- Nunas Nede menjadi ritual tahunan masyarakat Desa Kesik untuk menyambut musim hujan sekaligus menjaga hubungan dengan sumber air. Warga membawa hasil bumi dan mengambil air dari tujuh mata air yang kemudian disatukan dalam prosesi adat. Bagi masyarakat Kesik, ritual ini bukan sekadar permohonan agar hujan turun, tetapi juga pengingat bahwa keberlangsungan kehidupan dan pertanian bergantung pada kelestarian sumber air.
- Perubahan musim dan krisis iklim membuat keberadaan ritual semakin penting bagi petani. Masyarakat mulai merasakan musim hujan yang tidak menentu, penurunan debit sejumlah mata air, serta kesulitan menentukan waktu tanam. Nunas Nede kemudian tidak hanya dipandang sebagai warisan leluhur, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran masyarakat menghadapi perubahan lingkungan.
- Ritual diikuti aksi nyata menjaga ekosistem mata air secara gotong royong. Selain berdoa, warga membersihkan mata air, mengangkat lumpur dan sampah, memperbaiki saluran air, serta menanam pohon di sekitar sumber air. Mereka juga mempertahankan aturan adat seperti larangan menebang pohon tertentu dan membuang sampah sembarangan karena memahami hubungan antara vegetasi dan keberlangsungan mata air.
- Nunas Nede menjadi sarana mempertahankan pengetahuan ekologis dan mentransmisikannya kepada generasi muda. Anak-anak dan remaja dilibatkan dalam pembersihan mata air, prosesi ritual, serta mendengarkan sejarah sumber air dari para tetua. Bagi masyarakat Kesik, mempertahankan tradisi berarti sekaligus mempertahankan pengetahuan lokal tentang cara menjaga air, pertanian, dan lingkungan di tengah perubahan zaman.
Puluhan orang memadati halaman rumah Amaq Marni siang itu. Sembilan hari menjelang pelaksanaan ritual Nunas Nede, para petani di Desa Kesik mulai mengantarkan hasil pertaniannya ke rumah perempuan 73 tahun tu. Nantinya, hasil tani berupa beras dan ketan itu akan warga olah menjadi makanan tradisional pelengkap ritual.
Di bawah tenda sederhana di halaman rumah, para perempuan tampak sibuk menampi beras, menyiapkan kelapa, dan mengaduk adonan ketan dalam wadah besar. Di sudut lain, sejumlah laki-laki bercengkrama sambil menyusun perlengkapan ritual.
Dua hari setelahnya, satu per satu warga Desa Kesik mulai berjalan menuju sumber mata air di kaki perbukitan. Di tangan mereka terdapat dulang berisi hasil bumi, ada padi, ketan, buah-buahan, ayam kampung, dan kendi kecil yang akan diisi air dari mata air yang mereka jaga turun-temurun.
Bagi masyarakat Desa Kesik, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, perjalanan menuju mata air bukan sekadar prosesi budaya. Ia adalah perjalanan spiritual, perjalanan ekologis, sekaligus sejarah yang mereka warisi dari para leluhur. Ritual itu populer dengan sebutan Nunas Nede, tradisi tahunan yang warga gelar jelang pergantian musim dari kemarau menuju musim hujan.

Berawal dari kekhawatiran
Di desa yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada pertanian itu, perubahan musim bukan perkara sederhana. Hujan menentukan apakah sawah dapat mereka tanami. Ketika kemarau terlalu panjang, sumber mata air menyusut. Sawah retak. Petani mulai cemas. Karena itulah, ritual Nunas Nede lahir dari kegelisahan kolektif masyarakat terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Tradisi ini warga gelar setiap tahun pada akhir musim kemarau. Prosesi mulai dengan pengambilan air dari tujuh mata air yang tersebar di Desa Kesik. Air dari tujuh sumber itu warga satukan sebagai simbol persatuan kehidupan dan keberkahan alam. Ritual berlanjut dengan doa bersama, arak-arakan hasil bumi, zikir, serta makan bersama.
Di balik ritual nan sakral dan meriah itu, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam yaitu hubungan manusia dengan air.
Menurut berbagai catatan budaya dan penelitian akademik, Nunas Nede merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan agar hujan turun dan pertanian kembali subur. Namun bagi masyarakat Kesik, ritual ini juga menjadi pengingat bahwa air tidak akan pernah ada jika manusia berhenti menjaganya.
Amaq Marni, Pemangku adat Desa Kesik, mengatakan, ritual itu sebagai cara menjaga keseimbangan alam dan mengingatkan masyarakat agar tidak merusak sumber kehidupan mereka.
“Air itu bukan cuma untuk manusia. Air itu hidup untuk semua makhluk. Kalau mata air rusak, sawah rusak, kehidupan juga ikut hilang,” katanya saat Mongabay temui di sela prosesi ritual.
Bagi Marni, ritual adat ini bukan sekadar seremoni tahunan, juga bentuk komunikasi antara manusia dengan alam. Karena itu, setiap tahapan ritual memiliki makna, mulai dari pengambilan air, membersihkan mata air, hingga menanam pohon di sekitar sumber air.
Tradisi itu juga menunjukkan bagaimana masyarakat Sasak di Desa Kesik membangun pengetahuan ekologis secara turun-temurun. Di tengah modernisasi pertanian dan perubahan pola hidup masyarakat desa, mereka tetap mempertahankan ritual yang menempatkan alam sebagai pusat kehidupan.

Tak ada sekat sosial
Pagi itu, warga berjalan beriringan menuju salah satu sumber mata air. Para perempuan membawa dulang berisi makanan tradisional. Anak-anak muda ikut membantu membawa perlengkapan ritual. Sementara para tetua adat memimpin doa dan pembacaan zikir.
Di sepanjang perjalanan, warga saling menyapa dan bercengkerama. Tidak ada sekat sosial. Semua melebur sebagai bagian dari masyarakat tani yang memiliki ketergantungan sama terhadap air dan tanah.
Suasana seperti itu membuat Nunas Nede tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga ruang memperkuat solidaritas sosial warga desa. Penelitian dari Universitas Mataram menyebut tradisi ini berfungsi mempererat hubungan sosial masyarakat sekaligus mempertahankan nilai gotong royong antar petani.
Muhamad Kadri, Kepala Desa Kesik, mengatakan masyarakat desa masih mempertahankan ritual itu karena mereka memahami betapa pentingnya air bagi kehidupan pertanian di Kesik.
“Kami hidup dari sawah. Kalau sumber air hilang, masyarakat akan kehilangan penghidupan. Jadi ritual ini bukan sekadar adat, tapi cara masyarakat menjaga kesadaran bersama tentang pentingnya air,” katanya.
Dia bilang, Desa Kesik memiliki sejarah panjang sebagai desa agraris. Sebagian besar wilayah desa berupa lahan pertanian yang bergantung pada sistem irigasi dari mata air alami. Karena itu, masyarakat sejak dulu memiliki aturan adat untuk melindungi kawasan mata air.
Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran masyarakat terhadap perubahan iklim semakin besar. Musim hujan tak menentu. Debit air di beberapa sumber mulai menurun. Sebagian petani mengaku mulai kesulitan menentukan waktu tanam.
Kondisi itu membuat ritual Nunas Nede terasa semakin relevan.
Bagi Amaq Sati, petani yang sejak kecil mengikuti ritual itu, perubahan cuaca sekarang jauh berbeda ketimbang masa lalu. “Dulu musim gampang ditebak. Sekarang kadang hujan terlambat, kadang terlalu deras. Kami petani jadi bingung,” ujarnya.
Masyarakat desa mulai merasakan dampak nyata perubahan lingkungan. Karena itu, ritual adat kini bukan hanya tentang tradisi leluhur, tetapi juga bentuk perlawanan atas krisis ekologi yang terjadi saat ini.
Dalam ritual itu, masyarakat tidak hanya berdoa meminta hujan. Mereka juga membersihkan kawasan mata air, memungut sampah, memperbaiki saluran kecil, dan menanam pohon di sekitar sumber air. Aktivitas itu dilakukan bersama-sama oleh warga dari berbagai dusun.
Di salah satu sumber mata air, beberapa pemuda terlihat menyingkirkan ranting dan lumpur yang menghambat aliran air. Di sisi lain, perempuan menyiapkan makanan untuk disantap bersama setelah ritual selesai.
Gotong royong seperti itu menjadi bagian penting dalam tradisi Nunas Nede. Bagi warga Kesik, menjaga air bukan tugas individu, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat.
Penelitian tentang ritual ini mencatat bahwa mata air dalam tradisi Nunas Nede dipandang sebagai simbol kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keberlangsungannya. Kesadaran ekologis itu lahir jauh sebelum isu perubahan iklim jadi perhatian.
Masyarakat Kesik telah memahami bahwa kerusakan hutan dan hilangnya vegetasi di sekitar mata air akan berdampak langsung terhadap kehidupan pertanian mereka.
Karena itu, beberapa lokasi mata air di Desa Kesik masih warga pertahankan sebagai ruang yang tidak boleh rusak. Ada pohon-pohon besar yang terus tumbuh dan terlarang untuk ditebang.
Bagi masyarakat Kesik, ritual itu juga memperlihatkan bagaimana budaya dan ekologi saling terhubung. Ketika tradisi hilang, maka pengetahuan tentang cara menjaga alam perlahan ikut menghilang. Karena itu, mempertahankan Nunas Nede berarti mempertahankan masa depan desa mereka sendiri.

Cara menjaga air
Prosesi pengambilan air dari tujuh mata air menjadi bagian paling sakral dalam ritual Nunas Nede. Air dari masing-masing sumber warga ambil menggunakan wadah khusus, lalu mereka arak menuju lokasi ritual.
Sudah sejak lama, warga meyakini ketujuh mata air adalah sumber kehidupan. Sebagian mengaliri sawah, sebagian lagi menjadi sumber kebutuhan rumah tangga warga. Karena itulah, masyarakat memandang mata air bukan sekadar sumber air biasa, melainkan ruang kehidupan yang harus mereka jaga.
Dalam perjalanan menuju mata air, warga biasanya berhenti di beberapa titik untuk berdoa bersama. Selain itu, di beberapa lokasi, warga juga melakukan ritual nyawik, menandai area mata air menggunakan simbol-simbol adat sambil memanjatkan harapan agar sumber air tetap lestari.
Prosesi nyawik menjadi simbol penghormatan terhadap alam sekaligus bentuk pengingat agar masyarakat terus menjaga lingkungan sekitar mata air. Karena itu, setiap ritual tahunan selalu diikuti kegiatan penanaman pohon.
Amaq Marni mengatakan, leluhur mereka sejak dulu telah mengingatkan bahwa hilangnya pepohonan akan membuat mata air mati perlahan. “Kalau pohon habis ditebang, air juga ikut pergi. Itu pesan orang tua dulu yang selalu kami jaga,” katanya.
Warga menyadari bahwa keberadaan mata air tidak lagi bisa dianggap aman selamanya. Karena itu, ritual adat berkembang menjadi ruang edukasi lingkungan bagi generasi muda.
Anak-anak dan remaja desa mereka ajak untuk membersihkan mata air, membawa hasil bumi, hingga mendengar cerita para tetua tentang sejarah sumber air di desa mereka.
Muhamad Kadri mengatakan pelibatan generasi muda menjadi hal penting agar pengetahuan lokal tidak hilang. “Kalau anak muda tidak dikenalkan sejak sekarang, nanti mereka hanya tahu air keluar dari keran tanpa tahu bagaimana menjaganya.”
Dalam beberapa tahun terakhir, Nunas Nede kian populer dan dan menarik perhatian masyarakat luar desa. Namun warga berusaha menjaga agar ritual itu tak hanya hanya pertunjukan wisata yang makin kehilangan makna utamanya.
Amak Sati mengatakan dirinya selalu ikut ritual sejak kecil karena merasa kehidupan keluarganya sangat bergantung pada keberadaan air. “Kami ini hidup dari sawah. Kalau air tidak ada, kami tidak bisa tanam apa-apa,” katanya.
Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Kesik memiliki berbagai aturan tidak tertulis untuk menjaga mata air. Terdapat larangan membuang sampah sembarangan, menebang pohon tertentu, hingga kewajiban membersihkan area sumber air secara berkala.
Tradisi itu menunjukkan bagaimana masyarakat adat membangun sistem perlindungan lingkungan berbasis nilai budaya dan spiritualitas.

Menjelang siang, prosesi ritual mencapai puncaknya di lokasi utama. Warga duduk melingkar menikmati hidangan hasil bumi yang mereka bawa bersama. Anak-anak berlarian di sekitar mata air. Sementara para tetua adat kembali memanjatkan doa.
Di tengah lantunan zikir dan suara gemericik air, ritual itu seolah menyampaikan satu pesan sederhana: manusia tidak pernah benar-benar hidup sendiri. Selama masyarakat Kesik masih berjalan menuju tujuh mata air setiap tahun, selama itu pula ingatan tentang hubungan manusia dan alam akan terus hidup di desa kecil di kaki Lombok Timur itu.
*****