- Ketika hutan di Taman Nasional Tesso Nilo nyaris habis tergerus jadi kebun sawit, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, berlaku sebaliknya. Di kawasan penyangga Tesso Nilo ini, warga terutama para perempuan menanam beragam pohon buah-buahan yang berfungsi konservasi sekaligus bernilai ekonomi.
- Kelompok Tani Hutan Perempuan Batang Nilo (KTH Perbani) mendapat Wanawiyata Widyakarya dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada 2024. Ini adalah pengakuan terhadap usaha pelestarian lingkungan hidup. Tulisan ini merupakan bagian Fellowship Nature Crime seri sawit ilegal dalam kawasan konservasi.
- Peran KTH Perbani dalam perlindungan Tesso Nilo sudah tak diragukan lagi. Sejak terbentuk pada 2016, praktik tanam jeruk untuk pagar ramah satwa, hanya satu dari sekian kegiatan berdampak dalam pelestarian alam.
- Berhasil mitigasi konflik gajah-manusia dengan pagar pohon jeruk bersama Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN), warga bangun feeding ground atau kawasan lain untuk gajah datangi, setelah menghindari area yang terproteksi. Daerah itu harus memiliki pakan kesukaan gajah hingga mereka tanam cempedak, nangka, petai hingga pisang, pada kawasan masih berhutan.
Ketika hutan di Taman Nasional Tesso Nilo nyaris habis tergerus jadi kebun sawit, di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, berlaku sebaliknya. Di kawasan penyangga Tesso Nilo ini, warga terutama para perempuan menanam beragam pohon buah-buahan yang berfungsi konservasi sekaligus bernilai ekonomi.
Ada buah jeruk, sebagai tanaman yang tak gajah sukai di area kebun yang perlu mereka lindungi. Warga juga tanam buah-buahan yang gajah senangi seperti nangka, dan cempedak, petai, dan lain-lain sebagai kawasan tempat satwa tambun ini cari makan.
Ernita, kini merasa tenang. Gajah tak lagi rusak kebun sawitnya. Bukan karena mengusir satwa di lindungi itu, cukup dengan menanam jeruk di sekeliling kebun. Ia jadi pagar ramah satwa untuk melindungi tanaman sawit yang baru memasuki masa panen.
“Sebelum tanam jeruk, sawit kami selalu dimakan gajah. Sudah tanam ulang empat sampai lima kali. Memang tak banyak (yang dimakan). Sekitar 15 sampai 20 pokok. Alhamdulillah, setelah buat pagar jeruk, belum pernah dimakan gajah lagi (sawitnya),” kata perempuan 33 tahun ini.
Saat ini, Erni melihat gajah justru lebih sering di kebun sawit warga sekitar yang tak berpagar jeruk. Dia bilang, belum semua pemilik kebun sawit warga Desa Lubuk Kembang Bunga (LKB), Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau ini tertarik dan berminat praktik serupa.
Erni, mulai melakukan cara alami agar tetap hidup harmoni dengan gajah Sumatera sejak tiga tahun belakangan.
Mengingat LKB adalah satu dari sekian desa yang bersinggungan dengan Tesso Nilo. Ini satu kantong gajah Sumatera terbanyak di Riau. Wilayah masyarakat adat, juga pintu masuk taman nasional itu.
Rumah Erni, tak sampai satu kilometer dari Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I. Ini unit pelaksana teknis di bawah Balai Tesso Nilo. Bahkan tak sampai 10 menit berkendara motor ke Elephant Flying Squad, tempat gajah latih berada.
Dusun Atas tempat tinggal Erni, berada di kawasan penyangga Tesso Nilo. Termasuk sebagian pemukiman dan kebun di Dusun Bawah. Bahkan tiga dusun lain di LKB, justru berada dalam Tesso Nilo, seperti Kuala Renangan, Dolok dan Toro Jaya.
Dengan kondisi Tesso Nilo yang dominan berubah jadi kebun sawit, rumah gajah di kawasan konservasi ini pun terganggu. Gajah kerap keluar kawasan .
Warga di zona penyangga TNTN seperti Erni, harus beradaptasi dan hidup berdampingan dengan gajah, salah satu satwa langka dilindungi di kawasan konservasi itu.
Sebelum antisipasi dengan tanaman, Erni dan warga mengusir gajah dengan meriam atau karbit dan mercon. Bahkan, mesti bangun pondok kayu di tengah kebun buat jaga malam. Kini, mereka pakai cara dengan menanam tanaman yang tak gajah sukai.
Erni bersama suaminya, Sumardi, tanam sekitar 600 batang jeruk untuk memagari 1,5 hektarkebun sawitnya. Jarak tanam lebih kurang 1,5 meter. Jadilah kebun agroforestri.
Ada lima jenis jeruk yang mereka tanam. Dari jeruk manis, kasturi, lemon, nipis hingga purut. Ada satu batang pohon bahkan tumbuh tiga jenis jeruk sekaligus. Sumardi, baru menyadarinya, setelah pohon itu berbuah.
Tak sekadar tanam begitu saja, selain untuk konsumsi jeruk juga Erni jual, . Termasuk konsumsi di rumah.
Jauh sebelum memagari kebun sawit dengan jeruk, Erni sudah pernah memperhatikan gajah anti dengan tanaman itu. Dekat anak sungai, tak jauh dari rumahnya, ada kebun jeruk warga sekitar. Dia lihat, gajah selalu menghindari kebun itu.
“Gajah memang tak mau lewat di sana. Mungkin tak suka sama baunya dan takut durinya,” cerita Erni.
Setelah praktik di kebun sendiri, dia baru sadar dan paham sepenuhnya.
Ide dan inovasi itu atas besutan dari Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN), lembaga swadaya masyarakat untuk dukung pengelolaan taman nasional. Terkhusus satwa kunci di dalam kawasan konservasi., terutama gajah Sumatera..
Ide YTNTN mencegah interaksi negatif gajah dan manusia dengan solusi saling menguntungkan, sebenarnya berangkat dari tren pagar listrik. Teknologi ini justru banyak membunuh satwa penting itu.
Pagar jeruk, Yuliantony, Direktur Esekutif YTNTN sebut, sebagai solusi tengah yang menguntungkan masyarakat dan gajah.
Sebetulnya ide itu beranjak dari keberadaan kebun jeruk dalam taman nasional di Bukit Apolo, Desa Bagan Limau dan Pontian Mokar. Gajah tak pernah merusak kebun atau memakan jeruk di sana.
“Hanya lewat. Dari situ muncul pertanyaan,” kata Tony, panggilan Yuliantony.
Jika kebun jeruk dalam TNTN tanam cukup berjarak, praktik YTNTN menganjurkan jarak tanam lebih rapat agar pertumbuhannya menciptakan kanopi dan bertaut antar pohon. Tujuannya, agar gajah tak lewat di antara tanaman, kelak. Jadi, murni sebagai pagar utuh tetapi tak melukai.

Tanam pohon yang gajah senangi
Berhasil mitigasi konflik gajah-manusia dengan pagar jeruk di tiga lokasi, Tony juga memikirkan perlu feeding ground atau kawasan lain untuk gajah datangi, setelah menghindari area yang terproteksi.
Kawasan itu harus memiliki pakan kesukaan gajah hingga warga dengan dampingan YTNTN juga menanam cempedak, nangka, petai hingga pisang, pada kawasan masih berhutan.
“Jadi, gajah makan di situ dan terhindar dari konflik. Kebutuhan gajah itu, makan, reproduksi dan istirahat. Itu saja yang dipenuhi,” kata Tony.
Dalam kegiatannya, YTNTN kerap melibatkan warga sekitar taman nasional terutama perempuan. Di LKB, ada Kelompok Perempuan Batang Nilo (Perbani). Erni, adalah satu dari 30 anggota kelompok.
Selama ini, kata Tony, perempuan kerap terabaikan dalam proses di publik, termasuk pengambilan keputusan. Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya alam dan konservasi.
Padahal, perempuan dominan jadi pengguna utama air, kayu bakar, dan hasil hutan dalam menjalankan peran reproduksi maupun domestik.
Interaksi sehari-hari ini, memberikan mereka pengetahuan mendalam tentang ekologi lokal dan cara mengelola sumber daya secara bijak.
“Sehingga penting melibatkan perempuan dalam konservasi dan pengelolaan SDA (sumber daya alam).”

Berawal dari kesadaran peran
Peran Perbani dalam perlindungan Tesso Nilo sudah tak diragukan lagi. Sejak terbentuk pada 2016, praktik tanam jeruk untuk pagar ramah satwa, hanya satu dari sekian kegiatan berdampak dalam pelestarian alam.
Pertama-tama, sekitar 30 anggota Perbani mengikuti serangkaian kelas pengenalan gender. Hanya sebagian dari perempuan kampung ini berpendidikan menengah atas atau sederajat. Bahkan ada tidak menamatkan pendidikan dasar dan menengah pertama.
“Saya tak tamat SD (sekolah dasar). Zaman itu hanya sampai kelas tiga,” kata Gadi, anggota Perbani.
Selain aktif dalam kelompok, perempuan 44 tahun ini punya warung.
Rena Sandriani, Ketua Perbani, mengatakan, meski hampir satu dekade, kelas gender itu sangat melekat dalam benaknya hingga sekarang. Hingga kini, dia terus belajar memahami tentang kepemimpinan perempuan.
Pendidikan tentang kesadaran peran berlanjut dalam sekolah perempuan. Kelas bulanan ini lebih panjang dengan beragam materi. Selain soal kepemimpinan, mengasah keberanian dan keterampilan bicara di muka umum, beberapa pertemuan juga belajar merancang rencana kegiatan sesuai kebutuhan.
Herlia Santi, Direktur Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Riau, menjelaskan, penguatan isu perempuan bertujuan agar mereka terlibat dalam proses pengambilan keputusan di ranah publik.
PPSW Riau, turut dalam pengembangan peran Perbani. LSM ini, berpengalaman dalam pemberdayaan dan pendampingan kelompok perempuan, selama lebih tiga dekade.
Salah satu tujuannya, membangun kekuatan kolektif perempuan desa untuk bergerak bersama dalam mencapai keadilan dan kesetaraan gender.
“Selama ini, (perempuan) selalu mengalami kesenjangan dan ketidakadilan termasuk dalam pengelolaan SDA (sumber daya alam),” kata Santi, dalam keterangan tertulis.
Berkat sekolah perempuan itu pula, beberapa anggota Perbani menduduki jabatan di pemerintahan. Dari ketua rukun tetangga sampai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Berkat kepemimpinan perempuan itu, lahir banyak aktivitas Perbani dan semua berhubungan dengan pengelolaan TNTN.Antara lain, penyediaan kuliner lokal bagi tamu atau pengunjung yang hendak ke TNTN. Bukan sekadar masak memasak tetapi belajar tentang ketahanan hasil olahan atau lama waktu layak konsumsi makanan. Begitu juga tata cara penyajian.
Perbani pun turut menunjang wisata gajah Sumatera di Flying Squad yang Balai TNTN kelola. Para anggota kelompok bergiliran terima pesanan untuk menyediakan konsumsi bagi tamu.
Penyedia bibit
Setelah urusan domestik, Perbani melangkah pada kegiatan pemulihan Tesso Nilo. Para anggota membibit bermacam tanaman kehidupan mulai kulim sampai pulai. Dari rambutan hingga cempedak.
Selain untuk menghutankan kembali kawasan konservasi di sekitar mereka, tanaman buah itu juga untuk pengkayaan pakan gajah. Plus tempat berlindung satwa langka itu.
Target rehabilitasi Perbani, adalah kawasan taman nasional yang sempat terbakar.
“Anggota Perbani turun penanaman langsung. Setidaknya 30 hektar kawasan TNTN telah kami tanami kembali,” ujar Rena.
Rena mengatakan, ketersediaan bibit juga jadi sumber pendapatan kelompok. Tak jarang, orang atau perusahaan membelinya. “Yang jelas sudah terjual 18.000 bibit.”
Secara legal, Perbani sempat terikat kerjasama kemitraan konservasi dengan Balai TNTN, sebagai salah satu skema perhutanan sosial untuk akses legal pemanfaatan kawasan hutan. Sekaligus pelibatan warga dalam perlindungan lingkungan, termasuk pelestarian flora-fauna.
Pada 2018, Perbani dapat kepercayaan pemanfaatan zona tradisional sekitar 100,4 hektar. Mereka gunakan itu untuk mengambil rotan dan pandan. Tak terkecuali hasil hutan bukan kayu lainnya.
Kemitraan itu hanya berjalan lima tahun. Rena mengatakan, jarak tempuh dari kampung ke kawasan lumayan jauh jadi alasan.
Tony tak menampik menghutankan kembali TNTN penuh tantangan. YTNTN setidaknya terlibat pemulihan hutan sekitar 400 hektar dengan melibatkan sejumlah kelompok masyarakat, terutama perempuan.
Mereka pernah alami, setelah penanaman pohon, malah ada yang bakar kawasan atas klaim pihak tertentu untuk tanam sawit. “Rehab hutan masih jadi tantangan. Yang dikerjakan pemerintah pun begitu.”

Mandiri ekonomi
Rena katakan, mereka tidak pernah kehabisan ide kegiatan. Belakangan ini, mereka manfaatkan sepetak lahan untuk demonstrasi plot (demplot).
Di situ mereka tanam beragam hortikultura. Bergantian mengikuti siklus panen, mulai cabai hingga sayur-sayuran.
Hasilnya, mereka jual keliling ke warga sekitar. Terkadang juga jual online lewat grup WhatsApp. Alhasil jadi pendapatan baru lagi buat Perbani.
“Duit hasil penjualan jadi kas kelompok. Diputar lagi untuk beli bibit,” kata Mulida Rambe, anggota Perbani.
Untungnya, anggota Perbani tak mesti keluar modal buat beli pupuk. Mereka belajar dan terbiasa produksi pupuk organik. Cukup dengan mengolah batang pisang, daun-daunan dan segala jenis tanaman di sekitar.
Perbani juga memiliki puluhan stup atau kotak sarang budidaya madu kelulut. Kemampun ini juga berkat pelatihan yang diikuti Lija Laila. Sejak Perbani terbentuk, YTNTN fasilitasi perempuan 36 tahun itu, belajar cara pemecehan sel telur atau koloni lebah.
Sepulangnya, Lija, menularkan ilmu itu pada anggota Perbani. Awalnya, kotak buatan atau sarang lebah tiruan itu mereka letakkan di rumah masing-masing anggota kelompok. Belakangan, beruang banyak mengintai dan memakan madu itu.
Sejak kejadian itu, puluhan stup pindah di belakang rumah Lija agar lebih mudah terpantau.
“Rupanya tak aman juga. Padahal sudah banyak berusaha. Kasih kandang dan kawat. Namanya juga beruang suka madu. Habis juga.”
Sekarang, belasan stup madu kelulut berada di halaman depan rumah Lija. Meski berurusan dengan beruang, budidaya madu juga menciptakan ekonomi baru dan tambahan modal bagi Perbani. Setidaknya, sempat menyumbang Rp6 juta untuk saldo keuangan kelompok.
Mereka juga bikin bank sampah, produksi magot, pengolahan kotoran gajah buat pupuk organik, sampai urusan seni dan budaya.
Pengurus Perbani, menunjuk penanggungjawab tiap kegiatan. Praktiknya, tetap kerjakan bersama.
Perbani juga ada pengelolaan dana anggota dalam skema Unit Simpan Pinjam (USP). Bahkan berkembang dari tahun ke tahun. Unit usaha ini mulai lebih kurang lima tahun lalu.
Sumber modal utama adalah dari simpanan pokok Rp100.000 tiap anggota. Awalnya terkumpul Rp3 juta. Kemudian ada simpanan wajib Rp10.000 per bulan. Ada juga simpanan sukarela.
Anggota Perbani, kebanyakan meminjam untuk keperluan sekolah anak. Selain buat kebutuhan pengelolaan kebun, juga buat biaya perbaikan rumah.
Empat tahun berjalan, Perbani sudah mengelola dana lebih Rp100 juta. Sebagai layanan keuangan mikro, kelompok ini tiap tahun rutin musyawarah pembagian sisa hasil usaha (SHU).
“USP ini modal dari anggota untuk anggota. Sangat membantu kebutuhan mendesak di keluarga. Pinjaman cepat. Keuntungannya banyak,” kata Desi Sartika, Bendahara USP.
Menurut Santi, mengorganisir kelompok perempuan melalui pintu masuk penguatan ekonomi sangat penting. Keberadaan USP, lembaga keuangan mandiri, ala Perbani, dapat terus berjalan dan membiayai aktivitas organisasi tanpa bergantung selamanya pada pihak lain.

Penghargaan Wanawiyata dan pelibatan masyarakat
Kelompok Tani Hutan (KTH) Perbani mendapat Wanawiyata Widyakarya dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada 2024. Ini adalah pengakuan terhadap usaha pelestarian lingkungan hidup.
Perbani terima penghargaan itu, berkat usulan Balai TNTN. Kelompok perempuan ini balai nilai sangat aktif dan memiliki banyak kegiatan positif. Tidak hanya berdampak pada perlindungan hutan, juga turut meningkatkan pendapatan anggota kelompok.
Perbani, juga jadi rujukan bagi kelompok luar untuk belajar. Bahkan fasilitas mereka turut mendukung kegiatan magang atau sekolah lapang oleh pihak yang hendak mencari pengalaman.
Waktu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda TNTN, anggota Perbani bahkan turut berjibaku menyediakan konsumsi regu pemadam kebakaran.
Sebetulnya, Balai TNTN memiliki belasan kelompok binaan di sekitar kawasan konservasi itu.
Fauzan Kahfi, Staf Penyuluh Balai TNTN, menyebut, program penyuluhan kehutanan dan pemberdayaan masyarakat mulai sejak balai berdiri atau sekitar 2007.
“Ini prioritas pemerintah. Saat ini, yang masih didampingi ada sembilan KTH. Semua di kawasan penyangga TNTN,” ujar Fauzan.
Bentuk dampingan dan pemberdayaan balai beragam. Dari fasilitasi pelatihan peningkatan kapasitas kelompok hingga penyaluran bantuan berkelanjutan. Mulai perlengkapan memasak sampai ternak kambing dan sapi. Dengan begitu warga pun opsi-opsi berusaha.
Balai juga tetap beri akses ke dalam hutan konservasi tersisa itu, misal, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dengan skema kemitraan konservasi.

Libatkan pemulihan Tesso Nilo
Tesso Nilo melingkupi dua kabupaten, sekitar 99% berada di Pelalawan. Sisanya, di Indragiri Hulu atau sekitar 700 hektar dari 81.000 hektar luas taman nasional. Ada banyak desa atau pemukiman penduduk di sisi selatan penyangga TNTN.
“Warga sekitar TNTN layak diperjuangkan. Balai TNTN serta Kemenhut (Kementerian Kehutanan), memiliki atensi besar dalam pemberdayaan masyarakat,” kata Fauzan.
Walau luas TNTN lebih 81.000 hektar, hutan tersisa berkisar sekitar 13.000 hektar, itupun hanya sebagian masih dengan tegakan hutan alam. Mayoritas berada di Desa LKB dan pemukiman anggota Perbani. Meski begitu, juga risiko bahkan terancam degradasi.
Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), klaim sudah ambil alih Tesso Nilo sejak tahun lalu. Namun, upaya pemindahan warga dan penyediaan kebun pengganti serta rehabilitasi belum menunjukkan tanda perbaikan sepenuhnya.
Anggota Perbani, seperti Rena hingga Erni, mengatakan, dengan senang hati bila ikut serta dalam pemulihan hutan Tesso Nilo. Mereka masih menyediakan bibit pohon sekaligus makanan kesukaan gajah.
Santi sepakat. Perempuan di pedesaan paling dekat interaksinya dengan alam. Banyak kebutuhan dapur rumah tangga, bisa mereka dapat dari hasil pengelolaan sumber daya alam. Terlebih lagi, Perbani merupakan bagian dari masyarakat desa yang bersisihan dengan TNTN.
Menurut Santi, anggota Perbani berperan penting dalam perlindungan dan pengelolaan TNTN yang kian tergerus.
“Jika ini berkelanjutan dan kelompok Perbani semakin luas jangkauannya, maka akan ada efek domino dalam upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan TNTN,” kata Santi.
*****
Segel Satgas Tak Bendung Sawit Ilegal Tesso Nilo Terus Ngalir ke Pabrik