Gerhana bulan bukan hanya pertunjukan astronomi yang membuat Bulan tampak gelap atau berwarna merah. Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris, fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan pasang-surut air laut yang dapat membawa manfaat sekaligus risiko bagi lingkungan pesisir.
Gerhana bulan berlangsung ketika Bulan memasuki bayangan Bumi pada fase purnama. Pada kondisi ini, tarikan gravitasi Matahari dan Bulan bekerja pada arah yang selaras. Akibatnya, permukaan air laut dapat mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan kondisi biasa.
Pasang maksimum tersebut dapat memberikan manfaat ekologis. Air laut mampu menjangkau bagian pesisir yang lebih luas sambil membawa nutrisi ke berbagai wilayah. Masuknya unsur hara ini membantu menyuburkan ekosistem pesisir dan mendukung rantai makanan laut.
Arus pasang juga dapat membantu menyebarkan benih tumbuhan laut dan organisme pesisir ke wilayah baru. Proses tersebut mendukung regenerasi alami serta meningkatkan peluang terbentuknya habitat baru. Dalam jangka panjang, perpindahan organisme dapat berkontribusi terhadap keanekaragaman hayati di kawasan pesisir.
Namun, perubahan pasang yang lebih tinggi juga mempunyai sisi berisiko. Air laut dapat melampaui batas normal dan menggenangi permukiman atau fasilitas di daerah rendah. Fenomena ini dikenal sebagai banjir rob. Dampaknya dapat mengganggu aktivitas masyarakat pesisir, termasuk nelayan, transportasi, dan kegiatan ekonomi sehari-hari.
Pada gerhana bulan 7–8 September 2025, misalnya, permukaan air laut di Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, Kalimantan Selatan, mulai naik dan mencapai puncaknya sekitar pukul 03.00. Para nelayan tetap melaut karena pasang-surut merupakan bagian dari keseharian mereka, tetapi kondisi tersebut tetap memerlukan kewaspadaan.
Gerhana bulan total juga dikenal dengan sebutan blood moon atau Bulan merah darah, juga terjadi pada 2-3 Maret 2026 lalu.. Warna merah muncul ketika cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi sebelum mencapai permukaan Bulan. Penampilannya dapat berbeda pada setiap gerhana karena dipengaruhi kualitas udara di atmosfer, durasi, waktu kejadian, dan ukuran tampak Bulan.
Fenomena ini juga memberi manfaat bagi penelitian dan pendidikan. Para pengamat dapat mendokumentasikan setiap tahap gerhana, mulai dari fase penumbra, sebagian, hingga total. Untuk menghasilkan data yang mendekati akurat, diperlukan teleskop dan detektor khusus. Sementara bagi masyarakat umum, gerhana dapat diamati menggunakan mata telanjang atau direkam dengan telepon genggam.
Dengan demikian, gerhana bulan tidak secara langsung menjadi “berkah” atau “bencana”. Dampaknya bergantung pada kondisi wilayah yang mengalaminya. Bagi ekosistem, pasang dapat membawa nutrisi dan membantu penyebaran organisme. Namun, bagi permukiman pesisir yang rentan, kenaikan air laut dapat memicu banjir rob. Karena itu, manfaat ekologisnya perlu dipahami bersamaan dengan upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Artikel asli ditulis oleh Rendy Tisna.
Foto utama: Gerhana Bulan blood moon alias Bulan merah darah pada 8 September 2025. Foto: Sutan untuk Mongabay Indonesia.