- Adalah Harisyah, yang gigih berupaya memulihkan hutan mangrove di Kampung Tanjung Kuras, Kecamatan Singai Apit, Siak, Riau.
- Harisyah bentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) Belatram, akronim dari Bela Adat Tradisi dan Alam. Awalnya, Belatram yang resmi berdiri pada 2022, hanya fokus pada kegiatan kebudayaan Melayu saja.
- Hilangnya tutupan mangrove di Tanjung Kuras, terutama di Beting Selayang, tak lepas dari keberadaan bangsal atau dapur arang di Bengkalis. Letaknya persis di seberang sungai kampung pesisir itu.Penyebab lain, kawasan laut Sungai Apit kerap tercemar tumpahan minyak.
- Saat ini, Tanjung Kuras susun aturan kampung soal pelestarian dan perlindungan mangrove. Haris terlibat dalam penyusunan peraturan kampung itu. Salah satu bahasan soal pencemaran air sungai, lalu lintas tongkang dan kapal tunda (tugboat) yang juga berdampak pada tegakan mangrove di bahu Sungai Siak.
Petang awal Juli lalu, Harisyah belum juga selesai dengan pekerjaannya. Di tepi Sungai Siak, dia mengayunkan parang, menebas ranting dan menancapkan puluhan batang kayu, berderet, jarak sekitar 1,5 meter.
Harisyah bekerja sejak pagi. Muka berpeluh. Baju pun basah. Lumpur sudah menempel di celananya.
Dia sedang siapkan lahan untuk tanam mangrove. Lokasi itu tak jauh dari rumahnya di Kampung Tanjung Kuras, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau.
Persiapan itu untuk sambut tamu dari Malaysia dan Pekanbaru. Pada 6 Juli 2026 itu akan tanam mangrove.
Saat momen tiba, puluhan warga dan siswa sekolah—kebetulan hari itu masih libur kenaikan kelas—berbondong-bondong mereka menyusuri lumpur, mengisi lubang tanam dengan bibit bakau yang sudah tertumpk di sana.
“Lokasi ini juga akan kita jadikan rumah bibit baru. Anak-anak generasi alam akan lebih dekat belajar dan memahami mangrove. Bermain sekaligus berkegiatan,” katanya.
Pria 53 tahun ini, berharap ada generasi. Untuk itu, dia libatkan anak-anak. Kalau sudah usia dewasa, bahkan berumah tangga, orang-orang akan sibuk memikirkan ekonomi.
“Pak Haris, sudah tua. Beberapa tahun lagi tidak tahu kondisi tenaganya. Tapi kalau adik-adik ini, pada fase pertumbuhan sudah mengetahui mangrove, harapannya ke depan ikut peduli dengan alam yang ada di desanya,” kata Mulyadi, Direktur Yayasan Gambut.
Yayasan Gambut (YG) gandeng Haris untuk rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat. Program ini kerjasama Global Environment Center (GEC) dukungan Aramco Asia Singapura. Tanjung Kuras, adalah satu dari empat lokasi target, tiga di Bengkalis.
Kolaborasi di Tanjung Kuras sudah berlangsung lama. Sebelum pemulihan mangrove, kerja sama lingkungan ini juga pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satunya, dengan pembangunan sekat kanal demi menjaga air gambut.
“Tidak hanya menanam. Juga, ada serial peningkatan kapasitas dan alternatif ekonomi, seperti pembuatan gula nipah,” kata Mulyadi.
Menurut dia, mangrove adalah benteng alami. Masalahnya, jika mangrove sudah ketemu gambut, risiko laju abrasi makin parah. Sebab itu, katanya, mereka ingin berkontribusi.
“Mudah-mudahan juga beri dampak positif.”
Lokasi penanaman yang Haris siapkan, satu contoh. Area ini kurang dari 500 meter lagi dari sekolah dasar. Pada musim pasang besar—biasa jelang ujung hingga awal tahun—air Sungai Siak bahkan merendam lantai rumah warga selama beberapa hari.
Tak ada lagi lapisan pohon bakau di kawasan itu, kecuali beberapa tanaman nipah yang juga rentan tergerus. Ini adalah zona paling belakang dalam struktur kawasan mangrove.
Padahal lokasi ini pusat dermaga perahu nelayan Tanjung Kuras. Sebab itu, sebagai permulaan rehab, Haris siapkan 200 bibit bakau.
“Saya harap tumbuh baik. (semoga upaya) ini merestui masyarakat untuk buka peluang dapatkan banyak rezeki,” kata Nagarajan Rengasamy, Manager Program Kehutanan dan Pesisir, GEC, dari Malaysia.
Raj senada dengan Haris. Tanam mangrove juga tanam harapan. Untuk generasi akan datang, perlu warisan sesuatu. Bukan duit, tetapi alam yang baik.
“Hari ini, akan dimulai. Suatu hari akan tumbuh baik dan jadi solusi
bagi dunia.”

Tak mudah
Haris, sebetulnya sudah lama memikirkan nasib hutan mangrove di kampung kelahirannya. Waktu itu, sekitar 2011, dia berkesempatan ikut pelatihan budidaya udang dan ikan air tawar di Kepulauan Meranti, kabupaten terluar di Riau.
“Peserta utusan tiap kabupaten di Riau. Saya mewakili Siak. Pelatihan satu bulan penuh. Dari nol sampai penebaran benur,” kenang Haris.
Saat itu, dia aktif di kelompok tani dan sering bersinggungan dengan penyuluh perikanan.
Haris terkesan dengan pembelajaran fungsi alami mangrove sebagai penyaring kandungan racun dari air laut, sebelum masuk ke embung untuk menjernihkan hingga mendekati bening.
Selanjutnya, air mengalir ke kolam udang atau ikan sebagai wadah budi daya.
Dalam benaknya, Haris menyadari ternyata mangrove juga perlu dipelihara di sekitar area budidaya perikanan.
“Di situlah mulai belajar sedikit demi sedikit pengetahun tentang mangrove.”
Sepulang pelatihan, dia tidak langsung praktik di kampung. Dia bergerilya mendekati sejumlah kelompok mangrove di Siak. Belajar pembibitan hingga cara membangun kelompok masyarakat.
Makin banyak pengetahuan, makin kuat tekad Haris. Hanya saja, semangat itu tak serta merta menyebar ke seluruh warga di kampung sendiri. Sebab, aktivitas semacam ini belum familiar di Tanjung Kuras.
Hampir tujuh tahun, Haris, menunggu aksi nyata itu benar-benar terwujud. Sembari tetap menjalankan rutinitas harian sebagai petani sawit dan nanas.
Pada 2018, Haris terpilih jadi Kepala Kampung alias Penghulu Tanjung Kuras. Ini, jabatan setara kepala desa. Kesempatan ini menandai mulainya upaya pemulihan mangrove, berkutat pada tanam dan tambal sulam.
Dengan kewenangan itu pula, Haris lebih leluasa menggerakkan warga terlibat aktif pelihara mangrove. Dia bentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) Belatram, akronim dari Bela Adat Tradisi dan Alam.
Awalnya, Belatram yang resmi berdiri pada 2022, hanya fokus pada kegiatan kebudayaan Melayu saja. “Diharapkan jadi ujung tombak dari lembaga kerapat adat,” kata Haris, konsisten gondrong.
Dia alokasikan anggaran desa untuk upaya pemulihan mangrove. Lagi pula kebijakan ini sudah sejak UU 6/2014 tentang desa. Lalu secara teknis lewat peraturan tahunan yang dikeluarkan kementerian terkait.
Anggaran itu antara lain, untuk membiayai pelatihan pemetaan partisipatif kawasan mangrove oleh Pokmas, termasuk, kegiatan pada area target pemulihan.
Saat itu, untuk pertama kalinya, Tanjung Kuras terima bantuan penanaman mangrove dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Indragiri Rokan, sekitar 10.000 bibit.
Perjalanan Haris tidak selalu mulus. Apalagi, setelah dia tak terpilih jadi penghulu untuk periode kedua.
Pokmas Belatram pun harus dia aktifkan kembali. Praktis, seorang diri tanpa embel-embel jabatan, dia harus berjuang lagi menggerakkan warga.
“Tetap istikamah dengan apa yang dianggap baik. Jalan terus. Sendiri pun tetap jalan.”
Haris mafhum masih ada warga yang belum tahu fungsi mangrove.
Walau begitu, Haris kerap dan berulang kali beri penjelasan. Baik langsung maupun dalam momen tertentu.
Begitu juga dengan menggandeng lembaga swadaya masyarakat dan rekannya sesama pegiat lingkungan. Ia jadi titik balik Haris melanjutkan perjuangannya.
Sekitar 2024, dia kembali terhubung dengan Yayasan Gambut, Global Environment Centre, dan Aramco Asia Singapura.
“Gairah itu bangkit lagi,” kata Haris, yang menanam kopi liberika di sela-sela kebun karet.

Mulai rasakan manfaat
Penanaman Haris arahkan ke Beting Selayang. Kawasan ini pantai satu-satunya di Siak yang nyaris kehilangan tutupan mangrove seluas 25 hektar. Adapun luas betingnya sekitar tujuh hektar.
Di samping memulihkan kembali mangrove, Haris punya harapan besar. Kelak, kawasan itu banyak orang kunjungi alias jadi tujuan wisata baru dan menciptakan ekonomi alternatif warga.
“Kita menghargai ciptaan Tuhan dengan keindahan alam dan potensi besar untuk Kampung Tanjung Kuras. Sungai Siak, di muaranya terdapat pantai yang layak jadi tempat bermain.”
Haris merancang konsep wisata bahari di pesisir Timur Siak. Sembari melestarikan kembali mangrove, akan ada kegiatan tradisi lokal. Mengingat, kumpulan orang-orang di Belatram juga bergiat di seni.
Beting Selayang, memiliki daya tarik alam tersendiri. Pantai ini juga bersinggungan dengan gambut. Jadi, menyelamatkan mangrove berarti turut melindungi daratan yang rentan rapuh itu.
Keunikannya, lokasi yang juga disebut Tanjung Layang itu memiliki tiga persimpangan arus.
Haris juga menangkap sejumlah cerita sejarah dari para tetua kampung. Dulu, ada tasik kecil dengan hasil ikan melimpah. Sekarang, tak ada lagi.
Menurut dia, hal itu tak lepas dari dampak kerusakan mangrove.
Hilangnya tutupan mangrove di Tanjung Kuras, terutama di Beting Selayang, tak lepas dari keberadaan bangsal atau dapur arang di Bengkalis. Letaknya persis di seberang sungai kampung pesisir itu.
Waktu masih marak pembuatan arang bakau, banyak warga Tanjung Kuras bekerja di sana. Mereka juga menebang mangrove sedikit demi sedikit untuk jual ke pemilik tungku. Begitu juga untuk beberapa keperluan yang berhubungan dengan mangrove.
Penyebab lain, kawasan laut Sungai Apit kerap tercemar tumpahan minyak. Di sana, ada penambangan minyak bumi.
Mereka pernah alami hampir separuh dari 5.000-an bibit rusak karena tumpahan minyak. Rumah bibit Beting Selayang jauh dari rumah, dia baru menyadari ketika hendak menanam, pasca Lebaran lalu.
Masalah itu juga menimpa pembibitan kelompok mangrove lain di Siak. Haris telat dapat informasi ternyata ada ganti rugi dari perusahaan terkait.
Alhasil, dia berupaya selamatkan yang tersisa dengan mengkarantina terlebih dahulu di lokasi penanaman.

Abrasi tak terelakkan lagi ketika mangrove tergerus. Di Tanjung Kuras, dampak nyata sudah terjadi di Dusun III. Daerah ini berhadapan langsung dengan laut. Jarak pemukiman ke Beting Selayang, sekitar tiga kilometer.
Dusun itu, juga kerap kena angin puting beliung. Tahun ini, sudah dua kali. Ramadan lalu, putaran angin berhasil mengangkat kubah masjid. Kerusakan ringan juga menimpa rumah warga. Beberapa tahun sebelumnya, rumah warga banyak tersapu angin.
“Karena tak ada hutan mangrove untuk menyangga dan menahan angin. Sudah jadi perkebunan sawit. Angin dari laut langsung menerjang ke atas darat.”
Dampak paling masyarakat rasakan karena kerusakan dan pencemaran itu adalah susah mencari lokan dan kepiting bakau. Padahal biota ini sumber protein bahkan ekonomi. “Kalau ada pun tak seperti dulu,” kata Haris.
Setelah rehab mangrove mulai, bersamaan dengan imbauan larangan penebangan liar, lahan berangsur pulih. Pesisir Tanjung Selayang mulai hijau kembali.
Nelayan, walau bukan jadi pekerjaan utama, kembali semangat. Ikan-ikan besar kedapatan masuk ke perairan, seperti kurau, pari dan sejenisnya. Bahkan, sembilang dan udang galah.
Lokan (Geloina erosa atau Polymesoda spp.) pun muncul lagi di seputaran mangrove yang pulih. Bahkan, selain buat konsumsi, kerang besar itu sudah mereka jual.
Sekarang, orang-orang dari desa atau kampung sebelah pun, bawa karung untuk cari biota itu.
“Aku kemarin nanam (mangrove), dapat lima buah. Bersihkan sampah juga ketemu. Padahal, tak sengaja meraba-raba lumpur. Walau belum ada nilai ekonomi, tapi kalau mangrove sudah lestari, cukup untuk lauk di rumah,” kata Haris, yakin.
Haris mengaku tidak begitu paham soal jenis mangrove. Dia lebih akrab menyebut bakau, tumu dan api-api. Baginya, terpenting hutan pesisir pulih seperti semula dan biota kembali seperti dulu.
Haris sudah dua kali study tour ke Malaysia. Belajar mengelola kelompok masyarakat hingga teknis penanaman mangrove. Peluang itu jadi bahan dan modal kampanye pada warga agar tergerak untuk partisipasi.

Aturan kampung lindungi mangrove
Saat ini, Tanjung Kuras susun aturan kampung soal pelestarian dan perlindungan mangrove. Haris terlibat dalam penyusunan peraturan kampung itu. Salah satu bahasan soal pencemaran air sungai, lalu lintas tongkang dan kapal tunda (tugboat) yang juga berdampak pada tegakan mangrove di bahu Sungai Siak.
Menyaksikan kegigihan Haris, Badaruddin, Penghulu Tanjung Kuras, menyatakan, dukungan penuh pada upaya penyelamatan pesisir kampung mereka.
“Peraturan Kampung (yang sedang disiapkan) akan bahas tentang itu,” ujar Badaruddin.
Hendri Yadi, mewakili Pemerintah Kecamatan Sungai Apit, hadir dalam seremoni penanaman mangrove, menyambut baik aksi nyata Haris. Wilayah kecamatan ini hampir seluruhnya di kelilingi mangrove.
Dia katakan, tanam mangrove tidak selesai pada hari itu saja. Tuntutan pemulihan kawasan pesisir juga bagian program pemerintah daerah yang langsung turun ke kampung.
“Jadi, penanaman mangrove ini untuk masa datang. Untuk anak cucu, kelak.”
*****
Ade Saskia Ramadina, Perempuan Muda Penjaga Mangrove di Lantebung