- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau akan datang lebih panjang. Kemungkinannya mencapai 46,5%. Kondisi ini bisa memperburuk kondisi iklim, dan memicu bencana hingga penyakit.
- Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Klimatologi BMKG, menyebut, kondisi iklim sedang tidak baik. Untuk pertama kalinya, di tahun 2024, suhu bumi naik 1,55 Celsius. Prediksi BMKG, periode 2021-2050, seluruh Indonesia akan naik sampai 1,6 Celsius, sedangkan 2071-2100 akan mengalami kenaikan suhu sampai 3,4 Celsius dari periode 1981-2010.
- Herawati Supolo-Sudoyo, Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), mengatakan, cuaca ekstrem yang terjadi saat ini bukan sekadar masalah iklim biasa, tetapi juga ancaman nyata kesehatan masyarakat. Karena, bila kemampuan tubuh mendinginkan diri melalui penguapan keringat tak memadai, maka bisa timbul risiko seperti memperparah penyakit stroke, ginjal, kencing manis, sampai gangguan pernapasan.
- Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, menegaskan, kondisi pemukiman juga turut berkontribusi dalam meningkatkan suhu tubuh manusia. Terutama di perkotaan padat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau datang lebih panjang. Kemungkinannya mencapai 46,5%. Kondisi ini bisa memperburuk kondisi iklim, dan memicu bencana hingga penyakit.
Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Klimatologi BMKG, menyebut, kondisi iklim sedang tidak baik. Untuk pertama kalinya, tahun 2024, suhu bumi naik 1,55 Celsius. Prediksi BMKG, periode 2021-2050, seluruh Indonesia akan naik sampai 1,6 Celsius, sedangkan 2071-2100 akan mengalami kenaikan suhu sampai 3,4 Celsius dari periode 1981-2010.
Di Indonesia, tahun 2025 adalah tahun keenam terpanas sepanjang sejarah. Secara global, tahun 2025 adalah tahun ketiga terpanas. Trennya cenderung naik dari tahun ke tahun.
“Tren dari temperatur di wilayah-wilayah mayoritas wilayah Indonesia semuanya naik, ya, di wilayah urban tentunya lebih cepat. Seperti di Jakarta itu 1,6 kali lebih cepat dari rata-rata temperatur global,” katanya.
Dalam konteks kebakaran hutan, kata Sena, munculnya hotspot biasa terjadi pada Juni sampai Oktober. Untuk dry season tahun ini, dia perkirakan terjadi pada Juli sampai September berdasarkan rata-rata klimatologinya.
“Dry spell ini akan semakin panjang karena perubahan iklim ini.”
Kemunculan titik panas (hotspot) tahun ini mirip dengan yang terjadi pada 2019. Walaupun, sebenarnya, kemunculan hotspot lebih mengikuti kondisi musim.
“Untuk 2026, untuk awal tahun ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Harapan kita tentunya ini tidak naik… mengingat kondisi kekeringan yang akan datang.”
BMKG memprediksi, peluang El-Nino tahun ini masuk kategori moderat mencapai 98%, sementara peluang kategori kuat 62%. Selain itu, potensi musim kemarau maju di 50% wilayah Indonesia.
“Karena dia maju, maka musim kemarau totalnya menjadi lebih panjang 57% wilayah kita.”
Israr Albar, Mantan Kepala Sub Direktorat Penanggulangan Kebakaran Kementerian Kehutanan, mengatakan, sejak 1982 terjadi enam kali kebarakan hutan dan lahan (karhutla) besar. Yaitu, 1982 (3,6 juta hektar lahan terbakar), 1997 (11 juta hektar), 2006 (3,8 juta hektar), 2015 (2,6 juta hektar), 2019 (1,6 juta hektar), dan 2023 (1,1 juta hektar)
“Di 2015, kemudian di 2019, itu adalah tahun El-Nino sampai dengan 2023,” ucapnya.
Menurut dia, tahun 2019-2025, terdapat 90.000 titik panas (hotspot) yang tersebar di Indonesia, kebanyakan di daerah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Khusus 2020, juga terdapat di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan di Merauke.
Pada 2025, hotspot-nya sekitar 18.000 dengan area terbakar 359.000 hektar.
“Mestinya kita expected itu, tahun El Nino berikutnya adalah 2027, tapi kita lihat bagaimana dengan 2026.”
Menurut dia, mudah pahami siklus kebakaran hutan di Indonesia. Terdapat lima siklus, yaitu, pre crisis (Januari-April), warning phase (April-Juni), crisis phase (Juni-Oktober), recovery phase (Oktober November), dan impact evaluation (Desember). Puncak kebakaran, katanya, ada di Juni-Oktober.

Kebakaran di gambut
Tahun ini, ada empat provinsi yang berstatus siaga darurat karhutla. Yaitu, Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan.
Gusti Zakaria Anshari, guru besar ilmu tanah, Universitas Tanjungpura, bilang, kebakaran lahan gambut di Indonesia karena aktivitas manusia, baik dalam kondisi normal atau terdapat fenomena El-Nino dan La-Nina.
Berdasarkan analisis radiokarbon, katanya, kebakaran lahan gambut sejatinya telah terjadi sejak 10.000 tahun lalu. Namun apinya relatif tidak sampai menyebabkan kerusakan hutan.
Kawasan lahan gambut, katanya, juga perlu perhatian serius, karena BMKG mendeteksi banyak titik panas di kawasan ini. Selama Agustus-Oktober pada 2015 mencapai 23.318 titik , 2019 (12.723 titik), dan 2023 (5.205 titik).
Kejadian 2017, katanya, lahan gambut yang terbakar adalah lahan yang sudah tidak berhutan dan kering.
“Kalau tidak ada aktivitas manusia, barangkali kebakarannya kecil, kalaupun terjadi.”
Kebakaran gambut, mengeluarkan aerosol yang bisa mengurangi radiasi sinar matahari, akibatnya mempengaruhi produktivitas pertanian, termasuk menurunnya produksi kelapa sawit yang biasa ditanam di gambut.
Dia bilang, karhutla mengakibatkan 2.000 megaton CO2 Ekuivalen terlepas per tahunnya di dunia.
“Kita nomor satu ini. Indonesia sekitar 668 megaton CO2 Ekuivalen,” terang Gusti
Jumlah itu jauh melampaui karbon yang terlepas di Rusia (231 megaton), Tiongkok (140 megaton), dan Malaysia (90 megaton).

Eropa parah, Indonesia waspada
Panas yang berkepanjangan juga tengah melanda Eropa. Benua biru itu bahkan alami suhu ekstrem. Beruntungnya, lautan yang mengelilingi serta penuh pegunungan membuat Indonesia terlindungi dari ancaman itu. Namun, ada tantangan tersendiri di masa depan karena kenaikan temperatur yang konstan selama 10 tahun terakhir.
Ardhasena katakan, panas memicu banyak uap air dari laut hingga ia menjadi buffer untuk mencegah temperatur di Indonesia naik drastis. Karena secara teknis, ketika matahari yang sampai ke bumi lebih panas dari biasanya, maka cepat pula penguapan di laut yang akhirnya jadi hujan yang membasahi daratan, sekaligus jadi pendingin daerah permukaan.
“Kalau di Eropa, ketika terjadi gelombang panas, tekanan udaranya menekan ke bawah, kalau di Indonesia menekan ke atas berkat laut yang mengelilingi daratan Indonesia,” katanya, 9 Juli.
Namun, Indonesia memiliki tantangan karena kenaikan temperatur rata-rata 0,13-0,14 Celsius per 10 tahun. Sena, panggilan akrabnya, menyebut angka ini cenderung konstan sejak dekade-dekade sebelumnya.
Sebagai daerah tropis, rata-rata suhu di Indonesia dalam periode 1991-2026 adalah 23-25 Celsius saat pagi dan puncaknya 30-33 Celsius saat siang, di tahun-tahun tertentu bisa sampai 36 Celsius. Di Indonesia, panas itu berkombinasi dengan kelembaban yang tinggi.
“Perlu kita antisipasi kondisi temperatur yang relatif hangat terus,” katanya dalam Webinar bertajuk Waspada Heatstroke: Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Niño.
Dia memprediksi, El-Nino terjadi Juli hingga pertengahan Oktober. Temperatur di Indonesia akan naik 1-1,5 Celsius. Karena itu, perlu antisipasi dampak chronic heat terhadap kesehatan.
BMKG, katanya, tengah mengembangkan indikator peringatan dini panas ekstrem yang akan meluncur sesegera mungkin. Sampai kini, BMKG juga masih terbuka dengan berbagai masukan dari masyarakat luas.
“Untuk wilayah-wilayah yang berpotensi, apakah itu aman, waspada, siaga, maupun awas, menggunakan indikator temperatur sederhana maupun juga indikator komposit yang bisa berasosiasi dengan dampak kesehatan,” jelas Ketua Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia itu.

Ancam kesehatan
Herawati Supolo-Sudoyo, Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), mengatakan, cuaca ekstrem saat ini bukan sekadar masalah iklim biasa, juga ancaman nyata kesehatan masyarakat. Karena, bila kemampuan tubuh mendinginkan diri melalui penguapan keringat tak memadai, maka bisa timbul risiko seperti memperparah penyakit stroke, ginjal, kencing manis, sampai gangguan pernapasan.
“Pada dasarnya, panas ekstrem ini telah menjadi salah satu penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca yang disebut weather related-death. Jadi, tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah cuaca saja, tetapi harus diperlakukan sebagai isu kesehatan masyarakat,” katanya, dalam acara sama.
Tubuh manusia, memiliki mekanisme alami menjaga suhu inti tubuh tetap di sekitar 36,5 sampai 37,5 Celsius. Ketika cuaca panas, lingkungan panas, tubuh akan berusaha membuang panas, memperlebar pembuluh darah, dan mengeluarkan keringat. Bila berlangsung lama, akan memicu dehidrasi.
“Bila kondisi tidak segera diatasi, tubuh mengalami heat exhaustion atau yang namanya heat stress.”
Heat stress adalah ketika tubuh mengalami tekanan akibat panas berlebih, namun mekanisme pendinginan masih berfungsi, gejalanya adalah keringat banyak, haus, lelah, kram otot, pusing ringan
Sedangkan apabila suhu tubuh sampai 40 Co, hal itu akan mengancam nyawa hingga perlu penanganan medis. Gejalanya kulit kering, panas, kebingungan dan penurunan kesadaran karena telah panas berlebih itu menyebabkan kelainan pada organ penting seperti otak.
“Protein sel itu rusak, memicu respons inflamasi di sini peradangan sistemik ke seluruh organ dan disfungsi multiorgan, termasuk otak, jadi ini… kegagalan yang terjadi karena heat stroke.”
Kondisi ini juga memengarugi kondisi psikis seseorang, serta membuat kurang tidur karena kondisi yang tak nyaman. Dalam kasus berat, heat stroke dapat menyebabkan kerusakan otak permanen akibat hipoksia dan inflamasi sistemik.
Lansia, anak-anak, bayi dan ibu hamil adalah orang-orang yang sangat rentan terkena penyakit kronis akibat cuaca ekstrem ini. Juga para pekerja yang beraktivitas di luar ruangan dan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan-padat serta minim akses pendingin karena kondisi sosial-ekonomi.

Pemukiman ramah iklim
Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, menegaskan, kondisi pemukiman juga turut berkontribusi dalam meningkatkan suhu tubuh manusia, terutama di perkotaan padat.
Rujak Center pernah melakukan penelitian dan membuat program di empat kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Selangor (Malaysia).
Dalam penelitian mereka, hari panas di Jakarta dalam periode 2014-2023 adalah 167 hari, jumlah ini jauh meningkat dari periode 1994-2003 yaitu, 28 hari. Padahal, Menurut BMKG, rata-rata di Indonesia hanya 40 hari panas dalam setahun.
Dalam 100 tahun terakhir, katanya, terjadi peningkatan suhu di Jakarta sekitar 2,1 Celsius pada siang hari dan 0,9-1 Celsius pada malam hari. Dalam penelitiannya, Elisa bilang arsitektur di perkotaan mampu beradaptasi terhadap suhu ekstrem.
“Kami sejak tahun 2021 melakukan perbaikan rumah dengan menerapkan prinsip passif desain,” ucapnya.
Perbaikan rumah yang mereka lakukan menyasar masyarakat miskin kota yang tinggal di kawasan padat. Menurutnya, warna atap yang gelap mampu menyimpan panas lebih banyak daripada yang cerah.
Rujak telah melakukan beberapa renovasi terhadap rumah-rumah tertentu supaya lebih bisa adaptasi terhadap gelombang panas, termasuk melakukan penghijauan di areal perumahan.
“Tadinya, tuh, rumahnya enggak ada ventilasi sama sekali, lalu yang kami lakukan sebenarnya sederhana, memastikan ada ventilasi, cross ventilation, dan juga ada stack effect,” katanya.
Stack effect ini, kata Elisa, berguna untuk menarik suhu panas dari dalam ruangan menuju luar ruang dan dari bawah menuju ke atas. Setidaknya, bisa menurunkan suhu secara mikro di daerah perumahan.
Selain material bangunan, minimnya vegetasi juga menjadi salah satu faktor yang mempersulit pengalihan temperatur dari panas ke dingin.
“Yang terjadi di Jakarta adalah, bangunan-bangunan menyimpan panas secara akumulatif sehingga hal itu menaikkan temperatur pelan-pelan.”

*****