Indonesia dihuni ratusan jenis ular, dan sebagian di antaranya berbisa kuat. Kobra dan krait termasuk kelompok ular berbisa yang bisanya menyerang sistem saraf, sehingga gigitan yang parah dapat menyebabkan kelumpuhan otot dan gagal napas. Tingkat bahaya dan cara penanganan gigitan berbeda dari satu spesies ke spesies lain, misalnya dalam hal efektivitas antivenom. Karena itu, mengenali spesies ular yang ditemui menjadi langkah awal yang penting bagi warga maupun tenaga kesehatan.
Di Pulau Jawa, genus krait Bungarus diketahui memiliki tiga spesies. Dua di antaranya, welang (Bungarus fasciatus) dan weling (Bungarus candidus), umum dijumpai di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedua ular ini sama-sama berbelang dan berbisa kuat, sehingga warga kerap menganggapnya satu jenis dengan dua nama. Catatan ilmiah juga mendokumentasikan kebiasaan keduanya memangsa ular lain. Tulisan ini membahas ciri yang membedakan welang dan weling, apa saja mangsanya, serta bagaimana warga sebaiknya bersikap saat berpapasan dengan keduanya.
Ciri Pembeda Welang dan Weling
Dalam bahasa Inggris, genus Bungarus dikenal sebagai krait. Welang disebut banded krait, sedangkan weling disebut Malayan krait atau blue krait. Welang tersebar di Asia bagian selatan dan tenggara, termasuk Indonesia. Di Jawa, ular ini paling banyak dijumpai di dataran rendah sekitar rawa, sawah, dan sungai dekat permukiman, dan jarang ditemukan di pegunungan. Karena itu, welang yang ditemukan di Kaliurang, lereng selatan Gunung Merapi, pada 2012 dicatat sebagai temuan baru untuk genus ini di kawasan tersebut.

Weling tercatat di Kamboja, Laos, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Indonesia, yakni di Sumatera, Jawa, dan Bali. Ia hidup dari dataran rendah hingga sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, mulai dari hutan dan mangrove hingga kebun, lahan pertanian, dan permukiman.
Kajian morfologi menemukan lima karakter yang benar-benar membedakan kedua spesies: batas kepala dengan leher, bentuk potongan melintang tubuh, bentuk sisik vertebral, ujung ekor, dan pola belang. Karakter lain memiliki rentang variasi yang nyaris sama sehingga tidak bisa dijadikan pegangan utama. Jumlah sisik perut, misalnya, saling tumpang tindih, yaitu 200 sampai 236 pada welang dan 194 sampai 237 pada weling.
Beberapa karakter itu cukup jelas dilihat dari foto. Kepala welang terpisah jelas dari leher, sedangkan kepala weling tidak terpisah jelas. Ujung ekor welang tumpul, sementara ujung ekor weling runcing. Potongan melintang tengah tubuh welang berbentuk segitiga dan sisik vertebralnya (deretan sisik di punggung) sangat melebar, sedangkan pada weling potongan itu berbentuk tabung dan sisik vertebralnya tidak melebar.
Pola belang menjadi karakter yang paling mudah dan cepat dipakai untuk membedakan keduanya di lapangan. Cincin hitam dan putih pada welang melingkar utuh dari punggung hingga perut, sedangkan pada weling cincin itu hanya sampai sisi tubuh dan bagian perutnya putih seluruhnya. Pengamatan sebaiknya dilakukan dari foto atau dari jarak aman.
Mangsa, Bisa, dan Sikap terhadap Kedua Ular
Welang dan weling aktif terutama pada malam hari, dan ular lain termasuk dalam menu mereka. Pada welang, kebiasaan ini sudah dicatat dalam banyak pengamatan lapangan. Catatan ilmiah mendata setidaknya 13 spesies ular sebagai mangsanya, termasuk krait lain seperti Bungarus caeruleus dan Bungarus lividus. Welang juga memakan telur ular, ikan, katak, dan kadal skink.
Pada weling, mangsa utamanya mencakup ular yang lebih kecil, seperti ular pohon dan ular air, di samping kadal dan katak. Weling bahkan diketahui memangsa sesama weling sehingga disebut bersifat kanibalistik. Menunya juga mencakup hewan pengerat seperti tikus, yang menempatkannya sebagai pemangsa di kebun, lahan pertanian, dan tepi permukiman.

Bisa kedua ular tergolong neurotoksin, yaitu racun yang menyerang sistem saraf. Gigitan krait di Indonesia dapat menyebabkan kelumpuhan otot dan gagal napas dalam hitungan menit hingga jam. Di Asia Tenggara, weling lebih sering terlibat dalam kasus gigitan dibanding welang, dan kematian akibat gigitan weling di Indonesia pernah dilaporkan.
Antivenom SABU (Serum Anti Bisa Ular) produksi Bio Farma dibuat dari bisa tiga spesies ular, salah satunya welang. Uji laboratorium pada mencit menunjukkan serum ini mampu menetralkan bisa welang pada tingkat sedang, tetapi sangat lemah terhadap bisa weling. Karena itu efektivitasnya untuk gigitan weling diperkirakan terbatas.
Pertolongan pertama yang dianjurkan adalah menenangkan korban dan mengimobilisasi bagian tubuh yang tergigit, seperti membidai patah tulang, lalu segera membawanya ke fasilitas kesehatan. Menyedot bisa, menyayat luka, atau memberi ramuan tradisional justru membahayakan, begitu pula mengikat kuat anggota tubuh di atas gigitan. Siapa pun yang digigit ular berbisa sebaiknya segera mencari bantuan medis.
Di sebagian masyarakat Jawa beredar kepercayaan bahwa weling tidak boleh dibunuh karena pembunuhnya akan dibalas. Kepercayaan itu hidup berdampingan dengan kenyataan bahwa gigitannya berbahaya, sehingga sikap warga terhadapnya sering terbelah antara takut dan segan. Weling tidak termasuk satwa yang dilindungi, dan baik welang maupun weling berstatus risiko rendah (least concern) dalam daftar merah IUCN. Meski begitu, perburuan besar-besaran dapat mengganggu rantai makanan karena keduanya memangsa ular lain.
Jika tidak yakin dengan spesies ular yang ditemui, sebaiknya jangan menangkap atau menanganinya sendiri. Ular juga jangan serta-merta dibunuh, sebab perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem tetap penting. Mengenali ciri kepala dan ekor membantu warga memastikan spesiesnya dari jarak aman.
Referensi
Kalita, P., Das, J. K., Mishra, M., & Purkayastha, J. (2021). Observations of predation by an Indian bullfrog (Hoplobatrachus tigerinus) and a banded krait (Bungarus fasciatus). Reptiles & Amphibians, 28(3), 465–466. https://doi.org/10.17161/randa.v28i3.15814
Kuch, U. (2001). Notes on the diet of the Malayan krait, Bungarus candidus (Linnaeus, 1758). Herpetological Bulletin, 75, 10–14. https://thebhs.org/publications/the-herpetological-bulletin/issue-number-75-spring-2001/2760-hb075-03
Yudha, D. S., Eprilurahman, R., Hilmi, M. F., Muhtianda, I. A., & Arimbi, A. (2013). Ular welang, Bungarus fasciatus (Schneider, 1801), di lereng selatan Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta. Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal, 30(3), 113–118. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/751196