Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Kita memasuki bulan yang seharusnya sudah mulai turun hujan, namun tampaknya fenomena El-Nino membuat Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang. Sepanjang bulan September, berbagai cerita tentang lingkungan kembali hadir dari banyak daerah di Indonesia. Ceritanya beragam, mulai dari nelayan yang berupaya menjaga laut dan hasil tangkapan mereka, hutan yang menghadapi tekanan dari proyek panas bumi, hingga kisah tentang gajah dan pentingnya menjaga habitat tempat mereka hidup.
Di Aceh, petani mulai melirik kacang koro pedang sebagai pangan lokal yang dinilai mampu bertahan di tengah musim kering. Sementara itu, dari Jabodetabek, kemarau panjang membuat sejumlah sungai mengalami penurunan debit, bahkan mengering. Kondisi ini ikut mengingatkan kembali betapa pentingnya ketersediaan air bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Penasaran dengan cerita lengkapnya? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps bulan September.
1. Nelayan Ende jaga laut dengan sistem buka-tutup

Gelombang tinggi membuat nelayan di Maurongga, Ende, Nusa Tenggara Timur, harus menarik perahu ke daratan. Namun, di tengah kondisi itu, mereka tetap berupaya menjaga sumber penghidupan dari laut.
Masyarakat Maurongga menerapkan sistem buka-tutup wilayah tangkapan gurita. Wilayah ini ditutup secara bergantian selama tiga bulan agar gurita memiliki waktu untuk berkembang biak.
Upaya ini, kata nelayan, membuat ukuran gurita hasil tangkapan meningkat. Meski begitu, mereka masih menghadapi ancaman penangkapan destruktif seperti bom, potasium, dan racun serangga.
2. Panas bumi masuk ke hutan warisan dunia

Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, pembangunan proyek geothermal terlihat membelah kawasan hutan. Jalan industri selebar 16 meter membentang sekitar 10 kilometer ke dalam kawasan konservasi.
TNBBS merupakan bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra dan menjadi habitat bagi satwa seperti harimau, gajah, serta berbagai flora dan fauna lainnya.
Sejumlah organisasi lingkungan mempertanyakan dampak pembangunan infrastruktur proyek tersebut terhadap ekosistem dan habitat satwa. Tulisan ini menjadi pembuka kolaborasi investigasi yang akan terbit di bulan Oktober.
3. Ada dongeng yang mengajarkan di mana rumah gajah

Lewat dongeng tentang dua gajah bersaudara, Gogo dan Gigi, pesan konservasi disampaikan kepada anak-anak penyandang disabilitas di Malang.
Cerita itu mengajak anak-anak memahami bahwa rumah gajah adalah hutan. Kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi konservasi yang dilakukan Difpala, Lingkar Sosial, dan Geopix.
Selain mendongeng, komunitas tersebut juga menjalankan berbagai kegiatan lingkungan seperti menanam pohon, membersihkan sampah, serta edukasi alam yang melibatkan penyandang disabilitas.
Pesannya sederhana yang disampaikan pun sederhana, menjaga gajah juga berarti menjaga hutan dan habitat tempat mereka hidup.
4. Bukan kacang kedelai, tapi kacang ini bisa jadi alternatif pembuatan tempe

Di Aceh, kacang koro pedang atau kacang parang mulai kembali ditanam petani. Tanaman ini dinilai tahan terhadap musim kemarau dan dapat menjadi alternatif bahan baku tempe selain kedelai.
Petani di Aceh Besar mulai membudidayakannya secara tumpang sari dengan berbagai tanaman lain. Koro pedang juga tidak membutuhkan banyak air dan disebut lebih tahan terhadap panas serta hama.
Tak hanya petani, pengembangan tempe koro juga membuka peluang ekonomi bagi ibu rumah tangga di Alue Naga, Banda Aceh. Mereka mengolah koro menjadi tempe dengan jam kerja yang relatif fleksibel.
5. Kemarau panjang, sungai di Jabodetabek ikut mengering

Kemarau panjang mulai memperlihatkan dampaknya di sejumlah wilayah hulu sungai yang mengalir ke Jabodetabek.
Sungai Ciliwung dilaporkan sudah lebih dari sebulan mengalami kondisi mengering. Di Sukamakmur, Bogor, Sungai Cipamingkis dan sejumlah aliran sungai lainnya juga mengalami penurunan debit.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga kebutuhan sehari-hari warga. Masyarakat mengandalkan sumber air untuk minum, memasak, mandi, hingga mengairi sawah dan kebun.


