- Produk cat dari perusahaan pemimpin pasar Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia masih mengandung timbal dengan konsentrasi tinggi yang membahayakan kesehatan konsumen, terutama anak-anak.
- Hasil uji Nexus3, produsen cat nasional yang menguasai 24% pangsa pasar itu masih menjual sebagian besar produk dengan kadar timbal puluhan hingga ratusan kali di atas ambang aman.
- Yuyun Ismawati, Pendiri dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation menjelaskan, hasil itu berdasarkan enam sampel cat dekoratif dan industrial paint Avian Brands dari Nexus3 di sejumlah toko di Bekasi, Jakarta, dan Depok pada 24–29 Juli 2026.
- Jeiel Guarino, Global Lead Paint Elimination Campaigner dari International Pollutants Elimination Network (IPEN) mengatakan, timbal adalah neurotoksin yang tidak memiliki batas aman bagi tubuh manusia. Pada anak-anak, terutama di bawah usia lima tahun, paparan timbal dapat merusak perkembangan otak dan sistem saraf secara permanen, menurunkan tingkat kecerdasan, memicu gangguan perilaku dan konsentrasi, serta menghambat pertumbuhan fisik.
Produk cat dari perusahaan pemimpin pasar Indonesia yang tercatat di Bursa Efek Indonesia masih mengandung timbal dengan konsentrasi tinggi yang membahayakan kesehatan konsumen, terutama anak-anak.
Begitu temuan dari pengujian ulang Nexus3 Foundation, lima tahun setelah pertama kali mengungkap tingginya kadar timbal pada produk cat Avian Brands, pada 2021.
Studi 2026 ini, terhadap enam sampel produk cat PT Avia Avian Tbk menemukan bahwa lima produk, atau 83% dari sampel, memiliki konsentrasi timbal di atas standar 90 part per million (ppm).
Dari hasil itu, produsen cat nasional yang menguasai 24% pangsa pasar itu masih menjual sebagian besar produk dengan kadar timbal puluhan hingga ratusan kali di atas ambang aman.
Yuyun Ismawati, Pendiri dan Penasihat Senior Nexus3 Foundation menjelaskan, hasil itu berdasarkan enam sampel cat dekoratif dan industrial paint Avian Brands dari Nexus3 di sejumlah toko di Bekasi, Jakarta, dan Depok pada 24–29 Juli 2026.
Jenis dan warna sampel sama dengan yang Nexus3 uji pada 2021.
“Kadar timbal yang sebenarnya pada keenam sampel berpotensi jauh lebih tinggi daripada angka yang dilaporkan dalam studi ini, bukan lebih rendah,” kata Yuyun dalam konferensi pers September lalu.
Dia menyayangkan, pemimpin pasar cat di Indonesia ini masih meraup keuntungan dari konsumen dengan menggunakan timbal, kimia yang tergolong bahan berbahaya dan beracun.
Padahal, timbal sudah dilarang satu abad lalu oleh ILO dan perjanjian internasional sudah menetapkan target penghapusan timbal dalam cat tahun 2020.
“Sebagai perusahaan yang sudah terdaftar di bursa efek Indonesia, saya berharap banyak kepada Avia untuk menjadi contoh terbaik praktik bisnis yang berkelanjutan, akuntabel dan bebas racun, seperti komitmen mereka dalam laporan,” kata Yuyun.
Dia bilang, batas 90 ppm bukan angka sembarangan. Nilai itu merupakan standar yang secara teknis dapat industri capai dan rekomendasi WHO serta Program Lingkungan PBB (UNEP) melalui Aliansi Global untuk menghapuskan cat timbal. Guna mendorong penghapusan cat bertimbal di seluruh dunia.
Timbal berbahaya, Indonesia belum punya aturan kuat
Aliansi itu sejatinya menargetkan penghapusan bertahap cat bertimbal secara global pada 2020. Namun hingga akhir 2020, hanya 79 negara atau 41% yang menerapkan aturan pengendalian mengikat secara hukum.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, hanya 55% negara, termasuk Indonesia, masih belum memiliki Undang-undang nasional yang melarang penggunaan cat timbal ketika tenggat waktu itu tiba.
Jeiel Guarino, Global Lead Paint Elimination Campaigner dari International Pollutants Elimination Network (IPEN) mengatakan, timbal adalah neurotoksin yang tidak memiliki batas aman bagi tubuh manusia.
Pada anak-anak, terutama di bawah usia lima tahun, paparan timbal dapat merusak perkembangan otak dan sistem saraf secara permanen, menurunkan tingkat kecerdasan, memicu gangguan perilaku dan konsentrasi, serta menghambat pertumbuhan fisik.
Pada orang dewasa, kata Jeiel, paparan kronis timbal bisa berkaitan dengan gangguan ginjal, tekanan darah tinggi, gangguan reproduksi, hingga peningkatan risiko kanker.
Adapun debu cat bertimbal yang mengelupas dari dinding, pagar, mainan, atau perabot dapat terus menjadi sumber paparan selama bertahun-tahun. Terutama ketika termakan atau terhirup anak-anak yang bermain di lantai atau memasukkan tangan ke mulut.
Jeiel bilang, yang membuat sulit hindari ancaman ini adalah sifatnya yang persisten. Debu cat bertimbal yang mengelupas dari dinding, pagar, mainan, atau perabot dapat terus menjadi sumber paparan.
“Cat bertimbal kemungkinan mengandung pigmen timbal kromat, senyawa yang bersifat neurotoksik dan karsinogenik bagi manusia, dan telah dilarang di banyak negara,” ujar Jeiel dalam konferensi pers.

Klaim keberlanjutan
Temuan Nexus3 bertentangan langsung dengan klaim publik perusahaan. Dalam Laporan Keberlanjutan Avia Avian 2025, perusahaan menyatakan, sudah menerapkan “prinsip-prinsip Sustainable Product Framework.” Ia mencakup pengurangan penggunaan logam berat seperti timbal dan kromium, serta menegaskan bahwa produk-produknya “dijamin terbuat dengan rendah emisi dan bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya,” sejalan dengan sertifikasi Green Label Singapore.
Laporan itu juga menyebutkan, 40 produk Avian Brands telah memperoleh sertifikasi itu dan memenuhi kriteria Industri Hijau dari Kementerian Perindustrian. Juga, perusahaan secara rutin menguji kandungan logam berat pada produknya.
Namun laporan tidak menjelaskan rinci soal pengujian rutin itu. Hasil pengujian independen Nexus3 menunjukkan sebagian besar sampel yang beredar di pasar tidak mencerminkan klaim itu.
Menurut Yuyun, kesenjangan itu bukan karena kurangnya upaya untuk berdialog. Sejak Juli 2025-2 Juli 2026, Nexus3 beberapa kali menyurati Direktur Utama Avia Avian, Wijono Tanoko, meminta audiensi mengenai langkah yang dapat perusahaan tempuh agar menjadi pemimpin pasar cat bebas timbal.
Namun, surat-surat itu tidak mendapat tanggapan substantif. Baru pada 8 Juli 2026, enam hari setelah surat terakhir kirim—Nexus3 menerima respons dari perwakilan perusahaan.
Respons itu melalui WhatsApp, bukan melalui audiensi resmi sebagaimana yang Nexus3 minta.
Alih-alih menjawab pertanyaan tentang status produk berbahan dasar timbal, perwakilan itu hanya menyebut penelitian Nexus3 masih mengacu pada data 2021 dan menyarankan uji laboratorium baru bersama lembaga riset nasional.
“Tanggapan itulah yang kemudian mendorong Nexus3 membeli dan menguji ulang sendiri sampel produk perusahaan pada Juli 2026, hasil yang kini dipublikasikan dalam studi ini.”
Nexus3 menilai, kesenjangan antara klaim dan kenyataan ini penting untuk pemegang saham dan masyarakat klarifikasi.
Avia Avian adalah perusahaan publik yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia sejak Desember 2021 dengan kode saham AVIA, setelah melepas 6,2 miliar saham dan menghimpun dana sekitar Rp5,77 triliun melalui penawaran umum perdana.
Sebenarnya, kata Yuyun, transisi menuju cat bebas timbal dapat mereka lakukan, sebagaimana sejumlah pesaing Avian Brands lakukan. Dia contohkan AkzoNobel dan Asian Paints, merupakan pemimpin pasar cat dan pelapis di kawasan Asia-Pasifik.
Kedua perusahaan telah menghapus pigmen dan bahan pengering berbasis timbal dari produk-produk utama mereka.
Selain itu, Asosiasi Produsen Cat Indonesia (APCI) telah menyatakan, industri cat nasional pada dasarnya siap beralih ke bahan baku bebas timbal.
PT Mowilex Indonesia, misal, sudah mengumumkan penarikan produk yang mengandung timbal dari pasaran sejak Agustus 2023. Komitmen serupa kemudian PT Rajawali Hiyoto dan PT Sigma Utama, sampaikan.
Tahun ini, kata Yuyun, PT Propan Raya mengumumkan bahwa tujuh merek produknya sudah memperoleh sertifikasi Singapore Green Label. Sementara, PT Kansai Prakarsa Coatings mengumumkan bahwa seluruh produk kini bebas timbal dan memenuhi SNI 8011:2022.
Sejak 2013, sebelum SNI menetapkan batas kandungan timbal sebesar 90 ppm, survei pasar oleh Nexus3 menemukan, sekitar 23% cat produksi di Indonesia tidak mengandung timbal.

Pada saat itu, perusahaan berskala menengah seperti PT Indaco Warna Dunia dan PT Bital Asia sudah menjadi pelopor produksi cat bebas timbal.
Temuan itu, kata Yuyun, menunjukkan bahwa transisi menuju produksi cat bebas timbal memungkinkan di Indonesia sejak lebih dari satu dekade lalu. Termasuk bagi perusahaan dengan skala usaha lebih kecil dari Avia Avian. Bahkan, adopsi bahan baku bebas timbal tidak semata-mata bergantung pada keberadaan regulasi atau tekanan publik.
“Atas dasar sukarela dan komitmen manajemen semata, industri cat di Indonesia sesungguhnya mampu memproduksi cat tanpa pigmen dan bahan pengering berbahan dasar timbal tanpa harus menunggu regulasi pemerintah.”
Tak hanya itu, kata Yuyun, kesadaran publik atas bahaya ini sesungguhnya sudah tumbuh. Hingga akhir 2024, hampir 18.000 orang menandatangani petisi yang menyerukan penghapusan timbal dalam cat, terutama pada taman bermain anak. Petisi itu mereka tujukan kepada Presiden Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Perindustrian, serta Menteri Perdagangan.
“Petisi yang kami buat itu telah diperbaharui, dan bisa dibantu ditanda tangan kembali untuk menyerukan penghapusan timbal dalam cat yang sejatinya sangat berdampak ke anak-anak.”
Mongabay berupaya menghubungi Alvian Brands melalui kanal Customer Care di situs web resminya pada 5 dan 7 Oktober 2026 untuk meminta tanggapan terkait hasil riset Nexus3 yang menemukan kandungan timbal tinggi pada empat dari lima produk mereka. Namun, hingga berita ini terbit, Alvian belum memberikan tanggapan.

Indonesia masih tertinggal
Di Indonesia, kata Yuyun, Standar Nasional Indonesia (SNI) 8011:2024 memang sudah menetapkan batas maksimum kandungan timbal sebesar 90 ppm pada produk cat dekoratif.
Penerapan standar itu masih sukarela, belum menjadi kewajiban hukum, yang membuat Indonesia menjadi negara tertinggal dalam transisi menuju cat bebas timbal.
Apalagi, kata Yuyun, sejauh ini belum ada peraturan khusus mengatur persyaratan penggunaan timbal dalam pigmen dan bahan pengering pada produksi cat dan pelapis di Indonesia. Meski kontaminan logam berat sebagai bahan berbahaya dan beracun sudah ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22/2021.
Secara konkret, Nexus3 merekomendasikan Avia Avian menarik lima produk yang terbukti melampaui ambang batas dari pasaran paling lambat Desember 2026. Juga, menetapkan target penghentian bertahap penggunaan pigmen dan bahan pengering berbasis timbal, serta mengumumkan komitmen terbuka kepada pemegang saham dan publik dalam laporan keberlanjutan 2026.
Mereka juga mendorong perusahaan menyusun peta jalan untuk menghentikan penggunaan bahan berbasis timbal pada seluruh lini produk cat dekoratif paling lambat 2027. Juga, sekaligus menerapkan perluasan program tanggung jawab produsen berupa mekanisme penarikan kembali wadah bekas cat bertimbal di seluruh jaringan gerai merek Avian.
Nexus3 juga mendesak Pemerintah Indonesia melarang produksi dan impor timbal kromat, mendukung dan mempromosikan alternatif pengganti timbal ramah lingkungan seperti pigmen dan bahan pengering organik. Serta membantu pelaku usaha kecil dan menengah di sektor cat beralih ke bahan baku yang lebih aman.
“Tanpa langkah-langkah itu, jutaan anak Indonesia akan terus berisiko terpapar debu cat bertimbal di rumah, sekolah, dan taman bermain mereka sendiri.”
*****
