- Stunting di pesisir Lombok Timur, terutama Kecamatan Jerowaru telah menjadi persoalan kesehatan yang mengkhawatirkan, salah satunya Desa Jerowaru. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, Lombok Timur tercatat sebagai kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi di NTB. Pada 2025, angkanya mencapai 33%, meningkat dari 27% pada 2023.
- Di antara beberapa penyebab, perubahan iklim seringkali luput dari sorot sebagai salah satu faktor pemicunya. Laporan UNICEF 2024 menyatakan, perubahan iklim berdampak langsung pada ketahanan pangan dan gizi anak terutama di wilayah rentan seperti pesisir. Gangguan sistem pangan, krisis air bersih, dan meningkatnya penyakit berbasis lingkungan memperbesar risiko stunting.
- Desa Jerowaru merupakan desa pesisir, dimana sumber penghidupan warganya sangat bergantung dari laut. Sayangnya, perubahan iklim yang terjadi menyulitkan nelayan memprediksi musim tangkap, meningkatkan risiko melaut akibat gelombang tinggi, hingga ikan-ikan menjauh karena suhu laut yang meninggi. Dampaknya, pendapatan rumah tangga nelayan turun.
- Pernikahan dini pun berkontribusi signifikan terhadap tingginya angka stunting di NTB. Kehamilan pada usia muda meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan gangguan pertumbuhan. Di Jerowaru, praktik pernikahan dini masih cukup lazim. Akibatnya, banyak ibu muda belum memiliki pengetahuan gizi memadai dan kondisi fisik yang optimal saat hamil.
Suara tangis bayi memecah keheningan pagi di Dusun Jor, Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Rabu (28/1/26). Di rumah berdinding anyaman bambu itu, Sulastri, bukan nama sebenarnya menggendong anak bungsunya sambil sesekali mengelap keringat di dahinya. Sudah tiga hari anaknya demam dan diare. Tubuh kurus.
Dari catatan posyandu, bayi Sulastri masuk kategori pendek dan teridentifikasi stunting.
“Berat badan ideal anak seusianya, seharusnya antara 11-18 kilogram. Tapi berat badannya hanya 8, 3 kilogram,” kata Julia, tenaga kesehatan di Puskesmas Jerowaru, di sela kegiatan posyandu. Rambut kering berwarna kuning kecokelatan, satu indikasi kekurangan gizi kronis.
Tinggi badan bayi Sulastri juga di bawah ideal. “Tingginya 80 sentimeter. Normalnya anak seusia dia itu 88 sampai 90 sentimeter,” kata Murnihati, kader Posyandu Dusun Jor, juga istri kepala dusun.
Menurut World Health Organization (WHO), stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan tinggi badan di bawah standar usia.
Dampaknya tidak hanya terlihat secara fisik, juga berpengaruh pada perkembangan kognitif, daya tahan tubuh, hingga produktivitas di masa dewasa.
Bagi Sulastri, kondisi anaknya bukan sekadar catatan medis, tetapi sekaligus cermin dari kehidupannya yang serba terbatas. Dia menikah usia 15 tahun. Kehamilan dan persalinan di usia remaja cukup berisiko karena kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya siap.
Kini, usia 23 tahun, dia harus merawat anak dengan kondisi kesehatan rentan di tengah ekonomi keluarga yang bergantung pada hasil laut yang tak menentu.
“Dibilang tidak perhatian, ya kami sebenarnya berusaha. Sudah kami usahakan semampunya. Tapi ya bagaimana, penghasilan kami tidak menentu,” kata Sulastri lirih.

Air laut mendekat, ikan menjauh
Di balik semua persoalan yang Sulastri hadapi, perubahan iklim muncul sebagai salah satu faktor yang kerap luput dari sorotan. Perubahan iklim menjadi pemantik munculnya masalah di atas. Ia memang tidak langsung menyebabkan stunting, tetapi memicu masalah yang meningkatkan risiko stunting.
Secara geografis Desa Jerowaru berada di pesisir teluk yang perairannya relatif lebih tenang dibanding laut lepas di selatannya. Selama puluhan tahun, teluk ini menjadi sumber penghidupan dan pangan masyarakat Desa Jerowaru dan sekitarnya, dari nelayan ikan kecil, pengumpul kerang, hingga pembudidaya rumput laut.
Berdasarkan penelitian IPB University pada 2020 bertajuk Ketergantungan Sosial-Ekonomi Nelayan terhadap Ekosistem Pesisir Indonesia (Studi Kasus Lombok Timur), sebanyak 78% masyarakat pesisir di Teluk Jor menggantungkan hidupnya dari hasil laut.
Namun, perubahan iklim mengubah keadaan teluk secara perlahan. Perubahan yang tidak selalu kasat mata, tetapi berdampak langsung pada kehidupan nelayan dan ketahanan pangan keluarga.
Pada 2018, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) publikasikan riset oleh Kurnia Novianti, Dkk., bertajuk Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan Masyarakat Pesisir Lombok Timur. Dalam riset itu, Novianti temukan dampak perubahan iklim di sekitar Teluk Jor seperti suhu dan muka air laut yang meningkat, kekeringan dan juga anomali cuaca.
Sukuryadi, akademisi di Prodi Ilmu Lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram mengatakan, perubahan iklim menyebabkan anomali cuaca. Hal itu tertandai dengan pola angin yang berubah cepat, hujan ekstrem di luar musim, serta gelombang laut yang tiba-tiba meninggi, sehingga nelayan tradisional sulit memprediksi.
Nelayan, kata Sukuryadi, sulit membaca arah angin dan menentukan lokasi tangkap.
“Selain itu, perubahan iklim juga mengakibatkan peningkatan suhu air laut yang memicu terjadinya coral bleaching, sehingga habitat dan sumber makanan ikan rusak. Dampaknya ikan semakin jauh, air yang semakin dekat ke pemukiman warga,” katanya.
Selain menyulitkan nelayan memprediksi musim tangkap, perubahan iklim yang terjadi juga memperbesar risiko melaut dan menekan pendapatan rumah tangga mereka.
“Dulu kami bisa tahu kapan musim ikan datang. Sekarang, pola itu hilang,” ujar Maya Apriadi, nelayan Desa Jerowaru yang telah melaut sejak remaja.
Perubahan pola angin, peningkatan suhu permukaan laut, dan cuaca ekstrem menyebabkan ikan-ikan yang biasanya menghampiri perairan teluk berpindah ke lokasi lain yang lebih dalam atau lebih sejuk. Alhasil, tangkapan nelayan semakin menurun.
“Kadang suami pergi semalaman tapi pulang hanya bawa beberapa kilogram ikan. Itu pun harus dibagi dengan pemilik kapal,” kata Siti Hindun, istri nelayan dan ibu dari dua balita di Dusun Jor.
Rozi Ahmad, mengamini hal ini. Nelayan Jerowaru yang baru saja pulang melaut itu menyatakan kekecewaannya. “Sekarang susah ditebak. Kadang ombak besar, kadang ikan tidak ada. Cuaca cepat berubah,” ujar Rozi yang sedang sibuk memperbaiki jaring di tepi pantai.
Perubahan pola angin, naiknya suhu laut, dan cuaca ekstrem memangkas hasil tangkapan nelayan. Padahal, laut adalah sumber utama protein hewani bagi masyarakat pesisir sekaligus sumber utama ekonomi keluarga.
Ketika tangkapan ikan semakin sulit, konsumsi protein keluarga pun ikut menurun. Pendapatan sebagai nelayan tak lagi cukup memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
“Kalau dihitung-hitung, sebulan hanya dapat Rp600.000-800.000. Sementara pengeluaran bisa sampai Rp2 juta,” kata Hindun.
Laporan UNICEF 2024 menyatakan, perubahan iklim berdampak langsung pada ketahanan pangan dan gizi anak terutama di wilayah rentan seperti pesisir. Gangguan sistem pangan, krisis air bersih, dan meningkatnya penyakit berbasis lingkungan memperbesar risiko stunting.
“Perubahan iklim memperburuk kerentanan yang sudah ada. Anak-anak dari keluarga miskin menjadi kelompok paling terdampak,” tambah Sukuryadi.

Prevalensi tertinggi
Stunting di pesisir Lombok Timur, terutama Kecamatan Jerowaru telah menjadi persoalan kesehatan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, Lombok Timur tercatat sebagai kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi di NTB. Pada 2025, angkanya mencapai 33%, meningkat dari 27% pada 2023.
Meski data per kecamatan untuk tahun 2025 belum terpublikasi, Jerowaru secara konsisten tercatat sebagai wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2023 dan 2024 misalnya menurut data E-PPGM, Jerowaru menempati posisi puncak prevalensi stunting di Lombok Timur. Angkanya capai 23,91% dan 24,03%.
“Kecamatan Jerowaru ini wilayah pesisir. Karakteristik masalahnya berbeda dengan daerah pertanian,” ujar Munawir Subhan, Kepala Puskesmas Jerowaru.
Menurut dia, stunting di wilayah ini bukan semata persoalan gizi, tetapi berkaitan erat dengan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. “Kalau bicara definisi, stunting memang kekurangan gizi kronis. Di balik itu ada pernikahan dini, sanitasi yang buruk, keterbatasan air bersih, dan pendapatan keluarga sangat bergantung pada hasil laut.”
Riset oleh Universitas Muhammadiyah Mataram pada 2022 menunjukkan, faktor ekonomi, budaya, dan rendahnya akses pendidikan menjadi pendorong utama. Tekanan ekonomi akibat menurunnya hasil tangkapan nelayan di tengah perubahan iklim turut memperkuat praktik pernikahan dini di NTB.
Pernikahan dini pun berkontribusi signifikan terhadap tingginya angka stunting di NTB. Kehamilan pada usia muda meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan gangguan pertumbuhan.
Di Jerowaru, praktik pernikahan dini masih cukup lazim. Akibatnya, banyak ibu muda belum memiliki pengetahuan gizi memadai dan kondisi fisik yang optimal saat hamil.
Sulastri bukanlah satu-satunya yang menikah di usia muda. Berdasarkan pemantauan di lapangan, tujuh dari sepuluh bayi yang menderita stunting, orang tuanya tercatat menikah di usia yang sangat muda.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah sanitasi lingkungan pesisir. Banyak rumah tangga masih menggunakan jamban seadanya atau berbagi fasilitas sanitasi. Air bersih menjadi barang mahal, terutama saat musim kemarau panjang.
“Kalau musim kering, air susah. Untuk minum, kami harus beli. Kalau sudah begitu, boro-boro membeli lauk yang sehat, untuk air minum pun kami kadang kesulitan ,” kata Maya Apriadi.
Infeksi berulang akibat sanitasi buruk seperti diare dan infeksi saluran pencernaan membuat nutrisi yang masuk ke tubuh anak tidak terserap optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini memperbesar risiko stunting.
Dalam konteks krisis iklim, meningkatnya penyakit berbasis lingkungan ini menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan perubahan iklim dengan risiko stunting.
Pemerintah daerah telah menjalankan berbagai program percepatan penurunan stunting, mulai dari pendampingan ibu hamil, pemberian makanan tambahan, hingga penguatan posyandu. Namun, tantangan di wilayah pesisir membutuhkan pendekatan lintas sektor.
“Intervensi gizi saja tidak cukup. Harus dibarengi perbaikan sanitasi, pencegahan pernikahan dini, dan penguatan ekonomi keluarga,” ujar Munawir.
Integrasi isu perubahan iklim dalam kebijakan kesehatan dan gizi masih terbatas. Tanpa adaptasi terhadap dampak iklim, upaya penurunan stunting dikhawatirkan akan terus berhadapan dengan tantangan baru.

****
Di beranda rumahnya, Sulastri menimang anaknya yang mulai terlelap. Harapannya sederhana, anaknya tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik. “Yang penting anak saya sehat,” katanya.
Di pesisir Lombok Timur, harapan itu bertumpu pada lebih dari sekadar sepiring makanan. Ia bergantung pada laut yang makin tak menentu, air bersih kian langka, dan kesadaran krisis iklim bukan hanya soal lingkungan juga tentang masa depan anak-anak.
*****
Laporan ini didukung oleh Fellowship LaporIklim x PIKUL