- Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan/ecoprint dalam upaya menjaga kelestarian hutan Halimun dan kehidupan owa jawa (Hylobates moloch). Mereka berada di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
- Kelompok ini terbentuk tahun 2020. Tujuannya sederhana, memberi ruang aktivitas bagi ibu rumah tangga di sekitar hutan Halimun. Lingkungan sekitar mereka kaya tumbuhan, bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan motif alami kain.
- Hadirnya Ambu Halimun menunjukkan upaya menjaga hutan tak selalu dimulai dari program besar. Pendekatan yang tumbuh dari aktivitas sehari-hari masyarakat, dapat bertahan jangka panjang. Termasuk, melalui kegiatan perempuan di Citalahab.
- Pendekatan yang dijalankan Ambu Halimun sebagai model konservasi, tidak hanya berfokus pada pelestarian alam, namun juga penguatan peran sosial warga, khususnya perempuan.
Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab Sentral, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama.
Pagi itu, rumah yang jadi basecamp Ambu Halimun, dipenuhi aktivitas. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan dalam upaya menjaga kelestarian hutan Halimun dan kehidupan Hylobates moloch.
Mirna Maharani (30), anggota Ambu Halimun, mengatakan dedaunan yang dulu dianggap gulma kini memiliki nilai penting. Tak hanya untuk kerajinan, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan alam.
“Kalau ambil daun ya secukupnya saja. Seperlunya,” ujar ibu dua anak ini, Senin (11/5/2026).
Kelompok ini terbentuk tahun 2020. Tujuannya sederhana, memberi ruang aktivitas bagi ibu rumah tangga di sekitar hutan Halimun. Warga menyadari lingkungan sekitar mereka kaya tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan motif alami pada kain.
Hasilnya, mereka menemukan lebih dari 100 spesies tumbuhan yang bisa digunakan untuk ecoprint. Sebagian tanaman, kini sudah dibudidayakan sendiri oleh Ambu Halimun di kebun kecil mereka.

Cara pandang terhadap alam
Bagi Mirna dan perempuan lain di Citalahab, perubahan terbesar bukan hanya soal penghasilan tambahan. Ada perubahan cara pandang mereka terhadap alam.
Tanaman yang dulunya dianggap liar dan mengganggu, kini dirawat dan ditanam kembali.
“Sekarang kami pelihara.”
Pengambilan daun dilakukan mingguan, menyesuaikan pesanan dan proses produksi. Sebab, membuat ecoprint bukan pekerjaan instan, dimulai dari mencuci kain, mordanting, hingga pencetakan motif. Selain menghindari pemborosan, cara ini juga dilakukan untuk menjaga keberlanjutan tumbuhan di alam.
“Kalau ada tanaman yang sudah tua dan berbiji, biasanya kami tanam lagi.”
Cara sederhana itu jadi bentuk konservasi kecil yang dilakukan masyarakat secara langsung. Perubahan tersebut juga turut mempengaruhi cara mereka memandang hutan dan satwa liar, termasuk owa, primata endemik Pulau Jawa yang hidup di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Sebelumnya, warga hanya tahu bahwa owa statusnya dilindungi.
“Kita juga jadi tahu, kalau owa disebut petani hutan.”
Sebutan itu bukan tanpa alasan. Owa membantu menebar biji buah yang mereka makan, sehingga ikut meregenerasi hutan secara alami.

Membangun konservasi bersama masyarakat
Rahayu Oktaviani, Co-founder & Director Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (Kiara), mengatakan hadirnya Ambu Halimun menunjukkan upaya menjaga hutan tak selalu dimulai dari program besar. Pendekatan yang tumbuh dari aktivitas sehari-hari masyarakat, dapat bertahan dalam jangka panjang. Termasuk, melalui kegiatan perempuan di Citalahab.
“Hutan bukan sesuatu yang terpisah dari mereka. Untuk itu, yang kami bangun rasa memiliki,” jelasnya, Senin (21/3/2026).
Masyarakat Citalahab hidup berdampingan dengan habitat owa jawa. Menjaga alam, menjadi bagian penting bagi keberlangsungan hidup warga. Keterlibatan masyarakat sangat penting demi berjalannya kegiatan konservasi.

Menurut Ayu, pihaknya menggandeng peneliti antropologi untuk mempelajari hubungan budaya masyarakat dengan hutan. Dari sana, mereka coba menyusun pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi warga setempat.
“Kami tidak ingin datang membawa intervensi yang ternyata bukan kebutuhan masyarakat.”
Dia menambahkan, Ambu Halimun dapat menjadi contoh bahwa konservasi bisa berjalan berdampingan dengan penguatan ekonomi warga. Dari ecoprint, warga tak hanya memperoleh tambahan penghasilan, tapi juga paham pentingnya menjaga hutan dan satwa liar di sekitar mereka.

Keterlibatan perempuan dalam konservasi
Eva Rachmawati, Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University menilai, keberhasilan konservasi tak dapat dilepaskan dari keterlibatan masyarakat sekitar.
Warga yang dilibatkan langsung akan memiliki hubungan emosional dengan lingkungan yang dijaga, sehingga mendorong munculnya tanggung jawab bersama. Pendekatan yang dijalankan Ambu Halimun sebagai model konservasi, tidak hanya berfokus pada pelestarian alam, namun juga penguatan peran sosial warga, khususnya perempuan.
Keterlibatan perempuan dalam konservasi, selama ini kerap dipandang sebelah mata. Padahal, mereka punya kemampuan besar dalam hal edukasi dan pemberdayaan komunitas.
“Perempuan punya pendekatan yang lebih telaten dan sabar, dalam proses pemberdayaan masyarakat. Itu telihat saat mereka mendampingi mahasiswa belajar ecoprint dan pengolahan bahan alami,” jelasnya, Selasa (19/5/2026).

Eva berpandangan, pelibatan masyarakat juga berdampak pada meningkatnya kepercayaan diri warga dalam pengambilan keputusan dan penyampaian gagasan terkait lingkungan di wilayahnya.
Terlebih, tantangan konservasi saat ini semakin kompleks karena adanya kepentingan politik dan ekonomi yang kerap berbenturan dengan prinsip keberlanjutan.
“Pendekatan berbasis budaya dan kearifan lokal tetap relevan, karena bagian identitas masyarakat sejak lama.”
*****