- Kebakaran lahan dan hutan, khususnya gambut, hingga hari ini masih terjadi di Sumatera Selatan. Jongot, hutan adat Suku Musi, terbebas dari kebakaran. Mengapa?
- Diperkirakan jongot tidak terbakar karena beragam tanaman di dalamnya tidak mengalami kekeringan ekstrim seperti perkebunan karet dan sawit, serta masih terdapat sumber air, sehingga tidak mudah terbakar.
- Jongot tidak terbakar membuktikan pengetahuan lokal dalam tata kelola lingkungan lebih mampu menghadapi krisis iklim.
- Karhutla yang terjadi di Indonesia, khususnya di gambut, membuktikan hilangnya berbagai pengetahuan luhur dalam menjaga lahan basah.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya gambut, hingga hari ini masih terjadi di Sumatera Selatan. Kabut asap terus menyelimuti Palembang dan beberapa kabupaten dan kota lainnya di Sumatera Selatan. Adakah kawasan hutan yang tidak terbakar?
“Puji syukur, jongot kami tidak terbakar, juga jongot-jongot lainnya di sini,” kata Toni Caye (57), pemilik jongot di Talang Lebung Jauh, Desa Tempirai Utara, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Rabu (21/10/26).
“Alhamdulillah jongot tidak terbakar. Tapi sebagian kebun saya terbakar,” kata Muslim (50), pewaris jongot generasi di Talang Komar, tidak jauh dari wilayah gambut Danau Burung.
Jongot adalah hutan adat yang dilestarikan masyarakat Suku Musi yang menetap di Tempirai, yang berada di lanskap lahan basah Penukal, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan. Jongot yang luasannya kisaran setengah hingga satu hektar, saat ini jumlahnya sekitar seratusan titik di Tempirai, dan sebagian sudah berusia seratusan tahun.
Selama sebulan terakhir, wilayah Tempirai yang terdiri empat desa, yakni Desa Tempirai, Desa Tempirai Utara, Desa Tempirai Timur, dan Desa Tempirai Selatan, mengalami kebakaran. Luas lahan basah di Tempirai sekitar 13.904 hektar bukan hanya terdiri sungai, tetapi juga rawa, dan paye.

Bencana kebakaran di Tempirai bermula dari kawasan gambut di sekitar Danau Burung dan area transmigran. Kebakaran ini kemudian meluas hingga membakar kebun masyarakat, khususnya karet dan sawit.
“Kabut asap masih kami rasakan hingga sekarang. Sudah banyak yang terkena penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut),” kata Abri Amirudin (30), warga Tempirai yang dikenal sebagai pendiri Kampung Inggris Tempirai, Rabu (21/10/26).
Dijelaskan Abri, musim kemarau tahun ini bukan hanya menimbulkan krisis air, kebakaran lahan dan hutan, juga menurunkan atau menghilangkan pendapatan masyarakat di Tempirai.
“Karet sebagian besar tidak lagi menghasilkan getah, begitu pun hasil ikan karena danau dan sungai mulai mengering.”
Guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian masyarakat menggunakan dana simpanan, ngutang, atau mendapatkan bantuan keluarga yang menetap di luar Tempirai.
“Sekarang ini semuanya susah. Susah mandi, susah makan, dan susah bernapas,” timpal Sadikin (46), warga Desa Tempirai.

Jongot tidak terbakar
Toni menjelaskan kemungkinan jongot tidak terbakar karena beragam tanaman yang tumbuh tidak mengalami kekeringan. “Kalau pun mengalami kekeringan hanya daunnya. Tapi, secara keseluruhan tidak kering seperti kebun karet atau sawit, yang batang dan daunnya mengalami kekeringan, sehingga mudah terbakar,” jelasnya.
Selain itu, air masih didapatkan di jongot, yang berasal dari paye atau rawa kecil. “Meskipun mengalami kekeringan, air masih bisa untuk mandi dan mencuci.”
Selain itu, udara di jongot relatif lebih baik dibandingkan di dusun. “Asap ada, tapi tidak separah di dusun,” kata Toni.
Jongot di Tempirai tersebar di berbagai wilayah, yang berdampingan dengan kebun dan ume. Wilayahnya antara lain di Talang Tanem, Talang Uluh, Talang Rimbe Pisang Mas, Talang Lebung, Talang Lebung Jauh, Talang Paye Bakung, Talang Paye Perpat, Talang Jesih, Talang Ruyung, Talang Ladang Panjang, Talang Sepentil, Talang Deras, Talang Paye Bekukuk, Talang Lubuk, Talang Amat, Talang Turunan Gajah, Talang Tanjun Eran, Talang Purus, Talang Kebun Kasap, Talang Sebetung, Talang Sebagut, Talang Danau Burung, Talang Terigum, Talang Laman Ako, Talang Tamen Rokok, Talang Jongot Pak Gawi, serta Talang Sodor.
Ainur Rofik, akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, yang disertasi doktoralnya mengenai jongot mengatakan, “Jongot tidak terbakar itu membuktikan kemenangan pengetahuan lokal dalam tata kelola lingkungan dalam menghadapi krisis iklim yang berlangsung hari ini.”
Kemenangan ini beranjak dari kesadaran bahwa alam harus diperuntukkan bagi semua jenis tanaman (beragam) dan menjaga keberadaan air pada sebuah wilayah ruang hidup, yang dapat diakses manusia, serta makhluk hidup lainnya.
“Jongot harus dipertahankan dan dapat menjadi model ruang hidup bagi setiap manusia menghadapi krisis iklim. Baik yang berada di pedesaan maupun perkotaan. Memadukan rumah dan hutan kecil,” katanya.

Pengetahuan yang hilang
Zaki Faddad Syarif Zain, peneliti agama, filsafat, dan kebudayaan dari UIN Raden Fatah Palembang, berpendapat, “Bencana karhutla yang terjadi di Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan, membuktikan bahwa kita sudah kehilangan pengetahuan yang memperlakukan lahan basah secara arif.”
“Gambut yang sebelumnya tidak pernah dikelola dan dibiarkan menjadi kawasan rimba, tiba-tiba dibuka dan dijadikan perkebunan monokultur, yang selanjutnya terjadi krisis air dan bencana kebakaran. Ini merupakan penghilangan pengetahuan lokal dengan pengetahuan baru, tapi gagal menjaga lingkungan,” kata Zaki dalam diskusi buku “Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa” karya T. Wijaya di Roemah Tumbuh Kembang, Palembang, Jumat (16/10/26).
“Yang mengerikan, pengetahuan baru tidak lestari dengan lingkungan ini, bukan hanya dilakukan perusahaan. Saat ini sudah dilakukan sebagian masyarakat lokal,” ujarnya.
Terkait hal tersebut, Zaki menyatakan harus ada upaya mengembalikan pengetahuan lokal yang arif terhadap lingkungan. Terutama, dalam tata kelola air. Pengetahuan ini harus dikembalikan atau dihidupkan kembali ke masyarakat.
“Termasuk pula kepada para pelaku usaha yang memanfaatkan lahan basah.”
Salah satu contoh kearifan tersebut, kata Zaki, yakni jongot.
“Jongot itu kawasan konservasi yang menjaga air di kawasan lahan basah. Jadi, keberadaan jongot harus dipertahankan dan harus diperbanyak. Misalnya, perkebunan sawit yang sudah ada itu harus dipagar jongot. Termasuk pula, dengan kawasan pertanian atau perkebunan lain,” jelasnya.
*****
Jongot dan Paye, Pertahanan Terakhir Masyarakat Tempirai Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan