Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara, atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai “tempat paling mirip Mars di Bumi”. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang sesungguhnya bukan ada di sabuk panas katulistiwa, bukan di hamparan pasir yang membakar telapak kaki, melainkan di ujung paling selatan planet ini, di benua yang justru dikenal sebagai lautan es: Antartika.
Di sana, tersembunyi di balik barisan pegunungan yang menjulang, terdapat tiga lembah yang sudah tidak mengenal hujan selama hampir dua juta tahun. Bukan dua ratus tahun. Bukan dua puluh ribu tahun. Dua juta tahun. Ketika leluhur kita masih hidup berpindah-pindah di savana Afrika, lembah-lembah ini sudah kering. Dan sampai hari ini, kondisinya nyaris tidak berubah.
Anomali di Tengah Benua Es
Antartika adalah benua terbesar kelima di Bumi, menutupi sekitar 14 juta kilometer persegi, dan hampir seluruh permukaannya tertutup lapisan es yang di beberapa titik mencapai ketebalan 4.800 meter. Es itu bukan sekadar hamparan tipis, melainkan lapisan raksasa yang telah terakumulasi selama jutaan tahun. Maka wajar jika kita membayangkan Antartika sebagai tempat yang seragam: putih, beku, dan mati.

Kenyataannya tidak sesederhana itu. Di wilayah yang dikenal sebagai McMurdo Dry Valleys, tiga lembah bernama Taylor, Wright, dan Victoria membentuk kawasan bebas es terluas di seluruh benua itu, mencakup sekitar 4.500 kilometer persegi atau hanya sedikit lebih kecil daripada Pulau Bali yang luasnya sekitar 5.600 km persegi. Tidak ada lapisan es yang menyelimuti tanah di sini. Tidak ada salju yang menumpuk. Yang ada hanyalah hamparan kerikil, batuan granit dan gneiss yang terus diasah oleh angin, dan danau-danau yang membeku dari permukaan tapi menyimpan air asin di bawahnya. Curah hujan tahunan di sebagian besar kawasan ini hanya berkisar 3 hingga 50 milimeter setara air, dan di titik-titik tertentu angkanya mendekati nol. Sementara Gurun Sahara yang tersohor itu rata-rata masih menerima sekitar 25 milimeter hujan setahun.
Di dalam Dry Valleys bahkan terdapat zona yang lebih ekstrem lagi. Friis Hills, sebuah kawasan di bagian dalam lembah, menurut studi peneliti Universitas Auckland, Selandia Baru tahun 2005, kondisi iklimnya tidak mengalami perubahan berarti selama 14 hingga 20 juta tahun. Pada masa itu, mamalia pertama baru saja mulai menjelajahi Bumi.
Mengapa Tempat Ini Bisa Begitu Kering?
Dua kekuatan alam bekerja bersama untuk menjaga lembah ini tetap kering dari zaman ke zaman.
Yang pertama adalah Pegunungan Transantartika, deretan pegunungan yang memisahkan kawasan lembah dari dataran tinggi es di sekitarnya. Barisan gunung ini bukan sekadar penghalang fisik biasa, namun juga memotong jalur aliran gletser sehingga es tidak bisa merayap masuk ke lembah, sekaligus menciptakan bayangan curah hujan yang membuat uap air dari lautan tidak pernah sampai ke sini dalam jumlah berarti.

Yang kedua adalah angin katabatik, dan inilah pelaku utama di balik kekeringan ekstrem Dry Valleys. Angin ini terbentuk ketika massa udara dingin yang sangat padat di dataran tinggi Antartika mulai bergerak turun ke lembah karena dorongan gravitasi. Saat udara itu menuruni lereng, ia terkompresi dan suhunya naik melalui proses yang disebut pemanasan adiabatik. Dalam kondisi ekstrem, angin ini bisa mencapai kecepatan 37,8 meter per detik atau sekitar 136 kilometer per jam, setara dengan badai kategori ringan. Kecepatannya yang luar biasa itu mampu menyublimasi kelembapan secara langsung, mengubah es dan salju menjadi uap tanpa sempat menjadi air. Salju yang mungkin jatuh pun menghilang sebelum menyentuh tanah.
Terkering Sekaligus Terdingin
Dry Valleys tidak hanya memegang gelar gurun terkering, tapi juga terdingin di antara semua gurun yang ada di planet ini. Suhu rata-rata tahunan di lantai lembah berkisar antara -14,8°C hingga -30°C tergantung lokasinya. Suhu terendah yang pernah tercatat di kawasan ini adalah -65,7°C, diukur di tepi Danau Vida, sementara puncak tertinggi yang pernah dicapai hanya sekitar 12°C di Taylor Glacier. Pada musim dingin, kawasan ini tenggelam dalam kegelapan penuh selama berbulan-bulan. Musim panas membawa cahaya 24 jam tanpa henti, tapi bukan kehangatan yang berarti.
Di balik semua kekeringan dan dingin itu, kawasan ini menyimpan beberapa danau yang sifatnya terbilang ganjil. Danau Bonney adalah danau asin yang permukaannya selalu tertutup lapisan es setebal 3 hingga 5 meter sepanjang tahun. Danau Vanda memiliki kadar garam tiga kali lebih tinggi dari air laut, namun di lapisan paling bawahnya suhu bisa mencapai 25°C, sebuah anomali termoklin yang sulit dibayangkan di tempat sepanas ini. Di sekitar kawasan ini pula para ilmuwan pernah menemukan mumi anjing laut yang terseret jauh dari garis pantai dan terawetkan sempurna oleh kondisi ekstrem yang justru menghambat pembusukan.
Tetap ada Kehidupan
Saat pertama kali menginjakkan kaki di lembah ini pada 1903, penjelajah Angkatan Laut Inggris Robert Falcon Scott bergumam kepada anak buahnya bahwa mereka sedang berada di lembah kematian. Tempat tanpa kehidupan, tanpa kemungkinan. Lebih dari satu abad kemudian, sains membuktikan bahwa Scott keliru, dan kekeliruan itu ternyata sangat menarik untuk dikaji.
Dry Valleys adalah rumah bagi apa yang para ilmuwan sebut sebagai ekstremofil, organisme yang tidak sekadar bertahan di kondisi ekstrem melainkan tumbuh di dalamnya. Salah satu yang paling menakjubkan adalah komunitas kriptoendolit: koloni mikroba berupa alga, jamur, dan cyanobacteria yang hidup bukan di permukaan tanah, melainkan di dalam bebatuan. Mereka menembus masuk ke lapisan transparan batu granit, memanfaatkan cahaya yang menyaring masuk sebagai sumber energi untuk berfotosintesis. Jamur bernama Friedmanniomyces endolithicus adalah salah satu spesies yang paling tersebar luas dan paling tangguh di antara mereka.

Di lapisan tanah yang lebih dangkal, nematoda atau cacing mikroskopis dan berbagai jenis lumut kerak juga bertahan hidup dengan cara yang sampai kini masih terus dipelajari. Penelitian terbaru bahkan menemukan bahwa sejumlah mikroba di kawasan ini memiliki ketahanan luar biasa terhadap radiasi pengion dan kondisi kekeringan ekstrem, dua sifat yang persis dibutuhkan untuk bertahan hidup di Mars.
Laboratorium untuk Mars
Di sinilah mengapa Dry Valleys menjadi salah satu kawasan paling penting bagi sains modern, jauh melebihi sekadar rekor geografis. Kawasan ini adalah analog Mars terbaik yang tersedia di Bumi, sebuah tempat di mana kondisi fisik, kimia, dan biologisnya cukup mirip dengan Mars purba sehingga bisa digunakan untuk menguji hipotesis, instrumen, dan metode yang suatu hari nanti akan digunakan untuk mencari kehidupan di planet lain.
NASA dan berbagai lembaga riset internasional telah menjadikan Dry Valleys sebagai lokasi uji coba instrumen rover, eksperimen deteksi biosignatur, dan pemodelan geokimia planetar. Kesamaannya dengan Mars bukan hanya soal temperatur atau kekeringan, tapi juga soal paparan ultraviolet yang tinggi, minimnya bahan organik, dan struktur geologinya yang didominasi batuan beku kuno. Para peneliti bahkan menemukan bahwa air pernah mengalir di sini jutaan tahun lalu, meninggalkan sedimen dan jejak kimia yang tidak berbeda jauh dari apa yang ditemukan rover di permukaan Mars.
**
Referensi:
Doran, P. T., McKay, C. P., Clow, G. D., Dana, G. L., Fountain, A. G., Nylen, T., & Lyons, W. B. (2002). Valley floor climate observations from the McMurdo dry valleys, Antarctica, 1986–2000. Journal of Geophysical Research: Atmospheres, 107(D24), 4772. https://doi.org/10.1029/2001JD002045
Fountain, A. G., Nylen, T. H., Monaghan, A., Basagic, H. J., & Bromwich, D. (2010). Snow in the McMurdo Dry Valleys, Antarctica. International Journal of Climatology, 30(5), 633–642. https://doi.org/10.1002/joc.1933
Coleine, C., Pombubpa, N., Zucconi, L., Onofri, S., Stajich, J. E., & Selbmann, L. (2020). Endolithic fungal species markers for harshest conditions in the McMurdo Dry Valleys, Antarctica. Life, 10(2), 13. https://doi.org/10.3390/life10020013