Kemampuan mengenali luka, menentukan perawatan, lalu menyelamatkan anggota kelompok selama ini dianggap sebagai keistimewaan manusia. Namun, penelitian menunjukkan bahwa semut juga memiliki sistem penyelamatan yang mengejutkan. Mereka dapat membawa pulang anggota koloni yang terluka, merawat lukanya, bahkan melakukan amputasi jika diperlukan.
Perilaku ini ditemukan pada beberapa spesies semut. Megaponera analis, misalnya, dikenal sebagai pemburu rayap. Dalam pertempuran dengan mangsanya, sebagian semut dapat mengalami cedera. Semut yang sehat kemudian mengangkut rekannya kembali ke sarang untuk mendapatkan perawatan. Operasi penyelamatan tersebut terbukti meningkatkan peluang semut yang terluka untuk tetap hidup.
Penelitian mengungkap bahwa M. analis memiliki senyawa antimikroba yang dioleskan pada luka untuk menghambat infeksi. Semut merawat dan menjilati bagian yang terluka, terutama dalam tiga jam pertama setelah cedera. Tanpa perawatan ini, sekitar 90 persen semut pekerja yang terluka dapat mati. Artinya, tindakan sederhana yang dilakukan anggota koloni mempunyai pengaruh besar terhadap keselamatan rekannya.
Namun, tidak semua spesies semut mempunyai senyawa antimikroba. Lalu, bagaimana mereka menyelamatkan anggota koloninya?
Pada Camponotus floridanus, jawabannya adalah amputasi. Dalam eksperimen, peneliti melukai kaki semut pada bagian paha. Semut lain mula-mula menjilati luka, lalu bergerak menuju pangkal kaki dan menggigitnya berulang kali hingga putus. Proses amputasi berlangsung sekitar 190–290 menit setelah cedera dan terbukti meningkatkan peluang semut yang terluka untuk bertahan hidup.
Menariknya, amputasi tidak dilakukan pada semua jenis luka. Ketika cedera berada di kaki bagian bawah, semut hanya membersihkan dan merawatnya lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali lokasi luka dan menyesuaikan tindakan. Kaki hanya dipotong apabila amputasi dapat meningkatkan peluang keselamatan.
Para peneliti menduga proses menjilati luka tidak sekadar membersihkannya, tetapi mungkin juga membantu semut menilai tingkat keparahan cedera. Semut seolah mampu membedakan luka yang dapat ditangani dengan perawatan biasa dan luka yang membutuhkan tindakan lebih ekstrem. Setelah amputasi, semut yang terluka tetap menerima perawatan, meski dalam waktu yang lebih singkat.
Temuan ini disebut sebagai contoh pertama yang diketahui mengenai nonmanusia yang sengaja melakukan amputasi demi menyelamatkan teman sespesiesnya. Dalam kehidupan koloni, menyelamatkan satu semut pekerja bukan hanya mempertahankan satu individu, tetapi juga menjaga tenaga kerja yang dibutuhkan kelompok.
Kemampuan penyelamatan semut tidak berhenti pada perawatan medis. Semut api Solenopsis invicta mempunyai strategi khusus ketika sarangnya diterjang air. Mereka saling menautkan kaki dan rahang hingga membentuk rakit hidup. Larva dan pupa ikut dibawa, sedangkan ratu ditempatkan di bagian tengah atas yang paling aman.
Dalam formasi tersebut, koloni dapat mengapung selama berhari-hari hingga menemukan pohon, mencapai daratan, atau menunggu air surut. Setelah memperoleh tempat aman, mereka segera membangun sarang baru.
Perilaku ini memperlihatkan bahwa di balik tubuhnya yang kecil, semut memiliki kerja sama sosial yang luar biasa: dari mengenali dan merawat luka, melakukan amputasi, hingga membentuk rakit hidup demi menyelamatkan seluruh koloninya.
Artikel asli ditulis oleh Nuswantoro.
Foto utama: Semut rangrang membangun sarang. Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia.