Perubahan iklim tidak hanya mengancam cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, atau musim kering yang panjang. Ancamannya merambah jauh lebih dalam, hingga ke ekosistem dan perilaku satwa liar yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia. Salah satu dampak yang kini mulai mendapat perhatian serius para ilmuwan adalah pergeseran habitat ular berbisa. Seiring suhu bumi terus menghangat, ratusan spesies ular berbisa di seluruh dunia mulai berpindah ke wilayah-wilayah baru, dan banyak di antaranya semakin dekat dengan permukiman manusia.
Risiko gigitan ular terus meningkat di seluruh dunia seiring reptil-reptil ini berpindah habitat untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang semakin tinggi dan tekanan manusia yang kian besar. Demikian temuan sebuah studi terhadap ular-ular berbisa yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ular obra ludah di Afrika, yaitu jenis kobra yang memiliki kemampuan unik untuk menyemprotkan bisa ke arah mata atau wajah ancaman/predator, ular viper di Eropa dan Amerika Selatan, moccasin cottonmouth (Agkistrodon piscivorus) di Amerika Utara, serta krait di Asia kini semakin sering bersentuhan dengan manusia akibat gangguan iklim dan perubahan bentang alam. Para peneliti memperkirakan tren ini akan semakin menguat dalam beberapa dekade ke depan, seiring ular-ular menyesuaikan wilayah jelajahnya untuk menghindari kondisi yang lebih panas.
Sebagian besar spesies akan mengalami penyusutan habitat, namun sejumlah ular paling mematikan justru diprediksi akan memperluas wilayahnya; memasuki kawasan-kawasan yang belum pernah mereka huni sebelumnya dan berpotensi mengancam miliaran orang.
“Tumpang tindih antara manusia dan ular berbisa akan semakin besar,” ujar David Williams dari WHO dan Universitas Melbourne, salah satu penulis studi ini. “Bayangkan risiko saat seseorang keluar dari pintu belakang rumah, tersandung, dan tergigit ular.”
Data yang Mengkhawatirkan
Statistik gigitan ular memang sulit dipastikan karena banyak kejadian berlangsung di daerah terpencil dan tidak dilaporkan. Namun para penulis studi ini memperkirakan terdapat sekitar 4 juta kasus setiap tahunnya, sebagian besar di kawasan tropis. Mayoritas tidak berbahaya, tetapi 138.000 kematian dan 400.000 kasus cacat terjadi setiap tahun; hampir separuhnya di Asia Selatan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases ini memetakan distribusi seluruh 508 spesies ular yang secara medis dianggap berbahaya dengan resolusi 1 km persegi. Para peneliti menggunakan basis data publik dan swasta, platform sains warga, catatan museum, literatur ilmiah, dan observasi para ahli. Dari peta tersebut, mereka memproyeksikan bagaimana kenaikan suhu akan mengubah tumpang tindih antara ular dan populasi manusia pada tahun 2050 dan 2090.
Pergeseran yang Mengancam
Temuan menunjukkan bahwa ancaman terbesar justru dialami ular itu sendiri. Sebagian besar spesies; termasuk puff adder di Afrika, ular karang di Amazon, dan copperhead di Papua Nugini dan Australia, akan tertekan akibat cuaca panas dan alih fungsi hutan, lahan basah, serta padang rumput menjadi ladang, monokultur, dan kawasan urban.
Namun sejumlah spesies justru akan bermigrasi. Black mamba, misalnya, diprediksi akan mundur dari pesisir Kenya dan sebagian wilayah Ethiopia, Eritrea, Kongo, serta Djibouti, namun meluas di Afrika Selatan serta sebagian Nigeria dan Somalia.

Di beberapa kasus, pergeseran wilayah ini akan membawa ular berbisa ke tempat-tempat yang penduduknya belum terbiasa menghadapi ancaman semacam itu. Cottonmouth moccasin di AS diprediksi bergerak sejauh utara hingga New York. Krait di Asia berpotensi bermigrasi dari hutan Myanmar dan Provinsi Yunnan di China menuju kota-kota padat penduduk di China bagian tengah dan utara. Di India, yang mencatat sekitar 60.000 kematian akibat gigitan ular per tahun, ular-ular paling mematikan; termasuk kobra, Russell’s viper, dan krait, diproyeksikan bergerak dari selatan ke utara yang lebih padat penduduknya.
“Dalam 50 tahun ke depan, spesies akan muncul di tempat-tempat yang belum pernah ditemukan sebelumnya, membawa mereka ke hadapan orang-orang yang belum terbiasa menghadapi masalah ini,” kata Williams.
Ketimpangan dan Solusi
Bahaya semakin besar di kawasan miskin dan terpencil, di mana orang-orang bekerja tanpa alas kaki di ladang dan minim akses layanan kesehatan. Negara-negara kaya seperti Australia memiliki banyak spesies ular berbisa, namun tingkat kematiannya sangat rendah karena pekerja pertanian lebih mungkin memakai sepatu bot, menggunakan traktor, dan tinggal dekat klinik yang menyediakan antivenom.
Para peneliti menyatakan studi ini dapat membantu otoritas kesehatan mengarahkan sumber daya ke kawasan berisiko tinggi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang akan datang.
“Prediksi kami dapat digunakan untuk memutuskan di mana menyimpan antivenom jenis apa, bagaimana memastikan kapasitas fasilitas kesehatan yang memadai, bagaimana meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan bagi komunitas terpencil yang berisiko, dan ke mana upaya konservasi spesies ular yang terancam harus difokuskan,” tulis para peneliti.
**
Referensi:
Referensi
Pintor, A. F. V., Kanankege, K. S. T., Turner, M., Abela, B., de Castañeda, R. R., Moos, B., Hasanein, T. A., Hedao, P., Friar, K., McKay, A., Martín, G., Wüster, W., Whitaker, R., Martínez-Freiría, F., Jackson, K., & Williams, D. J. (2026). Climate change induced complex shifts in snake distributions expose people to snakebite and threaten biodiversity. PLOS Neglected Tropical Diseases, 20(5), e0014030. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0014030