Durian dikenal sebagai “raja buah” karena aroma, rasa, dan nilai ekonominya. Namun, di balik popularitas tersebut, terdapat keragaman varietas lokal yang belum banyak dikenal. Setiap daerah dapat memiliki durian dengan karakter berbeda, mulai dari warna, ketebalan daging, ukuran biji, hingga tingkat kemanisannya. Salah satunya adalah Durian Bentara dari Bengkulu Utara.
Nama Bentara merupakan singkatan dari Bengkulu Utara, daerah asal pohon induknya. Sebelum ditetapkan sebagai varietas unggul nasional, durian ini dikenal sebagai durian tembaga lokal Batu Layang karena warna dagingnya yang kuning menyerupai tembaga. Pada 2005, Kementerian Pertanian melepas Durian Bentara sebagai varietas unggul nasional.
Durian Bentara memiliki daging tebal, kulit relatif tipis, aroma harum, serta rasa manis dan legit. Namun, ketersediaannya masih terbatas. Pohon penghasil Durian Bentara belum banyak, sementara bibitnya perlu dikembangkan melalui okulasi agar mempertahankan sifat unggul pohon induk.
Meski demikian, durian tetap dipengaruhi perubahan iklim. Hujan berkepanjangan, kemarau terlalu lama, dan angin kencang dapat mengganggu pertumbuhan serta pembuahan. Kondisi ini memperlihatkan hubungan timbal balik: pohon durian dapat berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, tetapi keberlangsungannya juga bergantung pada kestabilan iklim.
Mongabay Indonesia membahasnya bersama Gunggung Senoaji, dosen kehutanan Universitas Bengkulu dalam sebuah percakapan dalam mengulas keunggulan Durian Bentara, teknik budidaya, manfaat ekonomi dan ekologis, serta tantangan menjaga varietas durian lokal di tengah perubahan iklim.


