- Kebakaran hutan dan lahan makin bikin satwa terdesak. Terbaru, riset Geopix menunjukkan tekanan dahsyat pada habitat orangutan. Dari 124.655 hotspot yang terdeteksi di seluruh Kalimantan, periode Juni hingga 5 September 2026, sebanyak 110.395 titik berada di dalam habitat orangutan. Artinya, sekitar 88,6% hotspot berada di rumah orangutan.
- Dalam riset ini, Geopix menggunakan data hotspot dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) Kementerian Kehutanan yang mereka tumpang susun dengan habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), termasuk tiga subspesiesnya, yakni Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.
- Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, menyebut, tekanan meningkat tajam memasuki Agustus. Pada Juni, tercatat 3.493 hotspot di seluruh Kalimantan, dengan 1.946 titik atau 55,7 persen berada dalam habitat orangutan. Juli mencatat 1.876 hotspot, dengan 1.409 titik atau 75,1 persen berada di habitat orangutan.
- Tekanan terbesar pada habitat Pongo pygmaeus wurmbii, dengan total 99.717 hotspot sepanjang Juni hingga 5 September. Jumlah ini jauh lebih tinggi ketimbang Pongo pygmaeus pygmaeus (6.826 hotspot) dan Pongo pygmaeus morio (3.852 hotspot).
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggerus habitat orangutan. Satwa langka dan dilindungi ini pun jadi korban, seperti yang orangutan Sampurna, di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar).
“Kondisinya sangat parah. Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla,” kata ucap Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari).
Silverius Oscar Unggul, Ketua Umum Yiari, dalam keterangan persnya, menyebut, karhutla tidak hanya menghancurkan habitat orangutan, tetapi menciptakan siklus konflik yang membebani masyarakat dan pemerintah.
“Pembukaan lahan dengan cara membakar dan tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan,” katanya.
Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, katanya, orangutan kehilangan makanan, tempat tinggal, akhirnya terdorong masuk ke kebun warga. Sisi lain, masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat.
“Artinya, orangutan dan masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. Artinya orangutan dan masyarakat sama-sama jadi korban dari praktik yang sama.”
Situasi ini, katanya, menimbulkan beban besar bagi negara. Baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat.
Sementara itu, keterangan pers Kementerian Kehutanan menyebut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar bersama Yiari sudah mengevakuasi 23 orangutan serta satwa liar lainnya yang terdiri atas sembilan trenggiling, tiga kukang, satu bekantan, satu musang, dan satu lutung kelabu. Tim juga tetap melakukan pemantauan satwa pada kawasan terbakar dan menyiagakan tim medis selama 24 jam.

Rumah orangutan terbakar
Laporan Geopix bertajuk “Alerta! Borneo Lautan Api, Puluhan Ribu Titik Api Berada dalam Habitat Orangutan” mencatat, dari 124.655 titik panas (hotspot) yang terdeteksi di seluruh Kalimantan, periode Juni hingga 5 September 2026, sebanyak 110.395 titik berada di dalam habitat orangutan. Artinya, sekitar 88,6% hotspot berada di rumah orangutan.
Geopix menggunakan data hotspot dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) Kementerian Kehutanan yang mereka tumpang susun dengan habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), termasuk tiga subspesiesnya, yakni, Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.
Annisa Rahmawati, Senior Wildlife Campaigner Geopix, menyebut, tekanan meningkat tajam memasuki Agustus. Pada Juni, tercatat 3.493 hotspot di seluruh Kalimantan, dengan 1.946 titik atau 55,7% dalam habitat orangutan. Juli mencatat 1.876 hotspot, dengan 1.409 titik atau 75,1% di habitat orangutan.
Situasi berubah drastis pada Agustus. Sebanyak 63.615 hotspot terdeteksi di seluruh Kalimantan dan 57.094 titik, atau 89,8% dalam habitat orangutan.
“Dalam lima hari saja, 1-5 September, titik hotspot hampir menyamai periode titik hotspot di sepanjang bulan Agustus,” katanya.
Periode itu, tercatat 55.671 hotspot di seluruh Kalimantan, dengan 49.946 titik atau 89,7% di habitat orangutan.
Data itu merupakan pembaruan setelah data sebelumnya hanya memantau hingga 28 Agustus 2026 dini hari, ketika sistem Sipongi gangguan atau tidak dapat terakses. Pembaruan ini memberikan gambaran lebih utuh ihwal perkembangan hotspot dan keterpaparannya terhadap habitat orangutan.
Annisa bilang, hotspot merupakan indikator anomali suhu permukaan yang satelit deteksi dan tidak otomatis berarti setiap titik merupakan kebakaran aktual. Karena itu, perlu membaca angka itu sebagai indikator tekanan panas atau potensi kebakaran, bukan sebagai jumlah kejadian kebakaran yang telah terverifikasi satu per satu.

Subspesies mana yang paling tertekan?
Meski demikian, konsentrasi hotspot menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap habitat orangutan. Agustus hingga awal September, hampir sembilan dari setiap sepuluh hotspot Kalimantan berada di dalam habitat satwa yang memiliki DNA mirip manusia itu.
Tekanan terbesar pada habitat Pongo pygmaeus wurmbii, dengan total 99.717 hotspot sepanjang Juni hingga 5 September. Jumlah ini jauh lebih tinggi ketimbang Pongo pygmaeus pygmaeus (6.826 hotspot) dan Pongo pygmaeus morio (3.852 hotspot).
Agustus, habitat Pongo p. wurmbii mencatat 51.443 hotspot, melonjak dari 1.123 titik pada Juli. Pada 1-5 September, jumlahnya mencapai 46.164 hotspot.
Sementara itu, Pongo p. pygmaeus mencatat 4.058 hotspot pada Agustus dan 2.551 pada awal September, sedangkan Pongo p. morio masing-masing 1.593 dan 1.231 hotspot.
Dengan tekanan tersebut, Pongo p. wurmbii menjadi subspesies paling terpapar hotspot dan terancam dalam periode pemantauan ini.
“Secara geografis, Kalimantan Tengah mencatat jumlah hotspot tertinggi dan menjadi wilayah paling rentan, terutama karena tingginya tekanan hotspot beririsan dengan habitat Pongo p. wurmbii.”

Sementara itu, sepanjang Juni hingga 5 September, Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat 52.703 hotspot, lalu Kalbar 51.629 titik. Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat 11.123 hotspot, Kalimantan Selatan (Kalsel) 7.677, dan Kalimantan Utara (Kaltara) 1.523 titik.
Di Kalteng, tekanan juga terus meningkat. Setelah mencatat 25.523 hotspot pada Agustus, jumlahnya mencapai 26.461 titik hanya dalam lima hari pertama September.
Selain hotspot, analisis Geopix juga mencatat tekanan kebakaran terhadap bentang habitat orangutan.
Namun, kata Annisa, tetap harus hati-hati dalam membaca data penginderaan jauh. Karena, hotspot maupun areal terindikasi terbakar tidak serta-merta menunjukkan seluruh titik atau luasan tersebut sebagai kebakaran yang telah verifikasi lapangan.
Yang menjadi perhatian adalah pola keterpaparannya. Ketika sebagian besar hotspot berada di dalam habitat, kebakaran berpotensi menghilangkan tutupan vegetasi, sumber pakan, pohon untuk bersarang, sekaligus ruang bagi orangutan untuk bergerak dan berlindung.
Dampaknya menjadi lebih serius ketika kebakaran berulang terjadi di habitat yang telah terfragmentasi.
“Doa, pikiran, dan solidaritas kami untuk seluruh masyarakat Indonesia yang menjadi korban dan menderita karena sesak nafasnya akibat krisis kebakaran hutan dan lahan. Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia tetapi juga satwa liar di dalamnya.”
Padamkan api, tegakkan hukum
Menurut dia, prioritas saat ini adalah memadamkan api dan menyelamatkan habitat orangutan yang masih tersisa. Namun, penanganan harus dilanjutkan setelah kebakaran mereda melalui penegakan hukum terhadap pihak yang terlibat maupun lalai mencegah karhutla.
“Setelah krisis ini berakhir, ada pekerjaan rumah yang puluhan tahun belum selesai, yaitu memutus mata rantai karhutla dengan penegakan hukum yang tegas tanpa kompromi terhadap siapapun, korporasi manapun yang terlibat maupun lalai dalam mencegah karhutla.”
Dia juga mendesak pemerintah survei ulang menyeluruh habitat dan populasi orangutan Kalimantan setelah kebakaran. Hal ini untuk mengetahui kerusakan aktual, kondisi populasi, ketersediaan sumber pakan dan bahan sarang, serta perubahan lain yang memengaruhi habitat satwa yang dilindungi dan berstatus terancam punah berdasarkan IUCN Red List itu.
Hasil survei itu, menurutnya, perlu menjadi dasar memperbarui Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan Kalimantan. Data dasar konservasi yang telah berusia sekitar satu dekade berpotensi tidak lagi menggambarkan kondisi habitat dan populasi setelah tekanan karhutla yang semakin besar.
Dia juga meminta pemerintah menyusun Rencana Aksi Darurat Penyelamatan Populasi dan Habitat Orangutan Kalimantan yang mencakup penyelamatan dan pemantauan populasi, perlindungan habitat dan koridor, pencegahan kebakaran berulang, penegakan hukum, hingga pemulihan ekosistem.
“Desakan tersebut semakin penting karena tekanan belum menunjukkan tanda mereda.”
*****
Harapan Baru Penyelamatan Orangutan Tapanuli Lewat Jembatan Arboreal