<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=suryadi-dumai&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/suryadi-dumai/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2026 07:50:20 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Mengapa Hutan Jongot di Sumatera Selatan Selamat dari Karhutla?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/23/mengapa-hutan-jongot-di-sumatera-selatan-selamat-dari-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/23/mengapa-hutan-jongot-di-sumatera-selatan-selamat-dari-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>23 Okt 2026 07:50:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/23074505/Jongot-hutan-adat-Suku-Musi-di-Tempirai-Kabupaten-PALI-Sumsel-yang-terbebas-dari-kebakaran-hutan-dan-lahan.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135454</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Mereka yang Berjuang untuk Hutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya gambut, hingga hari ini masih terjadi di Sumatera Selatan. Kabut asap terus menyelimuti Palembang dan beberapa kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Selatan. Adakah kawasan hutan yang tidak terbakar? “Puji syukur, jongot kami tidak terbakar, juga jongot-jongot lainnya di sini,” kata Toni Caye (57), pemilik jongot di Talang Lebung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/mengapa-hutan-jongot-di-sumatera-selatan-selamat-dari-karhutla/">Mengapa Hutan Jongot di Sumatera Selatan Selamat dari Karhutla?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya gambut, hingga hari ini masih terjadi di Sumatera Selatan. Kabut asap terus menyelimuti Palembang dan beberapa kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Selatan. Adakah kawasan hutan yang tidak terbakar? “Puji syukur, jongot kami tidak terbakar, juga jongot-jongot lainnya di sini,” kata Toni Caye (57), pemilik jongot di Talang Lebung Jauh, Desa Tempirai Utara, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Rabu (21/10/26). “Alhamdulillah jongot tidak terbakar. Tapi sebagian kebun saya terbakar,” kata Muslim (50), pewaris jongot generasi di Talang Komar, tidak jauh dari wilayah gambut Danau Burung. Jongot adalah hutan adat yang dilestarikan masyarakat Suku Musi yang menetap di Tempirai, yang berada di lanskap lahan basah Penukal, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan. Jongot yang luasannya kisaran setengah hingga satu hektar, saat ini jumlahnya sekitar seratusan titik di Tempirai, dan sebagian sudah berusia seratusan tahun. Selama sebulan terakhir, wilayah Tempirai yang terdiri empat desa, yakni Desa Tempirai, Desa Tempirai Utara, Desa Tempirai Timur, dan Desa Tempirai Selatan, mengalami kebakaran. Luas lahan basah di Tempirai sekitar 13.904 hektar bukan hanya terdiri sungai, tetapi juga rawa, dan paye. Jongot, hutan adat Suku Musi di Tempirai, Kabupaten PALI, Sumsel, yang terbebas dari kebakaran hutan dan lahan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Bencana kebakaran di Tempirai bermula dari kawasan gambut di sekitar Danau Burung dan area transmigran. Kebakaran ini kemudian meluas hingga membakar kebun masyarakat, khususnya karet dan sawit. “Kabut asap masih kami rasakan hingga sekarang. Sudah banyak yang terkena penyakit ISPA (Infeksi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/mengapa-hutan-jongot-di-sumatera-selatan-selamat-dari-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/23/mengapa-hutan-jongot-di-sumatera-selatan-selamat-dari-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjelajah Lebih dari 1.800 Kilometer, Pari Manta Raksasa Dewasa Tetap Pulang ke Terumbu yang Sama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/23/menjelajah-lebih-dari-1-800-kilometer-pari-manta-raksasa-dewasa-tetap-pulang-ke-terumbu-yang-sama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/23/menjelajah-lebih-dari-1-800-kilometer-pari-manta-raksasa-dewasa-tetap-pulang-ke-terumbu-yang-sama/#respond</comments>
					<pubDate>23 Okt 2026 02:06:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/23015823/giant-manta-adf-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135440</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pari manta raksasa sering digambarkan sebagai satwa laut lepas yang melayang tenang di perairan biru dalam. Lebar sayapnya bisa mencapai sekitar tujuh meter, menjadikannya ikan pari terbesar di dunia, dan ia mencari makan dengan berenang sambil membuka mulut melewati gerombolan plankton. Meski ukurannya raksasa, pari manta tidak berbahaya bagi manusia. Hewan ini juga tercatat menempuh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/menjelajah-lebih-dari-1-800-kilometer-pari-manta-raksasa-dewasa-tetap-pulang-ke-terumbu-yang-sama/">Menjelajah Lebih dari 1.800 Kilometer, Pari Manta Raksasa Dewasa Tetap Pulang ke Terumbu yang Sama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pari manta raksasa sering digambarkan sebagai satwa laut lepas yang melayang tenang di perairan biru dalam. Lebar sayapnya bisa mencapai sekitar tujuh meter, menjadikannya ikan pari terbesar di dunia, dan ia mencari makan dengan berenang sambil membuka mulut melewati gerombolan plankton. Meski ukurannya raksasa, pari manta tidak berbahaya bagi manusia. Hewan ini juga tercatat menempuh jarak sangat jauh dan menyelam hingga lebih dari 1.000 meter. Namun gambaran tentang pengembara samudra itu tidak berlaku sepanjang hidupnya, karena pari manta muda ternyata menghabiskan bertahun-tahun pertamanya di dekat pantai. Penelitian terbaru di pesisir Pasifik Kosta Rika menunjukkan perbedaan yang jelas menurut umur. Pari manta muda tetap berada di perairan dangkal dekat pantai selama pelacakan, sedangkan yang dewasa berkelana melintasi perairan lima negara. Studi yang terbit di jurnal Frontiers in Fish Science ini disebut sebagai pelacakan pertama pari manta raksasa (Mobula birostris) di Amerika Tengah dan berlangsung selama tujuh tahun. Tim peneliti memadukan pemancar sinyal bawah air, pemancar satelit, dan foto dari para penyelam untuk menyusun gambaran pergerakan hewan-hewan ini. Hasilnya menunjukkan bahwa perlindungan yang berhenti di batas kawasan konservasi belum mencakup rute yang dilalui pari manta dewasa. Anak Pari Bertahan di Perairan Dangkal Antara 2018 dan 2025, peneliti memasang pemancar sinyal kecil pada 59 pari manta. Sinyalnya ditangkap oleh alat penerima di bawah air yang dipasang di terumbu sepanjang pantai dan di sekitar Pulau Cocos, sekitar 532 kilometer dari daratan. Dari semua pemancar itu, 42 menghasilkan data. Dua belas pari manta lain dipasangi pemancar yang terhubung ke satelit, sehingga posisinya bisa dipantau saat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/menjelajah-lebih-dari-1-800-kilometer-pari-manta-raksasa-dewasa-tetap-pulang-ke-terumbu-yang-sama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/23/menjelajah-lebih-dari-1-800-kilometer-pari-manta-raksasa-dewasa-tetap-pulang-ke-terumbu-yang-sama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Khawatir Sulit Air dan Terdampak Pasca Penetapan Zonasi Taman Nasional Gunung Mutis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/23/warga-khawatir-sulit-air-dan-terdampak-pasca-penetapan-zonasi-taman-nasional-gunung-mutis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/23/warga-khawatir-sulit-air-dan-terdampak-pasca-penetapan-zonasi-taman-nasional-gunung-mutis/#respond</comments>
					<pubDate>23 Okt 2026 02:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/15042437/FOTO-1-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135065</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, infrastruktur, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiba dari ibadah minggu, Lodya Oematan tak langsung beristirahat. Bersama Nordi Bai, anggota Kelompok Perempuan Tani Satu Hati, dia bergegas mengambil ember dan berjalan menuju ke sumur di kebunnya. Mereka menimba, mengangkut, lalu menyiram tanaman stroberi. Sumber air masyarakat Desa Fatumnasi, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),  Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Gunung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/warga-khawatir-sulit-air-dan-terdampak-pasca-penetapan-zonasi-taman-nasional-gunung-mutis/">Warga Khawatir Sulit Air dan Terdampak Pasca Penetapan Zonasi Taman Nasional Gunung Mutis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiba dari ibadah minggu, Lodya Oematan tak langsung beristirahat. Bersama Nordi Bai, anggota Kelompok Perempuan Tani Satu Hati, dia bergegas mengambil ember dan berjalan menuju ke sumur di kebunnya. Mereka menimba, mengangkut, lalu menyiram tanaman stroberi. Sumber air masyarakat Desa Fatumnasi, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),  Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Gunung Mutis. Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga,  air dari Gunung Mutis juga mengairi lahan pertanian, sawah, hingga ternak. Bagi Lodya, Mutis sebagai jantungnya Pulau Timor. Sejak 2024, saat penurunan status dari cagar alam jadi  Taman Nasional Mutis Timau, masyarakat khawatir soal  ketersediaan air. Terlebih, saat musim kemarau tiba. Ini karena hutan alam Mutis merupakan kawasan tangkapan air yang menjadi sumber untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian hingga peternakan masyarakat di hilir. “Gunung Mutis bukan milik Mama Lodya Oematan. Bukan milik orang Fatumnasi. Ribuan orang di pinggir-pinggir, di mana-mana punya. Kalau kita kasih rusak, yang di pinggir-pinggir ini tidak dapat air. Kita susah,” kata Lodya, warga Fatumnasi sekaligus Ketua Kelompok Wanita Tani Satu Hati, Minggu (13/9/26). Kebutuhan air bagi kebun Lodya tergantung pada kelestarian Gunung Mutis. Dia tak hanya menanam stroberi, ada apel dan jeruk di lahan kurang lebih satu hektar itu. Sebelumnya, budidaya jeruk menjadi pilihan utama, namun karena keterbatasan air, dia beralih menyemai stroberi. Salah satu budidaya tanaman stoberi yLodya Oematan di samping pekarangan rumahnya. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia Lodya mengatakan tidak semua warga punya akses air sama. Sebagian rumah tangga masih dapat peroleh air bersih dari mata air di sekitar rumahnya, sementara yang lain&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/warga-khawatir-sulit-air-dan-terdampak-pasca-penetapan-zonasi-taman-nasional-gunung-mutis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/23/warga-khawatir-sulit-air-dan-terdampak-pasca-penetapan-zonasi-taman-nasional-gunung-mutis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Benarkah Garam dan Tanaman Tertentu Bisa Mengusir Ular?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/benarkah-garam-dan-tanaman-tertentu-bisa-mengusir-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/benarkah-garam-dan-tanaman-tertentu-bisa-mengusir-ular/#respond</comments>
					<pubDate>23 Okt 2026 00:30:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003614/ular-cobra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135390</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Menaburkan garam di halaman sering dianggap cara sederhana untuk mencegah ular masuk rumah. Tanaman tertentu pun mendapat reputasi sebagai pengundang atau pengusir reptil ini.  Namun, menurut Amir Hamidy, herpetolog BRIN, kehadiran ular lebih berkaitan dengan tempat berlindung dan ketersediaan mangsa. Pekarangan yang menyediakan persembunyian bagi tikus, burung, atau hewan kecil lain dapat menjadi lokasi berburu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/benarkah-garam-dan-tanaman-tertentu-bisa-mengusir-ular/">Benarkah Garam dan Tanaman Tertentu Bisa Mengusir Ular?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Menaburkan garam di halaman sering dianggap cara sederhana untuk mencegah ular masuk rumah. Tanaman tertentu pun mendapat reputasi sebagai pengundang atau pengusir reptil ini.  Namun, menurut Amir Hamidy, herpetolog BRIN, kehadiran ular lebih berkaitan dengan tempat berlindung dan ketersediaan mangsa. Pekarangan yang menyediakan persembunyian bagi tikus, burung, atau hewan kecil lain dapat menjadi lokasi berburu. Karena itu, memahami kondisi lingkungan lebih berguna daripada mengandalkan anggapan tentang aroma tanaman atau bahan yang ditaburkan di sekitar rumah. “Sebenarnya tanaman itu bukan secara spesifik mengundang ular, tapi memberi ruang untuk ular berlindung,” kata Amir. Anggrek, serai, melati, bambu, dan mint termasuk tanaman yang kerap dikaitkan dengan kehadiran ular, tetapi Amir menyebut belum ada bukti ilmiah bahwa tanaman tersebut mengundangnya. Aroma bunga bukanlah senyawa pemikat ular.  Berbeda dengan feromon yang dikeluarkan sesama jenis saat musim kawin, bau tumbuhan tidak memberikan daya tarik serupa. Ular dapat memilih vegetasi karena cocok untuk bersembunyi, menyamarkan tubuh, atau menyediakan makanan. Sebagai satwa yang cenderung menghindari keterpaparan, ular membutuhkan perlindungan dari lingkungan sekitar. Warna tubuh membantu mereka menyatu dengan tempat tinggalnya, seperti ular hijau di antara dedaunan. Hubungan dengan tanaman juga dapat terjadi melalui mangsa.  “Kalau tumbuhan menyediakan shelter untuk tikus, bajing, serangga, atau burung yang jadi mangsa ular, ya wajar kalau ular datang,” ujar Amir.  Sampah makanan yang menarik tikus, misalnya, dapat diikuti kedatangan ular. Kehadiran reptil tersebut merupakan bagian dari hubungan pemangsa dan mangsa yang berlangsung di sekitar permukiman. Bagaimana dengan garam? Amir menjelaskan bahwa tubuh ular dilindungi sisik, sehingga menaburkan garam bukan cara efektif untuk mengusirnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/benarkah-garam-dan-tanaman-tertentu-bisa-mengusir-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/benarkah-garam-dan-tanaman-tertentu-bisa-mengusir-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Indonesia Kejar Pembiayaan Keanekaragaman Hayati di COP17?  Koalisi Ingatkan Benahi Tata Kelola</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/23/indonesia-kejar-pembiayaan-keanekaragaman-hayati-di-cop17-koalisi-ingatkan-benahi-tata-kelola/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/23/indonesia-kejar-pembiayaan-keanekaragaman-hayati-di-cop17-koalisi-ingatkan-benahi-tata-kelola/#respond</comments>
					<pubDate>23 Okt 2026 00:20:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhibar Sobary Ardan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/12101315/Induk-dan-anak-tapanuli-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135428</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Armenia dan Yerevan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah Indonesia berupaya mendapatkan sumber pembiayaan keanekaragaman hayati di ajang  pertemuan para pihak di Konvensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP-CBD) 17 di Armenia. Bahkan, di dalam negeri,  pemerintah sedang menyiapkan instrumen pembiayaan untuk keanekaragaman hayati ini. Koalisi masyarakat sipil yang memperjuangkan tata kelola iklim  (Justice Coalition for Our Planet (JustCOP)  menilai, langkah Pemerintah Indonesia ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/indonesia-kejar-pembiayaan-keanekaragaman-hayati-di-cop17-koalisi-ingatkan-benahi-tata-kelola/">Indonesia Kejar Pembiayaan Keanekaragaman Hayati di COP17?  Koalisi Ingatkan Benahi Tata Kelola</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah Indonesia berupaya mendapatkan sumber pembiayaan keanekaragaman hayati di ajang  pertemuan para pihak di Konvensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP-CBD) 17 di Armenia. Bahkan, di dalam negeri,  pemerintah sedang menyiapkan instrumen pembiayaan untuk keanekaragaman hayati ini. Koalisi masyarakat sipil yang memperjuangkan tata kelola iklim  (Justice Coalition for Our Planet (JustCOP)  menilai, langkah Pemerintah Indonesia ini tak menuntaskan akar masalah. Instrumen itu justru berisiko membuka celah praktik manipulasi dan kerusakan lingkungan. Koalisi ingatkan pemerintah untuk benahi tata kelola, menyetop perusakan keanekaragaman hayati alih-alih membisniskannya. Noer Adi Wardojo,  Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (PPKL), Kementerian Lingkungan Hidup, mengatakan, mendorong mekanisme pembiayaan biodiversitas yang inovatif. Dia bilang, ada beberapa instrumen jalur pembiayaan keanekaragaman hayati yang potensial di Indonesia. Pertama, biodiversity credits atau kredit keanekaragaman hayati. Kedua, access and benefit-sharing atau mekanisme pembagian manfaat seperti kesepakatan dalam Nagoya Protokol. “Indonesia memandang instrumen itu dapat membantu menghubungkan kesenjangan antara komitmen konservasi dan implementasi nyata,” katanya dalam pertemuan side event di The 17th Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP17)  Armenia, Senin, (19/10/26). Indonesia, katanya, mendorong jalur pembiayaan access and benefit-sharing karena memungkinkan ada hubungan bilateral dari negara asal pemilik sumber daya genetik dan penerima manfaat dari sumber daya itu. “Jadi, antara satu negara dengan negara lain itu sepakat melakukan pembayaran royalti atau benefitnya.” Indonesia, katanya, akan menerbitkan peraturan pemerintah untuk mengakomodir instrumen access and benefit sharing itu. Dalam kesepakatan Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal pada 2022 menetapkan target memobilisasi dana setidaknya US$200 miliar per tahun dari seluruh sumber pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/indonesia-kejar-pembiayaan-keanekaragaman-hayati-di-cop17-koalisi-ingatkan-benahi-tata-kelola/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/23/indonesia-kejar-pembiayaan-keanekaragaman-hayati-di-cop17-koalisi-ingatkan-benahi-tata-kelola/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyelisik Dana Karbon Kalimantan Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/22/menyelisik-dana-karbon-kalimantan-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/22/menyelisik-dana-karbon-kalimantan-timur/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 22:40:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/22222506/Foto-8-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135397</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kampung-kampung di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, hampir semua menerima dana proyek pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi lahan. Kampung Liu Mulang, Kecamatan Long Pahagai, salah satunya. Hendrikus Helaq,  Kepala Kampung Liu Mulang, Hendrikus Helaq, mengaku menerima dana setelah mengikuti sosialisasi rencana proyek itu pada 2023 di Kutai Barat. Dia terlebih dahulu membahas masalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/menyelisik-dana-karbon-kalimantan-timur/">Menyelisik Dana Karbon Kalimantan Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kampung-kampung di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, hampir semua menerima dana proyek pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi lahan. Kampung Liu Mulang, Kecamatan Long Pahagai, salah satunya. Hendrikus Helaq,  Kepala Kampung Liu Mulang, Hendrikus Helaq, mengaku menerima dana setelah mengikuti sosialisasi rencana proyek itu pada 2023 di Kutai Barat. Dia terlebih dahulu membahas masalah ini bersama warga sebelum menyatakan setuju. “Dana yang diterima Kampung Liu Mulang akhir 2024 sekitar Rp378 juta,” katanya. Dana proyek karbon itu dia masukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung. Untuk bisa memakai dana itu, warga Kampung Liu Mulang harus mengajukan proposal kegiatan. Proses pembuatan proposal dengan dampingan tenaga pendamping dari Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa serta pihak lain yang terlibat dalam penyusunan rencana kegiatan. Contoh pengadaan bibit buah-buahan dan kakao untuk kelompok tani dan penyuluhan bagi kelompok tani. Meski begitu, kata Hendrikus, duit itu tidak langsung kepada masyarakat secara tunai. “Untuk ke masyarakat sih nggak ada. Hanya berupa kegiatan-kegiatan pengadaan bibit dengan pelatihan kelompok tani,” katanya. Baginya, kegiatan yang memakai dana karbon itu tak selaras dengan pelestarian hutan. Menurut dia, kegiatan pengurangan emisi seharusnya berkaitan langsung dengan kehutanan seperti pemantauan hutan, menjaga kawasan wisata alam, atau mendukung masyarakat melakukan pengawasan terhadap kawasan hutan dan sungai. Dia juga mengkritik proses pelaksanaan kegiatan dana karbon yang terkesan terburu-buru. Dana itu transfer menjelang akhir tahun. Walhasil, mereka pun harus mengejar penutupan buku keuangan pada Desember 2024. “Ini akhir tahun kayaknya dikebut-kebut,” katanya. Padahal proyek karbon yang disebut dengan Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF) ini sudah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/menyelisik-dana-karbon-kalimantan-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/22/menyelisik-dana-karbon-kalimantan-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Berkedok Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Diamankan di Kepulauan Riau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 10:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/19044927/WhatsApp-Image-2026-10-17-at-01.28.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135366</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Label makanan ringan pada sebuah kardus ternyata menyembunyikan 1.728 kuda laut kering. Paket yang hendak dikirim ke Kendari itu dihentikan petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah bersama Karantina Kepulauan Riau pada 10 Oktober 2026. Kecurigaan muncul setelah pemeriksaan sinar-X memperlihatkan isi yang tidak sesuai. Ketika kardus dibuka, petugas menemukan ribuan satwa laut dalam kondisi kering. “Modus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/">Berkedok Makanan Ringan, 1.728 Kuda Laut Kering Diamankan di Kepulauan Riau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Label makanan ringan pada sebuah kardus ternyata menyembunyikan 1.728 kuda laut kering. Paket yang hendak dikirim ke Kendari itu dihentikan petugas Bandara Raja Haji Fisabilillah bersama Karantina Kepulauan Riau pada 10 Oktober 2026. Kecurigaan muncul setelah pemeriksaan sinar-X memperlihatkan isi yang tidak sesuai. Ketika kardus dibuka, petugas menemukan ribuan satwa laut dalam kondisi kering. “Modus yang digunakan adalah mengelabui petugas dengan memberikan keterangan makanan ringan,” kata Hasim, Kepala Karantina Kepri. Perwakilan ekspedisi tidak dapat menunjukkan dokumen persyaratan, sehingga pengiriman tidak dilanjutkan. Identifikasi bersama Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pekanbaru menemukan tiga jenis dalam paket tersebut. Jumlah terbesar adalah Hippocampus kuda, sebanyak 1.263 individu, disusul Hippocampus spinosissimus sebanyak 452 individu dan Hippocampus comes sebanyak 13 individu. Ukurannya berkisar 11-19 sentimeter. Seluruhnya diserahkan kepada instansi pengelolaan sumber daya pesisir dan pengawasan perikanan untuk penanganan lebih lanjut. Pihak pengirim serta penerima masih ditelusuri. Hasim mengingatkan bahwa pengiriman satwa dan produk turunannya harus memenuhi ketentuan karantina maupun persyaratan konservasi, sementara perusahaan ekspedisi perlu memastikan kesesuaian isi paket dan dokumennya. Kasus tersebut memperlihatkan jalur pengiriman kuda laut kering yang membutuhkan pengawasan. Dalam gambaran perdagangan yang lebih luas, IUCN menyebut kuda laut diperjualbelikan hidup untuk akuarium maupun dikeringkan untuk pengobatan tradisional dan cenderamata. Perdagangan kering mendominasi pasar global, sedangkan jalur tidak resmi masih berlangsung. Penilaian IUCN terhadap Hippocampus trimaculatus, spesies berbeda dari tiga jenis yang disita, memperkirakan penurunan populasi sebesar 50–79 persen dalam tiga generasi terakhir. Tekanannya mencakup penangkapan berlebihan, tangkapan sampingan, serta kerusakan habitat akibat pengerukan dan praktik penangkapan yang merusak. Pengawasan jalur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/berkedok-makanan-ringan-1-728-kuda-laut-kering-diamankan-di-kepulauan-riau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Dampak Jangka Panjang Kebakaran Hutan pada Siamang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 09:00:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/28003254/Anak-siamang-yang-berada-di-Pusat-Rehabilitasi-Satwa-Punti-Kayu-Palembang.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135412</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah wilayah Indonesia masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di titik kebakaran, tidak sedikit satwa liar mati bersama rumah atau habitat mereka yang ikut terbakar. Di Kalimantan, laporan lapangan dari Conservation Action Network Indonesia (CAN), telah mendokumentasikan 137 satwa liar mati selama operasi lapangan, termasuk 87 ular, 23 biawak, 14 trenggiling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/">Apa Dampak Jangka Panjang Kebakaran Hutan pada Siamang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah wilayah Indonesia masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di titik kebakaran, tidak sedikit satwa liar mati bersama rumah atau habitat mereka yang ikut terbakar. Di Kalimantan, laporan lapangan dari Conservation Action Network Indonesia (CAN), telah mendokumentasikan 137 satwa liar mati selama operasi lapangan, termasuk 87 ular, 23 biawak, 14 trenggiling Sunda, delapan burung, tiga monyet ekor panjang, satu rusa, dan satu kijang. Angka-angka ini dilaporkan per tanggal 18 September 2026 lalu, dan hanya mewakili satwa yang ditemukan oleh tim lapangan, bukan perkiraan kematian satwa liar di seluruh Kalimantan. Namun, menurut CAN, satwa liar yang terkena dampak kebakaran sulit ditemukan, dan konsekuensinya berlanjut setelah api padam. “Vegetasi yang terbakar dapat menyebabkan hewan yang selamat kekurangan makanan atau tempat berlindung yang memadai, sementara kekeringan semakin mengurangi air dan sumber daya lainnya,” dikutip dari situs resmi International Fund for Animal Welfare (IFAW), Minggu (18/10/26). Sementara itu, menurut laporan Kementerian Kehutanan, mereka telah menangani 290 individu satwa liar yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sampai 8 Oktober 2026. Di Sumatera Selatan, belum banyak catatan terkait dampak karhutla tahun 2026 terhadap satwa. Terakhir, menurut data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, pada September 2026, tercatat 3 ekor trenggiling liar mati terpanggang di Suaka Margasatwa Padang Sugihan. Anak siamang yang berada di Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Dampak karhutla pada wilayah jelajah siamang Sebuah penelitian berjudul “Long‐term effects of forest fire on habitat use by siamangs in Southern Sumatra” yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/22/apa-dampak-jangka-panjang-kebakaran-hutan-pada-siamang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: BNPB Perlu Hitung Perubahan Lanskap dalam Kajian Risiko Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 03:53:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Setya Permana*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22133501/Kebakaran-hutan-dan-lahan-karhutla-Foto-milik-Greenpeace-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135388</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas di Kalimantan, Sumatera sampai Papua hingga saat ini. Tim Data Kompas menemukan 11.929 titik panas sepanjang 1–28 Agustus, 50,4% berada di konsesi, dari perkebunan sawit, pemanfaatan kayu, maupun pertambangan. Temuan itu tentu tidak berarti keberadaan titik panas di dalam konsesi otomatis menyatakan perusahaan sebagai pelaku pembakaran. Kementerian Kehutanan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/">Opini: BNPB Perlu Hitung Perubahan Lanskap dalam Kajian Risiko Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas di Kalimantan, Sumatera sampai Papua hingga saat ini. Tim Data Kompas menemukan 11.929 titik panas sepanjang 1–28 Agustus, 50,4% berada di konsesi, dari perkebunan sawit, pemanfaatan kayu, maupun pertambangan. Temuan itu tentu tidak berarti keberadaan titik panas di dalam konsesi otomatis menyatakan perusahaan sebagai pelaku pembakaran. Kementerian Kehutanan menekankan perlu verifikasi lapangan. Namun, pola sebaran menunjukkan bahwa risiko kebakaran juga berkaitan dengan bagaimana lahan digunakan dan berubah dari waktu ke waktu. Hal serupa bisa terlihat pada banjir. Hujan ekstrem menjadi pemicu langsung, tetapi seberapa besar hujan berubah menjadi bencana juga bergantung pada kondisi daerah tangkapan air, tutupan hutan, aliran sungai, tata guna lahan, dan perubahan bentang alam di bagian hulu. Karena itu, selain melihat bagaimana penanganan bencana, juga perlu bertanya apakah cara Indonesia menghitung risiko sudah menangkap proses pembangunan yang ikut memperbesar risiko itu? kabut asap pekat karhutla di Palangkaraya. Foto: Krismes Santo Haloho /Mongabay Indonesia Cara menghitung risiko penting Sebenarnya, Indonesia mempunyai sistem pengkajian risiko bencana melalui Peraturan Kepala BNPB Nomor 2/2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Lebih dari satu dekade setelah terbit, regulasi ini masih berlaku dan tetap menjadi salah satu acuan penting pengkajian risiko bencana di Indonesia. InaRISK juga masih menggunakan Perka itu dalam penghitungan risiko melalui komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Kajian Risiko Bencana (KRB) bukan sekadar dokumen teknis. Hasilnya sebagai dasar untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana dan Rencana Penanggulangan Bencana di daerah. Pedoman itu sejak awal terancang agar hasil kajian risiko bisa menjadi kebijakan pengurangan risiko. Pilihan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/22/opini-bnpb-perlu-hitung-perubahan-lanskap-dalam-kajian-risiko-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suku Balik Gugat UU Ibukota Negara, Bermasalah Sejak Awal, Korbankan Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 01:10:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Richaldo HariandjaYulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013223/Suku-Balik3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135245</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[infrastruktur, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penetapan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara bermasalah sejak proses perencanaan hingga terbit Undang-undang 3/2022. Masyarakat Adat Suku Balik yang jadi korban pun menuntut keadilan di Mahkamah Konstitusi (MK) lewat gugatan dengan Nomor perkara 299/PUU-XXIV/2026 yang tengah berproses. Yati Dahlia, Masyarakat Adat Suku Balik yang tinggal di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim), di persidangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/">Suku Balik Gugat UU Ibukota Negara, Bermasalah Sejak Awal, Korbankan Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penetapan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara bermasalah sejak proses perencanaan hingga terbit Undang-undang 3/2022. Masyarakat Adat Suku Balik yang jadi korban pun menuntut keadilan di Mahkamah Konstitusi (MK) lewat gugatan dengan Nomor perkara 299/PUU-XXIV/2026 yang tengah berproses. Yati Dahlia, Masyarakat Adat Suku Balik yang tinggal di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim), di persidangan 13 Oktober menyebut,  baru mengetahui perpindahan ibu kota ke Sepaku dari pemberitaan media massa. Saat itu,  dia dan keluarga tidak tahu daerah mana saja yang akan jadi kawasan IKN dan seperti apa dampak pembangunan bagi mereka. Dalam kesempatan itu, dia bilang baru mengetahui ihwal tanahnya dan keluarga masuk kawasan inti pusat pemerintahan IKN dalam pertemuan di Kantor Kecamatan 2022. Setahun kemudian, berlangsung pertemuan yang membahas ganti rugi terhadap tanah yang pemerintah pakai untuk mega proyek itu. Tanah seluas 720 meter persegi milik Dahlia dan keluarga hanya pemerintah hargai Rp134.640.000. “Nilai tersebut tidak memungkinkan kami membeli tanah di wilayah Sepaku dengan luas yang setara,” ucap Dahlia dalam sidang yang rekamannya tersemat di YouTube resmi MK. Sejak awal, katanya, dia enggan melepas tanah dan tempat tinggal keluarganya. Karena, bukan sekadar aset, tanah itu merupakan lokasi dari bagian kehidupan yang sudah mereka jalani turun-temurun. Pemerintah pun mempersilakan mereka yang keberatan untuk menempuh jalur hukum. Namun, keterbatasan pengetahuan, dan dana menyewa pengacara membuatnya merasa tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran itu. Proses pencairan ganti rugi pun panjang dan berbelit. Mereka baru mendapatkan hak itu  tahun 2025, padahal janji pencairannya enam bulan setelah penandatanganan perjanjian pada  2023. Mereka pun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/22/suku-balik-gugat-uu-ibukota-negara-bermasalah-sejak-awal-korbankan-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Mangrove Menyusut, ke Mana Kucing Bakau Pergi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/#respond</comments>
					<pubDate>22 Okt 2026 00:30:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001526/Kucing-bakau-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135342</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara akar mangrove dan tanah berlumpur, seekor kucing berburu di lingkungan yang dipenuhi air. Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, sementara kakinya memiliki selaput sebagian. Kucing bakau, Prionailurus viverrinus, mampu berenang dan menyelam untuk menangkap ikan. Namun, kemampuan tersebut bergantung pada keberadaan lahan basah yang menyediakan makanan serta perlindungan. Ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/">Ketika Mangrove Menyusut, ke Mana Kucing Bakau Pergi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara akar mangrove dan tanah berlumpur, seekor kucing berburu di lingkungan yang dipenuhi air. Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, sementara kakinya memiliki selaput sebagian. Kucing bakau, Prionailurus viverrinus, mampu berenang dan menyelam untuk menangkap ikan. Namun, kemampuan tersebut bergantung pada keberadaan lahan basah yang menyediakan makanan serta perlindungan. Ketika mangrove berganti menjadi tambak, permukiman, atau kawasan industri, pemburu ikan ini kehilangan bagian penting dari ruang hidupnya. Nama kucing bakau merujuk pada habitatnya yang mencakup mangrove, rawa, dan sungai. Selaput pada kakinya membantu pergerakan di air serta di permukaan tanah lunak. Penampilannya juga memiliki ciri yang membedakannya dari kerabat lain. “Kucing bakau adalah kucing terbesar di antara jenis-jenis Prionailurus, dengan wajah lonjong bercirikan hidung khas, bagian bawah tubuh putih, dan telinga belakang berwarna hitam dengan totol putih di tengahnya,” tulis Kuncoro dan kolega dari Universitas Negeri Surabaya. Ciri tubuh tersebut menjadi bagian dari penelitian untuk memastikan identitas satwa yang masih minim datanya di Indonesia. Di hutan mangrove Wonorejo, Surabaya, keberadaan kucing bakau awalnya diduga melalui rekaman kamera jebak. Penelitian yang dipublikasikan pada 2023 kemudian mengonfirmasinya menggunakan identifikasi morfologi dan analisis gen Cytochrome b. Temuan ini memperkuat catatan keberadaan spesies tersebut di Jawa Timur. Wonorejo menjadi lokasi penting karena mempertemukan lingkungan laut, payau, sungai, dan daratan yang mendukung keragaman flora serta fauna. Namun, konfirmasi keberadaan belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai jumlah individu dan kondisi populasinya. Data tersebut tetap diperlukan untuk memahami kebutuhan perlindungan kucing bakau dan habitatnya. Bagi kucing bakau, mangrove menyediakan tempat berburu ikan, kepiting,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ketika-mangrove-menyusut-ke-mana-kucing-bakau-pergi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Tahun Prabowo-Gibran, Bagaimana Nasib Rakyat dan Lingkungan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 23:04:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21225654/Greenpeace-Irfan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135372</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, pangan, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Begitulah dua spanduk yang aktivis Greenpeace bentangkan di Monumen “Selamat Datang” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa (20/10/26), pagi. Enam aktivis Greenpeace bergerak senyap memanjat monumen dengan perlengkapan panjat vertikal, mereka bahu-membahu memanjat hingga pucuk penyangga patung. Awalnya, situasi terlihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/">Dua Tahun Prabowo-Gibran, Bagaimana Nasib Rakyat dan Lingkungan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Begitulah dua spanduk yang aktivis Greenpeace bentangkan di Monumen “Selamat Datang” di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa (20/10/26), pagi. Enam aktivis Greenpeace bergerak senyap memanjat monumen dengan perlengkapan panjat vertikal, mereka bahu-membahu memanjat hingga pucuk penyangga patung. Awalnya, situasi terlihat biasa, lalu lintas normal. Polisi yang berjaga di Pos Bundaran HI hanya memantau dari kejauhan. Ketika dua spanduk raksasa berwarna kuning terbentang memanjang vertikal di sisi utara dan selatan monumen, seketika perhatian masyarakat teralihkan. Aksi damai ini protes bertepatan dua tahun masa kepemimpinan Prabowo-Gibran yang mereka nilai makin menindas masyarakat. Krisis Iklim tambah parah, deforestasi menggila, bencana makin sering terjadi, biaya hidup pun melonjak tinggi. “Mereka (Prabowo-Gibran) gak melakukan langkah efektif untuk menurunkan krisis iklim dan memastikan kesejahteraan masyarakat. Bahkan banyak kebijakan publik yang diarahkan bukan untuk kepentingan masyarakat,” kata Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia kepada Mongabay Indonesia. Aksi aktivis Greenpeace di Bundaran HI Jakarta, 20 Oktober lalu. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Lalu lintas kendaraan makin padat, ketika pengendara perlahan menurunkan laju kecepatan, sejenak fokus pandangan pada spanduk. Sebagian orang rela menepikan kendaraan di bahu jalan, demi menyaksikan aksi damai itu. Polisi dan tentara mulai bergerumul, sibuk berkoordinasi untuk menghentikan aksi. Mereka sempat berenang di kolam Bundaran HI dan memanjat monumen menggunakan tali, namun tak berhasil menghentikan serta mencapai posisi aktivis. Jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi, panas sinar matahari mulai menyengat, kendati, para aktivis masih bertahan. Pasukan polisi bersenjata dan berpelindung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/dua-tahun-prabowo-gibran-bagaimana-nasib-rakyat-dan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Novita Selamat dari Kobaran Api, tapi Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 10:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/18034505/Orangutan-Novita1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135301</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hukum dan politik, hutan indonesia, jawa, kalimantan, dan kera besar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026. Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/">Novita Selamat dari Kobaran Api, tapi Kehilangan Empat Ruas Jari Kaki</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di atas pohon sengon, Novita bertahan ketika hutan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar. Orangutan kalimantan betina berusia sekitar lima tahun itu ditemukan di kawasan Katune, Banturung, Palangka Raya, pada 25 September 2026. Tim gabungan BKSDA, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI membutuhkan dua hari untuk mengevakuasinya. Namun, keberhasilan membawa Novita keluar dari lokasi belum mengakhiri penderitaannya. Luka bakar merusak jaringan tubuhnya, hingga dokter hewan memutuskan mengamputasi empat ruas jari kakinya. “Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,” kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS. Cedera tersebut berpotensi mempengaruhi kemampuan Novita bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Pemulihannya memerlukan perhatian berkelanjutan. Untuk mendukung perawatan, Yayasan BOS meluncurkan penggalangan dana “Beri Novita Kesempatan Kedua” pada 10 Oktober,dengan target US$20.000.. Hinga 17 Oktober malam, dana yang terkumpul mencapai US$3.427. Novita bukan satu-satunya orangutan yang kehilangan tempat aman akibat kebakaran. Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) telah menyelamatkan 46 individu. Delapan yang dinyatakan sehat mulai dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang, pada 9 Oktober. Pemilihan lokasi mempertimbangkan pakan, air, ruang jelajah, dan keterhubungan hutan. “Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas,” kata Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat. Skala ancaman terlihat dalam analisis Geopix. Sepanjang 1 Juni-12 Oktober 2026, organisasi tersebut mencatat 572.261 titik panas di Kalimantan, dengan 440.010 atau sekitar 76,89 persen berada di habitat orangutan. Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/novita-selamat-dari-kobaran-api-tapi-kehilangan-empat-ruas-jari-kaki/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 08:29:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/10044723/Nelayan-perempuan-yang-terlihat-menjemur-ikan-sebelum-dijual-ke-pengepul-atau-diolah-sendiri.-Foto_-Petrus-Riski_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135155</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nelayan kecil berperan besar terhadap produksi perikanan tangkap nasional dengan kontribusi mencapai 80%. Sayangnya, kendati berkontribusi besar, perlindungan terhadap nelayan kecil masih minim di tengah meningkatnya kerentanan dampak perubahan iklim. Marthin Hadiwinata, dari Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) mengatakan, pemerintah sejatinya  sudah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Perikanan Skala Kecil (RAN-PPSK).  Sayangnya, dokumen  itu belum cukup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/">Nasib Nelayan Kecil, Penyedia Pangan tetapi Minim Perlindungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nelayan kecil berperan besar terhadap produksi perikanan tangkap nasional dengan kontribusi mencapai 80%. Sayangnya, kendati berkontribusi besar, perlindungan terhadap nelayan kecil masih minim di tengah meningkatnya kerentanan dampak perubahan iklim. Marthin Hadiwinata, dari Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) mengatakan, pemerintah sejatinya  sudah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengelolaan Perikanan Skala Kecil (RAN-PPSK).  Sayangnya, dokumen  itu belum cukup memadai melindungi nelayan kecil. “Perikanan kecil seolah tidak diakui karena tidak berkontribusi pada devisa secara langsung. Padahal, keberadaannya sangat penting karena menunjang akses pangan, lapangan pekerjaan, dan lainnya,” katanya dalam webinar belum lama ini. Dia memberikan sejumlah catatan kritis terkait dokumen RAN  itu. Misal, tidak ada penjelasan lebih detail mengenai siapa dan kegiatan apa yang masuk dalam lingkup perikanan skala kecil serta bagaimana menentukannya secara partisipatif. Tidak merujuk pada pendekatan HAM, terutama hak ekonomi, sosial, dan budaya, serta tidak memiliki target proresif, misal, target asuransi nelayan 100% pada 2030. Dokumen itu juga belum menjawab isu nyata seperti tumpang tindih wilayah tangkap nelayan kecil dengan kawasan konservasi atau infrastruktur laut. Perahu nelayan berjejer di pesisir Kusamba. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia Hanya jadi objek Dani Setiawan, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyoroti minimnya keterlibatan masyarakat sipil atau organisasi nelayan dalam penyusunan dokumen. Menurut dia, hal itu menunjukkan paradigma pemerintah yang jadikan nelayan sebagai objek, bukan subjek dari rencana tersebut. Indikasi lain, juga terlihat beberapa program pemerintah malah mengancam eksistensi nelayan kecil. Misal, kebijakan pemanfaatan sedimentasi laut, pembangunan tanggul raksasa di sepanjang pantai utara (Pantura) Jawa. Implementasi program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/nasib-nelayan-kecil-penyedia-pangan-tetapi-minim-perlindungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cara Warga Ende Panen Gurita yang Melimpah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 05:45:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Putri Nurazizah*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[produk kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/21145128/4A-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135344</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nelayan Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggantungkan nasibnya pada laut. Saat cuaca tak baik, mereka tak bisa melaut. Padahal, gurita menjadi salah satu tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa mereka tangkap saat melaut. Meski begitu, biasanya mereka akan beralih mencari penghasilan dari pesisir. Imran Tabri, nelayan Desa Maurongga menatap gelombang yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/">Cara Warga Ende Panen Gurita yang Melimpah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nelayan Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggantungkan nasibnya pada laut. Saat cuaca tak baik, mereka tak bisa melaut. Padahal, gurita menjadi salah satu tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa mereka tangkap saat melaut. Meski begitu, biasanya mereka akan beralih mencari penghasilan dari pesisir. Imran Tabri, nelayan Desa Maurongga menatap gelombang yang semakin tinggi. Kondisinya membuatnya berhenti melaut. Air laut yang keruh membuatnya kesulitan untuk memancing gurita. Desa Maurongga memiliki potensi laut yang menjanjikan, khususnya pada sektor gurita. Data Tananua Flores menunjukkan total perikanan tangkap Maurongga pada 2025 mencapai 1.096 dari tujuh jenis tangkapan. Gurita menjadi peringkat pertama dengan 479,8 kg yaitu senilai Rp16.074.000. Saat itu belum ada nelayan yang memancing gurita, melihat potensi gurita yang tinggi, akhirnya Imran mulai bergerak untuk memanfaatkan potensi tersebut dengan mulai memancing gurita. Seiring berjalannya waktu, sejumlah nelayan gurita bertambah menjadi 7 orang setelah mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua. Bagi mereka, menangkap gurita bukan hanya soal mendapat hasil sebanyak-banyaknya. Laut yang menjadi sumber kehidupan juga perlu dikelola dengan baik, walaupun sulit terlepas dari berbagai  ancaman.  “Tahun 2022,  kami dibantu perahu ukuran 1 GT oleh pemerintah Kabupaten Ende sebanyak tujuh unit. Tahun kemarin kami dapat lagi delapan unit. Saya jadi dikenal dan nelayan kami dapat bantuan berkat pemberitaan tentang gurita,” katanya. Namun, masih banyak nelayan yang menangkap ikan dengan cara merusak, seperti racun hingga bom. “Jadi, kami terkadang harus berhadapan dengan nelayan-nelayan dari luar daerah kami yang sering menangkap ikan menggunakan bom dan potasium,” ujar Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi. Padahal,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/cara-warga-ende-panen-gurita-yang-melimpah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Rawa Gambut Terbakar, Bagaimana Nasib Ikan dan Masyarakat Lahan Basah Sumatera Selatan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 04:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21034631/Sumari-warga-Tempirai-yang-mengeloal-danai-burung-atau-pengemin-danau-burung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135346</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Sekitar 18.000 jenis ikan, atau setengah dari seluruh spesies ikan yang kita kenal, hidup di perairan tawar atau lahan basah. Namun, bagaimana jika wilayah penting ini terbakar setiap tahunnya? “Ikan akan kehilangan tempat pemijahan sekaligus pengasuhan,” kata Irkhamiawan Ma’ruf, peneliti ikan air tawar dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Jumat (16/10/26). Ekosistem lahan basah yang di dalamnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/">Rawa Gambut Terbakar, Bagaimana Nasib Ikan dan Masyarakat Lahan Basah Sumatera Selatan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Sekitar 18.000 jenis ikan, atau setengah dari seluruh spesies ikan yang kita kenal, hidup di perairan tawar atau lahan basah. Namun, bagaimana jika wilayah penting ini terbakar setiap tahunnya? “Ikan akan kehilangan tempat pemijahan sekaligus pengasuhan,” kata Irkhamiawan Ma’ruf, peneliti ikan air tawar dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Jumat (16/10/26). Ekosistem lahan basah yang di dalamnya terdapat rawa gambut, memiliki pori-pori yang berfungsi untuk ikan menempelkan telur, juga tempat berlindung bagi anak-anak ikan setelah menetas. Jika terbakar, maka fungsi serta siklus hidup ikan akan terganggu. Dampaknya, dapat menyebabkan runtuhnya rantai ekosistem di lahan basah. “Ini juga dapat bermuara pada terancamnya sumber pangan, protein, serta ekonomi masyarakat di lahan basah,” ujarnya. Sumari, warga Tempirai yang mengelola Danau Burung atau pengemin Danau Burung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Di Sumatera Selatan, sekitar 60 persen (5,3 juta jiwa) dari jumlah total penduduknya (8,4 juta jiwa) hidup dekat lahan basah. Di masa lalu, hidup di area ini menjadi berkah bagi masyarakat. Ketika musim penghujan, rawa mulai pasang, ikan-ikan besar seperti gabus, toman, kelik, serko, dan ikan bujuk, bermigrasi memijah telurnya. Momentum seperti ini biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk menangkul di sekitar aliran sungai yang meluap. “Ikan yang diambil yang berukuran besar, bisa puluhan ekor, cukup untuk makan, dan sisanya dijual,” kata Sadikin, warga Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), akhir Juli 2026 lalu. Saat kemarau, sebagian besar masyarakat akan mencari ikan di sela akar pohon yang terendam atau lebung-lebung menyisakan air, di tengah rawa gambut mengering. Tradisi ini disebut “bekeluk”. “Biasanya dapat gabus, keli,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/rawa-gambut-terbakar-bagaimana-nasib-ikan-dan-masyarakat-lahan-basah-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Berbagai Kalangan Desak Kabut Asap dan Karhutla jadi  Bencana Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 02:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/17152624/kalteng-krismes-16-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135322</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membara di berbagai wilayah Indonesia dari Kalimantan, Sulawesi sampai Papua. Kabut asap pun menciptakan udara buruk membahayakan masyarakat. Asap pun berdampak ke berbagai negara dari Malaysia, Singapura, Papua New Gini dan lain-lain. Berbagai kalangan mendorong karhutla dan kabut asap bencana nasional. Dengan begitu kewenangan penanganan langsung di pemerintah pusat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/">Berbagai Kalangan Desak Kabut Asap dan Karhutla jadi  Bencana Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membara di berbagai wilayah Indonesia dari Kalimantan, Sulawesi sampai Papua. Kabut asap pun menciptakan udara buruk membahayakan masyarakat. Asap pun berdampak ke berbagai negara dari Malaysia, Singapura, Papua New Gini dan lain-lain. Berbagai kalangan mendorong karhutla dan kabut asap bencana nasional. Dengan begitu kewenangan penanganan langsung di pemerintah pusat dan bantuan internasional skala besar bisa masuk. Balqis Habiba, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, mengatakan, merekomendasikan kabut asap menjadi bencana nasional ketimbang karhutla. Karena, masyarakat, terutama di Kalimantan dan Sumatera, sudah empat bulan mengisap udara beracun. “Ini kemudian yang akan menentukan bagaimana pemerintah memulihkan dan menangani para korban,” katanya kepada Mongabay, Rabu (14/10/26). Analisis Greenpeace hingga 1 Oktober, kabut asap berdampak selama 55 hari di Sarawak, 16 hari di Sabah, 13 hari di Johor, 13 hari di Kuala Lumpur, dan lima hari di Singapura, serta turut terdeteksi di Brunei dan Filipina. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mendeteksi penyebaran asap karhutla hampir ke seluruh nusantara bahkan ke Jakarta. Dari aceh sampai Papua Selatan, bahkan Jakarta, mengikuti arah angin. Satelit NASA, mendeteksi penyebaran gas beracun karbon monoksida (CO) di seluruh wilayah Indonesia. Konsentrasinya sangat tinggi periode 13-15 Oktober, seiring dengan kian membaranya karhutla. Berdasarkan Atlas Nusantara, luas area terbakar kumulatif hingga September mencapai lebih 1,9 juta hektar. Semetara, jumlah titik panas kumulatif 1.080.124 per 13 Oktober. Jika sebelumnya Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi dengan area terbakar kumulatif terluas, kini Papua Selatan dengan 336.153 hektar. Lalu Nusa Tenggara Timur (325.354 hektar), Kalbar (211,224 hektar), Jawa Timur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/21/berbagai-kalangan-desak-kabut-asap-dan-karhutla-jadi-bencana-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Leluhur Kelelawar Diduga Berasal dari Eropa, Bagaimana Mencapai Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>21 Okt 2026 00:30:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/05/22051225/Kelelawar-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135229</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kelelawar yang terbang di antara pepohonan Indonesia menyimpan sejarah perjalanan evolusi lintas benua. Dari mana nenek moyangnya berasal? Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena fosil yang terbatas dan petunjuk molekuler yang tidak selalu sejalan. Afrika dan Amerika Utara pernah menjadi wilayah yang diduga sebagai tempat asalnya. Namun, penelitian konsorsium internasional Bat1K menawarkan gambaran berbeda: nenek moyang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/">Leluhur Kelelawar Diduga Berasal dari Eropa, Bagaimana Mencapai Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kelelawar yang terbang di antara pepohonan Indonesia menyimpan sejarah perjalanan evolusi lintas benua. Dari mana nenek moyangnya berasal? Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena fosil yang terbatas dan petunjuk molekuler yang tidak selalu sejalan. Afrika dan Amerika Utara pernah menjadi wilayah yang diduga sebagai tempat asalnya. Namun, penelitian konsorsium internasional Bat1K menawarkan gambaran berbeda: nenek moyang kelelawar modern kemungkinan besar berasal dari Eropa, kemudian keturunannya menyebar hingga mencapai Asia Tenggara, Oseania, dan Australia. Penelitian Ariadna E. Morales dan kolega dalam jurnal Nature menggabungkan genom 103 spesies yang mewakili seluruh 21 famili kelelawar hidup dengan data 44 fosil. Analisis tersebut menghasilkan dukungan statistik sebesar 99,2 persen untuk Eropa sebagai wilayah asal nenek moyang kelelawar modern. “Kelelawar, dan dengan demikian terbang bertenaga, kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir Paleosen,” tulis para peneliti. Dari Eropa, garis keturunannya menyebar ke Afrika, lalu berkembang menuju benua lain. Kondisi iklim hangat sekitar 56 juta tahun lalu turut dikaitkan dengan perluasan wilayah dan keragaman kelompok ini. Salah satu jalur penyebaran membawa kelompok Yinpterochiroptera dari Afrika menuju Asia. Perjalanannya berlanjut melalui jembatan darat dan gugusan kepulauan Asia Tenggara hingga Oseania serta Australia. Kelelawar pemakan buah dan kelelawar tapal kuda yang kini ditemukan di Indonesia merupakan bagian dari sejarah ekspansi tersebut. Penelitian juga memberikan petunjuk tentang perkembangan kemampuan navigasi. Penempatan fosil Vielasia dalam kelompok kelelawar purba menunjukkan bahwa ekolokasi laring telah berkembang sebelum kelompok modern beragam. Temuan ini mengindikasikan hubungan antara kemampuan terbang dan ekolokasi sejak awal perjalanan evolusinya. Di Indonesia, sejarah panjang itu tercermin dalam keragaman kelelawar yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/leluhur-kelelawar-diduga-berasal-dari-eropa-bagaimana-mencapai-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karst Gunungsewu Dalam Kungkungan Industri Wisata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 23:36:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20233154/2-1.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135324</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suparjiyanti menempuh ratusan meter dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta menuju Jakarta. Dia bersama warga lain dengan dampingan Walhi Yogyakarta hendak melaporkan aktivitas industri pariwisata yang berisiko merusak Karst Gunungsewu, kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Mereka menilai, pariwisata itu dapat mengancam kawasan bentang alam karst Gunungsewu, yang berstatus lindung lewat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/">Karst Gunungsewu Dalam Kungkungan Industri Wisata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suparjiyanti menempuh ratusan meter dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta menuju Jakarta. Dia bersama warga lain dengan dampingan Walhi Yogyakarta hendak melaporkan aktivitas industri pariwisata yang berisiko merusak Karst Gunungsewu, kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Mereka menilai, pariwisata itu dapat mengancam kawasan bentang alam karst Gunungsewu, yang berstatus lindung lewat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2014. Suparjiyanti bergantung hidup dari karst. Dia tinggal dan mencari nafkah di sekitar Pantai Sanglen, Gunungkidul, sebagai pedagang. Di pantai itu sedang terbangun destinasi wisata. Korporasi memangkas dan membelah bukit karst untuk membentuk lanskap baru. Nantinya, akses Pantai Sanglen sulit karena kena privatisasi perusahaan. Hanya mereka yang membayar ke resort, misal.  yang dapat menikmati pantai. Suparjiyanti juga khawatir kehilangan mata pencaharian, sedikitnya 57 keluarga menggantungkan hidup dari berjualan di Pantai Sanglen. “Masuknya industri pariwisata membuat kami tidak bisa berjualan di sekitar pantai. Kami yang memanfaatkan kawasan itu untuk dagang diminta keluar karena pembangunan resort,”  kata perempuan dari Paguyuban Sanglen Berdaulat itu kepada Mongabay Juli lalu  di Jakarta. Nasib serupa juga terjadi di Pantai Watu Bolong. Yulianto, warga Kidul, mengatakan,  pantai di sedang ada pembangunan destinasi wisata seperti di Sanglen. Sedikitnya, 37 keluarga terdampak ekspansi wisata di Pantai Watu Bolong itu. Dia khawatir,  kehadiran wisata tidak hanya merusak bentang alam karst, juga menggerus pendapatan masyarakat lokal. “Kami mengembangkan usaha wisata berbasis komunitas sejak 2020. Proyek itu berpotensi menghilangkan sumber ekonomi warga,” katanya, juga anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Tak ada pelibatan Pokdarwis dalam proyek pembangunan wisata ini.  Perusahaan tak undang mereka saat sosialisasi proyek&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/karst-gunungsewu-dalam-kungkungan-industri-wisata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Kerdil Asia Tenggara Mampu Berguling untuk Kabur dari Predator 4x Lebih Cepat dari Gerak Biasa Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/#respond</comments>
					<pubDate>20 Okt 2026 12:36:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20122613/101526_MT_cartwheelingsnake_main-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135313</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berguling adalah cara bergerak yang bisa menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi hanya sedikit hewan yang diketahui memanfaatkannya. Roda dapat berputar dengan lancar karena berporos pada as yang terpisah dari badan kendaraan. Tubuh hewan tidak memiliki as semacam itu. Jika seluruh badan berputar, kepala dan organ indra ikut berputar sehingga hewan sulit menyesuaikan posisi tubuh dan mengendalikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/">Ular Kerdil Asia Tenggara Mampu Berguling untuk Kabur dari Predator 4x Lebih Cepat dari Gerak Biasa Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berguling adalah cara bergerak yang bisa menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi hanya sedikit hewan yang diketahui memanfaatkannya. Roda dapat berputar dengan lancar karena berporos pada as yang terpisah dari badan kendaraan. Tubuh hewan tidak memiliki as semacam itu. Jika seluruh badan berputar, kepala dan organ indra ikut berputar sehingga hewan sulit menyesuaikan posisi tubuh dan mengendalikan arah geraknya. Masalah ini makin berat ketika gerakan dilakukan dengan kecepatan tinggi. Ular kerdil dari genus Pseudorabdion, yang dalam bahasa Inggris disebut dwarf reedsnake, termasuk segelintir hewan yang diketahui berguling secara aktif untuk menghindari pemangsa. Tim peneliti dari Toho University, Jepang, menemukan bahwa kecepatan puncak ke depan ular ini saat berguling sekitar empat kali kecepatan puncak gerak menggelombang ke samping, cara bergerak yang umum pada ular. Kepala ular tetap menghadap arah perjalanan dan berada pada ketinggian yang relatif stabil, sementara bagian tubuh belakangnya berputar dengan cepat. Hasil penelitian itu terbit di jurnal Current Biology pada 2026. Dua Ayunan Bergantian yang Menggerakkan Tubuh Pseudorabdion adalah ular kecil yang ditemukan di Asia Tenggara. Perilaku berguling pada genus ini sudah tercantum dalam buku panduan lapangan dan pernah dicatat dalam pengamatan di alam. Namun, gerakan tubuh yang mendasari cara bergerak tidak lazim ini selama ini belum banyak diketahui. Untuk mengetahuinya, para peneliti merekam ular dari berbagai sudut, termasuk tampak samping, lalu menganalisis gerakannya secara rinci. Salah satu spesies yang diteliti adalah Pseudorabdion saravacense. Dari rekaman itu, mereka mengukur kecepatan dan pola gerak tubuh pada setiap siklus berguling. Hasil pengukuran menunjukkan kecepatan puncak ke depan saat berguling mencapai 1,72 sampai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/20/ular-kerdil-asia-tenggara-mampu-berguling-untuk-kabur-dari-predator-4x-lebih-cepat-dari-gerak-biasa-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>