Setiap tahun, berbagai satwa menempuh perjalanan panjang melintasi laut, daratan, dan batas negara. Burung terbang mengikuti jalur musiman, paus berpindah melintasi samudra, sementara hiu dan ikan bermigrasi mencari makanan atau tempat berkembang biak. Namun, perjalanan alami yang telah berlangsung selama ribuan tahun itu kini semakin berbahaya.
Konferensi Para Pihak ke-15 Konvensi Spesies Migran atau COP15 CMS di Brasil menetapkan peningkatan perlindungan terhadap 40 spesies migran. Daftar tersebut mencakup burung, hewan darat, dan satwa akuatik seperti hiu, paus, serta ikan. Dengan penambahan itu, CMS kini mencakup sekitar 1.200 spesies unik.
Appendix I CMS memuat spesies migran yang terancam punah di alam liar dan memerlukan perlindungan ketat. Sementara itu, Appendix II berisi spesies yang konservasi serta pengelolaannya membutuhkan kerja sama internasional.
Sejumlah satwa yang mendapat perhatian lebih besar antara lain hyena bergaris, burung hantu salju, berang-berang raksasa, dan hiu martil besar. Tindakan konservasi terkoordinasi juga diarahkan pada hiu harimau pasir, hiu raksasa, hiu biru, paus sperma Pasifik Tropis Timur, beberapa jenis lumba-lumba, serta seluruh spesies ikan manta dan ikan setan.
Ancaman terhadap satwa migran datang dari berbagai arah. Habitat yang menjadi tempat mereka makan, beristirahat, dan berkembang biak terus menyusut. Eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi plastik, kebisingan bawah air, perburuan ilegal, tangkapan sampingan perikanan, dan pencemaran laut mempercepat penurunan populasi.
Penambangan laut dalam juga menjadi perhatian. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan sedimen dan limbah yang mengganggu navigasi, pola makan, serta ketersediaan mangsa. Partikel yang tercemar logam juga berpotensi masuk ke rantai makanan. Selain itu, pembangunan infrastruktur dapat meningkatkan kerusakan habitat, kebisingan, dan risiko tabrakan kapal.
Situasinya semakin mengkhawatirkan bagi ikan migran. Populasinya rata-rata telah menurun 90 persen sejak 1970-an, sementara 97 persen spesies ikan migran yang terdaftar dalam CMS menghadapi risiko kepunahan. Dari 1.189 spesies migran dalam laporan 2024, sebanyak 70 spesies menghadapi ancaman yang memburuk dan hanya 14 spesies menunjukkan perbaikan. Lebih dari separuh kawasan penting bagi keanekaragaman hayati dunia juga belum mendapat perlindungan.
Indonesia menjadi bagian penting dari jalur migrasi sejumlah satwa, termasuk hiu martil, burung penggunting laut kaki-daging, serta burung pantai yang bergerak dari Asia Timur menuju Australia. Namun, penelitian terhadap mereka membutuhkan dana besar, teknologi telemetri, dan pengamatan lintas musim.
Satwa migran tidak mengenal batas politik. Karena itu, perlindungan di satu negara saja tidak cukup. Keselamatan mereka bergantung pada terjaganya seluruh jalur perjalanan, dari lokasi mencari makan hingga tempat berkembang biak. Ketika satu mata rantai habitat terputus, perjalanan besar itu dapat berakhir pada kepunahan.
Artikel asli ditulis oleh M Ambari.
Hiu martil yang memiliki kemampuan luar biasa yaitu dapat menemukan partikel di air 10 kali lipat dibanding hiu lainnya. Foto: Wikipedia Commons/Barry Peters/CC BY 2.0/Free to share.