Bergerak sangat pelan, menyantap daun, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Kebiasaan inilah yang membuat kungkang dikenal sebagai hewan pemalas. Bahkan, nama Inggrisnya, sloth, berarti “kemalasan”. Namun, gaya hidup lamban tersebut bukan karena kungkang enggan beraktivitas, melainkan strategi evolusi untuk bertahan dengan energi yang sangat terbatas.
Kungkang merupakan mamalia arboreal yang hidup di pepohonan hutan tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama Brasil, Panama, dan Kosta Rika. Satwa ini berbeda dari kukang, primata nokturnal yang hidup di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meski sama-sama bergerak lambat dan memiliki nama yang mirip, keduanya berasal dari kelompok berbeda.
Kungkang termasuk Ordo Pilosa dan berkerabat dengan trenggiling bersisik serta armadillo. Kelompok mamalia ini telah menghuni Bumi sekitar 65,5 juta tahun. Kungkang sendiri mampu tidur selama 15–20 jam sehari.
Penelitian terbaru menemukan bahwa rahasia gaya hidupnya mungkin tersimpan di dalam DNA. Genom kungkang berjari dua (Choloepus didactylus) dipenuhi transposon, potongan DNA yang dapat menyalin diri dan berpindah ke bagian lain dalam genom. Para genetikawan menyebutnya “gen loncat”.
Transposon juga terdapat pada mamalia lain, termasuk manusia, tetapi sebagian besar sudah tidak aktif. Pada kungkang, gen-gen ini masih bergerak dan membentuk ulang susunan genom. Banyak diantaranya terhubung dengan mitokondria (bagian sel yang menghasilkan energi) serta jalur metabolisme yang mengatur penggunaan dan penyimpanan energi tubuh.
Gen-gen loncat tersebut diperkirakan muncul sekitar 30 juta tahun lalu, tak lama setelah kungkang berpisah dari jalur evolusi trenggiling dan armadillo. Sejak itu, transposon menjadi bagian dari identitas genetik kungkang. Para peneliti menduga gen ini berfungsi sebagai semacam sistem cadangan yang membantu mengimbangi kerja mitokondria kungkang yang sangat lambat.
Metabolisme rendah memungkinkan kungkang bertahan dengan daun-daunan yang rendah kalori dan minim nutrisi. Bergerak lambat berarti tubuhnya tidak perlu menghabiskan banyak energi. Dengan kata lain, sifat yang terlihat seperti kemalasan justru menjadi kunci kelangsungan hidupnya selama puluhan juta tahun.
Namun, strategi ini juga memiliki kelemahan. Kemampuan kungkang mengatur suhu tubuh sangat terbatas sehingga membuatnya rentan terhadap perubahan suhu. Jika suhu hutan tropis meningkat beberapa derajat, laju metabolismenya ikut naik. Masalahnya, pasokan makanan tidak otomatis bertambah untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut.
Karena itu, krisis iklim dapat menjadi ancaman serius bagi kungkang. Sistem tubuh yang selama jutaan tahun bekerja dengan menghemat setiap sedikit energi mungkin kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan suhu yang berlangsung cepat. Kungkang pun bukan benar-benar pemalas, tapi ia adalah mamalia yang hidup dengan prinsip efisiensi ekstrem.
Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.
Foto utama: Kungkang merupakan mamalia yang hidup di pohon. Foto: Dok. The Sloth Conservation Foundation.