- Kelompok Parit Segagah, di Desa Kelapapati, berjibaku memulihak mangrove di Bengkalis selama 14 tahun.
- Perjalanan Kelompok Parit Segagah tidak mudah. Berbagai kepentingan dari luar menggerogoti semangat para anggota. Sejumlah tawaran untuk mengeksploitasi kawasan dengan tambak udang dan bahan baku kayu arang, menuai perdebatan di dalam. Alhasil, satu per satu keluar memisahkan diri.
- Parit Segagah mengelola kawasan mangrove yang membentang dari pinggir jalan desa hingga lebih kurang 650 meter ke laut. Setelah 14 tahun, kawasan yang dulu nyaris tandus dan menyeret banjir ke daratan, kini padat tegakan pohon.
- Kelompok Parit Segagah telah berkontribusi pada upaya menahan laju perubahan iklim. Sebuah studi yang dipublikasi dalam Jurnal Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Riau menghitung nilai serapan CO2 ekosistem mangrove Desa Kelapapati sebesar 195,13 ton CO2/hektar. Sementara nilai ekonomi serapan CO2 di kawasan tersebut mencapai Rp268,3 juta/tahun atau Rp29,8 juta/hektar/tahun.
Rio Fernandes tak kuasa menahan air mata kala mengenang jerih payahnya bersama sahabat yang telah mendahuluinya, Samsul Bahri, dalam perjuangan memulihkan hutan mangrove Desa Kelapapati, Bengkalis, Riau. Mereka hanya bermodal semangat dan keberanian, swadaya dan tanpa dukungan biaya selama berjuang satu dekade.
Awal mula gerakan bermula karena dia geram menyaksikan penebangan mangrove merajalela. Para pelaku menganggap hutan pesisir itu tak bertuan.
Pohon-pohon di hutan mangrove Kelapapati juga jadi sasaran ketika musim gasing tiba. Mereka tak segan menebas simpul-simpul bakau yang keras, mengolahnya jadi mainan yang bisa berputar itu.
Satu hari, Rio dan Bang Sam, sahabatnya, nekat menghalang alat berat yang hendak menggilas mangrove tersisa.
“Kami larang. Alasannya lahan itu sudah dijadikan konservasi. Kalau diteruskan (penggundulan) akan berurusan dengan polisi. Tak dipukul dan tak diapa-apakan,” katanya.
Keesokan hari, mereka menghadap kepala desa. Keduanya ceritakan kondisi dan peristiwa itu. Tak lama, mereka pun sama-sama turun ke lokasi.
Singkat cerita, kepala desa manut dengan ide dan tawaran mereka, sekaligus merestui pembentukan kelompok. Lahirlah Parit Segagah, dalam bahasa Melayu lokal penulisannya Paghet Seghaghah.
Mulai 2012, Rio dan Sam, inisiatif menjadikan kawasan mangrove 14 hektar itu sebagai area pemulihan dan perlindungan. Mereka ajak masyarakat, tanam dan tambal sulam mangrove, menjaga lalu merawatnya.
Dari tahun ke tahun, mereka kumpulkan bibit. Saking tak berduit, mereka pakai plastik es untuk polybag. Hasil kerja awal tampak pada sisi kanan dekat gerbang masuk kawasan. Telah tumbuh belukap, salah satu spesies asli yang nyaris tak terlihat lagi di ekosistem mangrove Kelapapati.
Dia bilang, mereka temukan bibit itu di wilayah Pambang, desa di Kecamatan Bantan. Meski berbeda desa tetapi masih satu pulau. Jarak garis pantai kedua desa itu sekitar 50 kilometer.
Kelompok mangrove di sana, mengizinkannya ambil propagul belukap sebanyak mungkin. Sekarang, sudah tertanam sekitar 20.000-an batang di Kelapapati.
Seiring waktu, antara 2017-2019, Kelompok Parit Segagah mulai menanam tanpa sistem polybag, alias tanam tebar. Sejak itu, jumlah bibit terkumpul terlalu banyak.
“Begitu dapat langsung dicucuk (ditanam).”

Banyak tawaran
Perjalanan Kelompok Parit Segagah tidak mudah. Berbagai kepentingan dari luar menggerogoti semangat para anggota.
Sejumlah tawaran untuk mengeksploitasi kawasan dengan tambak udang dan bahan baku kayu arang, menuai perdebatan di dalam. Alhasil, satu per satu keluar memisahkan diri.
“Terjadi miskomunikasi dengan banyaknya tawaran. Yang lain mundur yang lain bertahan. Ada juga yang minta bagi-bagi lahan. Terjadi kontroversi dan perbedaan pendapat,” cerita Rio.
Godaan dan hasutan tak berhenti walau kepengurusan Parit Segagah berpindah pada generasi yang lebih muda. Pada 2019, Rio Sempana melanjutkan kepemimpinan.
Dia juga menghadapi godaan agar kawasan mangrove yang mereka lindungi jadi bisnis tambak udang. Sudah lima kali tawaran itu datang.
Pemodal yang berupaya mengiming-imingi mereka adalah orang yang sama. Hanya saja, mengutus pelobi yang berbeda.
“Parit Segagah tetap berjalan. Tetap konsisten berapa pun tawarannya.”

Lain dulu, lain sekarang
Parit Segagah punya kawasan mangrove yang membentang dari pinggir jalan desa hingga lebih kurang 650 meter ke laut. Setelah 14 tahun, kawasan yang dulu nyaris tandus dan menyeret banjir ke daratan, kini padat tegakan pohon.
Dari gerbang desa, mangrove terlihat menjulang di kiri dan kanan jalan setapak. Semakin ke dalam, semakin rapat, hingga ke tepi Sungai Pedekik, perbatasan Kelapapati dengan Desa Pangkalan Batang di sebelah barat.
Ekosistem hutan bakau Kelapapati telah pulih dengan kehadiran 25 jenis mangrove. Selain belukap (Rhizophora mucronata) sebagai spesies asli, tumbuh paling banyak Rhizophora apiculata (bakau minyak) yang juga spesies lokal. Ada juga genus Sonneratia, nipah (nypa) dan Avicennia (api-api). Sekarang pengembangan Sonneratia caseolaris (perepat merah).
Tumbuhnya beragam jenis mangrove ini mengundang berbagai biota. Sekarang, masyarakat setempat dan luar, mencari siput bakau (Terebralia sulcata), siput hisap (Cerithidea obtusa), lokan (Polymesoda), sepetang atau kerang (Pharella acutidens) dan rama-rama alias udang tanah atau lobster lumpur (Thalassina anomala).
“Tak masalah. Yang penting pohon mangrove jangan dirusak. Siapa dan dan dari mana pun tak dilarang. Mau bawa dua karung atau tiga karung satu orang tak dilarang. Itulah yang dapat diberikan ke masyarakat untuk menopang ekonomi mereka,” kata Rio.
Pemulihan mangrove juga berdampak pada peningkatan ekonomi perempuan. Dari ekosistem ini, lahir aktivitas produksi kerupuk amplang, ikan asin, pernak-pernik, hingga berbagai kreativitas yang berhubungan dengan mangrove dan biota di dalamnya.
“Perkembangan sudah nampak. Pohon-pohon yang ditanam pertama kali sudah tumbuh tinggi. Kekompakan harus terjaga,” kata Khairul Saleh, Sekretaris Bahtera Melayu, lembaga swadaya masyarakat di Bengkalis.
Lembaga ini berkolaborasi dengan Parit Segagah dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Mereka 2 kali meraih Kalpataru, 2008 dan 2025.

Penjaga iklim
Kelompok Parit Segagah berkontribusi pada upaya menahan laju perubahan iklim. Sebuah studi yang dipublikasi dalam Jurnal Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Riau menghitung nilai serapan CO2 ekosistem mangrove Desa Kelapapati sebesar 195,13 ton CO2/hektar. Sementara nilai ekonomi serapan CO2 di kawasan itu mencapai Rp268,3 juta/tahun atau Rp29,8 juta/hektar/tahun.
Setelah 12 tahun perjalanan, kontribusi Parit Segagah berbuah dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah setempat bantu buat gapura, bangun dan semenisasi beberapa meter jalan dari depan. Termasuk mendirikan gazebo buat menarik pengunjung.
“Ide pembangunan balai ini sudah terlintas dalam pikiran, sejak 10 tahun lalu.”
Berkat kontribusi pengurangan emisi itu pula, sejumlah program dari mancanegara mengalir. Di antaranya, Indonesia Folu Net Sink 2030, Mangrove Aliance Project (MAP) dan Global Mangrove Alliance (GMA). Para peneliti dari Jepang, Inggris, Jerman, Belanda hingga Spanyol, juga telah menapak kaki di sana.
“Sampai diundang ke Malaysia,” kata Rio, cerita pengalaman belajar bersama kelompok masyarakat di negeri tetangga.
Meski program itu bersumber dari pendanaan global, pelaksanaannya tetap mengutamakan peran dan partisipasi langsung anggota kelompok dan warga setempat.
“Alhamdulilah. Sejauh ini, adik-adik banyak terlibat rehabilitasi, konservasi. Kami jaga dan rawat.”
Keberadaan sarana prasarana di mangrove Kelapapati menambah kedatangan pengunjung. Setelah listrik menerangi hutan itu, orang-orang memancing ikan hingga malam hari.
Kegiatan itu, menurutnya, secara tak langsung mencegah pencurian dan penebangan mangrove yang terkadang masih terjadi. Walau tak semasif dulu, upaya penjagaan ini masih banyak keterbatasan. Sebab itu, dia senang saja orang-orang datang dan berlama-lama memancing ikan.
Apalagi, memancing di kawasan mangrove Kelapapati tambah nyaman. sejak, Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti) lewat program pengabdian dosen Politeknik Bengkalis—sebuah perguruan tinggi vokasi di pulau kecil dan terluar itu—menyumbang pembangunan gazebo di tepian Sungai Pedekik sebagai spot pancing pada 2025.

Tak berpuas diri
Walau sudah memulihkan 14 hektar mangrove, Kelompok Parit Segagah masih akan terus perluas kepeduliannya terhadap lingkungan. Mereka telah merancang rehabilitasi 35 hektar area mangrove di sepanjang bibir pantai Kelapapati yang mereka sebut sebagai zona satu.
Rio mengutip analisis Yayasan Gambut yang menyebut 10 tahun terakhir, sekitar 10 hektar daratan Kelapapati yang berhadapan dengan laut itu, telah terkikis abarasi. Kelak, dia, menargetkan ekosistem mangrove Kelapapati jadi paru-paru Bengkalis.
“Dulu, berpikir kalau tak ada mangrove lagi, apa benteng ke depan? Apa lagi tinggal tepi pantai. Rumah dekat laut. Ekosistem di situ semua. Kalau tak ada mangrove, mungkin tak ada dengar suara burung ini lagi.”
Meski anti dengan penebangan mangrove besar-besaran, tapi dia makuml kebutuhan masyarakat terhadap pohon itu. Terutama nelayan, yang perlu kayu pancang untuk mengikat tali perahu dan saat melaut. Serta kebutuhan kayu bakar saat hajatan besar.
Karena itu, Kelompok Parit Segagah menyediakan area lebih kurang 6.000 m2 khusus untuk pengambilan kayu. Dulunya, area itu adalah tanah masyarakat yang telah tandus dan mereka tanami mangrove kembali. Masyarakat yang menebang wajib menanam kembali.
Seiring waktu, sudah tertanam puluhan ribu batang mangrove. Meski begitu, dia dan anak-anak muda di Kelompok Parit Segagah tengah menyiapkan 2 rumah bibit baru, menambah jumlah tempat pembibitan yang sudah ada.
Mereka tak pernah jual bibit. Siapa butuh, boleh mengambil dan tanam sebanyak mungkin. Bila hendak menggantikannya dengan uang, tak ada harga khusus. Secara moral, kesediaan menanam mangrove saja sudah membantu masyarakat dan lingkungan.
Nagarajan Rengasamy, Manager Program Kehutanan dan Pesisir GEC, mengakui tanpa Kelompok Parit Segagah, mangrove Kelapapati takkan pernah ada lagi.
Camat Bengkalis, Rafli Kurniawan, juga apresiasi Kelompok Parit Segagah yang peduli terhadap pulau kecil rentan abrasi tersebut. Dia, mengakui tanpa Rio kuadrat—Rio Fernandes dan Rio Sempana—dan kelompoknya, pohon-pohon mangrove di Kelapapati takkan tumbuh menjulang seperti saat ini.
“Hari ini, lingkungan yang dijaga dan dirawat benar-benar beri dampak luar biasa pada masyarakat. Tidak hanya benteng abrasi tapi kehadiran biota,” ujarnya.
Pemerintah Bengkalis, lanjutnya, juga peduli perlindungan lingkungan. Dia, memaparkan beberapa program. Di antaranya, bersih desa dan kelurahan (Bedak) serta Bank Saku alias bank sampah desa kelurahan.
Dukungan Pemerintah Bengkalis tidak hanya fisik dan materi. Tahun lalu, Bupati Kasmarni, meluncurkan Program Bengkalis Lestari. Inisiatif perkuat tata kelola sumber daya alam, ketahanan ekologis pesisir, dan pembangunan hijau. Kawasan mangrove Kelapapati jadi lokasi peluncuran dengan penanaman bakau, waktu itu.

*****