Nelayan Maurongga, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggantungkan nasibnya pada laut. Saat cuaca tak baik, mereka tak bisa melaut. Padahal, gurita menjadi salah satu tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan hanya bisa mereka tangkap saat melaut. Meski begitu, biasanya mereka akan beralih mencari penghasilan dari pesisir.
Imran Tabri, nelayan Desa Maurongga menatap gelombang yang semakin tinggi. Kondisinya membuatnya berhenti melaut. Air laut yang keruh membuatnya kesulitan untuk memancing gurita. Desa Maurongga memiliki potensi laut yang menjanjikan, khususnya pada sektor gurita.
Data Tananua Flores menunjukkan total perikanan tangkap Maurongga pada 2025 mencapai 1.096 dari tujuh jenis tangkapan. Gurita menjadi peringkat pertama dengan 479,8 kg yaitu senilai Rp16.074.000. Saat itu belum ada nelayan yang memancing gurita, melihat potensi gurita yang tinggi, akhirnya Imran mulai bergerak untuk memanfaatkan potensi tersebut dengan mulai memancing gurita.
Seiring berjalannya waktu, sejumlah nelayan gurita bertambah menjadi 7 orang setelah mendapat pendampingan dari Yayasan Tananua. Bagi mereka, menangkap gurita bukan hanya soal mendapat hasil sebanyak-banyaknya. Laut yang menjadi sumber kehidupan juga perlu dikelola dengan baik, walaupun sulit terlepas dari berbagai ancaman.
“Tahun 2022, kami dibantu perahu ukuran 1 GT oleh pemerintah Kabupaten Ende sebanyak tujuh unit. Tahun kemarin kami dapat lagi delapan unit. Saya jadi dikenal dan nelayan kami dapat bantuan berkat pemberitaan tentang gurita,” katanya.
Namun, masih banyak nelayan yang menangkap ikan dengan cara merusak, seperti racun hingga bom. “Jadi, kami terkadang harus berhadapan dengan nelayan-nelayan dari luar daerah kami yang sering menangkap ikan menggunakan bom dan potasium,” ujar Muhammad Nuhu, anggota LMMA Embo Angi.
Padahal, nelayan di Maurongga telah menjaga laut dengan menerapkan sistem praktik buka tutup kawasan. Upaya yang dilakukan kerap membuahkan hasil, menurut Imran, sejak penerapan sistem buka tutup area tangkap, berat gurita hasil tangkapan nelayan meningkat.
“Satu bagian ditutup selama tiga bulan dan satunya dibuka.Dibuat bergantian agar ada wilayah untuk nelayan beraktivitas mencari gurita,” ujar Imran.
Bernadus Sambut, Ketua Pengurus Yayasan Tananua Flores katakan, mereka membekali nelayan mereka untuk konsisten dalam menjaga ekosistem laut, tak hanya tentang larangan penggunaan alat tangkap tak ramah, tetapi juga mengedukasi mereka terkait dampak sampah bagi lautan.
Foto utama: Aswan nelayan gurita Kodim Ocotpus Desa Kotodirumali, Nagekeo menangkap gurita di dasar laut dengan menyelam dan gunakan peralatan tradisional. Foto : Mia Margaretha Holo/Mongabay Indonesia.