<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=ofri-johan-purwanto&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ofri-johan-purwanto/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 01 Aug 2026 10:00:05 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Menempuh Ribuan Kilometer, Perjalanan Satwa Migran Kian Berbahaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 10:00:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235625/Hammerhead-shark-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131316</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap tahun, berbagai satwa menempuh perjalanan panjang melintasi laut, daratan, dan batas negara. Burung terbang mengikuti jalur musiman, paus berpindah melintasi samudra, sementara hiu dan ikan bermigrasi mencari makanan atau tempat berkembang biak. Namun, perjalanan alami yang telah berlangsung selama ribuan tahun itu kini semakin berbahaya. Konferensi Para Pihak ke-15 Konvensi Spesies Migran atau COP15 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/">Menempuh Ribuan Kilometer, Perjalanan Satwa Migran Kian Berbahaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap tahun, berbagai satwa menempuh perjalanan panjang melintasi laut, daratan, dan batas negara. Burung terbang mengikuti jalur musiman, paus berpindah melintasi samudra, sementara hiu dan ikan bermigrasi mencari makanan atau tempat berkembang biak. Namun, perjalanan alami yang telah berlangsung selama ribuan tahun itu kini semakin berbahaya. Konferensi Para Pihak ke-15 Konvensi Spesies Migran atau COP15 CMS di Brasil menetapkan peningkatan perlindungan terhadap 40 spesies migran. Daftar tersebut mencakup burung, hewan darat, dan satwa akuatik seperti hiu, paus, serta ikan. Dengan penambahan itu, CMS kini mencakup sekitar 1.200 spesies unik. Appendix I CMS memuat spesies migran yang terancam punah di alam liar dan memerlukan perlindungan ketat. Sementara itu, Appendix II berisi spesies yang konservasi serta pengelolaannya membutuhkan kerja sama internasional. Sejumlah satwa yang mendapat perhatian lebih besar antara lain hyena bergaris, burung hantu salju, berang-berang raksasa, dan hiu martil besar. Tindakan konservasi terkoordinasi juga diarahkan pada hiu harimau pasir, hiu raksasa, hiu biru, paus sperma Pasifik Tropis Timur, beberapa jenis lumba-lumba, serta seluruh spesies ikan manta dan ikan setan. Ancaman terhadap satwa migran datang dari berbagai arah. Habitat yang menjadi tempat mereka makan, beristirahat, dan berkembang biak terus menyusut. Eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi plastik, kebisingan bawah air, perburuan ilegal, tangkapan sampingan perikanan, dan pencemaran laut mempercepat penurunan populasi. Penambangan laut dalam juga menjadi perhatian. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan sedimen dan limbah yang mengganggu navigasi, pola makan, serta ketersediaan mangsa. Partikel yang tercemar logam juga berpotensi masuk ke rantai makanan. Selain itu, pembangunan infrastruktur dapat meningkatkan kerusakan habitat, kebisingan, dan risiko&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/menempuh-ribuan-kilometer-perjalanan-satwa-migran-kian-berbahaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sungai dan Wayang Harimau di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 03:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011228/Selama-ratusan-tahun-ikan-air-tawar-menjadi-sumber-ekonomi-dan-pangan-bagi-perempuan-yang-hidup-di-lahan-basah-Sungai-Musi.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131382</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, komunitas lokal, Lahan Basah, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sumatera Selatan yang merupakan bagian penting dari Pulau Sumatera, memiliki kekayaan alam luar biasa dari dataran tinggi hingga rendah, baik biotik maupun abiotik. Sungai atau batanghari adalah salah satu wujud kekayaan tersebut. Sungai bukan hanya ruang bagi air, batuan, pasir, juga menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup. Mulai dari mikroorganisme, tumbuhan air, ikan air tawar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/">Sungai dan Wayang Harimau di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sumatera Selatan yang merupakan bagian penting dari Pulau Sumatera, memiliki kekayaan alam luar biasa dari dataran tinggi hingga rendah, baik biotik maupun abiotik. Sungai atau batanghari adalah salah satu wujud kekayaan tersebut. Sungai bukan hanya ruang bagi air, batuan, pasir, juga menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup. Mulai dari mikroorganisme, tumbuhan air, ikan air tawar, ampibi, reptil, invertebrata, hingga burung, berang-berang dan buaya. Sumatera Selatan dikenal sebagai negeri “Batanghari Sembilan”. Sebab, di wilayah ini terdapat sembilan sungai besar, yakni Sungai Musi, Sungai Komering, Sungai Ogan, Sungai Lematang, Sungai Lakitan, Sungai Batanghari Leko, Sungai Kelingi, Sungai Rupit, dan Sungai Rawas. Sembilan sungai tersebut membentuk ekosistem lahan basah, yang luasnya sekitar tiga juta hektar. Dalam pemikiran Friedrich Ratzel (Jerman) dan Ellsworth Huntington (Amerika Serikat) yang mengembangkan teori Determinisme Lingkungan, kekayaan sungai membentuk budaya masyarakat yang hidup di sekitarnya. Sungai bukan hanya sebagai sumber air bersih, pangan, juga sarana transportasi. Kehidupan sungai tidak mengenal dominasi hierarki. Air mengalir bebas dari hulu ke hilir maupun sebaliknya, bebas diakses semua makhluk hidup, serta memberi penghidupan tanpa menuntut balas. Pada akhirnya, melahirkan masyarakat terbuka, egaliter, dan berketuhanan. Masyarakat yang terbuka, egaliter, dan berketuhanan tersebut memfasilitasi proses akulturasi budaya, sehingga kebudayaan di Sumatera Selatan, kaya tradisi dan pengetahuan, seperti kekayaan alamnya. Pengetahuan lokal melebur dengan berbagai pengetahuan Hindu-Buddha, Islam, dan Barat, yang melahirkan beragam tradisi dan budaya, seperti arsitektur, sistem kepercayaan, seni, dan lainnya. Ikan menjadi sumber pangan dan ekonomi bagi masyarakat di Sumatera Selatan. Foto Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Dari 67 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di Sumatera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/01/sungai-dan-wayang-harimau-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Foto Buram Tahun 2008 Ini Ternyata Menjadi Petunjuk Penemuan Spesies Monyet Baru di 2026</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 00:54:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/01004736/Colobus-Congensis_Amboko-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131376</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penemuan spesies mamalia besar baru tergolong jarang terjadi dalam dunia sains. Sebagian besar kelompok mamalia besar, termasuk primata, sudah dipetakan dan diklasifikasikan setelah lebih dari satu abad penelitian. Karena itu, konfirmasi spesies monyet baru di hutan Republik Demokratik Kongo (DRC) menjadi salah satu temuan primata paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Kisah penemuan ini bermula [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/">Foto Buram Tahun 2008 Ini Ternyata Menjadi Petunjuk Penemuan Spesies Monyet Baru di 2026</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penemuan spesies mamalia besar baru tergolong jarang terjadi dalam dunia sains. Sebagian besar kelompok mamalia besar, termasuk primata, sudah dipetakan dan diklasifikasikan setelah lebih dari satu abad penelitian. Karena itu, konfirmasi spesies monyet baru di hutan Republik Demokratik Kongo (DRC) menjadi salah satu temuan primata paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Kisah penemuan ini bermula pada 2008, ketika sebuah foto menangkap sosok monyet berbulu hitam pekat di kanopi hutan lebat DRC. Foto itu hanya menampilkan punggung dan sebagian ekor monyet, karena hewan tersebut membelakangi kamera. Meski parsial, gambar itu cukup untuk memicu rasa penasaran Junior Amboko, primatolog biologi dari Florida Atlantic University di Boca Raton, Amerika Serikat, dan sejumlah peneliti lain, tentang kemungkinan adanya spesies yang belum tercatat dalam literatur ilmiah. onyet ini termasuk dalam genus Colobus, kelompok monyet pemakan daun yang tersebar di hutan-hutan tropis Afrika dan dikenal karena tidak memiliki ibu jari pada tangannya. | Foto oleh DANIEL ROSENGREN/FRANKFURT ZOOLOGICAL SOCIETY Selama beberapa tahun berikutnya, Amboko dan timnya kembali ke hutan berkanopi rapat itu, kawasan yang juga menjadi habitat tujuh spesies monyet lain serta bonobo. Sepanjang 2018 hingga 2022, tim mencatat puluhan perjumpaan dengan monyet misterius tersebut. Mereka mengamati ciri khas berupa bercak oranye di sekitar mulut monyet, sekaligus merekam suara raungannya yang dalam dan khas. Monyet ini termasuk dalam genus Colobus, kelompok monyet pemakan daun yang tersebar di hutan-hutan tropis Afrika dan dikenal karena tidak memiliki ibu jari pada tangannya. Sebelum penelitian ini, genus tersebut sudah mencakup beberapa spesies yang tersebar di Afrika tengah dan barat, termasuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/01/foto-buram-tahun-2008-ini-ternyata-menjadi-petunjuk-penemuan-spesies-monyet-baru-di-2026/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apa Dampak Gerhana Bulan bagi Lingkungan Pesisir?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>01 Agu 2026 00:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/04103731/Picture1-768x508.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131293</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gerhana bulan bukan hanya pertunjukan astronomi yang membuat Bulan tampak gelap atau berwarna merah. Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris, fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan pasang-surut air laut yang dapat membawa manfaat sekaligus risiko bagi lingkungan pesisir. Gerhana bulan berlangsung ketika Bulan memasuki bayangan Bumi pada fase purnama. Pada kondisi ini, tarikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/">Apa Dampak Gerhana Bulan bagi Lingkungan Pesisir?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gerhana bulan bukan hanya pertunjukan astronomi yang membuat Bulan tampak gelap atau berwarna merah. Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris, fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan pasang-surut air laut yang dapat membawa manfaat sekaligus risiko bagi lingkungan pesisir. Gerhana bulan berlangsung ketika Bulan memasuki bayangan Bumi pada fase purnama. Pada kondisi ini, tarikan gravitasi Matahari dan Bulan bekerja pada arah yang selaras. Akibatnya, permukaan air laut dapat mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan kondisi biasa. Pasang maksimum tersebut dapat memberikan manfaat ekologis. Air laut mampu menjangkau bagian pesisir yang lebih luas sambil membawa nutrisi ke berbagai wilayah. Masuknya unsur hara ini membantu menyuburkan ekosistem pesisir dan mendukung rantai makanan laut. Arus pasang juga dapat membantu menyebarkan benih tumbuhan laut dan organisme pesisir ke wilayah baru. Proses tersebut mendukung regenerasi alami serta meningkatkan peluang terbentuknya habitat baru. Dalam jangka panjang, perpindahan organisme dapat berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati di kawasan pesisir. Namun, perubahan pasang yang lebih tinggi juga mempunyai sisi berisiko. Air laut dapat melampaui batas normal dan menggenangi permukiman atau fasilitas di daerah rendah. Fenomena ini dikenal sebagai banjir rob. Dampaknya dapat mengganggu aktivitas masyarakat pesisir, termasuk nelayan, transportasi, dan kegiatan ekonomi sehari-hari. Pada gerhana bulan 7–8 September 2025, misalnya, permukaan air laut di Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, Kalimantan Selatan, mulai naik dan mencapai puncaknya sekitar pukul 03.00. Para nelayan tetap melaut karena pasang-surut merupakan bagian dari keseharian mereka, tetapi kondisi tersebut tetap memerlukan kewaspadaan. Gerhana bulan total juga dikenal dengan sebutan blood&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/apa-dampak-gerhana-bulan-bagi-lingkungan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Kelompok Tani Perempuan Pulihkan Hutan dan Jaga Tesso Nilo</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 23:42:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/31233220/Ketua-Perbani-Rena-Sandriani.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131366</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Ketika hutan di Taman Nasional Tesso Nilo nyaris habis tergerus jadi kebun sawit, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, berlaku sebaliknya. Di kawasan penyangga Tesso Nilo ini, warga terutama para perempuan menanam beragam pohon buah-buahan yang berfungsi konservasi sekaligus bernilai ekonomi. Ada buah jeruk, sebagai tanaman yang tak gajah sukai di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/">Upaya Kelompok Tani Perempuan Pulihkan Hutan dan Jaga Tesso Nilo</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Ketika hutan di Taman Nasional Tesso Nilo nyaris habis tergerus jadi kebun sawit, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, berlaku sebaliknya. Di kawasan penyangga Tesso Nilo ini, warga terutama para perempuan menanam beragam pohon buah-buahan yang berfungsi konservasi sekaligus bernilai ekonomi. Ada buah jeruk, sebagai tanaman yang tak gajah sukai di area kebun yang perlu mereka lindungi. Warga juga tanam buah-buahan yang gajah senangi seperti nangka, dan cempedak, petai, dan lain-lain sebagai kawasan tempat satwa tambun ini cari makan. Ernita,  kini merasa tenang. Gajah tak lagi rusak kebun sawitnya. Bukan karena mengusir satwa di lindungi itu, cukup dengan menanam jeruk di sekeliling kebun. Ia jadi pagar ramah satwa untuk melindungi tanaman sawit yang baru memasuki masa panen. “Sebelum tanam jeruk, sawit kami selalu dimakan gajah. Sudah tanam ulang empat sampai lima kali. Memang tak banyak (yang dimakan). Sekitar 15 sampai 20 pokok. Alhamdulillah, setelah buat pagar jeruk, belum pernah dimakan gajah lagi (sawitnya),” kata perempuan 33 tahun ini. Saat ini, Erni melihat gajah justru lebih sering di kebun sawit warga sekitar yang tak berpagar jeruk. Dia bilang, belum semua pemilik kebun sawit warga Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB), Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau ini tertarik dan berminat praktik serupa. Erni, mulai melakukan cara alami agar tetap hidup harmoni dengan gajah Sumatera sejak tiga tahun belakangan. Mengingat LKB adalah satu dari sekian desa yang bersinggungan dengan Tesso Nilo. Ini satu kantong gajah Sumatera terbanyak di Riau. Wilayah masyarakat adat, juga pintu masuk taman nasional itu. Rumah Erni, tak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/upaya-kelompok-tani-perempuan-pulihkan-hutan-dan-jaga-tesso-nilo/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 16:21:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/31153428/JETTY-PT-TMS-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131309</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kabaena dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, hawa dingin berkabut pasca hujan mengguyur Desa Tangkeno. Sailan bersiap menuju hutan hendak pergi menyadap nira. Lelaki 61 tahun ini membawa sebilah golok sebagai alat mengiris bunga enau dan bambu penampung nira. Biasanya,  dia menyadap nira manis,  pagi dan sore.  Pukul 07.00 dan 16.00 WITA adalah waktu paling cocok. “Kalau telat, rasanya sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/">Kuasa Nikel Lukai Hutan dan Masyarakat Kabaena</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, hawa dingin berkabut pasca hujan mengguyur Desa Tangkeno. Sailan bersiap menuju hutan hendak pergi menyadap nira. Lelaki 61 tahun ini membawa sebilah golok sebagai alat mengiris bunga enau dan bambu penampung nira. Biasanya,  dia menyadap nira manis,  pagi dan sore.  Pukul 07.00 dan 16.00 WITA adalah waktu paling cocok. “Kalau telat, rasanya sudah beda, tidak cocok untuk gula aren,” katanya, 24 Februari 2026. Sailan adalah Ketua Adat Desa Tangkeno, Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Desa yang terkenal dengan sebutan &#8220;Negeri di atas Awan&#8221; ini berada di perbukitan terapit pegunungan. Kampung ini pun jadi ikon wisata. Setelah parkir motor di pinggir hutan, Sailan berjalan kaki menuju tanaman enau. Dia memanjat enau,  sesampainya di atas  mengiris bagian ujung bunga jantan hingga tetesan nira mulai mengucur. Dia pun memasang bambu penampung. Bambu Sailan biarkan menggantung sampai esok siap panen. Dia panjat belasan enau di beda lokasi satu per satu, sembari mengecek bambu-bambu yang telah tergantung sejak kemarin. Bambu-bambu berisi nira itu dia bawa ke gubuk untuk olah menjadi gula aren. Nurbiah, istri Sailan sudah memanaskan tungku kayu. Nira segar dalam bambu terlebih dulu perempuan 59 tahun ini campur air rendaman kapur sirih dan kayu pohon nangka. Kemudian dia tuang ke kuali satu per satu. Peta ini menunjukkan IUP PT BBS berada dalam kawasan hutan yang turut mencangkup wilayah desa adat Tangkeno dengan konsesi perusahaan. Satya Bumi Proses memasak nira berlangsung sekitar satu jam, sambil aduk tanpa henti hingga mengental. Kemudian mereka cetak dengan tempurung kelapa. Setelah mengeras, sudah jadi gula aren dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/kuasa-nikel-lukai-hutan-dan-masyarakat-kabaena/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Palung Gelap Industri Tuna Benoa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 13:05:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riza Salman*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan huku]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/31100131/IMG20260311103023-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131322</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, Kelautan perikanan, pangan, dan politik dan huku]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari menjelang siang ketika deretan kapal penangkap dan pengangkut ikan memenuhi Dermaga Pelabuhan Perikanan Benoa, Denpasar, Bali, Maret 2026. Di antara puluhan kapal yang bersandar itu, tampak KM Matsam-5 yang tengah melakukan aktivitas bongkar muat. Para awak kapal perikanan (APK) dengan cekatan mengeluarkan berbagai ikan pelagis, termasuk tuna sirip kuning dari lambung kapal dan memindahkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/">Palung Gelap Industri Tuna Benoa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari menjelang siang ketika deretan kapal penangkap dan pengangkut ikan memenuhi Dermaga Pelabuhan Perikanan Benoa, Denpasar, Bali, Maret 2026. Di antara puluhan kapal yang bersandar itu, tampak KM Matsam-5 yang tengah melakukan aktivitas bongkar muat. Para awak kapal perikanan (APK) dengan cekatan mengeluarkan berbagai ikan pelagis, termasuk tuna sirip kuning dari lambung kapal dan memindahkan ke mobil bak terbuka di pinggiran dermaga. Hingga aktivitas itu berakhir, tak terlihat petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau pelabuhan di lokasi. “Tidak ada. Biasanya juga memang tidak ada petugas yang memeriksa hasil tangkapan,” kata Rahman, bukan nama sebenarnya, salah satu AKP yang Mongabay temui di lokasi, pertengahan Maret. Sejak lama, Benoa memang terkenal sebagai satu titik (spot) pendaratan tuna terbesar di Indonesia. Statistik KKP menyebut, produksi tuna Bali mencapai 18.800 ton dan jadikan provinsi ini peringkat tujuh nasional di bawah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Jakarta dan Sulawesi Selatan. Dari Benoa, tuna-tuna banyak kirim ke berbagai pasar ekspor. Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) dalam laporannya berjudul “Analisis rantai pasok dan rantai industri perikanan tuna di Benoa,”  menyebutkan, Amerika Serikat sebagai pasar utama tuna Bali (56,8%), lalu Jepang (18,4%), American Samoa (7,9%), Thailand (5,8%) dan Australia (3%). Masalahnya, di balik tingginya produksi tuna Bali, menyisakan dugaan praktik illegal, unreported unregulation fishing (IUUF) oleh sebagian armada. KM Matsam 5, misal, kendati tak miliki legalitas memadai, kuat dugaan kapal berkapasitas 150 gross tonnage (GT) ini masih beraktivitas tangkap ikan di Samudera Hindia. Padahal, izin kapal itu di IOTC kedaluwarsa sejak Desember 2023. Rekaman&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/palung-gelap-industri-tuna-benoa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mirip Kobra Asli, Ular Ini Ternyata Hanya Berbisa Ringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 10:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/14041335/kobra-palsu-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131218</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Leher mengembang, tubuh bersiap menghadapi ancaman, dan penampilannya sekilas menyerupai kobra. Namun, ular ini bukan anggota kobra sejati. Namanya kobra palsu (Pseudoxenodon inornatus), spesies yang menggunakan kemiripan fisik dan perilaku sebagai strategi untuk menakuti predator. Kobra palsu berbeda dari kobra jawa (Naja sputatrix). Salah satu perbedaan yang mudah diamati adalah warna tubuh. Kobra palsu umumnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/">Mirip Kobra Asli, Ular Ini Ternyata Hanya Berbisa Ringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Leher mengembang, tubuh bersiap menghadapi ancaman, dan penampilannya sekilas menyerupai kobra. Namun, ular ini bukan anggota kobra sejati. Namanya kobra palsu (Pseudoxenodon inornatus), spesies yang menggunakan kemiripan fisik dan perilaku sebagai strategi untuk menakuti predator. Kobra palsu berbeda dari kobra jawa (Naja sputatrix). Salah satu perbedaan yang mudah diamati adalah warna tubuh. Kobra palsu umumnya berwarna abu-abu kusam, meski sebagian individu tampak jingga atau kemerahan. Kobra jawa cenderung berwarna hitam pekat dan terlihat mengkilap ketika terkena sinar matahari. Bagian kepala juga menyimpan petunjuk. Kobra palsu biasanya memiliki garis putih menyerupai huruf V terbalik di atas kepalanya. Sebaliknya, bagian atas kepala kobra asli cenderung polos, sementara pola terdapat di bawah leher. Pembeda yang dianggap paling akurat adalah keberadaan sisik loreal, yakni sisik di antara hidung dan mata. Kobra palsu yang termasuk famili Colubridae memiliki sisik tersebut. Pada kobra sejati dari famili Elapidae, sisik loreal tidak ada sehingga sisik hidung langsung bersentuhan dengan sisik di depan mata. Pengamat atau fotografer satwa dapat memeriksanya melalui foto kepala yang diambil dari jarak aman. Ukuran tubuh keduanya juga berbeda. Kobra palsu rata-rata memiliki panjang sekitar 75 sentimeter dan jarang melebihi satu meter. Kobra asli dapat tumbuh melampaui 1,5 meter. Ciri paling mengecoh adalah kemampuan kobra palsu mengembangkan leher seperti tudung kobra. Perilaku ini merupakan bentuk mimikri untuk membuat predator mengira sedang berhadapan dengan ular berbahaya. Bedanya, kobra palsu belum pernah terdokumentasi mampu mengangkat bagian depan tubuh setinggi kobra asli. Meski menyandang sebutan “palsu”, ular ini tetap memiliki bisa. Namun, tingkat bahayanya jauh lebih rendah dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mirip-kobra-asli-ular-ini-ternyata-hanya-berbisa-ringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bumi Makin Panas, Waspada Bencana dan Penyakit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 03:00:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230142/Kebakaran-hutan-dan-lahan-di-Limapuluhkota-Dokumentasi-BPBD-Sumatera-Barat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131292</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau datang lebih panjang. Kemungkinannya mencapai 46,5%. Kondisi ini bisa memperburuk kondisi iklim, dan memicu bencana hingga penyakit. Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Klimatologi BMKG, menyebut, kondisi iklim sedang tidak baik. Untuk pertama kalinya, tahun 2024, suhu bumi naik 1,55 Celsius. Prediksi BMKG, periode 2021-2050, seluruh Indonesia akan naik sampai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/">Bumi Makin Panas, Waspada Bencana dan Penyakit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau datang lebih panjang. Kemungkinannya mencapai 46,5%. Kondisi ini bisa memperburuk kondisi iklim, dan memicu bencana hingga penyakit. Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Klimatologi BMKG, menyebut, kondisi iklim sedang tidak baik. Untuk pertama kalinya, tahun 2024, suhu bumi naik 1,55 Celsius. Prediksi BMKG, periode 2021-2050, seluruh Indonesia akan naik sampai 1,6 Celsius, sedangkan 2071-2100 akan mengalami kenaikan suhu sampai 3,4 Celsius dari periode 1981-2010. Di Indonesia, tahun 2025 adalah tahun keenam terpanas sepanjang sejarah. Secara global, tahun 2025 adalah tahun ketiga terpanas. Trennya cenderung naik dari tahun ke tahun. “Tren dari temperatur di wilayah-wilayah mayoritas wilayah Indonesia semuanya naik, ya, di wilayah urban tentunya lebih cepat. Seperti di Jakarta itu 1,6 kali lebih cepat dari rata-rata temperatur global,” katanya. Dalam konteks kebakaran hutan, kata Sena, munculnya hotspot biasa terjadi pada Juni sampai Oktober. Untuk dry season tahun ini, dia perkirakan terjadi pada Juli sampai September berdasarkan rata-rata klimatologinya. “Dry spell ini akan semakin panjang karena perubahan iklim ini.” Kemunculan titik panas (hotspot) tahun ini mirip dengan yang terjadi pada 2019. Walaupun, sebenarnya, kemunculan hotspot lebih mengikuti kondisi musim. “Untuk 2026, untuk awal tahun ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Harapan kita tentunya ini tidak naik&#8230; mengingat kondisi kekeringan yang akan datang.” BMKG memprediksi, peluang El-Nino tahun ini masuk kategori moderat mencapai 98%, sementara peluang kategori kuat 62%. Selain  itu, potensi musim kemarau maju di 50% wilayah Indonesia. “Karena dia maju, maka musim kemarau totalnya menjadi lebih panjang 57% wilayah kita.” Israr Albar, Mantan Kepala&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/bumi-makin-panas-waspada-bencana-dan-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>7 Fakta Unik Ikan Gobi Udang yang Ditemukan di Banyuwangi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 01:30:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25104241/Ikan-gobi-banyuwangi2.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131304</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merilis temuan terbaru mereka tentang spesies ikan gobi udang (shrimpgoby) yang ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Laporan tersebut diterbitkan di jurnal ZooKeys, edisi 24 Juni 2026, berjudul “Tomiyamichthys oriens, a new species of shrimpgoby (Teleostei, Gobiidae) from the coast of Banyuwangi, East Java, Indonesia.” Kunto Wibowo, peneliti Pusat Riset Biosistematika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/">7 Fakta Unik Ikan Gobi Udang yang Ditemukan di Banyuwangi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merilis temuan terbaru mereka tentang spesies ikan gobi udang (shrimpgoby) yang ditemukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Laporan tersebut diterbitkan di jurnal ZooKeys, edisi 24 Juni 2026, berjudul “Tomiyamichthys oriens, a new species of shrimpgoby (Teleostei, Gobiidae) from the coast of Banyuwangi, East Java, Indonesia.” Kunto Wibowo, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan sisi lain ikan tersebut kepada Mongabay Indonesia, Jumat (24/7/26). Ada tujuh fakta menarik ikan tersebut, juga bagaimana ia bisa berasosiasi langsung dengan genus Tomiyamichthys. Proses penemuan ikan Tomiyamichthys oriens hingga dinyatakan spesies baru, diawali dengan kajian pada dua individu dari perairan Banyuwangi. Dua spesimen itu berasal dari perusahaan eksportir ikan hias dan biota laut di Banyuwangi. Lima ilmuwan yang melakukan penelitian ini bersama dua orang dari perusahaan tersebut, memberi nama Bahasa Inggris T. Oriens dengan Oriens Shrimpgoby. Penyematan oriens pada Tomiyamichthys diambil dari bahasa latin yang artinya “timur” atau “matahari terbit”. Nama itu diberikan karena terinspirasi dari warna jingga cerah pada tubuh ikan, juga karena Banyuwangi sebagai The Sunrise of Java. Banyuwangi menjadi satu-satunya lokasi perairan yang diketahui menjadi habitat oriens dengan habitat berpasir dan ditemukan di perairan dangkal. Penemuan spesies itu semakin mempertegas perairan Nusantara yang sangat potensial keanekaragaman hayati lautnya dan belum banyak terdokumentasi. Kunto Wibowo mengatakan, saat ini Indonesia memiliki 13 spesies Tomiyamichthys yang tercatat melalui pengumpulan spesimen di lapangan dan fotografi bawah air. Kekayaan itu, dipengaruhi letak perairan Indonesia di tengah Segitiga Karang dunia. Tomiyamichthys adalah genus ikan gobi yang hidup bersama udang, yang pertama kali dipublikasikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/31/7-fakta-unik-ikan-gobi-udang-yang-ditemukan-di-banyuwangi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kapulaga, Si Kecil yang Dijuluki Ratunya Rempah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/#respond</comments>
					<pubDate>31 Jul 2026 00:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232031/kapulaga-jawa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131217</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara beragam rempah dunia, kapulaga menempati posisi istimewa. Ukuran buahnya memang kecil, tetapi manfaat dan nilai ekonominya besar. Rempah beraroma khas ini digunakan dalam masakan, minuman, obat tradisional, industri farmasi, hingga parfum. Tidak heran jika kapulaga dijuluki Queen of Spices atau ratunya rempah. Kapulaga merupakan buah kering dari tanaman herbal tahunan keluarga Zingiberaceae. Buahnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/">Kapulaga, Si Kecil yang Dijuluki Ratunya Rempah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara beragam rempah dunia, kapulaga menempati posisi istimewa. Ukuran buahnya memang kecil, tetapi manfaat dan nilai ekonominya besar. Rempah beraroma khas ini digunakan dalam masakan, minuman, obat tradisional, industri farmasi, hingga parfum. Tidak heran jika kapulaga dijuluki Queen of Spices atau ratunya rempah. Kapulaga merupakan buah kering dari tanaman herbal tahunan keluarga Zingiberaceae. Buahnya tumbuh dalam tandan kecil dan pendek, berbentuk kapsul dengan diameter sekitar 1–1,5 sentimeter. Permukaannya memiliki garis-garis rapat dan rambut pendek yang halus. Ketika matang, buah akan pecah dan terbelah mengikuti ruang-ruang di dalamnya. Di dunia terdapat sedikitnya 150–180 jenis kapulaga yang termasuk dalam tiga genus utama, yaitu Amomum, Aframomum, dan Elettaria. Sejumlah jenis telah dibudidayakan secara luas karena mempunyai nilai ekonomi tinggi. Indonesia mengenal dua jenis utama. Pertama, kapulaga lokal atau kapulaga jawa (Amomum compactum), spesies endemik Jawa Barat. Kedua, kapulaga sabrang atau kapulaga sejati (Elettaria cardamomum). Keduanya mempunyai ciri berbeda. Kapulaga jawa berbuah putih dan berbentuk bulat, dengan kandungan minyak atsiri sekitar 2–3,5 persen serta aroma yang lebih ringan. Kapulaga sabrang berwarna hijau, berbentuk oval, dan memiliki kandungan minyak atsiri lebih tinggi, sekitar 5–8 persen. Aromanya pun lebih kuat. Kapulaga dijuluki ratunya rempah karena kegunaannya menjangkau berbagai sektor. Dalam masakan, aromanya dianggap khas dan sulit digantikan rempah lain. Nilainya bahkan menempatkan kapulaga sebagai rempah termahal ketiga di dunia setelah safron dan vanili. Bijinya mengandung sejumlah bahan aktif, seperti sineol, terpen, terpineol, dan borneol. Minyak atsirinya dimanfaatkan sebagai pemberi aroma untuk makanan, minuman, wewangian, serta produk farmasi dan herbal. Dalam pengobatan tradisional, kapulaga digunakan sebagai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kapulaga-si-kecil-yang-dijuluki-ratunya-rempah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tentang Adolof Wonemseba: Seorang Diri Merawat Kima Raksasa Wondama Selama 17 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/05055207/Adolof-Olof_pelestari-kima-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131177</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[konservasi laut dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Adolof Olof Wonemseba bukan sekadar nelayan. Di sela mencari ikan dan mengurus kebun untuk menghidupi keluarganya, warga Kampung Mena, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, ini menjalankan misi besar: menyelamatkan kima dari kepunahan. Kima atau bia dalam bahasa setempat merupakan biota bercangkang besar yang berperan penting bagi ekosistem laut. Hewan ini bekerja sebagai penyaring [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/">Tentang Adolof Wonemseba: Seorang Diri Merawat Kima Raksasa Wondama Selama 17 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Adolof Olof Wonemseba bukan sekadar nelayan. Di sela mencari ikan dan mengurus kebun untuk menghidupi keluarganya, warga Kampung Mena, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, ini menjalankan misi besar: menyelamatkan kima dari kepunahan. Kima atau bia dalam bahasa setempat merupakan biota bercangkang besar yang berperan penting bagi ekosistem laut. Hewan ini bekerja sebagai penyaring alami yang membantu menjaga kejernihan air. Keberadaannya juga mendukung pertumbuhan karang dan menarik ikan untuk datang. Namun, perkembangbiakannya lambat, sementara populasinya terus berkurang akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat. Sebagai orang asli Pulau Roon yang hidup dari laut, Adolof menyaksikan langsung kima semakin sulit ditemukan. Banyak yang diambil untuk dikonsumsi. Khawatir anak cucunya kelak tidak lagi mengenal hewan tersebut, ia memulai upaya pelestarian pada 2008. Adolof mendatangkan beberapa kima dari Pulau Auri, lalu menempatkannya di perairan Rouwno. Ia membangun area perlindungan yang disebutnya “kebun kima”, sebuah praktik konservasi mandiri yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai yadup. Awalnya, kebun itu hanya berupa petak berukuran 10 × 20 meter persegi. Setelah 17 tahun (tahun 2024), luasnya diperkirakan telah berkembang menjadi sekitar 100 × 100 meter persegi. Di sana hidup ratusan kima dari tujuh jenis. Dua belas kima raksasa dan delapan kima raja menjadi bagian dari kelompok awal yang dibawa Adolof. Kima yang semula berdiameter sekitar 15–20 sentimeter kini ada yang mencapai 70–80 sentimeter. Jumlah kima raksasa pun telah bertambah menjadi lebih dari 20 individu. Jenis lain berkembang lebih cepat dan menyebar ke celah-celah batu karang sehingga sulit dihitung. Adolof meminta warga tidak menangkap atau memakan kima di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tentang-adolof-wonemseba-seorang-diri-merawat-kima-raksasa-wondama-selama-17-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Kelompok Parit Segagah Pulihkan Mangrove Bengkalis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 07:30:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29083214/Jalur-utama-menuju-hamparan-mangrove-Kelapapati.-Selama-14-tahun-kawasan-ini-kembali-hijau-dan-penuh-pohon-pohon-bakau.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131262</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rio Fernandes tak kuasa menahan air mata kala mengenang jerih payahnya bersama sahabat yang telah mendahuluinya, Samsul Bahri, dalam perjuangan memulihkan hutan mangrove Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau. Mereka hanya bermodal semangat dan keberanian, swadaya dan tanpa dukungan biaya selama berjuang satu dekade. Awal mula gerakan bermula karena dia geram menyaksikan penebangan mangrove merajalela. Para pelaku [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/">Upaya Kelompok Parit Segagah Pulihkan Mangrove Bengkalis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rio Fernandes tak kuasa menahan air mata kala mengenang jerih payahnya bersama sahabat yang telah mendahuluinya, Samsul Bahri, dalam perjuangan memulihkan hutan mangrove Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau. Mereka hanya bermodal semangat dan keberanian, swadaya dan tanpa dukungan biaya selama berjuang satu dekade. Awal mula gerakan bermula karena dia geram menyaksikan penebangan mangrove merajalela. Para pelaku menganggap hutan pesisir itu tak bertuan. Pohon-pohon di hutan mangrove Kelapapati juga jadi sasaran ketika musim gasing tiba. Mereka tak segan menebas simpul-simpul bakau yang keras, mengolahnya jadi mainan yang bisa berputar itu. Satu hari, Rio dan Bang Sam, sahabatnya, nekat menghalang alat berat yang hendak menggilas mangrove tersisa. “Kami larang. Alasannya lahan itu sudah dijadikan konservasi. Kalau diteruskan (penggundulan) akan berurusan dengan polisi. Tak dipukul dan tak diapa-apakan,” katanya. Keesokan hari, mereka menghadap kepala desa. Keduanya ceritakan kondisi dan peristiwa itu. Tak lama, mereka pun sama-sama turun ke lokasi. Singkat cerita, kepala desa manut dengan ide dan tawaran mereka, sekaligus merestui pembentukan kelompok. Lahirlah Parit Segagah, dalam bahasa Melayu lokal penulisannya Paghet Seghaghah. Mulai 2012, Rio dan Sam, inisiatif menjadikan kawasan mangrove 14 hektar itu  sebagai area pemulihan dan perlindungan. Mereka ajak masyarakat, tanam dan tambal sulam mangrove, menjaga lalu merawatnya. Dari tahun ke tahun, mereka kumpulkan bibit. Saking tak berduit, mereka pakai plastik es untuk polybag. Hasil kerja awal tampak pada sisi kanan dekat gerbang masuk kawasan. Telah tumbuh belukap, salah satu spesies asli yang nyaris tak terlihat lagi di ekosistem mangrove Kelapapati. Dia bilang, mereka temukan bibit itu di wilayah Pambang, desa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/30/upaya-kelompok-parit-segagah-pulihkan-mangrove-bengkalis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ras Kucing dan Anjing Apa yang Paling Panjang Umur?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 05:00:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/08/22000711/pexels-tamhasipkhan-6601811-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131176</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berapa lama kucing atau anjing dapat menemani manusia? Jawabannya ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis kelamin, ukuran tubuh, bentuk moncong, hingga riwayat perkawinan rasnya. Dua penelitian di Inggris memberikan gambaran tentang ras kucing dan anjing yang memiliki harapan hidup paling panjang maupun paling singkat. Studi mengenai kucing menggunakan 7.936 catatan kematian terkonfirmasi dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/">Ras Kucing dan Anjing Apa yang Paling Panjang Umur?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berapa lama kucing atau anjing dapat menemani manusia? Jawabannya ternyata dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis kelamin, ukuran tubuh, bentuk moncong, hingga riwayat perkawinan rasnya. Dua penelitian di Inggris memberikan gambaran tentang ras kucing dan anjing yang memiliki harapan hidup paling panjang maupun paling singkat. Studi mengenai kucing menggunakan 7.936 catatan kematian terkonfirmasi dari sekitar 1,25 juta kucing yang berada dalam perawatan dokter hewan di Inggris. Data tersebut dikumpulkan selama 2019–2021. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup kucing peliharaan di Inggris mencapai 11,7 tahun sejak lahir. Kucing Burma menempati posisi tertinggi dengan harapan hidup 14,42 tahun. Sementara itu, kucing sphynx memiliki angka terendah, yaitu 6,68 tahun. Kucing Persia memiliki harapan hidup sekitar 10,93 tahun. Jenis kelamin juga berpengaruh. Kucing betina rata-rata hidup 1,33 tahun lebih lama daripada kucing jantan. Kucing hasil persilangan memiliki umur sekitar 1,5 tahun lebih panjang dibandingkan kucing ras murni. Selain itu, kucing yang telah dikebiri atau diangkat rahimnya rata-rata hidup 1,1 tahun lebih lama. Rendahnya harapan hidup sphynx diduga berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti gangguan jantung, tulang, kornea mata, dan kelopak mata yang melipat ke dalam. Namun, angka harapan hidup bukan batas usia mutlak. Dengan perawatan yang baik, sphynx dapat mencapai usia sekitar 14 tahun, sedangkan kucing Burma bahkan bisa hidup hingga sekitar 21 tahun. Penelitian lain menganalisis data 584.734 anjing dari lebih dari 150 ras. Hasilnya, Lancashire Heeler memiliki harapan hidup tertinggi, yakni 15,4 tahun. Sebaliknya, anjing gembala Kaukasia memiliki harapan hidup terendah, sekitar 5,4 tahun. Husky Siberia rata-rata dapat hidup selama 11,9&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ras-kucing-dan-anjing-apa-yang-paling-panjang-umur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>5 Jam “Bersama” Harimau Sumatera, Kisah Ranger Leuser Selamat dari Maut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 01:00:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29130016/Harimau-Sumatera-Yang-menyerang-Rusdianto-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131269</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Hutan Sumatra Kehilangan Rajanya]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Rusdianto, waktu seolah berhenti sore itu. Tubuhnya terbaring di lantai hutan, dipenuhi luka gigitan dan cakaran. Tiga meter di hadapannya, seekor harimau sumatera terus mengawasi gerakannya. &#8220;Saya pasrah. Kalau saya bergerak, ia akan mencakar,&#8221; kenangnya, Sabtu (25/7/26). Hampir lima jam, sejak pukul 15.00 WIB hingga malam 20.00 WIB, ranger Forum Konservasi Leuser (FKL) itu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/">5 Jam “Bersama” Harimau Sumatera, Kisah Ranger Leuser Selamat dari Maut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Rusdianto, waktu seolah berhenti sore itu. Tubuhnya terbaring di lantai hutan, dipenuhi luka gigitan dan cakaran. Tiga meter di hadapannya, seekor harimau sumatera terus mengawasi gerakannya. &#8220;Saya pasrah. Kalau saya bergerak, ia akan mencakar,&#8221; kenangnya, Sabtu (25/7/26). Hampir lima jam, sejak pukul 15.00 WIB hingga malam 20.00 WIB, ranger Forum Konservasi Leuser (FKL) itu, hidup dalam ketidakpastian. Harimau tidak membunuhnya, tetapi juga tidak membiarkannya pergi. Pengalaman itu terjadi 28 Januari 2023, ketika Rusdianto bersama tiga rekannya, Hari Kafri, Ardiman, dan Asyari, patroli rutin di hutan Sempali, Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Kawasan tersebut bagian Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), rumahnya harimau, gajah, badak, dan orangutan sumatera. Tugas mereka memusnahkan jerat, mendokumentasikan keberadaan satwa liar berupa jejak, bekas cakaran, sisa makanan, kotoran, hingga ancaman perburuan. &#8220;Setelah istirahat siang, kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak pernah memperkirakan malapetaka akan terjadi,&#8221; ungkap lelaki asal Desa Koto, Kluet Tengah, Aceh Selatan itu. Inilah harimau sumatera yang menyerang Rusdianto saat di hutan Leuser. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Sepanjang perjalanan tidak ada tanda keberadaan satwa besar. Tidak ada jejak harimau, gajah, maupun beruang. Namun, ketenangan itu berubah dalam hitungan detik. Seekor harimau tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dan langsung menerjang tim. Semua berusaha menyelamatkan diri. Ada yang lompat ke sungai, manjat pohon, maupun lari mencari bantuan. &#8220;Saya sempat melawan. Tapi, setelah harimau menerkam kepala, saya pilih menyerah.&#8221; Setelah Rusdianto tidak lagi memberikan perlawanan, harimau betina tersebut menghentikan serangan. Dalam kondisi terluka, Rusdianto tetap sadar, bahkan sempat berpikir jika harimau itu akan memangsanya. &#8220;Kalau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/30/5-jam-bersama-harimau-sumatera-kisah-ranger-leuser-selamat-dari-maut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Nino “Godzilla” Mengintai: Polusi Udara Berpotensi Memburuk, Kesehatan Warga Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jul 2026 00:01:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22002558/ANTISIPASI-MENINGKATNYA-POLUSI-UDARA-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131096</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, pencemaran, sains dan Teknologi, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Junaedi dan Yatno, penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur, polusi udara sudah menjadi paparan yang tak bisa mereka hindari. Saat kemarau datang, batuk dan masalah pernapasan menjadi gangguan kesehatan harian. Biasanya mereka hanya mengobatinya dengan obat warung, tanpa adanya pemeriksaan lanjutan.  Analisis data kualitas udara DLH Jakarta 2025 menyebutkan, dari 365 hari, hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/">El Nino “Godzilla” Mengintai: Polusi Udara Berpotensi Memburuk, Kesehatan Warga Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Junaedi dan Yatno, penyapu jalanan di sekitar wilayah Jakarta Timur, polusi udara sudah menjadi paparan yang tak bisa mereka hindari. Saat kemarau datang, batuk dan masalah pernapasan menjadi gangguan kesehatan harian. Biasanya mereka hanya mengobatinya dengan obat warung, tanpa adanya pemeriksaan lanjutan.  Analisis data kualitas udara DLH Jakarta 2025 menyebutkan, dari 365 hari, hanya sekitar 6 hari warga Jakarta menghirup udara dengan kualitas baik, sisanya 259 hari kategori sedang dan 93 hari kategori tidak sehat.  Jika dilihat secara keseluruhan di Indonesia, laporan IQAir 2025 menyebutkan Indonesia berada di peringkat 17 dari 134 negara di dunia dengan kualitas udara terburuk dengan poin 31.4 µg/m³.  BRIN memprediksi Indonesia akan mengalami kemarau panjang dengan potensi fenomena El Nino &#8220;Godzilla&#8221;, berlangsung dari April hingga Oktober 2026. Dampaknya, situasi ini bisa memperburuk kualitas udara di Jakarta.  “Kondisi udara yang lebih kering saat kemarau membuat polutan partikulat seperti PM2.5 lebih mudah terakumulasi di atmosfer,” kata Dedi Gardesi Asikin, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta saat dihubungi Selasa, (26/05/26)  Adapun peringkat tiga teratas penyumbang polusi udara adalah transportasi darat, industri, dan sisa pembakaran sampah. Sumber tersebut berkontribusi secara signifikan terhadap gangguan kesehatan masyarakat yang menyebabkan ISPA, PPOK, jantung iskemik, dan pneumonia.  Budi Haryanto, peneliti RCCC UI, menyebutkan, polusi udara menjadi ancaman serius, tak hanya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, ibu hamil, dan lasia, namun juga bagi mereka yang pekerjaannya harus berinteraksi dengan sumber polusi.  “Polusi udara tidak punya batas wilayah. Emisi dari industri, pembakaran sampah, atau kendaraan bermotor bisa terbawa angin ke mana saja,” ujarnya. &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/el-nino-godzilla-mengintai-polusi-udara-berpotensi-memburuk-kesehatan-warga-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyelisik Minyak Sawit dari Tesso Nilo sampai ke Pasar Global</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 23:18:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/29022838/Tesso-Nilo-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130997</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Dua truk tangki pengangkut minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) keluar dari pabrik PT Gemilang Sawit Lestari (GSL), 8 Agustus 2025. Setelah perjalanan sekitar 16 jam, dua truk CPO masuk ke PT Sari Dumai Sejati (SDS), di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai. Dalam investigasi yang sudah terbit sebelumnya, Mongabay juga mengikuti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/">Menyelisik Minyak Sawit dari Tesso Nilo sampai ke Pasar Global</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Dua truk tangki pengangkut minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) keluar dari pabrik PT Gemilang Sawit Lestari (GSL), 8 Agustus 2025. Setelah perjalanan sekitar 16 jam, dua truk CPO masuk ke PT Sari Dumai Sejati (SDS), di Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai. Dalam investigasi yang sudah terbit sebelumnya, Mongabay juga mengikuti truk-truk pembawa sawit segar keluar dari Taman Nasional Tesso Nilo, lalu masuk ke GSL, satu dari puluhan pabrik sawit yang berada di sekitar taman nasional di Riau ini. GSL, merupakan pemasok CPO ke SDS. Anak usaha dari Apical Group ini merupakan perusahaan pengolah minyak sawit menjadi berbagai produk turunan di Riau. Pada Januari 2025, Suhardiman Amby, Bupati Kuantan Singingi, inspeksi mendadak dan temukan dugaan pabrik itu menampung buah dari  Tesso Nilo. Waktu itu, dia menegaskan akan menempuh jalur hukum dan kalau terbukti pemerintah kabupaten akan cabut izin pabrik itu. Pada medio Oktober, Suhardiman kembali ke pabrik GSL langsung menyegel perusahaan dan menghentikan sementara pengolahan tandan buah segar (TBS) sawit. Lebih kurang satu bulan penyegelan, pabrik GSL kembali beroperasi. Penyegelan, merespon temuan Tim Pengawasan Terpadu Usaha Perkebunan Sawit, atas aktivitas dan operasional pabrik yang tak sesuai izin. Suhardiman memang membentuk tim ini untuk mengaudit kepatuhan perusahaan perkebunan, maupun pabrik sawit di Kuansing. Tim Terpadu menyimpulkan, GSL melakukan dua pelanggaran, pencemaran lingkungan dan kelebihan kapasitas olahan TBS.  Tim tak ada singgung penerimaan buah sawit dari TNTN walau Januari 2025, bupati temukan itu, dan kembali berulang berdasarkan temuan Mongabay 8 Agustus, dua bulan sebelum bupati menyegel pabrik. Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/29/menyelisik-minyak-sawit-dari-tesso-nilo-sampai-ke-pasar-global/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidur 15-20 Jam Sehari, Kungkang Bukan Pemalas tapi Jagonya Hemat Energi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 10:00:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/30125728/Kungkang2.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131174</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bergerak sangat pelan, menyantap daun, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Kebiasaan inilah yang membuat kungkang dikenal sebagai hewan pemalas. Bahkan, nama Inggrisnya, sloth, berarti “kemalasan”. Namun, gaya hidup lamban tersebut bukan karena kungkang enggan beraktivitas, melainkan strategi evolusi untuk bertahan dengan energi yang sangat terbatas. Kungkang merupakan mamalia arboreal yang hidup di pepohonan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/">Tidur 15-20 Jam Sehari, Kungkang Bukan Pemalas tapi Jagonya Hemat Energi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bergerak sangat pelan, menyantap daun, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Kebiasaan inilah yang membuat kungkang dikenal sebagai hewan pemalas. Bahkan, nama Inggrisnya, sloth, berarti “kemalasan”. Namun, gaya hidup lamban tersebut bukan karena kungkang enggan beraktivitas, melainkan strategi evolusi untuk bertahan dengan energi yang sangat terbatas. Kungkang merupakan mamalia arboreal yang hidup di pepohonan hutan tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama Brasil, Panama, dan Kosta Rika. Satwa ini berbeda dari kukang, primata nokturnal yang hidup di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meski sama-sama bergerak lambat dan memiliki nama yang mirip, keduanya berasal dari kelompok berbeda. Kungkang termasuk Ordo Pilosa dan berkerabat dengan trenggiling bersisik serta armadillo. Kelompok mamalia ini telah menghuni Bumi sekitar 65,5 juta tahun. Kungkang sendiri mampu tidur selama 15–20 jam sehari. Penelitian terbaru menemukan bahwa rahasia gaya hidupnya mungkin tersimpan di dalam DNA. Genom kungkang berjari dua (Choloepus didactylus) dipenuhi transposon, potongan DNA yang dapat menyalin diri dan berpindah ke bagian lain dalam genom. Para genetikawan menyebutnya “gen loncat”. Transposon juga terdapat pada mamalia lain, termasuk manusia, tetapi sebagian besar sudah tidak aktif. Pada kungkang, gen-gen ini masih bergerak dan membentuk ulang susunan genom. Banyak diantaranya terhubung dengan mitokondria (bagian sel yang menghasilkan energi) serta jalur metabolisme yang mengatur penggunaan dan penyimpanan energi tubuh. Gen-gen loncat tersebut diperkirakan muncul sekitar 30 juta tahun lalu, tak lama setelah kungkang berpisah dari jalur evolusi trenggiling dan armadillo. Sejak itu, transposon menjadi bagian dari identitas genetik kungkang. Para peneliti menduga gen ini berfungsi sebagai semacam sistem cadangan yang membantu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-15-20-jam-sehari-kungkang-bukan-pemalas-tapi-jagonya-hemat-energi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga Torobulu Terusir Gara-gara Tambang Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 06:36:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Muhlas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/28154734/WhatsApp-Image-2026-07-27-at-15.48.22-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131219</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Malang nian nasib Made. Bersama istri dan tiga anaknya, mereka harus alami tekanan berlipat karena memprotes ambisi pengerukan ore nikel PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Made khawatir, ekspansi tambang hingga hanya berjarak beberapa jengkal dari rumah itu memicu longsor. Apalagi, nyaris semua bagian dinding rumah mengalami retak yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/">Nestapa Warga Torobulu Terusir Gara-gara Tambang Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Malang nian nasib Made. Bersama istri dan tiga anaknya, mereka harus alami tekanan berlipat karena memprotes ambisi pengerukan ore nikel PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) di Desa Torobulu, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Made khawatir, ekspansi tambang hingga hanya berjarak beberapa jengkal dari rumah itu memicu longsor. Apalagi, nyaris semua bagian dinding rumah mengalami retak yang kuat dugaan akibat getaran tanah buntut mobilitas dump truck dan alat berat sepanjang hari. Sayangnya, alih-alih menerima pertanggungjawaban, mereka justru terusir dari rumah setelah bangunan tempat tinggalnya terancam alat berat robohkan. Selasa (2/6/26) malam, sepulang dari tambak, dia mendapati dinding rumah bercoret tulisan: “Rumah Disegel Yayasan CAI” terpajang di dinding tembok. CAI adalah kepanjangan dari  Crisis Aid Indonesia, yayasan ini merupakan lembaga sosial dan kemanusiaan yang membantu pendirian rumahnya melalui program bedah rumah. Keesokan harinya, Suardi, mantan Sekretaris Desa Torobulu dan memintanya menemui pihak yayasan. “Kalau mau tinggal di sini silakan berurusan dengan yang segel ini. Kalau tidak, nanti dibongkar rumah ini,” kata Made menirukan perkataan Suardi yang menemuinya  Rabu (3/5/26). Made kelimpungan, tak tahu siapa  yayasan yang harus dia temui. Apalagi, kantornya di Kota Kendari yang berjarak puluhan kilometer dari tempatnya tinggal. Dia sayangkan aksi penyegelan ketika dia tak ada di rumah. “Ini jelas pelanggaran. Masa mau segel rumah tidak na kasih tahu, sementara masih ditinggali,” keluhnya. Pada hari sama Rabu (3/6/26) sore, giliran sejumlah aparat kepolisian tanpa seragam yang mengendarai roda empat dan motor mendatanginya. Mereka membujuknya bersedia merelokasi tempat tinggalnya. “Pilihannya cari mi tempat (lahan) sendiri terserah di mana. Nanti (mereka) mau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/29/nestapa-warga-torobulu-terusir-gara-gara-tambang-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ternyata Semut Bisa Mengobati dan Mengamputasi Temannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jul 2026 05:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/12/22070318/semut-menganyam-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131167</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemampuan mengenali luka, menentukan perawatan, lalu menyelamatkan anggota kelompok selama ini dianggap sebagai keistimewaan manusia. Namun, penelitian menunjukkan bahwa semut juga memiliki sistem penyelamatan yang mengejutkan. Mereka dapat membawa pulang anggota koloni yang terluka, merawat lukanya, bahkan melakukan amputasi jika diperlukan. Perilaku ini ditemukan pada beberapa spesies semut. Megaponera analis, misalnya, dikenal sebagai pemburu rayap. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/">Ternyata Semut Bisa Mengobati dan Mengamputasi Temannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemampuan mengenali luka, menentukan perawatan, lalu menyelamatkan anggota kelompok selama ini dianggap sebagai keistimewaan manusia. Namun, penelitian menunjukkan bahwa semut juga memiliki sistem penyelamatan yang mengejutkan. Mereka dapat membawa pulang anggota koloni yang terluka, merawat lukanya, bahkan melakukan amputasi jika diperlukan. Perilaku ini ditemukan pada beberapa spesies semut. Megaponera analis, misalnya, dikenal sebagai pemburu rayap. Dalam pertempuran dengan mangsanya, sebagian semut dapat mengalami cedera. Semut yang sehat kemudian mengangkut rekannya kembali ke sarang untuk mendapatkan perawatan. Operasi penyelamatan tersebut terbukti meningkatkan peluang semut yang terluka untuk tetap hidup. Penelitian mengungkap bahwa M. analis memiliki senyawa antimikroba yang dioleskan pada luka untuk menghambat infeksi. Semut merawat dan menjilati bagian yang terluka, terutama dalam tiga jam pertama setelah cedera. Tanpa perawatan ini, sekitar 90 persen semut pekerja yang terluka dapat mati. Artinya, tindakan sederhana yang dilakukan anggota koloni mempunyai pengaruh besar terhadap keselamatan rekannya. Namun, tidak semua spesies semut mempunyai senyawa antimikroba. Lalu, bagaimana mereka menyelamatkan anggota koloninya? Pada Camponotus floridanus, jawabannya adalah amputasi. Dalam eksperimen, peneliti melukai kaki semut pada bagian paha. Semut lain mula-mula menjilati luka, lalu bergerak menuju pangkal kaki dan menggigitnya berulang kali hingga putus. Proses amputasi berlangsung sekitar 190–290 menit setelah cedera dan terbukti meningkatkan peluang semut yang terluka untuk bertahan hidup. Menariknya, amputasi tidak dilakukan pada semua jenis luka. Ketika cedera berada di kaki bagian bawah, semut hanya membersihkan dan merawatnya lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali lokasi luka dan menyesuaikan tindakan. Kaki hanya dipotong apabila amputasi dapat meningkatkan peluang keselamatan. Para peneliti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ternyata-semut-bisa-mengobati-dan-mengamputasi-temannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>