Pari gergaji (Sawfishes), famili Pristidae merupakan pari yang menyerupai hiu dan memiliki moncong panjang berbentuk gergaji. Dua sirip punggung besar membuatnya sering dianggap hiu dan disebut “hiu gergaji” oleh masyarakat. Moncong panjang berbentuk gergaji adalah hasil evolusi panjang untuk mendeteksi mangsa, terutama saat ikan ini berada di perairan keruh.
Pari gergaji mulai mengalami kepunahan bertahap secara global, termasuk di perairan Indonesia. Nusantara dengan kekayaan ekosistemnya merupakan habitat yang sesuai untuk pari gergaji, sekaligus pemilik jenis yang tinggi di masa silam.
Tercatat, Indonesia memiliki empat dari lima spesies pari gergaji di dunia. Jenis tersebut adalah pari gergaji gigi besar (Largetooth Sawfish; Pristis pristis), pari kerdil (Dwarf Sawfish; Pristis clavata), pari gergaji hijau (Green Sawfish; Pristis zisjron), dan pari gergaji pendek (Narrow sawfish; Anoxypristis clavata).

Cerita pari gergaji saat ini hanya banyak didengar dari para tetua masyarakat dan nelayan berpengalaman. Informasi dari sejumlah nelayan mengatakan, pari gergaji sering terlihat pada 1990-an. Artinya, hampir 30 tahun pari ini mengalami penurunan populasi di perairan Indonesia. Harapan muncul dari Semenanjung Malaka, ketika pari gergaji gigi besar ditemukan di Provinsi Riau tahun 2018. Temuan ini menunjukkan bahwa jenis yang disebut “hiu parang” oleh masyarakat Semenanjung Malaka, bukan legenda.
Semenanjung Malaka menjadi lokasi kunci untuk menguak fakta menarik, juga menelisik relasi manusia dengan pari gergaji sebelumnya. Berdasarkan keterangan nelayan di sejumlah desa di Riau dan Kepulauan Riau, pari ini pernah menjadi makhluk yang ditakuti. Pari gergaji sering berkamuflase di dasar perairan, sementara moncongnya dapat merobek jaring bahkan dianggap “menyerang” saat ditarik dari air.

Simbol perlindungan
Catatan literatur menunjukkan, serangan pari gergaji sudah terjadi awal abad ke-20, ketika upaya perikanan tangkap mulai berkembang di Semenanjung Malaka. Namun, tidak hanya ketakutan untuk nelayan, pari gergaji adalah makhluk yang kuat di pesisir, sebuah kepercayaan di masyarakat. Jika berhasil ditangkap, moncongnya dianggap membawa berkah bagi masyarakat pesisir di Semenanjung Malaka.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa, moncong pari gergaji dapat ditemukan di beberapa vihara dan anjungan kapal, sebut saja di vihara Mazhou, Dewi Pelindung Lautan. Rostrum atau moncong pari gergaji umumnya ditempatkan di altar penyembahan dan dipercaya sebagai benda suci pembawa perlindungan.
Masyarakat Melayu pesisir juga sering memasang rostrum di palang pintu bagian depan rumah sebagai perlindungan. Sedangkan dagingnya, selain dikonsumsi dikeringkan juga untuk dijadikan ikan asin.

Masa depan pari gergaji
Penangkapan dan rusaknya habitat meningkatkan ancaman kepunahan pari gergaji. Mengingat, kemungkinan kepunahan lokal telah dipetakan di Semenanjung Malaka oleh para ahli dari The International Union for Conservation of Nature (IUCN). Pemerintah Indonesia telah melindungi seluruh pari gergaji melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi.
Jika kepunahan terjadi maka akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem lingkungan yang berdampak pada kehidupan masyarakat pesisir di Indonesia. Kita tidak bisa mengesampingkan individu yang hilang tidak dapat dikembalikan, namun populasi tersisa perlu kita selamatkan melalui perlindungan dari tekanan penangkapan hingga perlindungan habitat.

Penting menjadi perhatian, pari gergaji memerlukan habitat alami atau pristine, sehingga seringkali penemuannya berada jauh dari permukiman atau area terpencil yang membuat pencatatannya sulit dilakukan.
Ditemukannya pari gergaji dengan ukuran besar tahun 2018 lalu di Riau, menunjukkan harapan namun juga ketakutan, apakah spesies ini masih ada di perairan kita? Atau kita telah membunuh individu terakhir di Selat Malaka?
Kolaborasi peneliti, pemerintah, dan masyarakat memegang peranan penting untuk menjaga kelestarian spesies ini.
* Benaya Simeon, Charles Darwin University dan IUCN Indonesia Species Specialist Group. Junaidi Ismail, Citizen Scientist di Riau. Tulisan ini opini penulis.
Referensi:
Espinoza, M., Bonfil, R., Carlson, J., Charvet, P., Chevis, M., Dulvy, N.K., Everett, B., Faria, V., Ferretti, F., Fordham, S., Grant, M.I., Haque, A.B., Harry, A.V., Jabado, R.W., Jones, G.C.A., Kelez, S., Lear, K.O., Morgan, D.L., Phillips, N.M. & Wueringer, B.E. 2022. Pristis pristis (errata version published in 2025). The IUCN Red List of Threatened Species 2022: e.T18584848A249880242. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2022-2.RLTS.T18584848A249880242.en. Accessed on 14 April 2026.
Grant, M.I., Charles, R., Fordham, S., Harry, A.V., Lear, K.O., Morgan, D.L., Phillips, N.M., Simeon, B., Wakhida, Y. & Wueringer, B.E. 2022. Pristis clavata. The IUCN Red List of Threatened Species 2022: e.T39390A68641215. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2022-2.RLTS.T39390A68641215.en. Accessed on 14 April 2026.
Harry, A.V., Everett, B., Faria, V., Fordham, S., Grant, M.I., Haque, A.B., Ho, H., Jabado, R.W., Jones, G.C.A., Lear, K.O., Morgan, D.L., Phillips, N.M., Spaet, J.L.Y., Tanna, A. & Wueringer, B.E. 2022. Pristis zijsron. The IUCN Red List of Threatened Species 2022: e.T39393A58304631. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2022-2.RLTS.T39393A58304631.en. Accessed on 14 April 2026.
Haque, A.B., Charles, R., D’Anastasi, B., Dulvy, N.K., Faria, V., Fordham, S., Grant, M.I., Harry, A.V., Jabado, R.W., Lear, K.O., Morgan, D.L., Tanna, A., Wakhida, Y. & Wueringer, B.E. 2023. Anoxypristis cuspidata. The IUCN Red List of Threatened Species 2023: e.T39389A58304073. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2023-1.RLTS.T39389A58304073.en. Accessed on 14 April 2026.
Last, P. R., White, W. T., de Carvalho, M. R., Séret, B., Stehmann, M. F. W., & Naylor, G. J. P. (2016b). Rays of the World. Clayton South, Australia: CSIRO Publishing.
*****
Mengenal Pari Gergaji: Dari Lima Jenisnya di Dunia, Empat ada di Indonesia