Sumatera Selatan merupakan rumah besar bagi dua jenis owa, yakni siamang dan ungko. Belum ada perkiraan data populasi mereka di Sumatera Selatan, namun mereka diketahui hidup di dataran tinggi di Bukit Barisan, hingga dataran rendah di lanskap lahan basah Sungai Musi.
Hingga saat ini, ada 29 individu owa —terdiri 28 owa siamang dan satu owa ungko— dirawat di PRS Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan. Tempat rehabilitasi ini dikelola The Aspinall Foundation sejak 2022, yang sejauh ini telah melepasliarkan sekitar 40 individu siamang.
Mayoritas siamang yang dievakuasi ke PRS Punti Kayu memiliki latar belakang yang sama, yakni bekas peliharaan warga yang diserahkan sukarela maupun hasil sitaan. Mirisnya, empat individu sitaan tersebut masih bayi berumur sekitar satu tahun.
Pola asuh siamang pun cukup unik. Peran utama merawat anak akan bergeser dari induk betina ke induk jantan seiring bertambahnya usia anak. Selama rentang usia satu hingga dua tahun, induk betina dan jantan bergantian melakukan perawatan.
Anakan siamang bekas peliharaan juga membutuhkan waktu rehabilitasi cukup lama, dibandingkan siamang lain yang tidak dipelihara manusia. Sebelum dilepasliarakan ke alam, harus dipastikan insting alaminya sudah benar-benar kembali. Sehingga, peluang hidup mereka di hutan lebih besar.
Sebelum PRS Punti Kayu aktif melakukan rehabilitasi satwa bersama The Aspinall Foundation, sejumlah owa hasil serahan sempat ditranslokasikan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi di Air Jangkang, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung.
Hingga kini, masih ada tiga individu owa di kandang perawatan PPS Alobi. Ketiganya sudah dirawat sejak 2019, atau sekitar tujuh tahun. Semuanya tergolong sehat, termasuk ungko bernama Mong, yang berhasil melewati operasi pengangkatan peluru senapan angin yang bersarang di belakang telinga kanannya.
Siamang dan ungko merupakan satwa dilindungi berstatus Genting (Endangered/EN), menurut Daftar Merah IUCN. Mereka punya peran penting menjaga keseimbangan dan kesehatan ekosistem hutan.
*****




