<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=fathul-rakhman-lombok-utara&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/fathul-rakhman-lombok-utara/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 22 May 2026 11:14:36 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 11:14:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/05124036/Rifai-Wasolo-Petani-Sagu-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128230</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayat. Ia bisa jadi momen refleksi dan berbenah, termasuk bagi Indonesia. Nusantara ini punya kekayaan alam berlimpah, bahkan jadi mega biodiversity nomor dua dunia, setelah Brasil. Pusat-pusat keragaman hayati termasuk yang menjadi sumber pangan itu berada di hutan-hutan dan lahan yang menjadi ruang hidup masyarakat adat maupun masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/">Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayat. Ia bisa jadi momen refleksi dan berbenah, termasuk bagi Indonesia. Nusantara ini punya kekayaan alam berlimpah, bahkan jadi mega biodiversity nomor dua dunia, setelah Brasil. Pusat-pusat keragaman hayati termasuk yang menjadi sumber pangan itu berada di hutan-hutan dan lahan yang menjadi ruang hidup masyarakat adat maupun masyarakat lokal. Sayangnya, kekayaan keanekaragaman hayati ini masih terabaikan, seakan tak dianggap penting bahkan terus terancam eksploitasi alam skala besar yang menghancurkan hutan dan alam di negeri ini. Sejarawan Hilmar Farid mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia, salah satunya, keberagaman pangan. Namun, fakta paling fundamental ini seringkali tidak pernah disebut dalam dokumen kebijakan. Dia contohkan sagu. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek periode 2019–2024 itu mengatakan, 85% cadangan sagu dunia ada di Indonesia. Tak hanya sagu, Indonesia mempunyai lebih dari 100 jenis karbohidrat lokal dari umbi-umbian seperti ubi, telas sampai pisang, sukun dan lain-lain. Ironisnya, Indonesia masih mengimpor pangan berbagai komoditas dalam jumlah besar dari gandum, beras, kedelai dan lain-lain. Pada 2024 saja, data Hilmar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BPS, dan Badan Pangan Nasional menunjukkan,  Indonesia mengimpor gandum 11,7 juta ton alias 100% bulir yang kemudian proses jadi terigu yang memenuhi pasaran Indonesia ini impor. Dia menilai,  ini bukan soal ketidakmampuan, melainkan ada salah kaprah pola pikir yang terbentuk dari budaya makan. Sistem pangan diatur terpusat dan seragam. Pada era Orde Baru, misal, seluruh warga Indonesia dipaksa mengonsumsi beras. Secara kultural, hal ini dilanggengkan dengan guyonan, “orang Indonesia belum makan jika belum makan nasi.” Padahal, makanan pokok&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/refleksi-di-hari-kehati-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sebaran Ular Berbisa Makin Mendekati Manusia, Karena Bumi yang Menghangat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 10:18:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003614/ular-cobra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128232</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perubahan iklim tidak hanya mengancam cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, atau musim kering yang panjang. Ancamannya merambah jauh lebih dalam, hingga ke ekosistem dan perilaku satwa liar yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia. Salah satu dampak yang kini mulai mendapat perhatian serius para ilmuwan adalah pergeseran habitat ular berbisa. Seiring suhu bumi terus menghangat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/">Sebaran Ular Berbisa Makin Mendekati Manusia, Karena Bumi yang Menghangat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perubahan iklim tidak hanya mengancam cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, atau musim kering yang panjang. Ancamannya merambah jauh lebih dalam, hingga ke ekosistem dan perilaku satwa liar yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia. Salah satu dampak yang kini mulai mendapat perhatian serius para ilmuwan adalah pergeseran habitat ular berbisa. Seiring suhu bumi terus menghangat, ratusan spesies ular berbisa di seluruh dunia mulai berpindah ke wilayah-wilayah baru, dan banyak di antaranya semakin dekat dengan permukiman manusia. Risiko gigitan ular terus meningkat di seluruh dunia seiring reptil-reptil ini berpindah habitat untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang semakin tinggi dan tekanan manusia yang kian besar. Demikian temuan sebuah studi terhadap ular-ular berbisa yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ular Weling (Bungarus candidus) di Karawang, Jawa Barat. Salah satu mangsa King Cobra| Gambar oleh By Wibowo Djatmiko (Wie146) &#8211; Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=21654593 Ular obra ludah di Afrika, yaitu jenis kobra yang memiliki kemampuan unik untuk menyemprotkan bisa ke arah mata atau wajah ancaman/predator, ular viper di Eropa dan Amerika Selatan, moccasin cottonmouth (Agkistrodon piscivorus) di Amerika Utara, serta krait di Asia kini semakin sering bersentuhan dengan manusia akibat gangguan iklim dan perubahan bentang alam. Para peneliti memperkirakan tren ini akan semakin menguat dalam beberapa dekade ke depan, seiring ular-ular menyesuaikan wilayah jelajahnya untuk menghindari kondisi yang lebih panas. Sebagian besar spesies akan mengalami penyusutan habitat, namun sejumlah ular paling mematikan justru diprediksi akan memperluas wilayahnya; memasuki kawasan-kawasan yang belum pernah mereka huni sebelumnya dan berpotensi mengancam miliaran orang. &#8220;Tumpang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/sebaran-ular-berbisa-makin-mendekati-manusia-karena-bumi-yang-menghangat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Mitigasi Depresi Genetik Satwa Liar Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 06:56:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Randi Syafutra *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/30021003/sumatran-rhinos-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128222</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Depresi perkawinan sekerabat (inbreeding depression) merupakan ancaman biologis serius yang berwujud pada penurunan tingkat kebugaran dan viabilitas populasi satwa liar. Kondisi kritis ini terjadi ketika individu-individu dengan kekerabatan genetik yang dekat bereproduksi, memicu akumulasi alel homozigot resesif yang membawa sifat merugikan bagi generasi keturunannya (Frankham, 2015). Secara ekologis, fenomena ini didorong oleh berbagai faktor pembatas, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/">Opini: Mitigasi Depresi Genetik Satwa Liar Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Depresi perkawinan sekerabat (inbreeding depression) merupakan ancaman biologis serius yang berwujud pada penurunan tingkat kebugaran dan viabilitas populasi satwa liar. Kondisi kritis ini terjadi ketika individu-individu dengan kekerabatan genetik yang dekat bereproduksi, memicu akumulasi alel homozigot resesif yang membawa sifat merugikan bagi generasi keturunannya (Frankham, 2015). Secara ekologis, fenomena ini didorong oleh berbagai faktor pembatas, termasuk fragmentasi habitat akibat masifnya ekspansi infrastruktur, penyusutan drastis ukuran populasi, isolasi geografis, serta sistem manajemen perkawinan pada fasilitas ex situ yang belum terstruktur dengan optimal. Konsekuensinya sangat fatal, mencakup penurunan tingkat fertilitas, lonjakan mortalitas usia muda, peningkatan kerentanan terhadap patogen penyakit, munculnya cacat anatomi, hingga mempercepat risiko kepunahan di tingkat lokal. Data observasi lapangan secara gamblang menunjukkan pola degradasi kesehatan genetik pada beberapa spesies kunci di Indonesia. Sebagai contoh, populasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang terkurung di Taman Nasional Ujung Kulon, menghadapi keterbatasan area jelajah, yang pada gilirannya menyempitkan pilihan pasangan kawin nonkerabat. Secara klinis, temuan mencatat lahirnya anakan dengan kelainan anatomi bawaan, seperti ketidaksempurnaan bentuk ekor dan kerutan abnormal di area mata, serta penyusutan morfometri tubuh pada generasi baru yang mengindikasikan kuatnya degenerasi genetik (Setiawan et al., 2018). Kondisi serupa mengancam kelestarian badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Pemisahan populasi ke dalam kantung-kantung habitat yang terisolasi secara drastis menekan probabilitas perjumpaan antarindividu reproduktif. Imbasnya, terlihat pada anjloknya tingkat keberhasilan reproduksi betina dan tingginya prevalensi patologi reproduksi, seperti kemunculan tumor rahim akibat tidak terjadinya ovulasi dalam jangka waktu yang lama (Schaffer et al., 2020). Sementara itu, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) juga menghadapi krisis genetik berupa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/opini-mitigasi-depresi-genetik-satwa-liar-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita dari Y. Eva Tan Fellows</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 04:06:40 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17044414/FOTO-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=128220</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dampak kerusakan lingkungan yang semakin nyata membuat jurnalisme lingkungan berkualitas makin penting. Namun, peliputan lingkungan menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, menyusutnya kebebasan pers, hingga minimnya peluang bagi jurnalis muda. Padahal banyak persoalan yang sangat mendesak di wilayah-wilayah yang paling terdampak oleh krisis iklim. Sebagai respon atas tantangan ini, Mongabay menginisiasi Program Fellowship [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/">Cerita dari Y. Eva Tan Fellows</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dampak kerusakan lingkungan yang semakin nyata membuat jurnalisme lingkungan berkualitas makin penting. Namun, peliputan lingkungan menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, menyusutnya kebebasan pers, hingga minimnya peluang bagi jurnalis muda. Padahal banyak persoalan yang sangat mendesak di wilayah-wilayah yang paling terdampak oleh krisis iklim. Sebagai respon atas tantangan ini, Mongabay menginisiasi Program Fellowship Peliputan Konservasi Y. Eva Tan di Indonesia. Program ini memberi kesempatan bagi jurnalis dari kawasan tropis yang kaya keanekaragaman hayati untuk meliput isu lingkungan penting, sekaligus memperoleh pelatihan, pengalaman, dan kredibilitas untuk mengembangkan karier mereka. The post Cerita dari Y. Eva Tan Fellows appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/cerita-dari-y-eva-tan-fellows/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Nelayan Ketika Perairan Pesisir Bekasi Kian Tercemar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 03:30:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Indah Suci Safitri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/21013416/Foto-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128137</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air laut di perairan pesisir Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Jawa Barat, berwarna cokelat hingga kehitaman. Keruh. Di sekitar banyak kapal tongkang dan kapal nelayan bersandar. Sejak 2017, nelayan mengeluhkan pencemaran yang menyebabkan tangkapan ikan  kian menurun. Akhir April lalu, perahu nelayan berukuran satu gross ton ramai lalu lalang di muara sungai di Desa Pantai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/">Nestapa Nelayan Ketika Perairan Pesisir Bekasi Kian Tercemar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air laut di perairan pesisir Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Jawa Barat, berwarna cokelat hingga kehitaman. Keruh. Di sekitar banyak kapal tongkang dan kapal nelayan bersandar. Sejak 2017, nelayan mengeluhkan pencemaran yang menyebabkan tangkapan ikan  kian menurun. Akhir April lalu, perahu nelayan berukuran satu gross ton ramai lalu lalang di muara sungai di Desa Pantai Harapanjaya. Abdul Rahman, nelayan Pantai Harapanjaya sedang bersiap melaut membawa kotak es dan alat tangkap udang, sore itu. Dia menjaga agar bubu tak tersangkut kapal tongkang. Setelah 16 jam berlalu, pria yang sudah belasan tahun menjadi nelayan itu menghela napas berat. Rahman hanya membawa hasil tangkapan sedikit, satu kilogram udang peci berukuran kecil hingga sedang. “Ini gak wajar, 30 meter bubu udang isinya cuman sekilo[gram],” kata Rahman pada April lalu. “Paling segini harganya cuman Rp30.000.” Sedimentasi laut di wilayah pesisir Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat akibat limbah industri. Foto: Indah Suci Safitri/ Mongabay Indonesia &lt;style=&#8221;font-size: 16px;&#8221;&gt;Penurunan hasil tangkap ini mulai dia rasakan sejak 2017. Melaut pun jadi lebih jauh. Dulu, dia tak perlu melaut hingga 4 kilometer karena dengan mudah dapatkan ikan di pesisir. “Dulu, dipinggir aja kita udah dapat udang,” kenangnya. Dia yakin, kondisi ini terjadi karena pencemaran laut dan pesisir akibat aktivitas industri. Dia menduga ini berasal dari limbah batubara PLTU Babelan dengan pengelola PT Cikarang Listrindo Tbk. Kelompok Nelayan Pantai Harapanjaya pun merasa hal sama dengan Rahman. Muhammad David, Ketua Koperasi Nelayan Pantai Harapanjaya mengatakan, sempat mendatangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi mengadukan sedimentasi yang menghalangi jalur tangkap nelayan itu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/nestapa-nelayan-ketika-perairan-pesisir-bekasi-kian-tercemar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/#respond</comments>
					<pubDate>22 Mei 2026 02:33:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/21111755/IMG_7995-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128173</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kolam kecil berukuran 4&#215;5 meter dan kedalaman tiga meter melengkapi sawah-sawah di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Bantul, Yogyakarta. Para petani menyebutnya sebagai embung penampung hujan. Hingga awal Mei, hujan masih mengguyur Yogyakarta. Petani di Nawungan memanfaatkan embung untuk mengairi bawang merah yang mereka tanam sejak April. “Sebelum ada embung hujan ini saya cuma menanam padi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/">Embung Hujan, Cara Petani Bantul Hadapi Kekeringan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kolam kecil berukuran 4&#215;5 meter dan kedalaman tiga meter melengkapi sawah-sawah di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Bantul, Yogyakarta. Para petani menyebutnya sebagai embung penampung hujan. Hingga awal Mei, hujan masih mengguyur Yogyakarta. Petani di Nawungan memanfaatkan embung untuk mengairi bawang merah yang mereka tanam sejak April. “Sebelum ada embung hujan ini saya cuma menanam padi gogo sama singkong aja, hasilnya serba pas-pasan. Itu sekitar 1980-1990-an,” kata Sabaryanti, petani perempuan di Nawungan. Lahan di sana memang berada di wilayah perbukitan kering. Walhasil, air hujan menjadi menjadi satu-satunya sumber pengairan area persawahan yang berbatasan langsung dengan Gunungkidul di sisi timurnya ini. Sejatinya,  ada dua mata air di Nawungan  tetapi debitnya tak tak memungkinkan untuk mengairi seluruh area sawah. Kondisi ini menyebabkan petani di sana tak mungkin menanam saat kemarau, sebelum muncul inisiatif embung hujan di awal milenium. Berbekal semangat gotong royong, embung hujan mulai banyak untuk petani di sana. Sabariyanti pun masih ingat saat dia bikin kolam-kolam itu  bersama petani lain pada era 2000-an itu. “Waktu itu bikinnya kerja bakti, jadi sistemnya gantian. Seperti saya bantu dulu ke petani lain, setelah rampung baru dibantu yang lainnya menggarap di lahan saya,” katanya. Setelah embung jadi, Sabaryanti pertama kali memanfaatkan untuk menanam tembakau. Komoditas itu dia pilih karena harga tinggi dan tak butuh banyak air. Seiring waktu, petani menambah kapasitas dengan memperlebar ukuran embung. Termasuk milik Sabaryanti  kini memiliki kapasitas 80 meter kubik hingga mampu menopang pertanian bawang merah dan cabai yang dia budidayakan selama musim kemarau. Salah satu embung hujan yang digunakan petani&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/22/embung-hujan-cara-petani-bantul-adaptasi-kekeringan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jawa Timur Gerbang Perdagangan Emas Ilegal  di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 10:59:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20091256/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-00.19.16-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128076</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas, gudang berkelir putih itu terlihat biasa saja, tak ubahnya bangunan lain di komplek kawasan industri Berbek, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Namun, penggeledahan oleh Bareskrim Polri pada tengah Maret lalu mengubah kesan tersebut. Hari itu, Kamis (12/3/26) tim penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah kantor dan gudang PT Simba Jaya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/">Jawa Timur Gerbang Perdagangan Emas Ilegal  di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas, gudang berkelir putih itu terlihat biasa saja, tak ubahnya bangunan lain di komplek kawasan industri Berbek, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Namun, penggeledahan oleh Bareskrim Polri pada tengah Maret lalu mengubah kesan tersebut. Hari itu, Kamis (12/3/26) tim penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah kantor dan gudang PT Simba Jaya Utama (SJU) terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang rugikan negara hingga Rp25, 8 triliun. Praktik lancung yang libatkan jaringan gelap dan saling terhubung; tambang emas ilegal, industri pemurnian dan pelaku perdagangan. Hingga pertengahan Mei, lima orang polisi tetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Mereka adalah Teddy Wijaya, pemilik toko emas di Nganjuk, DW dan BSW, serta dua tersangka terbaru, DHB dan VC. “Berdasarkan alat bukti yang cukup, penyidik menetapkan dua tersangka baru yang diduga kuat turut serta dalam  pertambangan tanpa izin dan tindak pidana pencucian uang,” kata Ade Safri Simanjuntak, Direktur Dittipideksus dalam keterangan resminya, Rabu (13/5/26). Dia  katakan, DHB merupakan Direktur SJU periode 13 Agustus 2021-14 September 2022. Sedangkan VC, adalah Direktur SJU dari 14 September 2022- sekarang. “DHB diketahui merupakan putra dari SB alias A, yang sebelumnya diduga memiliki peran penting dalam jaringan tersebut,” katanya. Penelusuran Mongabay, inisial DHB merujuk pada Denny Handoko Bahar, anak Siman Bahar alias Bong Kim Phin, pemilik PT Loco Montrado (LM), perusahaan pemurnian emas yang berlokasi di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Sedangkan VC, adalah Valenthio Chandra, staf administrasi di LM. Dalam data Direktorat Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, pada 18 Mei lalu, VC sebagai direktur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/21/jawa-timur-gerbang-perdagangan-emas-ilegal-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kepiting Tapal Kuda, Hewan Darah Biru yang Bukan Kepiting</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 09:50:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/03/22040752/BELANGKAS-MATI-TERLILIT-JARINGFAM_6897-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128164</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Namanya sering dikaitkan dengan kepiting, namun ia justru bukan bagian dari kepiting. Kepiting tapal kuda merupakan fosil hidup dari periode Ordovisium, periode 485,4 juta hingga 443,8 tahun lalu. Penamaan kepiting muncul karena kemiripan fisik hewan laut tersebut dengan kepiting. Di Indonesia, hewan purba ini dikenal dengan sebutan banyak nama. Selain belangkas, nama lain yang populer [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/">Kepiting Tapal Kuda, Hewan Darah Biru yang Bukan Kepiting</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Namanya sering dikaitkan dengan kepiting, namun ia justru bukan bagian dari kepiting. Kepiting tapal kuda merupakan fosil hidup dari periode Ordovisium, periode 485,4 juta hingga 443,8 tahun lalu. Penamaan kepiting muncul karena kemiripan fisik hewan laut tersebut dengan kepiting. Di Indonesia, hewan purba ini dikenal dengan sebutan banyak nama. Selain belangkas, nama lain yang populer adalah mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Hewan tersebut menjadi bagian dari Ordo Xiphosura. Dalam buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda” terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, tahun 2025, dijelaskan tiga spesies kepiting tapal kuda di Indonesia. Ada Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda. Satu spesies lain yang tidak ada di Indonesia adalah kepiting tapal kuda amerika (Limulus polyphemus). Jenis ini berada di sepanjang perairan Atlantik Amerika Utara, sementara tiga lainnya ada di perairan Indo-Pasifik yang masuk dalam kawasan Asia Tenggara. Kepiting tapal kuda yang dikenal juga dengan nama belangkas. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Khusus di Indonesia, sebarannya ada di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (Kalimantan Timur); Aceh; Medan, Sibolga, dan Langkat (Sumatra Utara); Bintan (Kepri); Rokan Hilir (Riau); Tanjung Jabung (Jambi); Bangka; dan Sambas (Kalimantan Barat). Lalu, Barru (Sulawesi Selatan); Muna (Sulawesi Tenggara); Serang dan Pandeglang (Banten); Subang, Indramayu, dan Cirebon (Jawa Barat); Brebes, Tegal. Kendal, Pati, Jepara, dan Demak (Jawa Tengah); Tuban, Situbondo, Gresik dan Bangkalan (Jawa Timur), dan Sumatra Barat. Kepiting tapal kuda sudah mendapatkan perlindungan penuh di Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.12/Kpts-II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999. Ketiganya dilindungi bersama dengan sumber genetik. Pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/21/kepiting-tapal-kuda-hewan-darah-biru-yang-bukan-kepiting/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 02:30:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20173716/petani-perempuan-peri-urban-sleman-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128108</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Adaptasi krisis iklim tidak akan berjalan tanpa inovasi yang tepat. Peran riset dan teknologi pun krusial untuk menyediakan inovasi yang memudahkan kelompok-kelompok rentan. Hal ini tergambar dalam knowledge and innovation exchange (KIE) Jakarta Summit 2026, akhir April. Salah satunya dalam bentuk The Coupled Seaweed and Solar Salt Farming (CSSSF) di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Teknologi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/">Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Adaptasi krisis iklim tidak akan berjalan tanpa inovasi yang tepat. Peran riset dan teknologi pun krusial untuk menyediakan inovasi yang memudahkan kelompok-kelompok rentan. Hal ini tergambar dalam knowledge and innovation exchange (KIE) Jakarta Summit 2026, akhir April. Salah satunya dalam bentuk The Coupled Seaweed and Solar Salt Farming (CSSSF) di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Teknologi ini memadukan tambak garam tradisional menjadi kawasan produksi terpadu yang menghasilkan air bersih, energi hijau, dan pangan berkelanjutan secara mandiri. Inisiatif ini hadir dari tim peneliti Universitas Trunojoyo, the University of Newcastle, the Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) University, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia membuat petambak garam tradisional bisa dapat penghasilan tambahan dari budidaya rumput laut, listrik dari tenaga surya, juga air bersih dari desalinasi air laut. Fathur Rokhim, petambak garam tradisional, menyebut,  krisis iklim membuatnya dan banyak petani garam tradisional lain nelangsa. Pasalnya, selain membuat budidaya yang hanya bisa mereka lakukan dalam tujuh bulan musim kemarau ini rentan, praktik mereka yang mengandalkan tenaga manusia dan pompa diesel ini pun tinggi emisi. Sementara, dia tidak pernah terpikirkan punya penghasilan lain, termasuk rumput laut. “Selama ini petani garam belum pernah budidayakan rumput laut,” katanya. Wahyudi Agustiono, peneliti Universitas Trunojoyo, menjelaskan, prototype ini menampung air laut yang petambak garam proses secara manual ke dalam kolam yang sudah berisi rumput laut. Kemudian  memisahkan dengan desalinasi yang membantu kristalisasi lebih cepat, sehingga panen pun lebih cepat. Teknologi ini juga menggunakan sistem Organic Rankine Cycle (ORC), memanfaatkan panas untuk menghasilkan energi pengubah panas yang bisa menjadi sumber energi.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/21/pentingnya-inovasi-teknologi-untuk-adaptasi-krisis-iklim-kelompok-rentan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selina Aurora, Upaya Merawat Ingatan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>21 Mei 2026 00:30:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20150452/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-16.59.20-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=128088</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Lahan Basah, Masyarakat Adat, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selina Aurora, penulis muda asal Papua terpilih sebagai Emerging Writers Makassar International Writers Festival 2026. Melalui podcast ini, dia bercerita tentang bagaimana masa kecilnya di Merauke dan bertumbuh hingga remaja. Rawa, mangrove, sungai dan laut sudah menjadi bagian dalam ingatan dan pengalaman hidupnya sebagai orang Papua. Banyak tulisan Selina menyoroti tentang pembangunan di Papua yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/">Selina Aurora, Upaya Merawat Ingatan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selina Aurora, penulis muda asal Papua terpilih sebagai Emerging Writers Makassar International Writers Festival 2026. Melalui podcast ini, dia bercerita tentang bagaimana masa kecilnya di Merauke dan bertumbuh hingga remaja. Rawa, mangrove, sungai dan laut sudah menjadi bagian dalam ingatan dan pengalaman hidupnya sebagai orang Papua. Banyak tulisan Selina menyoroti tentang pembangunan di Papua yang seringkali merampas hak masyarakat adat dan lingkungan, terutama perempuan. Baginya, orang Papua bukan anti pembangunan, tapi mereka memiliki sikap kritis ketika pembangunan mengancam hutan dan laut yang menjadi bagian bagi masyarakat adat. Tak hanya di Merauke, Selina juga merawat ingatan tentang Papua dari pengalaman hidupnya di Waropen dan Manokwari sebagai pengajar dan pendeta. Dia punya mimpi agar cerita Papua tidak hanya dibaca dari sudut konflik atau pembangunan semata. Bagi Selina, menulis adalah cara untuk menjelaskan Papua secara lebih utuh dan jernih. Melalui sastra, ekoteologi, dan suara perempuan, dia mengajak pembaca melihat Papua sebagai rumah bersama yang menyimpan pengetahuan, martabat, dan perjuangan untuk menjaga kehidupan. Sampai ketemu episode podcast BERISIK: ruang untuk cerita dari lapangan yang berisi, ada isi dan mengajak kamu untuk berisik dari Mongabay Indonesia ! (Editor podcast: Hidayaturohman M. Suri) Selina Aurora bersama anak-anak didik di Sekolah Pendidikan Guru Jemaat (SPGJ) GKI Lahai Roi dalam pembelajaran ekoteologi dan aksi peduli lingkungan di Pulau Lemon, Manokwari. Foto: Dokumentasi Selina Aurora The post Selina Aurora, Upaya Merawat Ingatan Papua appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/05/selina-aurora-upaya-merawat-ingatan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Perjanjian Indonesia dan Amerika Serikat Ancam Kedaulatan Sumber Daya Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 23:55:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20165929/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-09.57.02-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128100</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah pihak menilai agreement of reciprocal trade (ART) antara Indonesia-Amerika menyusul kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat  bukan sekadar kesepakatan tarif. Lebih dari itu, kesepakatan itu sebagai jebakan AS yang berisiko mengubah struktur ekonomi, lingkungan, bahkan kedaulatan negara. Yani Taufik, Guru Besar Antropologi Haluoleo katakan, perjanjian yang ditandatangani 19 Februari itu tidak hanya sebagai instrumen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/">Ketika Perjanjian Indonesia dan Amerika Serikat Ancam Kedaulatan Sumber Daya Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah pihak menilai agreement of reciprocal trade (ART) antara Indonesia-Amerika menyusul kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat  bukan sekadar kesepakatan tarif. Lebih dari itu, kesepakatan itu sebagai jebakan AS yang berisiko mengubah struktur ekonomi, lingkungan, bahkan kedaulatan negara. Yani Taufik, Guru Besar Antropologi Haluoleo katakan, perjanjian yang ditandatangani 19 Februari itu tidak hanya sebagai instrumen perdagangan juga sebagai instrumen politik ekonomi yang dapat mempengaruhi kebijakan nasional. &#8220;Khususnya sumber daya alam dan lingkungan hidup,” katanya  dalam sebuah diskusi di Kendari, belum lama ini. Dia bilang, terdapat sejumlah persoalan strategis yang biasanya terjadi pada perjanjian antar negara. Pertama, national treatment, yakni ada tekanan untuk tidak mengistimewakan perusahaan nasional. Padahal, saat ini, sektor industri nasional sedang dalam fase pertumbuhan yang cukup baik. Kedua, most favoured nation (MFN), jika Indonesia memberikan perlakuan khusus pada suatu negara, maka perlakuan yang sama harus diberikan kepada semua negara mitra. Sikap ini akan mengurangi fleksibilitas diplomasi ekonomi. Ketiga, investor protection.  Regulasi lingkungan bisa dianggap sebagai hambatan investasi, berpotensi menimbulkan regulatory chill atau negara takut membuat aturan baru. Hal itu berpotensi memicu investor-state dispute settlement (ISDS). ISDS adalah mekanisme hukum internasional yang memungkinkan investor asing atau perusahaan multinasional menggugat negara atau pemerintah di hadapan arbitrase internasional jika kebijakan dianggap merugikan investasi mereka. Diskusi multipihak untuk mengkritisi perjanjian dagang internasional Indonesia yang dinilai banyak merugikan. Foto: Christ Belseran/Mongaay Indonesia. Dalam satu dasawarsa terakhir, Indonesia mendorong hilirisasi agar nilai tambah tidak keluar negeri. Namun, kebijakan ini berpotensi dianggap mengganggu investor dan dapat digugat. Nah, disinilah paradoks itu terjadi. Pasalnya, terdorong kekhawatiran digugat, pemerintah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ketika-perdagangan-global-kian-ancam-kedaulatan-sumber-daya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Torobulu Protes Tambang Nikel Makin Dekati Pemukiman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 23:37:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20232511/Torobulu-Irfan-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128114</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, pencemaran, Pertambangan, dan transisis energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>  “PT WIN (Wijaya Inti Nusantara) semakin membabi buta, menambang di pemukiman warga, apakah kalian tidak melihat penderitaan kami?” teriak Hermina, Perempuan Desa Torobulu ketika menyampaikan aspirasi di halaman Kantor DPRD Konawe Selatan, 12 Mei lalu. Kala itu, puluhan warga Torobulu dan aktivis berunjuk rasa protes terkait penambangan nikel WIN.  Mereka juga mendatangi Kantor Dinas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/">Warga Torobulu Protes Tambang Nikel Makin Dekati Pemukiman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[  “PT WIN (Wijaya Inti Nusantara) semakin membabi buta, menambang di pemukiman warga, apakah kalian tidak melihat penderitaan kami?” teriak Hermina, Perempuan Desa Torobulu ketika menyampaikan aspirasi di halaman Kantor DPRD Konawe Selatan, 12 Mei lalu. Kala itu, puluhan warga Torobulu dan aktivis berunjuk rasa protes terkait penambangan nikel WIN.  Mereka juga mendatangi Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Konawe Selatan. Warga Torobulu makin cemas karena pertambangan begitu dekat dengan rumah mereka. Pemerintah seakan tak memperhatikan keluhan ini karena hingga kini tetap membiarkan perusahaan beraktivitas tanpa memperdulikan nasib masyarakat. Ayunia Muis, perempuan Desa Torobulu mengatakan, keresahan mereka sudah berlangsung lama. Protes demi protes mereka lakukan, namun tak membuahkan hasil. “Pemerintah mengizinkan desa kami dirusak. Orang tua kami sudah hampir pada kehilangan nyawanya karena kerusakan yang dibiarkan.” Pemerintah ibarat bagian yang melindungi perusahaan agar terus beraktivitas tanpa mempedulikan masyarakat sekitar tambang.  Padahal, dampak kerusakan lingkungan sudah terpampang. “Sampai hari ini tidak ada sama sekali yang bertindak atas kerja mereka (WIN) yang terlalu parah.” Penampakan Desa Torobulu yang berdekatan dengan tambang nikel dari atas. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Perusahaan ini merupakan bagian dari Tridaya Group, yang juga menambang batubara. WIN mulai eksplorasi pada 2017 di pesisir Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra). WIN  ini mendapatkan kepastian hukum operasional melalui izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi untuk nikel dengan masa berlaku dari 29 November 2019 hingga 28 November 2029. Wilayah konsesi tambang seluas 1.931 hektar. Perusahaan ini mengambil alih lahan bekas konsesi PT International Nickel Company (kini Vale Indonesia) setelah membeli&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/warga-torobulu-protes-tambang-nikel-makin-dekati-pemukiman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Khawatir Perairan Rusak,  Nelayan Tolak Tambang Pasir di Laut Bintan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 16:03:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20152920/m3-INI-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128060</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Perikanan Kelautan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan nelayan pesisir Bintan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) untuk menolak rencana penambangan pasir laut berkedok pengelolaan sedimentasi, Selasa (12//5/26). Selain merusak ekosistem, rencana itu akan berdampak pada sumber penghidupan nelayan. Para nelayan datang menggunakan truk dari berbagai pulau dan menempuh perjalanan dua jam. “Nelayan rela tidak melaut untuk ikut menyuarakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/">Khawatir Perairan Rusak,  Nelayan Tolak Tambang Pasir di Laut Bintan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan nelayan pesisir Bintan berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) untuk menolak rencana penambangan pasir laut berkedok pengelolaan sedimentasi, Selasa (12//5/26). Selain merusak ekosistem, rencana itu akan berdampak pada sumber penghidupan nelayan. Para nelayan datang menggunakan truk dari berbagai pulau dan menempuh perjalanan dua jam. “Nelayan rela tidak melaut untuk ikut menyuarakan aspirasi penolakan, ini belum semuanya turun,” kata Rudi Herdiawan, Ketua Aliansi Nelayan Pesisir Bintan-Lingga juga koordinator aksi itu. Para nelayan bergantian berorasi dengan membentangkan spanduk bernada protes. Mereka juga membubuhkan tanda-tangan di atas spanduk berukuran besar sebagai bukti penolakan. “Kalau laut kita sudah dikeruk, pasti rusak. Kemana lagi kita mencari makan, keluarga kita hidup dari nelayan ini, anak-anak kita sekolah dari nelayan ini,” kata Mardialis,  seorang nelayan dalam orasinya. Sekitar 15 menit kemudian, Misni, Sekretaris Daerah (Sekda) Kepri keluar temui para peserta aksi. Di hadapan Misni, nelayan menyampaikan kekesalan karena merasa dibohongi. Nelayan bilang, saat aksi pertama Misni berjanji datang ke kampung nelayan untuk melihat dampak pengerukan pasir laut. Hingga aksi kedua ini, Misni tak kunjung datang. “Sebenarnya kami kecewa terhadap ibu (Misni), kami bertanya apakah pemerintah daerah ini mendukung nelayan atau mendukung perusahaan, kami minta hari ini keputusan segera untuk menghentikan aktivitas sedimentasi laut di perairan Numbing,” kata Adit orator lainnya. Misni berjanji  menemui warga di Pelabuhan Kijang Bintan, tempat nelayan menjual hasil tangkapan dan meneruskan tuntutan mereka ke pemerintah pusat. “Besok saya janji akan datang kesana bersama KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan).” Keesokan harinya nelayan kembali berkumpul di Pelabuhan Kijang. Dalam pertemuan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/khawatir-dampak-nelayan-tolak-tambang-pasir-laut-di-bintan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 08:20:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20081819/McMurdo-Dry-Valleys-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128070</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita  akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara,  atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai &#8220;tempat paling mirip Mars di Bumi&#8221;. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/">Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita  akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara,  atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai &#8220;tempat paling mirip Mars di Bumi&#8221;. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang sesungguhnya bukan ada di sabuk panas katulistiwa, bukan di hamparan pasir yang membakar telapak kaki, melainkan di ujung paling selatan planet ini, di benua yang justru dikenal sebagai lautan es: Antartika. Di sana, tersembunyi di balik barisan pegunungan yang menjulang, terdapat tiga lembah yang sudah tidak mengenal hujan selama hampir dua juta tahun. Bukan dua ratus tahun. Bukan dua puluh ribu tahun. Dua juta tahun. Ketika leluhur kita masih hidup berpindah-pindah di savana Afrika, lembah-lembah ini sudah kering. Dan sampai hari ini, kondisinya nyaris tidak berubah. Anomali di Tengah Benua Es Antartika adalah benua terbesar kelima di Bumi, menutupi sekitar 14 juta kilometer persegi, dan hampir seluruh permukaannya tertutup lapisan es yang di beberapa titik mencapai ketebalan 4.800 meter. Es itu bukan sekadar hamparan tipis, melainkan lapisan raksasa yang telah terakumulasi selama jutaan tahun. Maka wajar jika kita membayangkan Antartika sebagai tempat yang seragam: putih, beku, dan mati. Salah satu gletser yang mengapit McMurdo Dry Valleys — es ini berhenti tepat di tepi lembah, tidak pernah benar-benar masuk ke dalamnya. Di sinilah angin katabatik mengambil alih, menyublimasi setiap tetes kelembapan sebelum sempat menyentuh tanah. (Foto: U.S. Department of State/Public Domain) Kenyataannya tidak sesederhana itu. Di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/gurun-terkering-di-bumi-di-tengah-benua-es-sudah-kering-selama-2-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 05:39:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20052954/Kain-ecoprint-di-Basecamp-Ambu-Halimun-Foto_-Falahi-Mubarok-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128051</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Owa Jawa: Suara Perjuangan di Sisa-sisa Hutan Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama. Pagi itu, rumah yang jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/">Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama. Pagi itu, rumah yang jadi basecamp Ambu Halimun, dipenuhi aktivitas. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan dalam upaya menjaga kelestarian hutan Halimun dan kehidupan Hylobates moloch. Mirna Maharani (30), anggota Ambu Halimun, mengatakan dedaunan yang dulu dianggap gulma kini memiliki nilai penting. Tak hanya untuk kerajinan, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan alam. “Kalau ambil daun ya secukupnya saja. Seperlunya,” ujar ibu dua anak ini, Senin (11/5/2026). Kelompok ini terbentuk tahun 2020. Tujuannya sederhana, memberi ruang aktivitas bagi ibu rumah tangga di sekitar hutan Halimun. Warga menyadari lingkungan sekitar mereka kaya tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan motif alami pada kain. Hasilnya, mereka menemukan lebih dari 100 spesies tumbuhan yang bisa digunakan untuk ecoprint. Sebagian tanaman, kini sudah dibudidayakan sendiri oleh Ambu Halimun di kebun kecil mereka. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan/ecoprint di di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Cara pandang terhadap alam Bagi Mirna dan perempuan lain di Citalahab, perubahan terbesar bukan hanya soal penghasilan tambahan. Ada perubahan cara pandang mereka terhadap alam. Tanaman yang dulunya dianggap liar dan mengganggu, kini dirawat dan ditanam kembali. “Sekarang kami pelihara.”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/ambu-halimun-menjaga-habitat-owa-jawa-dengan-ecoprint/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Konflik Agraria Petani Pakel vs  Perusahaan Perkebunan Tak Berkesudahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/#respond</comments>
					<pubDate>20 Mei 2026 02:42:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/14174001/WhatsApp-Image-2026-05-14-at-10.31.15-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127779</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan petani dan warga Desa Pakel, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) memenuhi halaman  Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Rabu (6/5/26). Kedatangan mereka sebagai bentuk solidaritas pada dua anggota Rukun Tani Sumberejo Pakel (RTSP), Suwarno dan Sagidin, yang kena gugat PT Bumi Sari Maju Sukses (BMS)  secara perdata.  Sebelumnya perusahaan perkebunan ini juga menggugat Harun, petani Desa Pakel, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/">Konflik Agraria Petani Pakel vs  Perusahaan Perkebunan Tak Berkesudahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan petani dan warga Desa Pakel, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) memenuhi halaman  Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi, Rabu (6/5/26). Kedatangan mereka sebagai bentuk solidaritas pada dua anggota Rukun Tani Sumberejo Pakel (RTSP), Suwarno dan Sagidin, yang kena gugat PT Bumi Sari Maju Sukses (BMS)  secara perdata.  Sebelumnya perusahaan perkebunan ini juga menggugat Harun, petani Desa Pakel, miliaran rupiah. Melalui perkara nomor 306/Pdt.G/2025/PN Byw, BMS menggugat Suwarno membayar ganti rugi Rp500 juta. Sedangkan  Sagidin, perusahaan menuntut bayar Rp528 juta, sebagaimana perkara nomor: 305/Pdt.G/2025/PN Byw. Perusahan juga meminta pengadilan menyita harta benda kedua tergugat. Bagi warga Pakel, gugatan itu bukan sekadar perkara hukum biasa. “Kalau petani dituntut ratusan juta sampai rumahnya mau disita, ini bukan lagi soal hukum biasa. Ini cara membuat warga takut,” teriak  seorang petani yang ikut dalam aksi solidaritas di depan pengadilan. Dalam aksi solidaritas itu juga hadir kelompok tani dari Kaligedang, Kecamatan Ijen, Bondowoso. Mereka datang karena merasa mengalami nasib serupa yaitu konflik agraria, ketimpangan penguasaan tanah, dan ancaman kriminalisasi. Dalam gugatannya, BMS menuduh Suwarno dan Sagidin melakukan perbuatan melawan hukum karena memasuki area yang diklaim sebagai hak guna usaha (HGU) dan merusak  tanaman kopi maupun cengkih mereka. Tm pendamping hukum warga membantah tudingan itu. Ahmad Taufiq dari Tim Advokasi Untuk Kedaulatan Agraria (Tekad Garuda) menilai, konstruksi hukum gugatan perusahaan rapuh dan problematik sejak awal. “Perusahaan tidak memiliki legal standing yang kuat. Warga mengelola lahan untuk mempertahankan ruang hidup yang dirampas,” katanya kepada Mongabay. Menurut Taufiq, gugatan perusahaan justru mengabaikan fakta sejarah penguasaan tanah warga Pakel yang berlangsung jauh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/20/konflik-agraria-tak-berujung-di-pakel-kemana-negara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Selundupan 760 Botol Merkuri ke Filipina, Aksi Bertahun-tahun Baru Terungkap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 17:31:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/19170113/Merkuri-1-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128030</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok gagalkan penyelundupan 760 botol merkuri ilegal ke Filipina, penghujung April lalu. Modusnya, peti kemas berisi merkuri pelaku laporkan sebagai tekstil. Komisaris Besar Victor Dean Mackbon,  Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengatakan, kasus ini terungkap di Pos Pemeriksaan Bea [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/">Menyoal Selundupan 760 Botol Merkuri ke Filipina, Aksi Bertahun-tahun Baru Terungkap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya atau Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok gagalkan penyelundupan 760 botol merkuri ilegal ke Filipina, penghujung April lalu. Modusnya, peti kemas berisi merkuri pelaku laporkan sebagai tekstil. Komisaris Besar Victor Dean Mackbon,  Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengatakan, kasus ini terungkap di Pos Pemeriksaan Bea dan KPU Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara. Unit II Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Ditreskrimsus Polda Metro Jaya bersama Bea Cukai Tanjung Priok mendapati peti kemas tujuan Takasi Kin Hardware Trading di Room 369, Manila, Filipina. Temuan berawal dari pemeriksaan awal Bea Cukai yang menemukan ketidaksesuaian antara dokumen ekspor dengan muatan barang di dalam peti kemas. “Merkuri tersebut dikirim ke Filipina menggunakan dokumen kepabeanan yang dimanipulasi, sehingga muatannya seolah-olah berupa tekstil, pakaian, dan karpet,” kata Victor kepada Mongabay, Sabtu(16/5/26). Dalam penggeledahan itu, petugas menemukan 760 botol berisi cairan berwarna perak dengan label “Mercury Gold 1 kg.” Botol-botol itu tersimpan dalam selongsong karton dan terselip di antara 145 gulungan karpet. Modus pelaku ialah menyembunyikan merkuri di dalam gulungan karpet agar tak terdeteksi. Ratusan botol merkuri itu adalah milik tersangka berinisial MAL yang dipesan saudara AB, warga Filipina yang tinggal di Mani Forest, Davao. Berdasarkan hasil pengembangan penyidikan, MAL memperoleh merkuri dari tersangka H, sebagai penjual. Dari pengakuan para tersangka, praktik pengiriman merkuri ke Filipina sudah berlangsung sejak 2021. Dalam aksinya, MAL bertugas mencari sekaligus mengirimkan merkuri sesuai pesanan AB. Dari setiap kilogram penjualan merkuri, MAL memperoleh keuntungan sekitar Rp300.000, dengan omzet mencapai Rp2,7 juta per&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-selundupan-760-botol-merkuri-ke-filipina-aksi-bertahun-tahun-baru-terungkap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Energi Sampah  RDF di Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 13:00:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18195034/IMG_0728-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127985</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah jadi energi sedang jadi sorotan termasuk di Kalimantan Selatan. Walhi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengkritik bahan bakar sampah dengan teknologi refuse derived fuel (RDF) di PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) di Kotabaru. Perusahaan gunakan RDF ini sebagai salah satu upaya transisi energi mereka. Walhi menilai, pengelolaan sampah sebagai sumber energi ini hanyalah solusi palsu atasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/">Menyoal Energi Sampah  RDF di Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah jadi energi sedang jadi sorotan termasuk di Kalimantan Selatan. Walhi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengkritik bahan bakar sampah dengan teknologi refuse derived fuel (RDF) di PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) di Kotabaru. Perusahaan gunakan RDF ini sebagai salah satu upaya transisi energi mereka. Walhi menilai, pengelolaan sampah sebagai sumber energi ini hanyalah solusi palsu atasi masalah sampah, karena tidak menyelesaikan dari akarnya. Raden Rafiq, Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalsel, mencatat, teknologi yang sama juga akan ada di Kota Banjarbaru dan Banjarmasin. Dia bilang, kalau kebutuhan sampah cacah untuk suplai RDF harus terpenuhi setiap hari, maka besaran volume sampah plastik akan membengkak. “Akibatnya, kondisi ini membuat RDF terkesan hanya menjadi solusi palsu yang diklaim mendukung transisi energi, tanpa benar-benar menyelesaikan persoalan sampah dari akarnya,” katanya. Pemerintah daerah, katanya, tidak selektif dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan penerima RDF. Terlebih, katanya, ITP pernah terlibat konflik agraria dan sosial dengan warga sekitar tanpa penyelesaian yang jelas, terutama pada 2004-2012. Kondisi ini akan menambah kompleksitas persoalan dalam rantai pengelolaan RDF.  Masalah, katanya, tidak hanya menyangkut aspek teknis pengelolaan sampah, juga berkaitan erat dengan aspek sosial dan tata kelola yang perlu perhatian serius. Proses pembakaran sampah pun hasilkan masalah, karena bahan utama plastik dari industri skala besar yang berisiko hasilkan emisi berbahaya seperti dioksin, furan, dan partikel halus PM 2.5. Zat ini, katanya, berisiko terhadap sistem pernapasan, memicu iritasi, alergi, hingga penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling berdampak pada kelompok rentan, seperti anak-anak. “Ancaman tersebut semakin besar ketika teknologi pengendalian emisi tidak optimal atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/menyoal-energi-sampah-rdf-di-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pakar Soroti Kebijakan Transisi Energi Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 07:19:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128012</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para pakar hukum lingkungan menyoroti kebijakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112/2022 soal Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Alih-alih menjadi instrumen percepatan energi bersih, regulasi ini mereka nilai menyimpan paradoks mendasar yang berpotensi menghambat transisi energi nasional. Mohamad Nasir,  Akademisi Hukum Sumber Daya Alam Universitas Balikpapan mengatakan, secara normatif, perpres ini lahir dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/">Para Pakar Soroti Kebijakan Transisi Energi Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para pakar hukum lingkungan menyoroti kebijakan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112/2022 soal Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Alih-alih menjadi instrumen percepatan energi bersih, regulasi ini mereka nilai menyimpan paradoks mendasar yang berpotensi menghambat transisi energi nasional. Mohamad Nasir,  Akademisi Hukum Sumber Daya Alam Universitas Balikpapan mengatakan, secara normatif, perpres ini lahir dengan semangat besar namun dalam pasal-pasal operasional justru membuka ruang luas bagi keberadaan PLTU captive berbasis batubara yang dibangun khusus untuk kebutuhan industri. Negara, katanya,  ingin berlari menuju energi bersih tetapi regulasi yang sama memberikan “karpet merah” pada energi fosil. “Kalau saya menyebutnya sebagai kebijakan yang paradoks. Tentu saja ini tidak konsisten,” katanya dalam diskusi “Menata Kembali Kebijakan Transisi Energi Nasional: Revisi Perpres 112 / 2022 Menurut Pandangan Ahli Hukum Lingkungan dan Perubahan Iklim” April lalu. Sektor industri nikel yang kerap muncul sebagai bagian dari ekosistem energi hijau global pun dalam situasi ironis. Dalam proses produksi sangat bergantung pada energi fosil terutama batubara. Malah makin kompleks ketika mengaitkan dengan komitmen politik tingkat tinggi. Dalam forum internasional seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Rio de Janeiro, Presiden Prabowo Subianto menyatakan,  Indonesia akan menutup seluruh PLTU pada 2040. Berbeda dengan perpres itu justru membuka peluang operasional PLTU captive hingga 2050. Perbedaan satu dekade ini menampakkan sinyal kebijakan yang saling bertabrakan. “Kepala negara sudah menyatakan 2040 akan menutup semua PLTU di Indonesia. Ternyata perpres ini justru sebaliknya membuka peluang bagi keberadaan PLTU itu sampai 2050,” ujar Nasir. Dia mengatakan,  kebijakan itu malah menampakkan tarik-menarik kepentingan. Misal, PLTU captive masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/para-pakar-soroti-kebijakan-transisi-energi-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Persoalan Sampah, Ancaman Kesehatan dan Lingkungan di Jawa Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/#respond</comments>
					<pubDate>19 Mei 2026 06:46:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233546/PENCEMARAN-SAMPAH-PLASTIK-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128003</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, jawa, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah tidak hanya menimbulkan penyakit tetapi juga mengganggu ekosistem lingkungan. Adhimas Setyo Wicaksono, Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Surabaya, mengatakan sampah anorganik yang tidak mudah hancur dan tidak terkelola dengan baik dapat mengundang penyakit demam berdarah dan berbagi virus. Sedangkan sampah organik, meski hancur alami, namun dapat memunculkan penyakit iritasi dan gatal-gatal, bila tidak dipilah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/">Persoalan Sampah, Ancaman Kesehatan dan Lingkungan di Jawa Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah tidak hanya menimbulkan penyakit tetapi juga mengganggu ekosistem lingkungan. Adhimas Setyo Wicaksono, Dosen Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Surabaya, mengatakan sampah anorganik yang tidak mudah hancur dan tidak terkelola dengan baik dapat mengundang penyakit demam berdarah dan berbagi virus. Sedangkan sampah organik, meski hancur alami, namun dapat memunculkan penyakit iritasi dan gatal-gatal, bila tidak dipilah dari sumber asalnya. “Sampah yang ditumpuk dan berbau biasanya ada bakteri yang ikut terbang ke udara dan terhirup masyarakat,” jelasnya, Jumat (8/5/2026). Penyakit lain yang berpotensi muncul adalah leptosirosis. Bakteri atau virus yang dibawa tikus sebagai vektor ini, dapat mengancam kesehatan para pekerja pengumpul sampah. Gejelanya seperti demam. Selain itu, bahaya tetanus juga harus diwaspadai. Penyakit ini muncul di bambu atau besi berkarat, yang dibuang bercampur sampah. Pemakaian masker, sarung tangan karet, sepatu booth, dan pakaian khusus, dapat menjadi sarana mencegah risiko penyakit pada pekerja pengangkut sampah. “Dari sisi kedokteran, mereka harus diberi vaksinasi tetanus, untuk mencegah.” Pemilahan sampah harus menjadi kunci utama mengurangi timbunan sampah di rumah maupun di tempat pembuangan sementara. “Sampah organik dan anorganik, harus terpilah dari awal pengumpulan.” Tumpukan sampah plastik yang mencemari dasar Sungai Brantas, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Risiko pekerja pengangkut sampah Seniman (46), warga kampung Klumprik, RT 04 RW 02, Kelurahan Balas Klumprik, Kecamatan Wiyung, Surabaya, Jawa Timur, sudah 11 tahun menjadi penarik gerobak sampah. Tiga kali dalam seminggu, dia mengambil sampah di setiap rumah warga. Rendahnya pendapatan yang diterima, sekitar Rp1,3 juta, tidak sebanding dengan tingginya risiko yang mengancam, terutama kesehatan. “Seringnya gatal-gatal.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/19/persoalan-sampah-ancaman-kesehatan-dan-lingkungan-di-jawa-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>