Berguling adalah cara bergerak yang bisa menghasilkan kecepatan tinggi, tetapi hanya sedikit hewan yang diketahui memanfaatkannya. Roda dapat berputar dengan lancar karena berporos pada as yang terpisah dari badan kendaraan. Tubuh hewan tidak memiliki as semacam itu. Jika seluruh badan berputar, kepala dan organ indra ikut berputar sehingga hewan sulit menyesuaikan posisi tubuh dan mengendalikan arah geraknya. Masalah ini makin berat ketika gerakan dilakukan dengan kecepatan tinggi.
Ular kerdil dari genus Pseudorabdion, yang dalam bahasa Inggris disebut dwarf reedsnake, termasuk segelintir hewan yang diketahui berguling secara aktif untuk menghindari pemangsa. Tim peneliti dari Toho University, Jepang, menemukan bahwa kecepatan puncak ke depan ular ini saat berguling sekitar empat kali kecepatan puncak gerak menggelombang ke samping, cara bergerak yang umum pada ular. Kepala ular tetap menghadap arah perjalanan dan berada pada ketinggian yang relatif stabil, sementara bagian tubuh belakangnya berputar dengan cepat. Hasil penelitian itu terbit di jurnal Current Biology pada 2026.
Dua Ayunan Bergantian yang Menggerakkan Tubuh
Pseudorabdion adalah ular kecil yang ditemukan di Asia Tenggara. Perilaku berguling pada genus ini sudah tercantum dalam buku panduan lapangan dan pernah dicatat dalam pengamatan di alam. Namun, gerakan tubuh yang mendasari cara bergerak tidak lazim ini selama ini belum banyak diketahui.
Untuk mengetahuinya, para peneliti merekam ular dari berbagai sudut, termasuk tampak samping, lalu menganalisis gerakannya secara rinci. Salah satu spesies yang diteliti adalah Pseudorabdion saravacense. Dari rekaman itu, mereka mengukur kecepatan dan pola gerak tubuh pada setiap siklus berguling.
Hasil pengukuran menunjukkan kecepatan puncak ke depan saat berguling mencapai 1,72 sampai 3,69 meter per detik, atau sekitar 6,2 sampai 13,3 kilometer per jam. Dalam satuan mil per jam, angka itu setara dengan 3,8 sampai 8,3. Kecepatan tersebut kira-kira empat kali kecepatan puncak yang tercatat pada lateral undulation, yaitu gerak menggelombang ke samping. Perbandingan ini menyangkut kecepatan puncak, bukan kecepatan rata-rata.
Meski melaju secepat itu, ular-ular tersebut tetap dapat melintasi lintasan uji yang lebarnya hanya 20 sentimeter. Lintasan sempit itu memperlihatkan bahwa gerakan mereka berlangsung dalam ruang yang terbatas. Para peneliti mencatat hal ini sebagai bagian dari analisis kinematika gerak berguling.
Rekaman video memperlihatkan bahwa ular tidak memutar seluruh tubuhnya sebagai satu kesatuan. Setiap siklus gerak berupa urutan yang berkesinambungan. Ular berguling dengan satu sisi tubuh menyentuh tanah, lalu mengayunkan bagian tubuh yang melengkung turun melewati sisi kepala menuju tanah. Para peneliti menamai gerakan ayunan ini stroke.
Dari satu siklus ke siklus berikutnya, sisi tubuh yang menyentuh tanah dan arah stroke bergantian antara kiri dan kanan. Pengulangan siklus yang bergantian inilah yang menghasilkan gerak berguling secara terus-menerus. Dalam ilustrasi yang disertakan tim peneliti, ular terlihat berguling dengan sisi punggung tampak, lalu berpindah ke posisi sisi perut tampak melalui satu stroke. Siklus berikutnya membalik urutan itu, dari sisi perut tampak kembali ke sisi punggung tampak.
Kepala yang Tetap Stabil di Tengah Putaran
Temuan lain yang menonjol adalah kemampuan ular menstabilkan kepalanya ketika bagian tubuh belakang berputar cepat. Jika seluruh badan berputar, kepala semestinya ikut berputar sehingga posisinya sulit diatur. Pada ular kerdil, kepala tetap sejajar dengan arah perjalanan dan tidak ikut berputar bersama bagian tubuh lainnya.

Posisi vertikal kepala juga relatif stabil, terutama saat ular berguling lebih cepat. Pada kecepatan tinggi, ular cenderung menjaga kepalanya tetap terangkat dari tanah dan mengurangi gerak naik turunnya. Kombinasi antara putaran tubuh yang cepat dan kepala yang stabil ini diduga membantu ular mempertahankan kendali saat melaju.
Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa ular mengatasi keterbatasan gerak rotasi lewat pengendalian tubuh yang rumit. Pada roda, as memisahkan bagian yang berputar dari bagian yang diam. Ular tidak memiliki pemisah struktural seperti itu di tubuhnya. Sebagai gantinya, ular secara fungsional membagi tubuhnya menjadi bagian yang berputar besar dan satu bagian, yaitu kepala, yang tetap stabil.
Secara lebih luas, studi ini memperlihatkan bahwa inovasi perilaku dapat membantu hewan melampaui keterbatasan bentuk tubuhnya. Kemampuan yang dihasilkan sulit diprediksi hanya dari morfologi. Penelitian ini dipublikasikan dengan judul Locomotor kinematics and head stabilization in rolling snakes di jurnal Current Biology pada 2026.
**
Referensi
Toho University, Locomotor kinematics and head stabilization in rolling snakes, Current Biology (2026). DOI: 10.1016/j.cub.2026.08.057. www.cell.com/current-biology/f … 0960-9822(26)01108-5