Adolof Olof Wonemseba bukan sekadar nelayan. Di sela mencari ikan dan mengurus kebun untuk menghidupi keluarganya, warga Kampung Mena, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, ini menjalankan misi besar: menyelamatkan kima dari kepunahan.
Kima atau bia dalam bahasa setempat merupakan biota bercangkang besar yang berperan penting bagi ekosistem laut. Hewan ini bekerja sebagai penyaring alami yang membantu menjaga kejernihan air. Keberadaannya juga mendukung pertumbuhan karang dan menarik ikan untuk datang. Namun, perkembangbiakannya lambat, sementara populasinya terus berkurang akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat.
Sebagai orang asli Pulau Roon yang hidup dari laut, Adolof menyaksikan langsung kima semakin sulit ditemukan. Banyak yang diambil untuk dikonsumsi. Khawatir anak cucunya kelak tidak lagi mengenal hewan tersebut, ia memulai upaya pelestarian pada 2008.
Adolof mendatangkan beberapa kima dari Pulau Auri, lalu menempatkannya di perairan Rouwno. Ia membangun area perlindungan yang disebutnya “kebun kima”, sebuah praktik konservasi mandiri yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai yadup.
Awalnya, kebun itu hanya berupa petak berukuran 10 × 20 meter persegi. Setelah 17 tahun (tahun 2024), luasnya diperkirakan telah berkembang menjadi sekitar 100 × 100 meter persegi. Di sana hidup ratusan kima dari tujuh jenis.
Dua belas kima raksasa dan delapan kima raja menjadi bagian dari kelompok awal yang dibawa Adolof. Kima yang semula berdiameter sekitar 15–20 sentimeter kini ada yang mencapai 70–80 sentimeter. Jumlah kima raksasa pun telah bertambah menjadi lebih dari 20 individu. Jenis lain berkembang lebih cepat dan menyebar ke celah-celah batu karang sehingga sulit dihitung.
Adolof meminta warga tidak menangkap atau memakan kima di kawasan tersebut. Perlahan, masyarakat memahami tujuannya dan ikut membiarkan kima berkembang. Semua pekerjaan itu dijalankannya secara swadaya, tanpa pendanaan pemerintah. Untuk mencari dan memindahkan kima, ia masih harus meminjam atau menyewa perahu milik orang lain.
Ketekunannya mendapat pengakuan ketika ia menerima Kalpataru 2024 kategori Perintis Lingkungan. Namun, bagi Adolof, penghargaan itu bukan akhir perjuangan. Ia ingin kebun kima berkembang menjadi tujuan ekowisata bahari yang dapat menjaga laut sekaligus membantu ekonomi masyarakat.
Sejumlah wisatawan lokal, mahasiswa, dan peneliti mulai mengunjungi kebun tersebut. Adolof juga memperluas budidaya ke Kampung Yende dan Mena, dengan rencana melanjutkannya ke Pulau Rariei dan Mupur.
Kisah Adolof menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu harus menunggu proyek besar atau bantuan dana. Dari sebuah petak kecil di laut, ketekunan seorang nelayan mampu menghidupkan kembali ratusan kima dan menumbuhkan harapan bagi masa depan perairan Wondama.
Artikel asli ditulis oleh Ridzki R. Sigit.
Foto utama: Adolof Olof Wonemseba (44), warga Kampung Mena di Distrik Roon, Teluk Wondama, yang melestarikan kima di perairan Rouwno. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia.