini memperlihatkan bahwa keberadaan satwa ini tidak hanya terkait aspek ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi.
3. Cerita perempuan Batin Sembilan menjaga pengetahuan obat tradisional

Perempuan dari komunitas adat Batin Sembilan di Jambi mempertahankan pengetahuan obat tradisional yang bersumber dari hutan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbagai tanaman seperti pasak bumi, daun kandis, hingga kulit kayu dimanfaatkan untuk pengobatan keluarga sekaligus kebutuhan ritual adat.
Pengetahuan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan berkaitan erat dengan keberadaan hutan sebagai ruang hidup sekaligus sumber kesehatan masyarakat. Melalui kelompok tani hutan, mereka juga terlibat dalam pengelolaan kawasan hutan secara kolektif dengan skema kemitraan kehutanan.
Namun, perubahan lingkungan serta menyempitnya ruang hutan membuat pengetahuan ini mulai berkurang, terutama di kalangan generasi muda yang semakin jarang berinteraksi langsung dengan hutan. Kondisi ini mendorong perempuan Batin Sembilan untuk terus menjaga hutan sebagai bagian dari keberlanjutan hidup dan budaya mereka.
4. Jejaring aliran dana di balik tambang emas ilegal

Praktik tambang emas ilegal di Indonesia menunjukkan perputaran ekonomi yang sangat besar dengan nilai mendekati Rp1.000 triliun. Aktivitas ini tersebar di berbagai wilayah dan melibatkan jaringan yang luas, dari proses penambangan hingga distribusi hasil tambang.
Aliran dana dari tambang ilegal tidak hanya beredar di dalam negeri, tetapi juga mengalir ke luar negeri seperti Singapura, Thailand, hingga Amerika Serikat. Temuan ini mengindikasikan adanya transaksi mencurigakan serta potensi pencucian uang dalam rantai bisnis tersebut.
Besarnya nilai perputaran uang menunjukkan bahwa tambang emas ilegal bukan sekadar aktivitas individu, melainkan bagian dari sistem yang terorganisir dan melibatkan banyak pihak dalam satu jaringan ekonomi tersembunyi.
5. Eksploitasi pekerja di balik industri tuna

Laporan investigasi mengungkap adanya praktik kerja paksa dalam industri tuna Indonesia yang terhubung dengan pasar Australia. Temuan ini menunjukkan bahwa eksploitasi terjadi terhadap puluhan awak kapal perikanan melalui pola seperti jeratan utang, penipuan dalam perekrutan, serta penyalahgunaan kondisi ekonomi pekerja.
Para awak kapal bekerja dalam kondisi tidak manusiawi, dengan jam kerja mencapai 15–18 jam per hari dan berbulan-bulan berada di laut tanpa kepastian upah maupun akses komunikasi. Situasi ini diperparah oleh penahanan dokumen serta kontrol penuh dari pemilik kapal terhadap pekerja selama di laut.
Hasil tangkapan dari praktik tersebut masuk ke rantai pasok global melalui perusahaan pengolahan di Indonesia yang mengekspor produk tuna ke Australia. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan kerja paksa bukan hanya terjadi di tingkat lokal, tetapi juga berkaitan dengan sistem industri dan perdagangan internasional.
(*****)
*Kadek Dian Dwiyanti Hapsari adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dian memiliki ketertarikan pada isu-isu lingkungan dan seringkali terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang tersebut.

