- Raja Ampat menjadi habitat penting bagi dua spesies pari manta, yakni manta karang dan manta oseanik. Namun, pertumbuhan pariwisata yang masif berpotensi mengancam kelestarian keduanya.
- Pembatasan jumlah penyelam dan penerapan kode etik di Manta Sandy terbukti mampu mengendalikan aktivitas wisata. Kebijakan serupa mendesak diterapkan di lokasi penyelaman lainnya.
- Konservasi pari manta di Raja Ampat menunjukkan keberhasilan dengan populasi manta karang melampaui 2.000 individu pada 2025. Pertumbuhan populasi tercatat mencapai 4–11 persen per tahun sejak 2009.
- Perlindungan pari manta selama 20 tahun ke depan membutuhkan penguatan pengawasan, perlindungan habitat, dan pendanaan berkelanjutan. Skema Manta Impact Bond disiapkan untuk mendukung konservasi mulai 2029.
Perairan Raja Ampat memang istimewa, karena terletak di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle). Pusat biodiversitas laut tropis global itu memiliki lebih dari 500 jenis karang keras dan rumah bagi 75 persen karang dunia.
Ada sekitar 1.700 spesies ikan di perairan yang terletak di wilayah kepala burung Papua itu. Termasuk, dua spesies ikonik pari manta, manta oseanik (Mobula birostris) dan manta karang (Mobula alfredi). Kedua spesies tersebut penting secara ekologis dan sosial ekonomi, meski masih menghadapi ancaman.
Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist pada Elasmobranch Insitute Indonesia, menjelaskan walau baik dan bermanfaat bagi masyarakat lokal, namun pertumbuhan pariwisata yang terlalu cepat dan masif bisa memicu masalah signifikan pada ekosistem laut.
Kepada Mongabay di Pulau Arborek, Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Edy bercerita perjalanannya melakukan penelitian pari manta sejak 2013. Dia mengaku bangga bisa menyaksikan pertumbuhan pariwisata.
“Namun, semakin cepat perkembangan, semakin tinggi ancaman.”
Ancaman yang mengintai, di antaranya adalah kapasitas berlebihan di lokasi penyelaman (dive site) Manta Sandy di perairan Selat Dampier, dekat Pulau Arborek dan Pulau Mansuar.
Lokasi tersebut tempat berkumpulnya pari manta untuk membersihkan tubuh dari parasit, atau dikenal sebagai manta cleaning station. Kegiatan unik itu menarik minat para penyelam dari seluruh dunia untuk menyelam di sana.
Pada 2015-2016, lokasi tersebut mengalami kelebihan, penyelam bisa mencapai 90 orang dalam waktu bersamaan. Bahkan, pada 2019 pari manta dilaporkan tak terlihat sama sekali di sana.
“Bisa mengganggu kenyamanan pari manta,” ungkapnya, Kamis (24/9/26).

Pariwisata tumbuh, ancaman mengintai
Upaya pengaturan untuk mencegah situasi semakin memburuk sudah dimulai pada 2017 oleh UPTD Kawasan Konservasi Perairan Raja Ampat. Saat itu, penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan kode etik (code of conduct) mulai dilaksanakan di Manta Sandy.
SOP diterapkan untuk mengatur mekanisme kunjungan, pergerakan kapal, kapasitas pengunjung, dan prosedur penyelaman. Sedangkan kode etik untuk mengatur perilaku wisatawan, pemandu, dan penyelam ketika berinteraksi dengan pari manta.
SOP memberlakukan batasan maksimal kapasitas penyelam di Manta Sandy hingga 20 orang, dengan maksimal speedboat yang masuk adalah empat unit di area tambat dan pos pengawasan.
Sementara, kode etik yang diberlakukan, di antaranya adalah larangan mengejar atau menyentuh, menghalangi jalur pergerakan pari manta, memasuki area cleaning station, dan menggunakan lampu kilat kamera ke arah mata pari manta.
“Dari tiga lokasi yang sudah memberlakukan booking penyelaman, baru Manta Sandy yang efektif. Sedangkan, 27 lainnya belum tersentuh,” jelasnya.
Pentingnya menjaga perairan Raja Ampat bagi pari manta oseanik dan manta karang, adalah karena terdapat lima habitat pembesaran, dengan satu lokasi sudah terkonfirmasi sebagai yang pertama di dunia, yaitu Laguna Wayag.
Kemudian, satu lokasi yang akan jadi kedua di dunia, saat ini sedang dievaluasi, yaitu perairan Kepulauan Fam. Tiga lainnya, berstatus potensial, yaitu perairan Hoi Gam, Ayau Besar, dan Misool Utara.
“Selat Dampier adalah lokasi langka, karena dipakai dua spesies ikonik pari manta. Padahal, keduanya berkarakter berbeda, dengan manta karang cenderung diam di satu kawasan, sementara oseanik datang ke Raja Ampat secara musiman.”

Prioritas 20 tahun
Untuk menjaga pari manta, diperlukan konservasi tanpa batas dengan komitmen dan kemauan kuat semua pihak. Termasuk, rencana konservasi 20 tahun dari 2029-2049.
Rencana tersebut akan terwujud setelah inisiasi skema pembiayaan Manta Impact Bond resmi dijalankan pada 2029. Dana tersebut akan mendukung upaya konservasi dari berbagai sisi, agar perlindungan pari manta berjalan maksimal.
Prioritas yang harus dijalankan selama 20 tahun, adalah ruang perlindungan, habitat kritis, dan penegakan; wisata manta berkelanjutan, riset, dan pendanaan; serta pengelolaan sampah, tambang nikel, dan penangkapan langsung.
“Semua prioritas itu harus dijalankan dengan baik, karena pari manta bisa bertahan jika habitat pentingnya, termasuk tempat makan, stasiun pembersihan, dan pembesaran, mendapat perlindungan penuh.”

Pemulihan ekosistem laut
Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Sr Manager Konservasi Indonesia, menjelaskan Raja Ampat adalah kawasan perlindungan pari manta yang sudah menghasilkan. Sejak kebijakan daerah pada 2012, dilanjutkan nasional pada 2014, hasilnya terlihat pada 2025 dengan jumlah pari manta mencapai lebih dari 2.000 individu manta karang.
Fakta tersebut menjelaskan, pertumbuhan populasi per tahun sejak 2009 terus meningkat, sampai mencapai kisaran antara 4-11 persen. Lokasi pembesaran pari manta 100 persen teridentifikasi di kawasan konservasi.
“Kawasan konservasi yang dikelola dengan baik dapat mendukung pemulihan populasi,” ucapnya, Kamis (24/9/26).
Ini menegaskan, Raja Ampat sudah memasuki fase keberhasilan konservasi. Tak hanya populasi manta yang sehat, elemen lain yang berhasil adalah pertumbuhan pariwisata, perlindungan habitat penting, pemantauan jangka panjang, dan pencegahan tekanan pembangunan.
“Semuanya berhasil dipertahankan.”

Iqbal mengingatkan kemajuan konservasi di Raja Ampat sekarang, berhenti dan menghilang jika tidak ada pendanaan jangka panjang. Inisiasi Manta Impact Bond dilakukan untuk mencegah kemungkinan itu terjadi.
Raja Ampat adalah kepulauan dengan lebih dari 1.500 pulau kecil, gugusan karang, dan perairan laut luas, dengan empat pulau utama yang sering disebut “empat raja”, yaitu: Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool.
Letak kepulauan di pertemuan arus Samudra Pasifik dan perairan Indonesia, menjadikan Raja Ampat sebagai kawasan perairan yang kaya nutrien. Kondisi itu mendukung pertumbuhan berbagai ekosistem laut.
*****