- Ada banyak data atau angka yang menyatakan jumlah satwa yang terdampak atau bahkan mati akibat karhutla tahun 2026. Namun, satwa liar yang terkena dampak kebakaran sulit ditemukan, dan konsekuensinya berlanjut setelah api padam.
- Sebuah penelitian mengungkap sejumlah dampak setelah kebakaran pada owa siamang (Symphalangus syndactylus )–satu dari dua spesies owa yang hidup di Sumatera. Hal ini termasuk perubahan wilayah jelajah, hingga ancaman regenerasi.
- Pada 18 tahun setelah kebakaran (1997), siamang baru memasukkan beberapa area yang terbakar ke dalam Home Range (wilayah jelajah) mereka, tetapi tidak menggunakan area yang rusak parah. Ini juga mungkin berimplikasi pada melambatnya proses regerasi hutan.
- Ketika habitat siamang terbakar, mereka punya lebih sedikit untuk mengakses makanan. Dan peluang anak siamang bertahan hingga mencapai tahap subdewasa di habitat yang tidak terganggu tercatat 2,8 kali lebih tinggi dibandingkan di habitat yang terbakar.
Sejumlah wilayah Indonesia masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di titik kebakaran, tidak sedikit satwa liar mati bersama rumah atau habitat mereka yang ikut terbakar.
Di Kalimantan, laporan lapangan dari Conservation Action Network Indonesia (CAN), telah mendokumentasikan 137 satwa liar mati selama operasi lapangan, termasuk 87 ular, 23 biawak, 14 trenggiling Sunda, delapan burung, tiga monyet ekor panjang, satu rusa, dan satu kijang.
Angka-angka ini dilaporkan per tanggal 18 September 2026 lalu, dan hanya mewakili satwa yang ditemukan oleh tim lapangan, bukan perkiraan kematian satwa liar di seluruh Kalimantan.
Namun, menurut CAN, satwa liar yang terkena dampak kebakaran sulit ditemukan, dan konsekuensinya berlanjut setelah api padam.
“Vegetasi yang terbakar dapat menyebabkan hewan yang selamat kekurangan makanan atau tempat berlindung yang memadai, sementara kekeringan semakin mengurangi air dan sumber daya lainnya,” dikutip dari situs resmi International Fund for Animal Welfare (IFAW), Minggu (18/10/26).
Sementara itu, menurut laporan Kementerian Kehutanan, mereka telah menangani 290 individu satwa liar yang terdampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sampai 8 Oktober 2026.
Di Sumatera Selatan, belum banyak catatan terkait dampak karhutla tahun 2026 terhadap satwa. Terakhir, menurut data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, pada September 2026, tercatat 3 ekor trenggiling liar mati terpanggang di Suaka Margasatwa Padang Sugihan.

Dampak karhutla pada wilayah jelajah siamang
Sebuah penelitian berjudul “Long‐term effects of forest fire on habitat use by siamangs in Southern Sumatra” yang diterbitkan dalam jurnal Animal Conservation (2020), coba menelusuri dampak jangka panjang karhutla pada owa siamang (Symphalangus syndactylus) –satu dari dua spesies owa yang hidup di Sumatera.
Lappan dan kolega mengikuti tujuh kelompok siamang selama 15 tahun (2000–2015), ketika kebakaran telah berlalu sekitar 3-18 tahun. Mereka ingin mengetahui bagaimana siamang menyesuaikan penggunaan habitat setelah hutan terbakar.
Siamang merupakan primata arboreal, artinya sebagian besar aktivitasnya berlangsung di pepohonan. Sebagai pemakan buah, siamang membutuhkan habitat yang menyediakan makanan, sekaligus tajuk yang memungkinkan mereka bergerak.
Kegiatan dilakukan di Stasiun Penelitian Way Canguk (SPWC), pusat riset hutan hujan tropis dataran rendah yang terletak di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Provinsi Lampung, yang terbakar pada 1997.

Lappan dan kolega menemukan bahwa ukuran wilayah jelajah kelompok siamang yang menggunakan hutan terdampak kebakaran cenderung meningkat seiring waktu. Sebaliknya, kelompok di hutan yang tidak terbakar tidak menunjukkan pola peningkatan yang sama.
Dengan kata lain, mereka mencatat kecenderungan perluasan wilayah jelajah pada kelompok yang wilayahnya bersinggungan dengan area terbakar. Pola serupa tidak terlihat pada kelompok pembanding yang berada di hutan tidak terbakar.
Perubahan ini dapat menjadi petunjuk bahwa kerusakan habitat memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap penggunaan ruang oleh siamang. Ketika bagian habitat tertentu tidak lagi digunakan, satwa mungkin perlu memanfaatkan bagian lain dari hutan yang tersedia.
“Pada 18 tahun setelah kebakaran, siamang telah memasukkan beberapa area yang terbakar ke dalam home range (wilayah jelajah) mereka, tetapi tidak menggunakan area yang rusak parah,” tulis penelitian tersebut.
18 tahun setelah kebakaran, kepadatan pohon di area terbakar telah kembali ke tingkat dasar yang tercatat pada 1997. Akan tetapi, citra satelit Landsat menunjukkan perbedaan antara karakteristik vegetasi hutan yang terbakar dan yang tidak. Artinya, jumlah pohon dapat kembali mendekati kondisi sebelumnya, tetapi komposisi jenis pohonnya belum tentu sama.
Penelitian Lappan dan kolega mengangkat kemungkinan bahwa berkurangnya penggunaan area bekas kebakaran oleh satwa pemakan buah dapat memengaruhi regenerasi hutan.
“Penurunan kepadatan pemakan buah di area yang terbakar dapat menghambat regenerasi hutan dengan mengganggu penyebaran biji,” tulis penelitian tersebut.

Regenerasi hutan terancam
Sebelumnya, sebuah penelitian berjudul “Fire, demography and the persistence of siamang (Symphalangus syndactylus: Hylobatidae) in a Sumatran rainforest” yang diterbitkan dalam jurnal Animal Conservation pada 2003, dan dilakukan di lokasi yang sama (Way Canguk), juga memperingatkan hal yang mirip, namun hasilnya lebih mengkhawatirkan.
O’Brien dan kolega menemukan bahwa kelompok siamang yang menempati hutan terbakar menghadapi kondisi habitat berbeda dibandingkan kelompok di hutan yang tidak terganggu. Satu perbedaannya adalah jumlah pohon ara pencekik (strangling fig) reproduktif yang lebih sedikit.
Pohon ara merupakan sumber buah penting bagi satwa pemakan buah di hutan tropis. Berkurangnya pohon yang menghasilkan buah dapat mengubah ketersediaan pakan dan meningkatkan tantangan bagi satwa untuk memenuhi kebutuhan energinya.
“Kelompok yang terbakar memiliki akses ke 48 persen lebih sedikit pohon ara pencekik reproduktif di wilayah mereka, dibandingkan dengan kelompok yang tidak terbakar,” tulis penelitian tersebut.

Perbedaan tersebut muncul bersamaan dengan temuan demografis yang penting. Peluang anak siamang bertahan hingga mencapai tahap subdewasa di habitat yang tidak terganggu, tercatat 2,8 kali lebih tinggi dibandingkan di habitat terbakar.
Berdasarkan analisis demografi, peneliti memperingatkan bahwa kelompok siamang di habitat terbakar, berisiko tidak mampu mempertahankan keberadaannya dalam jangka panjang, jika kualitas habitat tidak membaik. Artinya, regenerasi siamang ikut terancam.
“Perubahan perilaku makan dan mencari makan yang terkait gangguan habitat dapat mengakibatkan produktivitas lebih rendah dan mortalitas lebih tinggi pada satwa muda,” tulis penelitian tersebut.

Arnestasya Fitri Andriani, dokter hewan di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan, mengatakan sejauh ini kabut asap cukup memberikan dampak kesehatan ke sejumlah siamang yang direhabilitasi di PRS Punti Kayu.
“Yang paling terlihat penurunan nafsu makan, batuk dan pilek di beberap individu, serta vokalisasi yang lebih sering,” katanya, kepada Mongabay Indonesia, Senin (19/10/26).
Untuk mencegah dampak berat terhadap siamang, Arnes mengatakan mereka rutin melakukan misting atau proses pengembunan atau penyemprotan air dalam butiran yang sangat halus (seperti kabut).
“Syukur hingga saat ini di pusat rehab kami, belum ada kasus kesehatan yang berat dikarenakan karhutla,” jelas Arnes.
Referensi:
Lappan, S., Sibarani, M., O’Brien, T., Nurcahyo, A., Andayani, N., Rustiati, E., Surya, R., & Morino, L. (2020). Long‐term effects of forest fire on habitat use by siamangs in Southern Sumatra. Animal Conservation, 24. https://doi.org/10.1111/acv.12640
O’Brien, T., Kinnaird, M., Nurcahyo, A., Prasetyaningrum, M., & Iqbal, M. (2006). Fire, demography and the persistence of siamang (Symphalangus syndactylus: Hylobatidae) in a Sumatran rainforest. Animal Conservation, 6, 115–121. https://doi.org/10.1017/S1367943003003159
*****
Hidup di Kandang Perawatan, Kisah Sedih Owa di Sumatera Selatan