- Kepiting tapal kuda namun ia justru bukan bagian dari kepiting. Kepiting tapal kuda adalah fosil hidup yang memiliki kemiripan morfologi dengan leluhurnya ratusan juta tahun lalu.
- Kepiting tapal kuda juga memiliki kekerabatan erat dengan kalajengking dan laba-laba yang menjadi bagain dari Chelicerata. Adapun, spesies tertua diketahui Lunatapis aurora, berasal dari sekitar 445 juta tahun lalu di Kanada.
- Darah biru pada kepiting tapal kuda berasal dari tembaga di dalam darah tubuhnya. Pada manusia, atom besi di darah kita memberi warna merah gelap.
- Di Indonesia, hewan purba ini dikenal dengan sebutan banyak nama. Selain belangkas, nama lain yang populer adalah mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Hewan tersebut menjadi bagian dari Ordo Xiphosura.
Namanya sering dikaitkan dengan kepiting, namun ia justru bukan bagian dari kepiting.
Kepiting tapal kuda merupakan fosil hidup dari periode Ordovisium, periode 485,4 juta hingga 443,8 tahun lalu. Penamaan kepiting muncul karena kemiripan fisik hewan laut tersebut dengan kepiting.
Di Indonesia, hewan purba ini dikenal dengan sebutan banyak nama. Selain belangkas, nama lain yang populer adalah mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, atau pari kepiting. Hewan tersebut menjadi bagian dari Ordo Xiphosura.
Dalam buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda” terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, tahun 2025, dijelaskan tiga spesies kepiting tapal kuda di Indonesia. Ada Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda.
Satu spesies lain yang tidak ada di Indonesia adalah kepiting tapal kuda amerika (Limulus polyphemus). Jenis ini berada di sepanjang perairan Atlantik Amerika Utara, sementara tiga lainnya ada di perairan Indo-Pasifik yang masuk dalam kawasan Asia Tenggara.

Khusus di Indonesia, sebarannya ada di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (Kalimantan Timur); Aceh; Medan, Sibolga, dan Langkat (Sumatra Utara); Bintan (Kepri); Rokan Hilir (Riau); Tanjung Jabung (Jambi); Bangka; dan Sambas (Kalimantan Barat).
Lalu, Barru (Sulawesi Selatan); Muna (Sulawesi Tenggara); Serang dan Pandeglang (Banten); Subang, Indramayu, dan Cirebon (Jawa Barat); Brebes, Tegal. Kendal, Pati, Jepara, dan Demak (Jawa Tengah); Tuban, Situbondo, Gresik dan Bangkalan (Jawa Timur), dan Sumatra Barat.
Kepiting tapal kuda sudah mendapatkan perlindungan penuh di Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehutanan No.12/Kpts-II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999. Ketiganya dilindungi bersama dengan sumber genetik.
Pada level internasional, ketiganta masuk daftar perlindungan Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN). Untuk T. tridentatus, statusnya Endangered (EN), sementara dua jenis lainnya Kurang Data (Data Deficient/DD)
“Informasi spesies akan menjadi sulit tanpa didasarkan data populasi akurat,” mengutip keterangan buku tersebut.
Melansir Britannica, Senin (18/5/2026), hewan tersebut biasa hidup di muara sungai, sambil mencari makanan seperti alga, cacing laut, kerang, moluska, dan ikan yang sudah mati. Namun, pemanfaatan hewan ini dilakukan manusia bukan untuk kebutuhan konsumsi.
Secara morfologi, tubuh kepiting tapal kuda terbagi tiga bagian saling terhubung: cephalothorax berbentuk tapal kuda lebar; abdomen yang lebih kecil dan bersegmen; serta duri ekor panjang dan tajam, atau telson.

Hewan darah biru
Meski bukan untuk konsumsi manusia, kepiting tapal kuda tetap menjadi incaran kapal ikan. Ia diburu untuk dijadikan komoditas kosmetik dan kesehatan. Darah biru pada tubuhnya dinilai dapat berfungsi sebagai alat pendeteksi akurat terhadap endotoksin bakteri berbahaya, obat-obatan intravena, vaksin, dan berbagai produk perawatan tubuh sebelum digunakan manusia. Warna biru pada darah kepiting ini, dikutip dari BBC, berasal dari tembaga di dalam darah hewan tersebut. Pada manusia, atom besi di darah kita memberi warna merah gelap.
Untuk pengembangan tersebut, Amerika Serikat pada 1977 berhasil membakukannya menjadi lisensi melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA). Tes Limulus amoebocyte lysate (LAL) itu menjadi pencegah bakteri berbahaya masuk ke tubuh manusia melalui cairan.
Merujuk buku “Bioekologi Kepiting Tapal Kuda” kepiting tapal kuda bermanfaat untuk biomedis dan farmasi, karena peran darah biru atau disebut cairan Perivitelline. Biasanya, cairan itu ada pada ruang antara oosit yang dibuahi kepiting tapal kuda dan membran luar mengelilingi oosit yang disebut zona pelusida.
Kepiting tapal kuda adalah fosil hidup yang memiliki kemiripan morfologi dengan leluhurnya ratusan juta tahun lalu. Hewan ini juga memiliki kekerabatan erat dengan kalajengking dan laba-laba yang menjadi bagain dari Chelicerata. Adapun, spesies tertua diketahui Lunatapis aurora, berasal dari sekitar 445 juta tahun lalu di Kanada.

Kepiting tapal kuda juga berperan penting untuk ekologi, sebagai penyeimbang rantai makanan dengan menjadi predator pengurai dan telurnya. Bahkan, telurnya juga menjadi sumber makanan utama burung pantai bermigrasi.
“Juga bertindak sebagai turbator biologis dan dapat mengontrol hewan bentik invertebrata.”
Meski bermanfaat banyak untuk kehidupan, kepiting tapal kuda menghadapi tantangan dan ancaman kuat. Di Indonesia, ancaman tersebut berupa reklamasi pantai, polusi industri, konversi lahan, dibuang karena tertangkap, sampah pantai, kegiatan perdagangan, dan faktor alam.
Referensi:
Anggraini, R., Karlina, I., & Koenawan, C.J. (2025). Bioekologi Kepiting Tapal Kuda. Tanjung Pinang: UMRAH Press. https://umrahpress.umrah.ac.id/?buku=bioekologi-kepiting-tapal-kuda
*****