Leher mengembang, tubuh bersiap menghadapi ancaman, dan penampilannya sekilas menyerupai kobra. Namun, ular ini bukan anggota kobra sejati. Namanya kobra palsu (Pseudoxenodon inornatus), spesies yang menggunakan kemiripan fisik dan perilaku sebagai strategi untuk menakuti predator.
Kobra palsu berbeda dari kobra jawa (Naja sputatrix). Salah satu perbedaan yang mudah diamati adalah warna tubuh. Kobra palsu umumnya berwarna abu-abu kusam, meski sebagian individu tampak jingga atau kemerahan. Kobra jawa cenderung berwarna hitam pekat dan terlihat mengkilap ketika terkena sinar matahari.
Bagian kepala juga menyimpan petunjuk. Kobra palsu biasanya memiliki garis putih menyerupai huruf V terbalik di atas kepalanya. Sebaliknya, bagian atas kepala kobra asli cenderung polos, sementara pola terdapat di bawah leher.
Pembeda yang dianggap paling akurat adalah keberadaan sisik loreal, yakni sisik di antara hidung dan mata. Kobra palsu yang termasuk famili Colubridae memiliki sisik tersebut. Pada kobra sejati dari famili Elapidae, sisik loreal tidak ada sehingga sisik hidung langsung bersentuhan dengan sisik di depan mata. Pengamat atau fotografer satwa dapat memeriksanya melalui foto kepala yang diambil dari jarak aman.
Ukuran tubuh keduanya juga berbeda. Kobra palsu rata-rata memiliki panjang sekitar 75 sentimeter dan jarang melebihi satu meter. Kobra asli dapat tumbuh melampaui 1,5 meter.
Ciri paling mengecoh adalah kemampuan kobra palsu mengembangkan leher seperti tudung kobra. Perilaku ini merupakan bentuk mimikri untuk membuat predator mengira sedang berhadapan dengan ular berbahaya. Bedanya, kobra palsu belum pernah terdokumentasi mampu mengangkat bagian depan tubuh setinggi kobra asli.
Meski menyandang sebutan “palsu”, ular ini tetap memiliki bisa. Namun, tingkat bahayanya jauh lebih rendah dan digolongkan sebagai bisa ringan. Taringnya terletak di belakang rahang, berbeda dari kobra asli yang bertaring depan. Efek gigitan pada manusia dapat berbeda-beda: sebagian orang mungkin mengalami pembengkakan, sementara yang lain tidak menunjukkan reaksi.
Kobra palsu hidup di dataran tinggi berhutan dengan vegetasi tertutup. Di Indonesia, keberadaannya tercatat di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Ular terestrial ini jarang memanjat pohon dan kadang ditemukan di jalur pendakian. Perannya belum banyak diteliti, tetapi diperkirakan memangsa katak, kadal, dan hewan kecil di lantai hutan.
Data mengenai populasi, persebaran, makanan, reproduksi, dan aktivitas hariannya masih sangat terbatas. Kobra palsu juga menghadapi ancaman kehilangan hutan pegunungan dan perburuan untuk perdagangan satwa eksotik. Karena sering disalahartikan sebagai kobra mematikan, ular ini pun berisiko dibunuh saat berjumpa dengan manusia.
Kemampuannya meniru kobra mungkin efektif menghadapi predator, tetapi di hadapan manusia, penyamaran itu justru dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan hidupnya.
Artikel asli ditulis oleh Falahi Mubarok.
Foto utama: Ular kobra palsu yang kulitnya kemerahan. Foto: Hafizh Aulia Khairy Rakananda/iNaturalist/CC BY-NC 4.0/Free to share.