Hutan lindung tidak hanya berfungsi menjaga pepohonan dan satwa. Kawasan ini juga menjadi sistem penyangga kehidupan yang mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, serta mempertahankan kesuburan tanah. Namun, perlindungan hutan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dan memahami bentang alam tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Gambaran itu terlihat di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kawasan seluas sekitar 10 ribu hektare ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan menjadi habitat orangutan kalimantan, termasuk lokasi pelepasliaran individu yang telah direhabilitasi. Hutan ini dapat dimasuki melalui beberapa kampung, salah satunya Desa Lesan Dayak yang dihuni masyarakat Dayak.
Dalam kegiatan penelitian dan ekowisata, masyarakat tidak sekadar menjadi pelengkap. Mereka terlibat sejak persiapan, menyediakan rumah singgah dan kawasan perkemahan, menyambut pengunjung, serta bekerja sebagai pemandu lokal. Pengetahuan mereka mengenai jalur hutan dan lokasi perjumpaan satwa membantu penelitian burung, mamalia, kupu-kupu, herpetofauna, kelelawar, vegetasi, serta cadangan karbon.
Penelitian selama hampir tiga bulan mencatat 55 jenis herpetofauna, 38 jenis mamalia darat, 112 jenis kupu-kupu, 187 jenis burung, dan 15 jenis kelelawar. Hasil tersebut memperlihatkan pentingnya Sungai Lesan bagi keanekaragaman hayati Kalimantan. Kegiatan ini juga menghasilkan buku panduan kupu-kupu yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenalkan kekayaan hutan kepada pengunjung.
Meski berstatus hutan lindung, Sungai Lesan menghadapi tekanan pembukaan lahan dan dikelilingi perkebunan sawit. Koridor yang menghubungkannya dengan kawasan hutan lebih luas juga berisiko dialihfungsikan. Dalam situasi ini, penelitian dan ekowisata berbasis masyarakat diharapkan memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat alasan untuk mempertahankan hutan.
Bagaimana masyarakat dapat ditempatkan sebagai pelaku utama penelitian dan konservasi? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Nanda Indah Dian Lestari, peneliti dari Operation Wallacea. Percakapan ini mengulas kerja sama antara peneliti, masyarakat, pemerintah, dan organisasi konservasi dalam menjaga Hutan Lindung Sungai Lesan. Diskusi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dan sains berjalan bersama untuk melindungi hutan sekaligus memperkuat penghidupan masyarakat di sekitarnya.


