- Ular beludak dengan nama latin Craspedocephalus puniceus merupakan bagian dari ekosistem Gunung Muria yang harus dijaga.
- Ular ini sering berada di kebun kopi. Ular beludak berfungsi sebagai predator alami, tidak agresif, dan lebih mengandalkan kamuflase, untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
- Dalam kondisi terancam, ular ini akan membentuk tubuhnya seperti huruf S, posisi khas sebelum meluncurkan serangan cepat. Reaksi ini bukan bentuk agresi, melainkan mekanisme pertahanan diri.
- Tidak semua pertemuan dengan ular harus berakhir dengan evakuasi. Jika ular ditemukan di dalam kawasan hutan, maka lebih baik ular dibiarkan hidup di habitatnya.
Di antara kebun kopi yang berbatasan dengan hutan di lereng Gunung Muria, Jawa Tengah, Setyawan Rahayu (38) kerap melihat ular beludak. Menurut dia, ular dengan nama latin Craspedocephalus puniceus ini merupakan bagian dari ekosistem yang harus dijaga, meski di kalangan masyarakat luas dianggap ancaman.
Setyawan aktif di NGO lokal Peka Muria. Kegiatannya yang sering keluar masuk hutan, membuat pertemuannya dengan jenis ini tidak dapat dihindari.
“Posisi ularnya di kebun kopi, di bawah tegakan pohon besar batas hutan,” ujar lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Selasa (17/3/2026).

Lahan kopi tersebut tumbuh di bawah naungan pohon-pohon tinggi. Di ruang inilah batas ekologi jadi samar. Hutan belum benar-benar berakhir dan kebun belum sepenuhnya terpisah dari kehidupan liar di dalamnya.
Bagi para petani kopi, kondisi tersebut menghadirkan konsekuensi, perjumpaan dengan satwa liar, termasuk ular beludak.
Namun yang berubah adalah cara mereka merespons. Jika sebelumnya ular dianggap ancaman yang harus segera dibunuh, sebagian petani kini mencari jalan lain.
“Kalau ada ular, biasanya mereka menghubungi saya untuk dievakuasi, bukan dibunuh.”
Kepercayaan itu tumbuh perlahan, seiring pendekatan yang dilakukan Setyawan, melalui edukasi dan pendampingan. Dia tak hanya datang untuk menangkap ular, namun juga menjelaskan perannya dalam ekosistem.

Ular hidup di hutan
Bagi Setyawan, tidak semua pertemuan dengan ular harus berakhir dengan evakuasi. Jika ular ditemukan di dalam kawasan hutan, dia memilih untuk membiarkannya tetap berada di habitatnya.
Tetapi, berbeda jika ular muncul di kebun atau dekat permukiman. Risiko bagi manusia jadi pertimbangan utama, sehingga evakuasi dilakukan untuk meminimalisir konflik.
Dalam satu perjumpaan, dia melihat dua ekor ular beludak dalam jarak kurang tiga meter. Keduanya berdiam di bawah lapisan daun kering, nyaris tak terlihat.
“Kamuflasenya bagus banget. Kalau tidak fokus, bisa terinjak.”
Ukuran ular tersebut sekitar 60 cm, dengan diameter tubuh setara dua jari orang dewasa. Warna tubuhnya menyatu dengan lantai hutan.
Setyawan menduga, keduanya jantan dan betina. Ular beludak dikenal punya sifat teritorial, sehingga keberadaan dua ekor dalam jarak dekat sering dikaitkan dengan perilaku kawin.
Walau termasuk ular berbisa dari keluarga Viperidae, dia melihat ular bertaring panjang berlubang ini bukan reptil agresif. Lebih banyak mengandalkan kamuflase untuk bertahan hidup.
“Karakternya cenderung diam. Jika terganggu atau mau ditangkap, akan menyerang.”

Dalam kondisi terancam, Setyawan melihat ular ini akan membentuk tubuhnya seperti huruf S, posisi khas sebelum meluncurkan serangan cepat. Reaksi ini bukan bentuk agresi, melainkan mekanisme pertahanan diri.
Sebagai pegiat konservasi, dia berada di garis tipis antara keselamatan manusia dan kelestarian satwa.
“Harus memastikan keduanya bisa berjalan seimbang.”
Tidak semua ular yang ditangani langsung dilepas. Dalam beberapa kasus, terutama bila kondisi ular tidak memungkinkan, Setyawan memilih merawat sementara. Sebagian ular juga dimanfaatkan untuk kebutuhan edukasi pelajar atau masyarakat, agar dipahami lebih nyata.
Ular beludak misalnya, lebih aktif malam hari dan istirahat siang hari.
“Makannya tikus, kadal, dan burung kecil.”
Peran ini penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Tanpa predator seperti ular, populasi hewan kecil di lereng Gunung Muria bisa meningkat dan berdampak pada perkebunan kopi.

Bisa hemotoksik dan dampaknya
Bisa ular beludak tergolong hemotoksik, yakni menyerang pada peredaran darah. Efeknya juga bervariasi, mulai jumlah bisa yang masuk hingga kondisi tubuh korban.
Ganjar Cahyadi, Anggota Penggalang Herpetologi Indonesia yang juga Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung (ITB), punya pengalaman menarik saat melakukan pendampingan penelitian di lapangan.
Rekannya pernah digigit ular jenis pit viper saat kondisi darurat di tepi sungai.
“Beberapa jam setelah gigitan, jarinya langsung bengkak. Besoknya membiru, dan keluar cairan bening,” katanya, Selasa (17/3/2026).
Kasus ini menunjukkan bagaimana bisa bekerja secara lokal, menyebabkan pembengkakan dan kerusakan jaringan di sekitar area gigitan. Namun, tingkat keparahan tidak selalu sama.
“Respons setiap orang berbeda. Ada yang lebih parah karena faktor alergi atau kondisi imun.”
Dibandingkan dengan Naja, Ganjar sebut efek gigitan viper tidak secepat racun neurotoksik. Gigitan tetap harus dianggap serius dan memerlukan penanganan medis. Ular beludak hanyalah satu dari banyak spesies dalam kelompok pit viper di Indonesia.
Kelompok ini termasuk dalam subfamili yang punya ciri khas berupa organ sensor panas di antara mata dan lubang hidung.
“Lubang itu disebut pit. Fungsinya untuk mendeteksi panas tubuh mangsa,” katanya.

Spesies pit viper tersebar luas di berbagai wilayah, mulai Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara. Indonesia bahkan jadi pusat keanekaragaman kelompok ini di Asia Tenggara.
Dalam kajian filogenik yang dilakukan Bagus Priambodo (2018), pit viper di Asia -termasuk Indonesia-menunjukkan keragaman genetik tinggi dan hubungan evolusi yang kompleks. Ini menegaskan posisi Indonesia dengan 721 jenis reptil yang tercatat, sebagai pusat keragaman kelompok ini di Asia Tenggara, juga dalam konteks penelitian herpetologi global.
Selain pit viper, terdapat pula jenis viper lain yang tidak punya organ, seperti Daboia russelii di wilayah Nusa Tenggara.
Refrensi:
Priambodo, B., Kurniawan, N., & Liu, F.-G. R. (2018). Phylogeography Study Of Asian Pit Vipers In Indonesia Using Mitochondrial Genes (16S rRNA & ND4) And Nuclear Genes (7IβFIB & 3ITBP). Universitas Brawijaya. Brawijaya. https://repository.ub.ac.id/id/eprint/195724/
*****
Inilah Ular Beludak Eropa yang Tangguh, Spesies Ular yang Hidup Paling Utara di Dunia