- Reptil hijau Papua menjadi salah satu keanekaragaman hayati yang unik. Tak hanya warna yang menarik, mereka juga memiliki cara beradaptasi yang berbeda di hutan Papua.
- Warna hijau pada ular sanca, biawak zamrud, biawak Misool dan Prasinohaema virens menjadi keunggulan sekaligus ancaman. Pasalnya, berkat keindahan itu, satwa ini rentan diburu dan diperdagangkan secara ilegal.
- Sanca hijau menjadi spesies paling populer karena warna hijaunya yang mencolok, biawak zamrud juga terkenal karena kelincahannya di kanopi pohon.
- Ancaman utama bagi reptil hijau Papua datang dari perburuan liar, perdagangan ilegal dan kerusakan habitat. Minimnya data penelitian juga membuat beberapa spesies sulit dipantau.
Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Jika warna hijau pernah viral karena ada pantone miskin, di hutan tropis Papua, reptil hijau menjadi kekayaan dan keunikan yang Indonesia punya. Salah satunya, sanca hijau papua (Morelia viridis) atau green tree phytons yang terkenal memiliki kilau hijau zamrud. Tak hanya itu, ada beberapa reptil hijau lainnya yang menjadikan hutan Papua sebagai habitat.
Sayangnya keberadaan reptil ini seringkali mendapatkan ancaman perburuan liar, hilangnya hutan dan minimnya data penelitian. Padahal, keindahan reptil hijau Papua bukanlah pajangan untuk dikurung dalam kandang kaca. Warna hijau mereka adalah bagian dari ekosistem hutan yang saling terkait sebagai predator yang mengendalikan populasi hama, sebagai mangsa bagi elang dan ular besar, dan sebagai indikator kesehatan hutan itu sendiri.
Misalnya, sanca hijau Papua, banyak yang bilang ia menjadi sebuah kebanggaan sekaligus kutukan. Pasalnya, perburuan liar membuat statusnya dilindungi oleh pemerintah. Tapi, sanca hijau bukan menjadi satu-satunya harta karun, ada beragam reptil lainnya yang tak kalah mempesona namun justru lebih rentan karena minimnya perhatian publik.
1. Sanca hijau: sang bintang yang kemilau
Tubuhnya ramping, berkilau hijau terang dengan deretan bintik atau garis putih tak beraturan di punggung. Warna ini yang menjadikannya primadona perdagangan reptil eksotis. Menurut Buku Panduan Identifikasi Herpetofauna Dilindungi, sebagian besar hidupnya berada di atas pepohonan (arboreal), panjangnya mencapai 1,8 meter.
Ia memiliki ekor yang sangat kuat mencengkram dan memungkinkannya berayun lincah di pepohonan. Warna hijaunya menjadi kekuatannya untuk menyamar atau berkamuflase untuk mencari mangsanya. Selain di Papua, satwa ini bisa ditemui di semenanjung utara Australia.
Berdasarkan IUCN, status konservasi satwa ini masih risiko rendah (Least concern), namun berdasarkan peraturan pemerintah, satwa ini termasuk dalam daftar satwa dilindungi melalui Permen LHK No. P.106 Tahun 2018. Hal ini disebabkan tekanan perdagangan ilegal yang terus meningkat karena keindahan warnanya.

2. Biawak zamrud: sang penjelajah kanopi yang lincah
Sama seperti sanca hijau, biawak zamrud merupakan satwa yang hidup berada di pepohonan (arboreal). Jika sanca hijau adalah penari di dahan, maka biawak hijau (Varanus prasinus) adalah akrobat di hutan Papua. Tubuhnya ramping berwarna hijau dengan pola garis lengkung hitam memanjang dari leher hingga pinggang menjadi kamuflase sempurna di balik dedaunan.
Reptil anggun ini menghuni hutan hujan dari dataran rendah hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Tak hanya di Papua, ia juga tinggal di hutan Papua Nugini dan Australia Utara.
Hal unik dari satwa ini dibandingkan kerabat biawak lainnya adalah ekornya yang sangat kuat mencengkram seperti tangan manusia. Buku Panduan Identifikasi Herpetofauna Dilindungi (KLHK, 2019) menyebutkan biawak ini hampir seluruh hidupnya di pepohonan, berburu hewan kecil seperti kadal kecil dengan gerakan gesit yang jarang ditemukan pada kerabatnya yang lain.
Populasinya terbilang masih stabil dengan status risiko rendah pada IUCN, namun ancaman deforestasi dan perdagangan ilegal terus mengintai. Setiap tahun, terjadi penyelundupan ribuan ekor diselundupkan keluar Papua melalui jalur-jalur ilegal yang sulit dipantau.

3. Biawak Misool: permata hijau kuning di pulau terpencil
Di pulau kecil Misool, Papua Barat, ada biawak pohon yang langka, yakni biawak misool (Varanus reisingeri). Reptil endemik ini memiliki tubuh berwarna hijau kekuningan, punya pola garis hitam yang diselingi barisan sisik hijau berbentuk bulatan. Ia menjadi salah satu biawak pohon terkecil di dunia karena ukurannya tak lebih dari satu meter dengan berat 30 gram.
Wilayah persebarannya yang kecil justru menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, habitatnya yang terpencil melindunginya dari eksploitasi berlebihan, namun populasi kecil dan terfragmentasi membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan.
Sayangnya, minimnya data penelitian membuat status IUCN menyebutkan kekurangan data (Data Deficient). Sementara itu, laporan dari komunitas pecinta reptil menunjukkan permintaan untuk spesies ini terus meningkat di pasar gelap internasional karena warnanya yang cantik dan jarang ditemukan pada biawak lain.

4. Prasinohaema virens: si darah hijau yang misterius
Tak semua reptil hijau Papua menunjukkan warna hijau cantik di kulit. Prasinohaema virens, contohnya, kadal kecil ini menyimpan keajaiban di dalam tubuhnya yaitu darahnya berwarna hijau terang. Pigmen biliverdin (pigmen empedu berwarna hijau) yang tinggi dalam cairan darahnya 40 kali lebih tinggi dari manusia sehingga dapat mengubah cairan tubuh menjadi hijau zamrud.
Kadal ini tersebar di Pulau Papua, Papua Nugini hingga Kepulauan Solomon, hidup di antara sulur dan ranting. Meski populasinya masih banyak, perdagangan ilegal menjadi ancaman utama yang menyatukan nasib semua reptil hijau Papua ini. Apalagi, sebuah studi menyebut Indonesia sebagai “surga perdagangan amfibi dan reptil ilegal” dengan ribuan individu diselundupkan setiap tahun melalui berbagai jalur bahkan media sosial.
Biawak hijau dan sanca hijau menjadi target utama karena nilai jual tinggi di pasar internasional, seekor Varanus prasinus dewasa bisa dihargai hingga 500 dolar AS di Eropa. Tak hanya perdagangan ilegal, ancaman deforestasi kebun sawit dan pertambangan juga menghantui habitat mereka.

*****
*Yanti Samanui adalah Mahasiswa Program Studi Biologi di Universitas Papua. Dia memiliki ketertarikan pada isu-isu lingkungan dan satwa endemik di Papua. Kini, Yanti sedang belajar bagaimana menulis jurnal penelitian menjadi artikel populer agar menarik untuk dibaca.
Citation:
Allison, A. (2006). Reptiles and amphibians of the Trans-Fly region, New Guinea. WWF South Pacific Programme.
Goldberg, S. R. (2025). Notes on reproduction of the Green-blooded Skink, Prasinohaema virens (Squamata: Scincidae), from Papua New Guinea. Sauria, 47(1), 61–62.
KLHK. (2019). Panduan identifikasi jenis satwa liar dilindungi: Herpetofauna. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan & Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.