Kata hiu biasanya memunculkan gambaran predator besar seperti hiu putih atau hiu harimau, gambaran yang banyak dibentuk oleh film dan pemberitaan tentang gigitan hiu. Padahal, dari lebih dari 500 spesies hiu yang sudah dikenali ilmuwan, ukuran tubuhnya sangat beragam. Di satu ujung ada hiu paus, ikan terbesar di dunia yang panjangnya bisa mencapai sekitar 18 meter, sementara di ujung lain ada spesies yang panjangnya kira-kira seukuran sebatang pensil. Banyak hiu berukuran kecil menghabiskan hidupnya di laut dalam, di bawah kedalaman 200 meter, tempat cahaya matahari makin redup hingga nyaris tidak sampai. Karena habitatnya sulit dijangkau, kelompok hiu ini jarang terlihat manusia dan sebagian besar masih sedikit diteliti.
Salah satunya adalah hiu lentera kerdil (Etmopterus perryi), yang sering disebut sebagai hiu terkecil di dunia. Panjang maksimum spesies ini sekitar 20 sentimeter, dengan individu terbesar yang pernah tercatat berukuran 21,2 sentimeter. Dengan ukuran sekecil itu, seekor hiu lentera kerdil dewasa bisa diletakkan di atas telapak tangan orang dewasa. Sebagai perbandingan, hiu paus dewasa bisa sekitar 90 kali lebih panjang. Spesies ini hidup di perairan Karibia bagian selatan, di lepas pantai Kolombia dan Venezuela, pada kedalaman ratusan meter. Seperti namanya, hiu ini termasuk kelompok hiu lentera, yaitu hiu yang tubuhnya mampu memancarkan cahaya sendiri.
Dikenal dari Spesimen Kapal Riset
Spesies ini dideskripsikan secara ilmiah oleh dua ahli ikan asal Amerika Serikat, Stewart Springer dan George H. Burgess, dalam jurnal Copeia pada 1985. Deskripsi tersebut didasarkan pada spesimen yang ditangkap dengan pukat oleh kapal riset Oregon milik U.S. Fish and Wildlife Service pada 1964. Dalam makalah yang sama, keduanya juga mendeskripsikan satu spesies hiu kerdil lain dari perairan Karibia Kolombia.
Spesimen acuannya, atau holotipe, adalah seekor betina sepanjang 18,2 sentimeter yang ditangkap di lepas pantai Kolombia. Hiu ini memiliki kepala dan moncong yang agak pipih, mata yang relatif besar, serta pola bercak terang dan gelap di tubuhnya. Nama perryi diberikan untuk menghormati Perry W. Gilbert, ahli biologi hiu asal Amerika Serikat. Sejauh ini, hiu lentera kerdil hanya diketahui hidup di bagian selatan Laut Karibia, di perairan Kolombia dan Venezuela, pada lereng benua dengan kedalaman sekitar 280 hingga 440 meter.

Hiu ini berkembang biak secara vivipar aplasenta. Telur menetas di dalam tubuh induk, dan embrio mendapat makanan dari kuning telur sampai lahir. Seekor betina melahirkan dua atau tiga anak, masing-masing berukuran sekitar 5,5 hingga 6 sentimeter, dan ketahanan populasinya terhadap tekanan dikategorikan rendah.
Gelar hiu terkecil sebenarnya bersaing ketat dengan hiu kerdil berduri (Squaliolus laticaudus). Jantan spesies itu mencapai sekitar 22 sentimeter, sementara betinanya bisa sampai 28 sentimeter, sehingga secara keseluruhan hiu lentera kerdil tetap lebih kecil. Badan Konservasi Dunia (IUCN) memasukkan E. perryi dalam kategori Risiko Rendah (Least Concern) pada 2019 karena spesies ini tidak memiliki nilai komersial, meski tangkapan sampingan dari perikanan laut dalam tetap menjadi potensi ancaman.
Cahaya dari Perut Hiu Lentera
Seperti kerabatnya dalam genus Etmopterus, hiu lentera kerdil memiliki fotofor, yaitu organ kecil di kulit yang memancarkan cahaya. Sebagian bercak hitam di bagian bawah tubuhnya adalah fotofor, sementara sebagian lainnya merupakan sel pigmen biasa. Kemampuan memancarkan cahaya inilah yang membuat kelompok hiu ini dijuluki hiu lentera.
Pada banyak hewan laut dalam, cahaya di bagian perut dipakai untuk kamuflase yang disebut counterillumination. Jika dilihat dari bawah, tubuh hewan akan tampak sebagai siluet gelap dengan latar cahaya redup dari permukaan. Dengan memancarkan cahaya dari perut yang intensitasnya menyerupai cahaya dari atas, siluet itu menjadi samar dan lebih sulit dikenali oleh predator maupun mangsa. Hiu kerdil berduri, pesaingnya dalam soal ukuran, juga memiliki fotofor yang padat di bagian perut hingga ke moncong dan sekitar mata, yang diduga berfungsi untuk tujuan yang sama.

Penelitian pada kerabat dekatnya menunjukkan cahaya hiu lentera bisa punya fungsi lain. Pada 2013, tim peneliti internasional yang dipimpin Julien Claes menerbitkan studi di jurnal Scientific Reports tentang hiu lentera perut beludru (Etmopterus spinax), spesies yang panjangnya bisa mencapai sekitar 60 sentimeter. Mereka menemukan barisan fotofor tepat di belakang duri pada sirip punggung hiu tersebut, yang memancarkan cahaya ke samping dan membentuk pendaran melengkung mengikuti bentuk duri.
Karena bentuknya, para peneliti menyamakan pendaran itu dengan “pedang cahaya”. Model yang mereka buat menunjukkan cahaya tersebut bisa terlihat oleh predator dari jarak beberapa meter, sedangkan ikan Maurolicus muelleri yang menjadi mangsa utamanya hanya bisa melihatnya dari jarak sekitar 1,5 meter. Tim peneliti menduga cahaya di sekitar duri berfungsi sebagai peringatan bagi predator bahwa hiu ini bersenjata, tanpa mengganggu perburuannya, dan menyebut temuan itu sebagai dugaan pertama perilaku semacam ini pada ikan bertulang rawan.
Belum ada penelitian serupa yang khusus meneliti hiu lentera kerdil, sehingga belum diketahui apakah spesies terkecil ini menggunakan cahayanya dengan cara yang sama. Informasi tentang pola makan dan perilakunya di alam juga masih sangat terbatas. Sebagian besar yang diketahui tentang spesies ini berasal dari spesimen yang terangkat jaring, bukan dari pengamatan langsung di habitatnya.
Genus Etmopterus juga ditemukan di perairan Indonesia, meski catatannya masih sedikit. Pada 2017, Fahmi dan David Ebert melaporkan catatan pertama hiu lentera Etmopterus bigelowi dari Laut Flores berdasarkan dua spesimen hasil perikanan hiu laut dalam. Laporan itu menjadi catatan kedua yang terkonfirmasi untuk genus Etmopterus di Indonesia.
**
Referensi
Claes, J. M., Dean, M. N., Nilsson, D.-E., Hart, N. S., & Mallefet, J. (2013). A deepwater fish with ‘lightsabers’: Dorsal spine-associated luminescence in a counterilluminating lanternshark. Scientific Reports, 3, 1308. https://doi.org/10.1038/srep01308