Gua bukan sekadar lorong gelap di bawah permukaan bumi. Di balik batuan, aliran air, dan ruang yang nyaris tidak tersentuh cahaya, tersimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Salah satunya adalah “udang purba”, hewan berukuran kurang dari satu sentimeter yang hidup di kolam-kolam kecil di lantai gua.
Meski disebut udang, satwa ini sebenarnya termasuk kelompok isopoda. Salah satu jenisnya, Stenasellus javanicus, pertama kali ditemukan di Jawa pada 2004 melalui kegiatan penelusuran Gua Cikarai di kawasan karst Klapanunggal, Bogor. Dua individu yang ditemukan saat itu kemudian diteliti dan dideskripsikan sebagai spesies baru.
Keunikan Stenasellus tidak hanya terlihat dari tubuhnya yang beruas dan berwarna merah muda. Kerabat jauhnya hidup di laut, tetapi kelompok yang ditemukan di Indonesia sejauh ini hanya dijumpai di perairan tawar dalam gua. Mereka menghuni kolam yang terbentuk dari tetesan air di atap dan dinding gua, bukan dari sungai permukaan. Peralihan dari laut menuju habitat air tawar diperkirakan berlangsung melalui proses evolusi yang sangat panjang.
Sebarannya telah tercatat di sejumlah wilayah, dari Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jawa Barat, hingga Kalimantan. Namun, tiap populasi dapat terisolasi dalam kawasan karst yang berbeda. Kondisi ini membuka kemungkinan adanya jenis-jenis lain yang belum dikenali.
Habitatnya yang sempit juga membuat udang purba rentan terhadap gangguan. Aktivitas wisata, penelusuran yang tidak bertanggung jawab, sampah, pencemaran, serta pertambangan dapat mengubah kualitas air dan merusak kolam tempat hidupnya.
Bagaimana udang purba bertahan dalam kegelapan gua? Mengapa satwa yang leluhurnya berasal dari laut kini ditemukan jauh di daratan?
Mongabay Indonesia membahasnya bersama Dr. Cahyo Rahmadi, peneliti zoologi LIPI (sekarang BRIN) saat diskusi berlangsung. Percakapan ini menelusuri proses penemuan, adaptasi, persebaran, dan ancaman terhadap Stenasellus, sekaligus menunjukkan pentingnya penelusuran gua bagi ilmu pengetahuan dan konservasi kawasan karst.


