- Lewat dongeng gajah, Difpala, berusaha menyampaikan pesan konservasi dengan cara yang menyenangkan. Sekaligus membuka penyandang disabilitas turut berperan aktif dalam edukasi konservasi dan pelestarian lingkungan.
- Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix mengatakan gajah berperan penting dalam ekosistem. Sekaligus memiliki kedudukan tinggi dalam catatan sejarah, budaya dan kerajaan di nusantara.
- Tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman meneliti dan menganalisis data genetik gajah jinak serta penyakit infeksi dan non infeksi. Hasil pemeriksaan diketahui gajah Sumatera banyak yang terserang infeksi parasit, bakteri, virus dan jamur.
- Perlindungan gajah tak cukup hanya di kawasan konservasi. Tapi juga mencakup habitat dan koridor yang bersinggungan dengan aktivitas masyarakat. Inpres Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan menjadi langkah penting memperkuat konservasi lintas sektor.
Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari bak seekor gajah. Di depan 50-an anak-anak penyandang disabilitas, Kak Acan tampil memukau. Mereka duduk meriung menyimak Kak Acan, termasuk difabel tuli. Kak Arum, menerjemahkan dalam bahasa isyarat.
Dongeng gajah Gogo dan Gigi, tersaji ketika memperingati Hari Gajah Sedunia Agustus lalu di Malang Creative Center (MCC). Acan mengisahkan dua anak gajah, kakak beradik, Gogo dan Gigi. Sang adik, Gigi terpisah dari rombongan gajah karena pemburu yang meletuskan senjatanya. Setelah aman, Gogo pun mencari Gigi di hutan rimba.
“Gogo harus mengarungi hutan, sungai dan perbukitan,” kata Kak Acan. Menembus semak belukar dan berbagai halangan ia hadapi untuk bertemu dengan sang adik. Akhirnya, mereka bertemu, Gigi kembali bersama rombongan gajah. Mereka kembali berjalan bersama-sama menembus hutan belantara.
“Dimana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. “Di hutan,” jawab anak-anak penyandang disabilitas.
Mereka antusias, menyimak dan menghayati pesan dari cerita Kak Acan.
Kegiatan mendongeng gajah merupakan kerja sama antara Difabel Pecinta Alam (Difpala), Lingkar Sosial (Linksos) dengan Geopix.
Kak Acan melontarkan pertanyaan kepada para penonton. Mereka yang menjawab benar mendapat hadiah. Selama tiga jam, mereka duduk tepekur menyimak Kak Acan.
Edukasi ringan terkait dengan hutan dan satwa mengawali kegiatan edukasi itu. Di sela-sela mendongeng, mereka mengisinya dengan pentas seni. Dari membaca puisi, menyanyi, hingga membaca Quran.
Selain peringati Hari Gajah Sedunia, kegiatan itu juga bagian dari kampanye bersama bertema ”Make Elephant Great Again atau Kembalikan Kejayaan Gajah”. Sebuah gerakan yang mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan perlindungan gajah Indonesia di habitatnya melalui aksi kreatif, edukasi publik, serta kampanye digital.
“Hari Gajah Sedunia menjadi momentum meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian Gajah Indonesia dan habitatnya,” kata Kertaning Tyas, pembina Linksos.
Difpala, katanya, berusaha menyampaikan pesan konservasi dengan cara yang menyenangkan. Sekaligus membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk turut berperan aktif dalam edukasi konservasi dan pelestarian lingkungan.
Menurut dia, kesadaran kolektif tentang ekosistem dan hutan memang harus tertanam sejak dini. Termasuk kepada kalangan disabilitas.
Dulu, kata Ken Kerta, sapaannya, mereka bertanya kapan diajak jalan-jalan ke kebun binatang. Nah, setelah mengikuti dongeng, mereka menyadari kebun binatang bukan tempat yang tepat. Mereka menyadari jika rumah gajah adalah hutan belantara.
“Adik-adik ternyata mengetahui habitat gajah di hutan. Sehingga gajah harus kembali ke alam, bukan di kebun binatang.”
Mereka juga menyebarkan stiker ajakan menjaga gajah, satwa dan hutan kepada para pengunjung MCC. Disana, mereka juga berswafoto di depan lukisan Ganesha yakni dewa berkepala gajah.
Dalam tradisi agama Hindu, Ganesha merupakan representasi dari dewa kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan penghilang segala rintangan.

Edukasi konservasi
Sebelumnya, mereka pernah membuat program “Tuli Mendongeng” dalam Educamp Pramuka pada 2024 dengan melibatkan juru bahasa isyarat. “Jadi bilingual. Bahasa Indonesia dan bahasa isyarat,” katanya.
Difpala konsisten untuk kampanye lingkungan, hutan dan satwa dan menjadikannya sebagai program berkelanjutan. Beberapa program lain organisasi ini adalah membersihkan sampah di atas gunung, menanam pohon dan pendakian ke sejumlah gunung.
Sejak Linksos berdiri 2020, sejumlah anggota mulai tertarik isu lingkungan yang memulainya dengan mendaki gunung. Anggota yang tertarik mendaki gunung bergabung dalam Difpala. Mereka juga melakukan seven summit yang berlanjut dengan menanam pohon di sejumlah kawasan hutan.
Tahun ini memasuki babak baru dengan mengangkat persoalan satwa liar. “Sehingga usaha melestarikan alam secara utuh. Hutan, satwa dan ekosistemnya,” kata Ken.
Komunitas ini menempatkan Gunung Wedon di Lawang, Kabupaten Malang sebagai pusat edukasi konservasi inklusif dalam program inclusive forest school. Secara berkala para remaja disabilitas bersama-sama bekerja sama dengan homeschooling belajar berbagai kegiatan. Anak-anak difabel belajar dan bermain bersama.
“Belajar dan bersenang-senang di alam,” katanya.
Sedangkan kegiatan mendongeng menjadi salah satu kegiatan edukasi yang menyenangkan. Sehingga, kerap dilangsungkan kegiatan mendongeng bertema lingkungan.
Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix mengatakan, gajah berperan penting dalam ekosistem. Sekaligus memiliki kedudukan tinggi dalam catatan sejarah, budaya dan kerajaan di nusantara.
“Gajah memegang peran penting dalam meregenerasi ekosistem hutan, sebagai petani hutan dan melestarikannya,” katanya.
Namun, kini nasibnya miris. Hidupnya terancam karena habitat rusak. Terjadi perburuan keji hingga populasi menurun drastis. Hari Gajah Sedunia menjadi momentum bersama untuk menciptakan ruang terbuka bagi konservasi inklusif guna suarakan perlindungan alam dan satwa liar Indonesia, termasuk gajah.

Populasi menyusut
Populasi gajah Sumatera menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir. Pada 1980-an, perkiraan populasi gajah Sumatera masih 2.800-4.800. Pada 2007 turun menjadi 2.400–2.800 gajah.
Data terbaru Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) pada 2019 memperkirakan populasi gajah sumatera sekitar 1.087-1.606.
Berdasarkan data pertemuan kelompok diskusi terpumpun (FGD) Peta Jalan Mitigasi Konflik Gajah Sumatera pada Juli 2025 memperkirakan populasi kisaran 1.365-1.719 gajah yang tersebar di 21 kantong habitat. Sedangkan data Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) 2024, populasi di Borneo (Sabah dan Kalimantan Utara) berkisar 1.000 gajah.
Doni Gunaryadi, Ketua FKGI mengatakan, gajah berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sekaligus, bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati yang harus jaga bersama. “Kurang lebih 550 gajah jinak berada di lembaga konservasi ex situ,” katanya.
Burhanuddin, Pakar Konservasi IPB University, mengatakan, dalam tiga generasi, perkiraan populasi gajah Sumatera turun lebih 70%. Selain habitat terus menyusut dan terfragmentasi, juga akibat perburuan liar.
“Populasi gajah Sumatera saat ini diperkirakan tersisa 900–1.350 individu, turun pada 2007 diperkirakan 2.400–2.800,” katanya.
Wilayah sebaran di sekitar 22 kantong habitat terisolasi di Aceh, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Lampung. Pada 9 Agustus, satu gajah mati di perkebunan sawit di Aceh Tamiang.
“Wilayah sebarannya semakin terbatas,” tulis Burhanuddin dalam siaran pers sebagai refleksi peringatan Hari Gajah Sedunia.
Hutan yang makin terfragmentasi menjadi menjadi persoalan paling serius. Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, permukiman, dan pertambangan mengurangi habitat sekaligus memutus koridor pergerakan gajah.
“Gajah memiliki pola pergerakan yang tetap dan reguler di dalam wilayah jelajahnya,” katanya.

*****