- Gelombang tinggi membuat nelayan Maurongga menghentikan aktivitas melaut dan beralih mencari penghasilan dari pesisir. Nelayan gurita di Pantai Maurongga, Ende, NTT, harus menarik perahu ke daratan karena gelombang tinggi dan air laut keruh menyulitkan penangkapan gurita. Di tengah kondisi itu, perempuan dan anak-anak mengumpulkan batu pesisir untuk dijual, dengan harga sekitar Rp20.000 per karung 25 kilogram.
- Perikanan gurita menjadi sumber penghidupan sekaligus menunjukkan potensi ekonomi masyarakat Maurongga. Sejak 2015 Imran Tabri mengembangkan penangkapan gurita di Maurongga. Jumlah nelayan gurita bertambah menjadi tujuh orang setelah mendapat pendampingan Yayasan Tananua, sementara masyarakat kemudian memperoleh bantuan perahu. Pada 2025, gurita menjadi hasil tangkapan terbesar di Maurongga, mencapai 479,8 kilogram dengan nilai sekitar Rp16,07 juta.
- Perairan yang dikelola masyarakat melalui skema Loi dibagi menjadi dua bagian dan ditutup secara bergantian selama tiga bulan. Menurut nelayan, sistem ini memberi waktu bagi gurita untuk berkembang biak dan meningkatkan ukuran hasil tangkapan, yang rata-rata dapat mencapai 3–4 kilogram per ekor. Praktik tersebut juga menjadi bagian dari upaya meninggalkan metode penangkapan destruktif.
- Nelayan Maurongga masih menemukan praktik penangkapan menggunakan bom, potasium, bahkan racun serangga di wilayah tangkap mereka. Kelompok LMMA Embo Angi melakukan pengawasan dan melaporkan pelaku kepada aparat, meski menghadapi risiko karena para pelaku kerap bertindak agresif dan membuang barang bukti ketika patroli datang. Yayasan Tananua terus mendampingi nelayan untuk menjaga ekosistem laut, termasuk melalui edukasi mengenai alat tangkap ramah lingkungan dan sampah laut.
Imran Tabri, memandang tajam ke laut lepas jelang senja Senin (27/7/26). Gelombang tinggi masih menghantui pesisir Pantai Maurongga, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
Nelayan di pesisir pantai selatan Pulau Flores belum banyak yang melaut, apalagi nelayan gurita. Gelombang tinggi yang tengah berlangsung sebabkan air laut keruh dan menyulitkan nelayan untuk memancing gurita.
“Sekarang lagi musim gelombang tinggi jadi perahu kami tarik ke daratan agar tidak rusak dihantam ombak,” ujarnya.
Saat para nelayan jeda melaut akibat cuaca buruk, terlihat beberapa perempuan dan anak-anak yang tengah sibuk mengumpulkan bebatuan di pesisir pantai. Batu-batu ceper berwarna hijau mereka masukkan ke dalam karung. Setelah itu, menggotongnya ke daratan dan menumpuknya di antara pohon kelapa.
Oleh mereka, batu-batu mereka jual sebagai tambahan penghasilan saat suami berhenti melaut. Untuk setiap karung ukuran 25 kilogram, batu-batu itu mereka hargai Rp20.000.
“Warna batunya hijau tua. Kalau di wilayah sebelah timur warna hijaunya lebih terang. Banyak yang membeli dalam jumlah banyak untuk dikirim ke luar daerah,” kata Imran, salah satu nelayan.

Sejak 2015, Imran memang menggeluti pekerjaan sebagai nelayan gurita. Keahlian itu dia dapatkan saat tinggal di kampungnya, pantai selatan Kota Ende. Setelah menikah dan menetap di Maurongga, keahlian ini pun dia praktikkan.
“Waktu itu belum ada yang memancing gurita. Potensi gurita di Maurongga sangat besar sehingga saya mulai memancing gurita,” katanya.
Gurita dia jual kepada pengepul atau dan kepada pembeli langsung di pinggir-pinggir jalan. Satu ekornya dia hargai Rp15.000-20.000 ribu. Selain gurita, dirinya juga memancing ikan.
Pada 2019, jumlah nelayan gurita bertambah menjadi tujuh orang setelah mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua. Dua adalah perempuan. Hingga 2022, bersama nelayan lain, dia mendapat bantuan perahu dengan ukuran satu gross tonnage.
“Tahun 2022, kami dibantu perahu ukuran 1 GT oleh pemerintah Kabupaten Ende sebanyak tujuh unit. Tahun kemarin kami dapat lagi delapan unit. Saya jadi dikenal dan nelayan kami dapat bantuan berkat pemberitaan tentang gurita,” katanya.
Ada enam wilayah perairan yang masyarakat Desa Maurongga kelola seluas 54,95 hektar melalui skema Loi. Lokasi terluas di Sera Numba dengan luas 14,35 hektar.
“Walau yang nelayan gurita tidak banyak, tetapi masyarakat disini hampir semuanya bekerja sebagai nelayan.”

Terapkan buka tutup
Produksi perikanan gurita di Indonesia cukup tinggi. Data statistik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi perikanan gurita di Indonesia tahun 2020 55.913 ton senilai Rp1,2 triliun.
Daerah penyumbang produksi gurita terbesar adalah Nusa Tenggara Timur (19.102 ton) lalu Sulawesi Tengah (10.411 ton), dan Jawa Timur (7.838 ton).
Sementara produksi gurita NTT (KKP 2026) pada 2019 sebanyak 318,96 ton senilai US$8.784.703. Tahun 2020 meningkat menjadi 554,49 ton senilai US$10.282.987.
Data LSM Tananua Flores, total perikanan tangkap Maurongga tahun 2025 sebesar 1.096 kg terdiri dari tujuh jenis tangkapan. Gurita menempati peringkat pertama dengan jumlah 479,8 kg senilai Rp16.074.000.
Maurongga pun memiliki potensi perikanan dan gurita yang menjanjikan, meski sarat tantangan. Terutama, berkaitan dengan maraknya penangkapan ikan yang cenderung destruktif, seperti racun, hingga bom ikan.
Ismail Isman Ketua Nelayan Maurongga ‘LLMA Embo Angi’ mengatakan, sebelumnya, para nelayan kerap gunakan cara-cara destruktif untuk menangkap ikan. Perlahan tetapi pasti, pendampingan oleh Yayasan Tananua mengikis kebiasaan itu.
Alih-alih, untuk menjaga sumber daya ikan tetap lestari, nelayan kini sepakat untuk menerapkan praktik buka tutup area tangkapan demi memberi kesempatan biota laut berkembang secara maksimal.
Ismail katakan, penerapan buka tutup itu dilakukan dengan membagi perairan Maurongga menjadi dua bagian yang masing-masing sepanjang 250 meter. Buka tutup dilakukan secara bergantian.
“Satu bagian ditutup selama tiga bulan dan satunya dibuka.Dibuat bergantian agar ada wilayah untuk nelayan beraktivitas mencari gurita.”
Menurut Imran, sejak penerapan sistem buka tutup area tangkap, berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat. Rata-rata bisa mencapai 3-4 kilogram setiap ekor. “Manfaat buka tutup perairan sangat besar karena memberikan waktu gurita berkembagbiak.”
Saat ini, LMMA Embo Angi memiliki anggota 12 orang, tujuh orang pemancing gurita.

Pengeboman masih marak
Memasuki April hingga awal Agustus perairan selatan Flores cenderung bergelombang tinggi. Situasi itu biasa berlangsung cukup lama. Bahkan, catatan Embo Angi, dalam sebulan, kondisi perairan tenang hanya 1-2 hari.
Selepas Agustus, nelayan di Maurongga mulai memancing gurita di pesisir dengan kedalaman maksimal 10 meter. Aktivitas iut mereka lakukan dengan menggunakan perahu berbahan fiber dan umpan tiruan (pocong).
Masalahnya, di tengah upaya menjaga ekosistem laut Maurongga, nelayan masih hadapi berbagai tantangan. Terutama, dari nelayan luar daerah yang belum mengetahui penerapan praktik buka tutup.
“Jadi, kami terkadang harus berhadapan dengan nelayan-nelayan dari luar daerah kami yang sering menangkap ikan menggunakan bom dan potasium,” ujar Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi.
Nuhu mengatakan, pengeboman ikan masih marak terjadi. Pelakunya datang bergerombol dan menggunakan beberapa perahu. Kadang pelaku menyelam menggunakan kompresor dan menyebar racun ikan (potasium) di karang.
Imran menimpali, kadang ada yang menggunakan danke, sejenis racun serangga yang biasa petani pakai untuk tanaman kakao. Racun mereka tebarkan di perairan yang sebabkan biota laut pingsan dan mengapung di laut.

Dia dan kelompoknya pernah menghalau sekelompok nelayan yang hendak menebar racun dengan menggunakan senapan angin. Bahkan, satu perahu dari mereka pernah dia tenggelamkan.
“Kami juga was-was soalnya para pelaku bertindak nekat. Kalau kami mendekat maka mereka akan melemparkan bom ikan ke arah kami.”
Meski begitu, LMMA Embo Angi tak patah arang. Kegiatan pengawasan perairan tangkapan ikan di wilayah mereka terus dilakukan. Bila ada pelaku pengeboman ikan, mereka akan ramai-ramai menghalau dan melaporkannya ke aparat.
Namun, para pelaku kerap membuang barang bukti ke laut saat ada patroli dari aparat keamanan. “Kita harus jaga laut, ladang uang kita. Kadang petani di desa kami suka iri karena kami cepat dapat uang. Makanya kami harus lawan mereka yang menangkap ikan dengan cara merusak lingkungan perairan kami,” sebut Nuhu.
Bernadus Sambut, Ketua Pengurus Yayasan Tananua Flores katakan, mereka membekali nelayan dampingan mereka untuk konsisten menjaga ekosistem laut. Bukan hanya larangan penggunaan alat tangkap tak ramah, tetapi juga mengedukasi mereka akan dampak sampah bagi lautan.
*****
Mengapa Gurita Betina Memakan Pasangannya Setelah Kawin? Ini Kata Sains