Di antara beragam rempah dunia, kapulaga menempati posisi istimewa. Ukuran buahnya memang kecil, tetapi manfaat dan nilai ekonominya besar. Rempah beraroma khas ini digunakan dalam masakan, minuman, obat tradisional, industri farmasi, hingga parfum. Tidak heran jika kapulaga dijuluki Queen of Spices atau ratunya rempah.
Kapulaga merupakan buah kering dari tanaman herbal tahunan keluarga Zingiberaceae. Buahnya tumbuh dalam tandan kecil dan pendek, berbentuk kapsul dengan diameter sekitar 1–1,5 sentimeter. Permukaannya memiliki garis-garis rapat dan rambut pendek yang halus. Ketika matang, buah akan pecah dan terbelah mengikuti ruang-ruang di dalamnya.
Di dunia terdapat sedikitnya 150–180 jenis kapulaga yang termasuk dalam tiga genus utama, yaitu Amomum, Aframomum, dan Elettaria. Sejumlah jenis telah dibudidayakan secara luas karena mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Indonesia mengenal dua jenis utama. Pertama, kapulaga lokal atau kapulaga jawa (Amomum compactum), spesies endemik Jawa Barat. Kedua, kapulaga sabrang atau kapulaga sejati (Elettaria cardamomum).
Keduanya mempunyai ciri berbeda. Kapulaga jawa berbuah putih dan berbentuk bulat, dengan kandungan minyak atsiri sekitar 2–3,5 persen serta aroma yang lebih ringan. Kapulaga sabrang berwarna hijau, berbentuk oval, dan memiliki kandungan minyak atsiri lebih tinggi, sekitar 5–8 persen. Aromanya pun lebih kuat.
Kapulaga dijuluki ratunya rempah karena kegunaannya menjangkau berbagai sektor. Dalam masakan, aromanya dianggap khas dan sulit digantikan rempah lain. Nilainya bahkan menempatkan kapulaga sebagai rempah termahal ketiga di dunia setelah safron dan vanili.
Bijinya mengandung sejumlah bahan aktif, seperti sineol, terpen, terpineol, dan borneol. Minyak atsirinya dimanfaatkan sebagai pemberi aroma untuk makanan, minuman, wewangian, serta produk farmasi dan herbal. Dalam pengobatan tradisional, kapulaga digunakan sebagai bahan jamu untuk membantu mengatasi batuk, dahak, perut kembung, demam, dan mual.
Budidaya kapulaga tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa. Selama dua dasawarsa, lebih dari 95 persen luas panen kapulaga nasional berada di pulau ini. Tanaman tersebut juga dikembangkan di Sumatera, Banten, Yogyakarta, dan beberapa wilayah lain.
Kapulaga dapat diperbanyak melalui stek anakan atau rimpang yang telah bertunas dan berakar. Tanaman siap dipanen ketika berumur sekitar tujuh bulan dan daunnya telah rimbun. Setelah itu, panen dapat dilakukan beberapa kali dalam setahun hingga tanaman mencapai usia 15 tahun.
Dari dapur hingga industri farmasi, kapulaga menunjukkan bagaimana satu buah kecil dapat mempunyai begitu banyak fungsi. Jadi, dengan aroma khas, kandungan minyak atsiri, umur produksi panjang, dan nilai ekonominya yang menjadikan julukan sebagai “ratunya rempah”, apakah memang pantas disandangnya?
Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.
Foto utama: Kapulaga jawa atau Javanese Cardamom (Amomum compactum), merupakan rempah asli Indonesia. Foto: Freepik.