Pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar orang masih terlelap, para nelayan kepiting bakau di Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, sudah bersiap menyusuri kawasan mangrove. Waktu keberangkatan mereka bukan ditentukan oleh jam kerja, melainkan oleh pasang surut air laut. Sebab, kemunculan kepiting bakau sangat bergantung pada siklus alam tersebut.
Bagi para pencari kepiting, pekerjaan ini adalah perpaduan antara pengalaman, ketekunan, dan keberuntungan. “Dibilang gampang susah, dibilang susah kadang gampang,” ungkap Udin, seorang nelayan yang telah lima tahun menggantungkan hidup dari mencari kepiting bakau. Saat musim sedang baik, mereka harus mengejar waktu pasang dengan berangkat sebelum fajar. Setelah beberapa jam berburu, hasil tangkapan langsung dibawa ke pengepul sebelum dijual ke pasar.
Pendapatan yang diperoleh pun tidak selalu pasti. Harga kepiting berfluktuasi mengikuti ketersediaan di lapangan. Ketika hasil tangkapan melimpah, harga justru cenderung turun. Sebaliknya, saat kepiting sulit ditemukan, nilainya bisa meningkat. Untuk ukuran besar, harga jual dapat mencapai sekitar Rp80.000 per kilogram ketika kondisi pasar sedang baik, namun bisa turun hingga kisaran Rp60.000-Rp70.000 saat pasokan berlimpah.
Di balik aktivitas ekonomi tersebut, ada satu hal yang dianggap jauh lebih penting oleh para nelayan: keberadaan hutan mangrove. Mereka meyakini mangrove bukan sekadar pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga habitat utama bagi kepiting bakau untuk berlindung dan berkembang biak.
Kesadaran itu semakin menguat setelah bencana banjir besar yang terjadi pada 2018 merusak kawasan pesisir Panimbang. Tanggul-tanggul tambak hancur dan kondisi mangrove mengalami kerusakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar. Sejak saat itu, warga berinisiatif melakukan penanaman kembali mangrove sebagai upaya memulihkan ekosistem sekaligus menjaga sumber penghidupan mereka.
Harapan mereka kini tertuju pada dukungan yang lebih besar dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk bantuan bagi nelayan maupun perluasan program penanaman mangrove. Dengan kawasan mangrove yang terus bertambah, mereka percaya tanggul akan lebih kuat menghadapi ancaman abrasi, sementara populasi kepiting bakau dapat terus terjaga.




