- Kepulauan Anambas menjadi habitat baru rafflesia yang sebelumnya tidak pernah tercatat di Kepulauan Riau. Peneliti menemukan sedikitnya 25 titik rafflesia di hutan Bukit Batu Tabir, Desa Tarempa Selatan. Temuan ini disebut sebagai unicorn population karena merupakan populasi baru yang belum pernah terdokumentasikan secara ilmiah di Anambas maupun Kepri.
- Penelitian awal mengidentifikasi beberapa jenis rafflesia, termasuk Rafflesia hasseltii dan Rafflesia cantleyi. Kemunculan bunga ini diduga didukung kondisi habitat yang ideal berupa hutan hujan dengan tutupan tajuk rapat, kelembapan tinggi, tanah kaya bahan organik, serta keberadaan tanaman inang Tetrastigma yang menjadi syarat utama pertumbuhan rafflesia.
- Fenomena mekar hampir setiap minggu menarik perhatian peneliti, pemerintah, dan masyarakat. Sejumlah lembaga seperti BRIN, IPB, Universitas Riau, hingga pihak swasta telah melakukan kunjungan dan penelitian. Pemerintah desa bersama petugas kehutanan kini melakukan patroli rutin sambil menyiapkan skema pengelolaan melalui perhutanan sosial.
- Potensi wisata edukasi harus diimbangi dengan perlindungan habitat yang ketat. Peneliti mengingatkan pengalaman di Bengkulu menunjukkan kunjungan wisata yang tidak terkendali dapat mengganggu pertumbuhan rafflesia hingga bunga tidak lagi mekar. Karena itu, pengelolaan berbasis wisata minat khusus, pembatasan pengunjung, serta perlindungan tanaman inang menjadi kunci menjaga keberlanjutan habitat rafflesia di Anambas.
Fenomena munculnya bunga rafflesia dalam jumlah besar di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, menarik perhatian peneliti. Di hutan seluas 47,5 hektar di Desa Tarempa Selatan, hasil identifikasi sementara temukan 25 titik rafflesia yang terus mekar setiap minggu.
Dari Kota Tarempa, lokasi itu hanya berjarak sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 25 menit memasuki kawasan hutan yang berada di Bukit Batu Tabir.
Faizal Rangkuti dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepulauan Riau (Kepri) mengatakan, terdapat 25 spot rafflesia yang tersebar di area perbukian dengan vegetasi hutan alami. Lokasi itu berdekatan dengan area penggunaan lain (APL) yang warga manfaatkan untuk berkebun.
Berdasar keterangan warga, kata Faizal, keberadaan raflesia itu sejatinya sudah lama, bahkan sejak 1980-an. Namun warga mengiranya hanya bunga biasa, karena belum mekar seutuhnya. “Mulai 2025 kemarin baru benar-benar mekar dan menarik perhatian masyarakat.”
Faizal bilang bunga rafflesia di kawasan itu terus bermunculan hampir setiap minggu hingga memicu antusias masyarakat dan pemerhati lingkungan untuk datang ke lokasi.
“Yang mekar itu ada terus. Hampir setiap minggu selalu ada,” ujarnya.
Sejumlah peneliti dan lembaga swasta lainnya juga datang ke lokasi, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Riau, MedcoEnergi, hingga pengelola Pulau Bawah Resort Anambas.
Saat ini, bersama pemerintah desa, petugas kehutanan menjaga kawasan hutan itu dengan melakukan patroli rutin secara bergantian. Kini, pemerintah melakukan verifikasi untuk penetapan kawasan itu sebagai perhutanan sosial.
“Nantinya pengelolaan akan diserahkan kepada Desa Tarempa Selatan. Tinggal menunggu penetapan dari Balai Perhutanan Sosial di Kampar.”
Menurut Faizal, rafflesia memiliki proses pertumbuhan unik karena bergantung pada tanaman inang. “Dari mulai menempel di inang sampai mekar itu sekitar sembilan bulan. Setelah menjadi knop baru dia mekar dengan warna kuning-oranye,” katanya.
Saat mekar, bunga itu mengeluarkan gas berbau menyengat seperti amonia sebelum akhirnya layu dan membusuk secara alami dalam waktu sekitar empat hingga lima hari.
“Kalau sudah mekar beberapa hari, nanti berubah coklat lalu seperti gosong. Itu proses alaminya.”

Habitat baru
Arya Arismaya Metananda, Peneliti Kehutanan Universitas Riau/LPPM Universitas Riau Arya, bersama beberapa peneliti , Nurul Qomar dan Nery Sofiyanti turun ke lokasi dan menganalisa fenomena itu.
“Jadi, memang kami keliling ke beberapa tempat. Di Anambas, salah satu lokasi tinjauan salah satunya kami melihat adanya rafflesia ini,” kata Arya, Rabu (20/5/26).
“Rafflesia di Anambas ini adalah unicorn population. Artinya, populasi baru yang sebelumnya tidak pernah tercatat bahwa di Anambas maupun di wilayah Kepulauan Riau ada habitat rafflesia. Ini merupakan pendataan baru,” kata Arya.
Bagi, kemunculan raflesia di Anambas merupakan hal baru.
Selama dua pekan di Anambas, dia dua kali mengunjungi lokasi itu. Menurut dia, sebaran rafflesia di daerah ini cukup banyak dan berasal dari beberapa jenis.
Salah satu yang banyak dia temukan adalah jenis rafflesia hasselti dengan ciri-ciri memiliki blokes atau totol putih pada mahkotanya. Selain itu, di bagian dalam pragmanya terdapat struktur bernama ramenta, yaitu, struktur unik yang menyerupai rambut atau benang yang tumbuh di bagian dalam tabung perigon, mulai dari dasar tabung hingga di bawah diafragma.
Selain itu, ada juga rafflesia cantleyi.
Kemunculan 25 bunga rafflesia dalam satu kawasan di Anambas tidak hanya menjadi catatan baru di kalangan peneliti. Namun, secara ilmiah belum ada penelitian yang melakukan investigasi penyebab menjamurnya rafflesia di lokasi itu.
Arya meyakini Anambas menjadi ekosistem bunga yang memang terkenal dengan aroma tak sedapnya itu. Menurut dia, karakteristik ekologi rafflesia itu parasit obligat. Jadi seluruh hidupnya bergantung pada jaringan inang. Maka keberadaan rafflesia sangat bergantung pada keberadaan inang bernama Tetrastigma.
“Dari sisi habitat, lokasi yang kami datangi merupakan hutan hujan di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Itu habitat yang cocok bagi rafflesia. Arealnya lebat, tutupan tajuknya relatif rapat,” katanya.
Arya bilang, habitat ideal rafflesia adalah daerah dengan kelembaban tinggi, intensitas cahayanya rendah sampai sedang, dan tanah kaya bahan organik. Di lokasi itu tanahnya merah kekuningan dan terdapat lapisan granit.
“Batuan granit juga menjadi faktor penting,” katanya.

Upaya pengelolaan
Selain menjadi objek penelitian, lokasi rafflesia kini mulai berkembang menjadi tujuan wisata edukasi alam di Anambas. Sejak dibuka untuk kunjungan edukasi pada November 2025, jumlah pengunjung terus meningkat.
“Dalam satu bulan pernah hampir 300 orang datang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pegawai sampai masyarakat umum,” kata Faizal.
Arya was-was pengelolaan destinasi wisata mengancam keberadaan rafflesia, seperti yang terjadi di Bengkulu. Daerah tersebut juga mengalami fenomena tumbuhnya rafflesia masif, kemudian akibat ramai dikunjungi rafflesianya tidak pernah mekar kembali.
Dia memberikan masukan beberapa langkah untuk pengelolaan kawasan rafflesia ini biar tak mengancam bunga itu sendiri. Apalagi rafflesia yang ditemukan merupakan jenis langka jika dilihat status konservasi IUCN dan dilindungi berdasar Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106/2018.
Menurut dia, perlu pemetaan terkait keberadaan cikal bakal rafflesia yang disebutnya sebagai inang tetrastigma. Untuk pariwisata, lebih tepat dalam format wisata minat khusus.
Rafflesia merupakan indikator lingkungan. Di mana rafflesia tumbuh, berarti lingkungannya masih alami dan belum tercemar. Karena itu, ketika ada rencana pengembangan wisata secara masif, maka harus ada pembatasan.
“Contohnya, knop atau bakal bunga rafflesia itu bisa berada di tanah, di batang, dan tempat lain yang tidak menentu. Jadi pengunjung harus diberi pemahaman terlebih dahulu. Tidak bisa wisata massal dengan banyak orang yang akan mengancam inangnya tadi,” katanya.
Begitu juga larangan membawa makanan, buang kotoran sembarangan, atau merusak area sekitar. Karena ketika habitatnya rusak, rafflesia bisa tidak muncul kembali.
“Kita harus belajar dari Bengkulu. Di beberapa lokasi yang dibuka secara umum, akhirnya bunganya tidak mekar kembali. Karena itu sekarang aksesnya dibatasi,” katanya.

Indikator lingkungan
Dia bilang, penemuan baru rafflesia di Kepulauan Anambas ini sebenarnya memiliki pesan yang kuat. Bukan hanya bagi dunia ilmiah dan para akademisi, juga bagi masyarakat dan upaya konservasi daerah. Penemuan ini menunjukkan bahwa hutan di Anambas masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa dan belum sepenuhnya terungkap.
“Kehadiran rafflesia menunjukkan bahwa ekosistem hutan di Anambas memiliki kondisi habitat yang relatif baik. Kekayaan hayati di pulau-pulau kecil seperti Anambas tidak boleh diremehkan.”
Temuan ini menjadi pengingat bahwa pembukaan lahan, fragmentasi hutan, aktivitas manusia yang tidak terkendali, dan perubahan iklim dapat menyebabkan rafflesia maupun spesies langka lainnya hilang. Karena itu, memastikan habitat tetap terjaga sangat penting.
*****