Kelelawar yang terbang di antara pepohonan Indonesia menyimpan sejarah perjalanan evolusi lintas benua. Dari mana nenek moyangnya berasal?
Pertanyaan ini lama diperdebatkan karena fosil yang terbatas dan petunjuk molekuler yang tidak selalu sejalan. Afrika dan Amerika Utara pernah menjadi wilayah yang diduga sebagai tempat asalnya. Namun, penelitian konsorsium internasional Bat1K menawarkan gambaran berbeda: nenek moyang kelelawar modern kemungkinan besar berasal dari Eropa, kemudian keturunannya menyebar hingga mencapai Asia Tenggara, Oseania, dan Australia.
Penelitian Ariadna E. Morales dan kolega dalam jurnal Nature menggabungkan genom 103 spesies yang mewakili seluruh 21 famili kelelawar hidup dengan data 44 fosil. Analisis tersebut menghasilkan dukungan statistik sebesar 99,2 persen untuk Eropa sebagai wilayah asal nenek moyang kelelawar modern.
“Kelelawar, dan dengan demikian terbang bertenaga, kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir Paleosen,” tulis para peneliti. Dari Eropa, garis keturunannya menyebar ke Afrika, lalu berkembang menuju benua lain. Kondisi iklim hangat sekitar 56 juta tahun lalu turut dikaitkan dengan perluasan wilayah dan keragaman kelompok ini.
Salah satu jalur penyebaran membawa kelompok Yinpterochiroptera dari Afrika menuju Asia. Perjalanannya berlanjut melalui jembatan darat dan gugusan kepulauan Asia Tenggara hingga Oseania serta Australia. Kelelawar pemakan buah dan kelelawar tapal kuda yang kini ditemukan di Indonesia merupakan bagian dari sejarah ekspansi tersebut.
Penelitian juga memberikan petunjuk tentang perkembangan kemampuan navigasi. Penempatan fosil Vielasia dalam kelompok kelelawar purba menunjukkan bahwa ekolokasi laring telah berkembang sebelum kelompok modern beragam. Temuan ini mengindikasikan hubungan antara kemampuan terbang dan ekolokasi sejak awal perjalanan evolusinya.
Di Indonesia, sejarah panjang itu tercermin dalam keragaman kelelawar yang tinggi. Studi Ramadhana dan kolega menyebut 239 spesies, terdiri atas 158 pemakan serangga dan 81 pemakan tumbuhan. Sulawesi menjadi pusat endemisme penting, dengan sekitar 72 spesies tercatat dan 18 di antaranya endemik. Dalam survei di Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, tim menjaring 474 individu dari 23 spesies selama 31 malam pada Juni-Juli 2024. Pengamatan mencakup hutan sekunder, perkebunan, dan sungai, memperlihatkan pentingnya beragam habitat bagi kehidupan kelelawar.
Keberadaan mereka berkaitan dengan kelangsungan tumbuhan dan keseimbangan ekosistem. Kelelawar membantu penyerbukan, termasuk pada durian, menyebarkan biji untuk regenerasi hutan, serta memangsa serangga yang berpotensi menjadi hama. Namun, manfaat tersebut menghadapi tekanan dari perubahan habitat dan perburuan.
“Kerusakan atau hilangnya tutupan hutan sekunder menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup kelelawar serta perburuan menjadi ancaman utama kelelawar di Sulawesi,” tulis peneliti.
Perlindungan hutan sekunder dan kawasan bervegetasi diperlukan untuk mempertahankan keragaman serta kestabilan populasinya. Perjalanan evolusi lintas benua itu kini berhadapan dengan perubahan lingkungan di habitat tempat keturunannya bertahan hidup.
Foto utama: Kelelawar yang memiliki fungsi ekologis sebagai penyerbuk tanaman (pollinators) yang membantu proses penyerbukan berbagai jenis tumbuhan. Foto: Rhett Butler/Mongabay.