- Kenaikan suhu laut yang ekstrem terjadi merata di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena itu menyebabkan ekosistem yang ada di laut dan penduduk bumi menerima dampak buruk.
- Di Indonesia, kenaikan suhu air laut dipengarui banyak faktor alami. Termasuk, letak geografis yang diapit dua samudera, Pasifik dan Hindia, serta pengaruh musim dan angin munson yang datang dari benua Australia
- Peningkatan suhu laut sudah berlangsung sejak empat dekade terakhir, dimulai pada akhir 1980-an dengan suhu laut meningkat sekitar 0,06 derajat celcius, dan menjadi 0,27 derajat celcius sekarang
- Akibat pemanasan air laut yang ekstrem, terumbu karang di Indonesia juga mengalami pemutihan. Perlu waktu lama untuk bisa memulihkan kembali karang menjadi sehat, namun itu tidak mudah untuk dilakukan
Empat dekade terakhir, kenaikan suhu air laut terus meningkat dan lebih cepat dari perkiraan. Fenomena itu memicu beragam peristiwa, baik di laut maupun daratan yang berdampak negatif pada kehidupan ekosistem bumi dan manusia.
Riset oleh Chris Merchant, peneliti dari Universitas Reading di Inggris menyebut, laju pemanasan suhu air laut telah meningkat hingga empat kali lipat dalam empat dekade ini. Proses tersebut berlangsung sejak akhir 1980-an.
Widodo Setiyo Pranowo, Peneliti Ahli Utama Bidang Oseanografi Terapan dan Manajemen Pesisir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengakui, saat ini suhu air laut terus mengalami kenaikan dengan laju makin cepat.
Kondisi itu, katanya, juga terjadi di wilayah Indonesia, meski tidak semua perairan mengalami hal sama. Pasalnya, perairan Indonesia yang dia sebut sebagai Benua Maritim Indonesia, dipengaruhi interaksi laut dan atmosfer dari Samudera Pasifik dan Hindia.
“Jadi, Indonesia itu memiliki dua karakter perairan, yaitu dangkal dan dalam. Contohnya adalah Laut Banda, itu laut dalam. Itu berbeda dengan laut dangkal di sekitar barat Indonesia,” kata Ketua Ocean Climate Research Group pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer itu.
Karakteristik perairan Indonesia terjadi karena terapit dua benua, Asia dan Australia. Situasi itu memicu terjadinya pertukaran sirkulasi massa air dari Hindia dan Pasifik yang sebagian besar berlangsung di Indonesia Timur.
Di Laut Banda, misal, massa air bisa bertahan selama tiga bulan dan kemudian mengalir keluar menuju ke Hindia. Proses itu menjelaskan bahwa kondisi perairan sangat dipengaruhi oleh arus lintas Indonesia yang berinteraksi melalui mekanisme La Nina dan El Nino.
Mekanisme ini turut mempengaruhi ekosistem di sekitarnya. Termasuk habitat ikan pelagis yang memang sangat bergantung pada kesehatan habitat. Jika suhu naik dan air menghangat, maka keberadaan mereka juga akan terancam, yang pada akhirnya berdampak pada potensi perikanan laut.

Timur dan barat
Lain di Timur, lain pula di Barat. Perairan laut Jawa, misal yang tergolong sebagai perairan dangkal, interaksi antara atmosfer dengan laut cenderung dipengaruhi musim atau angin monsun. Hal itu berpengaruh langsung pada kondisi suhu air laut.
“Angin monsun itu berarti yang bergerak dari benua Asia ke benua Australia, atau sebaliknya. Tapi, ketika masuk ke laut jawa, dia menjadi musim yang dikenal sebagai angin musim lokal, menjadi musim angin barat dan musim angin timur,” katanya.
Saat air laut makin cepat panas, maka peningkatan konveksi akan terjadi saat itu juga. Konveksi adalah perpindahan suhu panas melalui pergerakan molekul fluida.
Menurut Widodo, peningkatan suhu air laut merupakan salah satu dampak pemanasan global akibat serapan energi matahari yang terlalu banyak. Sementara, di saat yang sama pelepasan ke ruang angkasa juga berkurang.
“Akhirnya, laju kenaikan suhu menjadi semakin cepat.”
Proses itu sejatinya wajar bahwa sebagian sinar matahari akan bumi pantulkan kembali ke ruang angkasa, sementara sebagian lainnya terserap ke dalam beberapa lapisan dengan perbandingan 51: 49%. Namun, sifat berbeda dari daratan dan lautan yang membuat hasil berbeda.
Di darat, misal, energi dari matahari terserap tanah yang akan muncul menjadi hawa panas di siang hari dan berubah dingin pada malam hari.
“Tapi yang di laut belum tentu, mungkin masih hangat walau sudah malam. Jadi suhunya itu akan disimpan lama, meski nantinya akan dilepaskan juga ke ruang angkasa.”
Faktor lain yang menyebabkan suhu laut meningkat adalah adanya perlambatan rotasi bumi, sebagaimana laporan sejumlah riset. Dengan begitu, sinar matahari yang seharusnya masuk ke wilayah lain, karena kondisi itu akhirnya tetap ada di lokasi yang sama.
“Itu akan memengaruhi dinamika bumi secara keseluruhan juga,” katanya.

Pemutihan karang
Hendra Yusran Siry, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber daya Laut mengatakan, dampak dari meningkatnya suhu laut itu, tingkat keasaman air laut menjadi semakin tinggi dan itu akan memicu terjadinya penurunan kesehatan pada terumbu karang. Pada tahap tertentu, karang akan memutih.
Derta Prabuning, Pengelola Proyek GEF-7 Coral Reef Rescue Yayasan Reef Check Indonesia akui, peningkatan suhu dapat memicu terjadinya coral bleaching. Fenomena tersebut biasanya terjadi karena karang mengeluarkan zooxanthellae, yaitu alga mikroskopis bersel tunggal, yang memberi warna cerah pada karang.
Menurut Derta, fenomena itu bisa terjadi pada semua jenis karang di seluruh dunia, baik yang hidup di perairan dangkal maupun dalam. Namun begitu, lanjutnya, pemutihan karang bisa juga terjadi karena reaksi fotosintesis. Dimana, proses ini dapat menghasilkan zat oksidan, yang beracun bagi karang.
“Atau, bisa jadi akibat hilangnya nutrisi dari zooxanthellae yang selama ini memasok kebutuhan pada karang hingga 90%.”
Kesimpulannya, kata Derta, pemutihan karang adalah kondisi dimana biota laut tersebut sekarat dan kelaparan. Kondisinya akan membaik saat suhu laut kembali normal.
Karang, katanya, cenderung tumbuh optimal di perairan dangkal dengan paparan cahaya matahari maksimal, antara kedalaman 3-15 meter. Ada juga yang tumbuh di perairan dalam.
“Namun, daerah dengan air stagnan seperti Laut Jawa memiliki risiko bleaching lebih tinggi karena minimnya sirkulasi alami.”
Derta katakan, idealnya wilayah yang alami pemutihan karang tertutup dari aktivitas apapun untuk memberi kesempatan pemulihan. Masalahnya, terdapat masyarakat yang menggantungkan hidup dari sana.
“Padahal, proses pemulihan alami memerlukan waktu lebih lama. Seringkali hingga bertahun-tahun.” Jika pun tidak bisa dilakukan penutupan, perlu pembatasan.

Bak mandi panas
Chris Merchant, mengibaratkan pemanasan laut yang terjadi sekarang seperti bak mandi yang terisi air panas dengan proses yang perlahan. “Cara untuk memperlambat pemanasan tersebut adalah dengan mulai menutup kran panas, yaitu dengan mengurangi emisi karbon global dan beralih ke net-zero.”
Bersama dua peneliti lainnya, Chris memaparkan tentang bagaimana kenaikan terjadi begitu cepat. Saat ini, tulisnya, bumi sudah tidak memiliki keseimbangan energi yang pada akhirnya mendorong pemanasan laut menjadi semakin cepat. Ketidakseimbangan itu bisa terjadi karena energi dari matahari lebih banyak diserap sistem bumi daripada yang kembali ke ruang angkasa.
Kondisi itu sudah berlangsung sejak 2010 dengan ketidakseimbangan mencapai hampir dua kali lipat. Pemicunya tidak lain adalah peningkatan konsentrasi gas rumah kaca yang membuat bumi makin sedikit memantulkan sinar matahari ke ruang angkasa. “Puncaknya terjadi pada 2023 hingga awal 2024, dimana suhu laut global mencapai rekor tertinggi selama 450 hari berturut-turut,” tulisnya.
Jens Terhaar, ilmuwan dari Universitas Bern di Swiss menjabarkan, kenapa suhu air laut dalam empat dekade terakhir mengalami peningkatan drastis. Menurut dia, kenaikan tajam suhur air laut pada 2023-2024 karena gelombang panas dari pemanasan global.
Dalam jurnalnya yang terbit pada 12 Maret 2025, dia bersama para peneliti menyebutkan kalau gelombang panas tersebut mungkin hanya terjadi dalam periode waktu 500 tahun sekali karena faktor antropogenik.
“Pemanasan global yang disebabkan oleh manusia merupakan kontributor utama terhadap kondisi iklim saat ini.”
Thomas Frolicher, peneliti yang masuk dalam tim, mengungkapkan berbagai faktor yang menyebabkan lonjakan suhu ekstrem pada 2023-2024. Salah satunya, karena berkurangnya pemantulan radiasi matahari yang memanas.
Kondisi itu terjadi karena aorosol juga berkurang lantaran kandungan belerang terus menurun. Akibat penurunan aeorosol, jumlah awan yang memantulkan sinar matahari juga berkurang dan mengakibatkan jumlah radiasi matahari yang dipantulkan kembali ke angkasa ikut berkurang.
*****