- Perempuan pesisir di Desa Paremas dan Sugian, Lombok Timur, menghadapi dampak nyata perubahan iklim berupa cuaca ekstrem, musim ikan yang sulit diprediksi, hingga hasil tangkapan nelayan yang terus menurun. Kondisi ini membuat ekonomi rumah tangga nelayan semakin rentan dan memaksa perempuan mengambil peran lebih besar menjaga keberlangsungan keluarga.
- Ketidakpastian cuaca dan meningkatnya biaya melaut membuat banyak keluarga nelayan terjerat utang, bahkan sebagian laki-laki memilih merantau menjadi pekerja migran. Dalam situasi tersebut, perempuan menjadi pihak yang paling banyak memikul beban ganda: mengurus rumah tangga sekaligus mencari cara agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
- Sebagai bentuk adaptasi terhadap krisis iklim, perempuan pesisir mulai mengolah hasil dan limbah laut menjadi produk bernilai tambah. Harniati mengubah cangkang kepiting menjadi kerupuk aneka rasa, sementara Nurhasunah bersama kelompok perempuan lain memproduksi abon, kerupuk ikan, bakso ikan, hingga sambal tuna untuk menjaga pemasukan saat suami tak bisa melaut.
- Akademisi menilai inovasi perempuan pesisir ini sebagai bentuk resiliensi terhadap perubahan iklim. Namun, upaya mereka masih terkendala keterbatasan modal, alat produksi, akses pasar, hingga beban kerja domestik. Meski begitu, perempuan pesisir Lombok membuktikan bahwa ketahanan iklim tidak hanya lahir dari kebijakan besar, tetapi juga dari kreativitas dan kerja kolektif di tingkat rumah tangga.
Angin laut berhembus halus membawa aroma asin laut pesisir Dusun Kuranji, Desa Paremas, Kabupaten Lombok Timur, pada Selasa (31/3/26) pagi. Di tepian dermaga sederhana, beberapa perempuan berdiri menatap laut, menunggu perahu-perahu kecil setelah semalaman melaut.
Harniati berdiri dengan keranjang di tangan. Matanya menatap ke kejauhan, mencari siluet perahu suaminya di antara riak gelombang pagi. Dia hafal betul ritme laut, kapan ombak ramah, kapan angin berubah arah, kapan langit memberi tanda hujan tetapi beberapa tahun terakhir, semua itu terasa berbeda.
“Sekarang susah ditebak. Kadang cuaca bagus waktu berangkat, tapi tengah malam tiba-tiba angin besar. Kadang laut tenang, tapi ikan tidak ada,” katanya.
Harniati berasal dari keluarga nelayan dan menikah dengan nelayan. Selama puluhan tahun, kehidupan rumah tangganya mengikuti musim laut. Jika tangkapan bagus, dapur mengepul tenang. Jika musim paceklik datang, mereka menahan belanja dan berutang ke warung.
Menurut perempuan 52 tahun ini, perubahan beberapa tahun terakhir bukan lagi sekadar musim buruk tahunan. Cuaca ekstrem datang lebih sering, angin berubah tak menentu, gelombang meninggi di luar kebiasaan, dan hasil tangkapan makin sulit.
Ketika perahu suaminya merapat pagi itu, isi palka perahu mesin 10 PK tidak banyak. Beberapa ikan campuran dan dua keranjang kepiting. Tidak cukup untuk menutup biaya solar, es batu, dan bekal melaut. Meski begitu, Harniati tak terkejut karena sudah terbiasa dengan hasil yang tak menentu itu.

Manfaatkan cangkang kepiting
Yang tidak biasa adalah langkah yang kemudian dia ambil, membawa pulang cangkang kepiting yang dulu terbuang, lalu mengolahnya menjadi kerupuk dengan berbagai rasa seperti pedas manis, balado, jagung bakar, hingga original. Dari bahan yang biasa hanya limbah tak dianggap itu, dia menciptakan tambahan penghasilan.
“Kalau hanya menunggu hasil laut dijual mentah, kadang tidak cukup. Jadi harus diolah supaya ada nilai tambah,” katanya. Satu pack kemasan, Harniatai menjual seharga Rp5.000-10.000. Hasilnya pun cukup lumayan. Dalam sebulan, dia bisa hasilkan Rp1-2 juta.
Ratusan meter dari sana, di pesisir Sugian, cerita serupa tumbuh dengan wajah berbeda. Di sebuah rumah produksi sederhana, Nurhasunah bersama beberapa perempuan lain sibuk menyiangi daging tuna. Tangan mereka cekatan mencabik daging ikan, menumis bumbu, menyiapkan adonan kerupuk, dan menata kemasan produk.
Dari tuna yang dulu hanya jual segar dengan harga fluktuatif, mereka kini membuat abon, kerupuk ikan, bakso ikan, sambal ikan, hingga olahan beku siap masak. Aktivitas itu menjadi penyelamat ekonomi rumah tangga ketika para suami tak bisa melaut akibat cuaca buruk.
“Kalau ombak tinggi, suami bisa seminggu tidak pergi.Dulu kalau begitu ya tidak ada uang. Sekarang masih ada pemasukan dari olahan,” kata Nurhasunah.
Di banyak wilayah pesisir Indonesia, perubahan iklim kerap dibahas lewat data kenaikan suhu laut, abrasi, badai, atau ancaman tenggelamnya pulau kecil. Di Paremas dan Sugian, perubahan iklim hadir lebih dekat pada uang belanja yang menipis, cicilan sekolah anak yang tertunda, dan para perempuan yang harus memikirkan cara baru agar rumah tangga tetap bertahan.

Makin sulit
Bagi masyarakat pesisir Lombok Timur, laut bukan sekadar bentang alam. Laut adalah tempat bekerja, ruang hidup, penanda musim, dan sumber penghidupan lintas generasi. Namun, dalam satu dekade terakhir, nelayan merasakan laut berubah lebih cepat ketimbang kemampuan mereka beradaptasi.
“Tiba-tiba badai. Tiba-tiba angin. Susah diperkirakan,” ucap Sudirman, nelayan Desa Paremas.
Di sana, para nelayan tradisional mengandalkan perahu kecil dengan mesin sederhana 10-15 PK. Mereka melaut berdasarkan pengalaman membaca angin, arus, bulan, dan gerak awan. Pengetahuan lokal itu terwarisi turun-temurun. Tetapi kini, banyak tanda alam yang dulu dipercaya mulai sulit diandalkan.
“Kadang menurut kebiasaan seharusnya sudah masuk musim ikan, tapi ternyata kosong. Kadang angin timur biasanya begini, sekarang beda.” kata Sya’ban, suami Harniati.
Perubahan pola cuaca membuat biaya melaut meningkat. Nelayan bisa menghabiskan bahan bakar lebih banyak untuk mencari titik tangkap yang berpindah-pindah. Jika cuaca memburuk di tengah perjalanan, mereka terpaksa pulang tanpa hasil.
Bagi keluarga nelayan kecil, satu malam tanpa tangkapan berarti tak ada uang belanja pagi, tak bisa membeli beras, atau menunda bayar utang.
Harniati paham betul rantai masalah itu. Saat hasil tangkapan suaminya minim, dia harus memutar otak agar dapur tetap menyala. Kadang dia berhutang ke warung atau meminjam tetangga. Dalam situasi paling sulit, sebagian perempuan di kampungnya terpaksa mendatangi rentenir.
“Pinjam hari ini, minggu depan bayar lebih. Kalau tidak begitu, anak-anak makan apa,” katanya.
Skema utang informal semacam itu lazim di banyak kampung nelayan. Ketika pemasukan tak menentu dan akses ke lembaga keuangan formal terbatas, rentenir menjadi jalan tercepat meski bunganya mencekik.
Perempuan sering menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan tekanan ini karena merekalah pengelola kebutuhan harian rumah tangga.
Kesulitan ekonomi itu menyebabkan tak sedikit warga Desa Paremas tak lagi menjadi nelayan. Mereka lebih memilih untuk bekerja ke luar daerah, bahkan menjadi pekerja migran di negeri jiran.
Suami Harniati pernah mengambil jalan serupa. Tiga tahun lebih dia bekerja di luar negeri. Meski begitu, jalan itu tak selalu lancar, terkadang justru meninggalkan utang di kampung.
“Saat kiriman belum datang, ya kami tetap harus hidup,” ujar Harniati.
Selama masa itu, perempuan di rumah memikul beban berlapis. Mengasuh anak, serta memastikan kebutuhan rumah tangga bisa teratasi.
Di Sugian, situasinya berbeda tetapi akarnya sama. Para suami masih banyak yang bertahan sebagai nelayan, namun cuaca ekstrem membuat hari melaut berkurang. Gelombang tinggi dan angin kencang memaksa mereka tak bisa melaut cukup lama.
Di sinilah aktivitas pengolahan hasil laut menjadi penting. Saat suami tidak melaut, para perempuan tetap bisa bekerja memproduksi abon, kerupuk, atau pesanan lain. Pendapatan memang tidak selalu besar, tetapi cukup untuk menutup kebutuhan dasar.
“Minimal ada uang belanja dan jajan sekolah anak,” kata Nurhasunah.

Strategi adaptasi
Di Sugian, pagi mulai bukan dengan menunggu perahu semata, juga dengan bunyi blender bumbu, wajan besar yang mulai panas, dan percakapan ibu-ibu yang bekerja bersama. Rumah produksi Keluarga Bahari itu, menjadi ruang ekonomi baru bagi perempuan pesisir.
Nurhasunah mengambil daging tuna segar yang baru dibeli dari nelayan lokal. Setelah membersihkan dan mengukusnya, dia menyuwirnya halus. Setelah itu dia masak bersama santan dan rempah hingga menjadi abon gurih berwarna keemasan. Sebagian bahan lain diolah menjadi kerupuk ikan dan produk siap saji.
Proses itu tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Tuna segar yang harganya bisa jatuh saat pasokan melimpah kini memiliki nilai tambah setelah diolah. Produk bisa tahan lebih lama, dijual ke pasar lebih luas, termasuk melalui media sosial.
“Kalau ikan segar harus cepat laku. Kalau abon bisa disimpan,” kata Nurhasunah.
Kemampuan memperpanjang umur simpan sangat penting di wilayah pesisir. Ketika hasil tangkapan datang bersamaan, harga ikan segar sering turun. Dengan pengolahan, nelayan dan keluarga tidak dipaksa menjual murah.
Di Paremas, Harniati melakukan hal serupa dengan bahan yang lebih tak lazim. Dulu cangkang kepiting dianggap limbah setelah daging diambil. Kini bisa diolah dan dicampur tepung dan bumbu, lalu dijadikan kerupuk renyah. Produk dia jual di warung sekitar, dititipkan ke kios, dan dipasarkan saat ada pameran UMKM.
“Awalnya orang heran, cangkang kepiting kok jadi kerupuk. Tapi setelah coba, banyak yang suka,” katanya tertawa.
Baik Nurhasunah maupun Harniati bilang, aktivitas pengolahan hasil laut itu, cukup membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.
Inovasi semacam ini menunjukkan, diversifikasi produk kelautan bukan sekadar urusan kuliner. Tetapi adaptasi ekonomi terhadap ketidakpastian iklim.
Sukuryadi, Akademisi sekaligus pengajar Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram menilai, upaya perempuan di pesisir ini sebagai bentuk adaptasi sekaligus resiliensi terhadap perubahan iklim. Baginya, perubahan iklim sebagai sebuah keniscayaan yang tak dapat dihindari, namun bisa dilakukan langkah-langkah adaptif.
“Perubahan iklim itu sudah ada di depan rumah kita. Jadi secepat mungkin kita harus bisa adaptasi,” ucap Sukuryadi.
Dia menerangkan, perubahan iklim berupa kenaikan suhu air laut menyebabkan karang dan habitat ikan rusak. Akibatnya ikan semakin menjauh, namun air semakin dekat dengan pekarangan rumah para nelayan.
Sukaryadi berharap pemerintah memberi perhatian penuh terhadap upaya-upaya adaptif oleh warga pesisir. Perhatian tidak harus dengan bantuan material atau uang, tetapi melalui kebijakan yang memihak hajat hidup mereka.
Mastur, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur menyampaikan, pemerintah memberikan program pembinaan kepada kelompok-kelompok pengolah hasil perikanan. Meski begitu, keterbatasan anggaran menyebabkan implementasi program belum menjangkau secara luas.
“Kita kan terbatas ya (anggaran). Namun, kita sebenarnya juga menggandeng teman-teman NGO untuk mengisi wilayah yang tidak bisa kami jangkau,” kata Mastur.

Penuh tantangan
Meski demikian, jalan ini tidak tanpa hambatan. Banyak kelompok perempuan pesisir menghadapi keterbatasan modal, alat produksi sederhana, akses kemasan berkualitas, sertifikasi pangan, dan pasar yang stabil. Produk mereka sering kalah bersaing secara tampilan dengan barang pabrikan. Padahal rasa dan kualitas bahan bakunya tidak kalah.
“Kami bisa buat, tapi kadang bingung jual ke mana,” kata Nurhasunah.
Masalah lain adalah beban kerja ganda. Setelah mengolah produk, mereka tetap harus memasak di rumah, mengurus anak, membersihkan rumah, dan menjalankan tugas domestik lain. Kerja ekonomi perempuan sering dianggap “membantu”, padahal sesungguhnya menjadi penopang rumah tangga.
Di tengah krisis iklim global yang sering dibicarakan lewat konferensi dan angka-angka besar, perempuan pesisir Lombok menunjukkan bentuk adaptasi yang paling nyata dengan bekerja, berinovasi, dan saling menopang.
Ketika cuaca makin sulit ditebak dan tangkapan nelayan menurun, perempuan pesisir Lombok mencari jalan lain. Mereka mengolah tuna menjadi abon dan kerupuk, memanfaatkan cangkang kepiting menjadi camilan bernilai jual, dan membuktikan bahwa ketahanan iklim sering kali lahir dari dapur rumah tangga.
*****
Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?