- Luas lahan sorgum di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT sekitar 26 hektar yang dikembangkan 40 petani. Tahun 2025, hasil panen mencapai sekitar 32 ton dan 2026 diprediksi 35-40 ton.
- Likotuden dan seluruh lahan Desa Kawalelo, merupakan lahan miring berbatu. Selama ini, warga menanam padi dan jagung saat musim hujan.
- Pengembangan sorgum sebagai pangan lokal terus dilakukan. Sorgum sesuai dengan kondisi lahan dan iklim di Flores. Dari faktor gizi, sorgum juga tidak kalah dibanding padi.
- Sebuah sistem harus dikembangkan, mulai penanaman, pemasaran maupun pengolahan agar sorgum bisa menjadi tanaman pangan.
Siprianus Belawa Kolah tengah memotong batang sorgum di lahannya di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT. Kebun seluas satu hektar itu, berada sekitar 20 meter dari laut.
“Biasanya, Mei tidak hujan tapi sekarang ini masih lebat,” ucapnya kepada Mongabay Indonesia di kebunnya, Selasa (19/5/2026).
Dia baru menanam sorgum pada Januari karena musim hujan terlambat. Untuk tumbuh bagus, satu lubang maksimal ditanam empat benih sorgum dengan jarak tanam 40×20 cm.
Penanaman baiknya dilakukan saat hujan turun menerus. Bila setelah dua hari ditanam tidak ada hujan, maka benih sorgum akan dimakan belalang dan semut. Jika ditanam ulang, bulirnya tidak akan besar.
“Bila tumbuh empat daun, artinya panen akan berhasil,” ucapnya.
Siprianus menanam sorgum sejak 2017, sepulang dari Malaysia. Di lahan itu juga, ditanami jagung dan padi. Pemasukannya saat panen sekitar Rp10 juta.
“Uang dari sorgum untuk kebutuhan lainnya, sementara hasil padi dan jagung untuk harian. Selepas panen, kami mancing untuk penghasilan tambahan,” ucapnya.

Bonifasius Soge Kolah, anggota kelompok petani sorgum Likotuden Herin Lela, menyatakan masyarakat mulai menanam sorgum sejak 2015.
“Tahun ini, kami menanam agak terlambat,” jelasnya, Selasa (19/5/2026).
Luas lahan sorgum di Likotuden sekitar 26 hektar yang dikembangkan 40 petani. Tahun 2025, hasil panen mencapai sekitar 32 ton dan 2026 diprediksi 35-40 ton.
Sorgum yang dijual gelondongan tanpa dirontok atau disosoh, dihargai Rp9 ribu per kilogram.
“Lahan saya satu hektar lebih. Tahun lalu produksi 1,8 ton, dapat uang Rp16 juta dalam waktu empat bulan.”
Likotuden dan seluruh lahan Desa Kawalelo, merupakan lahan miring berbatu. Selama ini, warga menanam padi dan jagung saat musim hujan.
Menurut Bonifasius, masih ada lahan tidur di desanya seluas 100 hektar yang potensial untuk sorgum. Hanya, warga tidak mempunyai uang untuk menggarap.
“Sorgum lebih untung dan risiko gagal panen kecil. Saat ini, harga jualnya lebih bagus dibanding jagung.”
Menurut Bonifasius, pihaknya kesulitan memiliki mesin rontok dan mesin sosoh sehingga hanya menjual sorgum jual gelondongan. Sorgum di Likotuden hanya panen dua kali setahun. Setelah panen, dipangkas hingga menyisakan 15 cm dari pangkal. Selanjutnya, pohon sorgum akan tumbuh lagi (ratun) dan 1,5 bulan sudah bisa dipanen, namun produksinya menurun.
“Kalau Juli masih hujan maka bisa tiga kali panen. Semoga saja, harga jualnya selalu bagus.”

Lahan potensial ditanam jambu mete
Bernadus Tukan, budayawan dan juga pegiat pangan lokal Flores Timur, mengatakan sejak 2010 bersama LSM dan pemerintah, dia telah membahas pengembangan pangan lokal. Sorgum dipilih karena sesuai dengan kondisi lahan dan iklim di Flores. Dari faktor gizi, sorgum juga tidak kalah dibanding padi.
“Paling penting, sorgum adaptif terhadap iklim,” ucapnya, awal Juni 2026.
Bernadus menjelaskan, menanam sorgum untuk membayar kesalahan pemerintah yang menjadikan semua lahan pertanian potensial ditanami jambu mete, akhir 1970-an.
Mete yang ditanam di lereng gunung dan lahan gersang dialihkan ke lahan produktif untuk kejar target.
“Sejak itu kita beralih dari ekonomi kebang (lumbung pangan di kebun) menuju ekonomi pasar.”
Mete memiliki daya serap air tinggi dan secara natural tanah mengalami ketidaksuburan. Kondisinya diperparah dengan program berasnisasi. Petani dipaksa tanam padi dan jagung, sehingga pangan lokal termasuk sorgum mulai menghilang dari kebun.
“Makanan itu punya status, punya kedudukan dalam lingkaran ekosistem. Ini dipengaruhi kebijakan nasional terkait swasembada pangan dan berasnisasi,” jelasnya.

Menurut Bernadus, sampai hari ini sorgum belum bisa menggantikan beras. Indikatornya, masyarakat tidak terpancing menanam sorgum kecuali di kebun-kebun percontohan. Kebijakan hanya bermain di hulu, tidak di hilir.
“Sorgum harus diolah menjadi makanan yang digemari generasi saat ini. Ini baru namanya transformasi budaya. Jadi, sorgum bisa menjawab selera masyarakat sekarang.”
Namun begitu, untuk mengolah sorgum butuh waktu. Terlebih, mesinnya juga terbatas.
“Sebuah sistem harus dikembangkan, mulai penanaman, pemasaran maupun pengolahan agar sorgum bisa menjadi tanaman pangan,” jelasnya.
*****