- Bulan, Orangutan hasil rehabilitasi ditemukan bersama anaknya di alam liar. Tanda keberhasilan reintroduksi hewan liar.
- M. Yakob Ishadamy, Direktur Konservasi Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengungkapkan, kasus Bulan contoh nyata keberhasilan reintroduksi satwa endemik. Namun, keberhasilan ini harus bareng dengan penguatan perlindungan tempat hidup orangutan lainnya.
- Castri Delfi Saragih, Head Of Communication YEL-SOCP, mengatakan, kelahiran Badar merupakan kejadian ke-10 yang terkonfirmasi di kawasan Pelepasliaran Orangutan Jantho sejak program tersebut mulai pada 2011.
- Ristianto Pribadi, Kepala Biro Humas Dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, menyebut kelahiran Badar sebagai bukti validitas program rehabilitasi satwa liar. Kemampuan sang induk beradaptasi, bertahan hidup, hingga bereproduksi di habitat aslinya merupakan indikator positif pemulihan populasi spesies endemik.
Tim pemantau lapangan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) menemukan kehadiran bayi orangutan sumatera (Pongo abelii) jantan dari Bulan, betina yang sempat jadi korban perdagangan satwa ilegal yang melewati proses rehabilitasi, lalu lepasliar pada 2018, di Cagar Alam Jantho, Aceh, akhir Mei. Temuan ini menunjukkan keberhasilan reintroduksi satwa endemik, meski, perlindungan di luar kawasan konservasi masih jadi pekerjaan besar.
Bulan merupakan orangutan yang petugas selamatkan dari perdagangan di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, saat masih berusia dua tahun. Sejak saat itu, ia melewati rangkaian proses pemulihan selama empat tahun berikutnya di pusat karantina SOCP Sibolangit, Sumut.
Tahun 2018, Bulan kembali ke ekosistem aslinya hingga petugas temukan bersama anaknya. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, memberi nama si anak, Badar. Dalam kosakata lokal, merujuk pada fenomena bulan purnama.
M. Yakob Ishadamy, Direktur Konservasi Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan, kasus Bulan contoh nyata keberhasilan reintroduksi satwa endemik. Namun, keberhasilan ini harus bareng dengan penguatan perlindungan tempat hidup orangutan lainnya.
“Dari korban perdagangan hewan ilegal menjadi seorang ibu di alam liar, perjalanan Bulan menunjukkan nilai jangka panjang dari rehabilitasi dan reintroduksi orangutan. Keberhasilan seperti ini hanya dapat berlanjut jika hutan tempat orangutan bergantung tetap terlindungi,” katanya.
Dia juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran komunitas adat di sekitar zona penyangga agar berperan menjaga kekayaan alam. Perlindungan habitat menjadi kunci utama memastikan orangutan dapat bertahan hidup dan mempertahankan populasi yang sehat.
Kelahiran Badar, katanya, jadi pencapaian penting penyelamatan spesies. Namun, realita lapangan menunjukkan masih ada tantangan. Tekanan antropogenik meningkat drastis selama dekade terakhir menyebabkan fragmentasi lahan yang menciptakan pulau-pulau isolasi populasi.
“Kondisi ini berpotensi memicu perkawinan sedarah. Selain itu, perubahan iklim juga mengganggu siklus produksi bunga dan buah pohon pionir yang menjadi makanan pokok primata arboreal raksasa ini.”
Karena itu, dia serukan pendekatan holistik mencakup restorasi koridor ekologi, penerapan patroli anti-perburuan berbasis intelijen, serta edukasi lingkungan inklusif bagi generasi mendatang. Langkah ini perlu untuk menjamin keberlanjutan populasi orangutan Sumatera agar dapat terus berkembang biak di habitat aslinya.

Bukan yang pertama
Castri Delfi Saragih, Head Of Communication YEL-SOCP, mengatakan, kelahiran Badar merupakan ke-10 yang terkonfirmasi di kawasan Pelepasliaran Orangutan Jantho sejak program itu mulai pada 2011.
Hal ini menunjukkan, orangutan yang berhasil selamat dari konflik dengan manusia, perdagangan ilegal, maupun kepemilikan ilegal dapat melewati rehabilitasi, lepasliar dan berkembang biak secara alami di habitatnya.
“Salah satu contohnya adalah Ayu, yang diselamatkan pada 2012 dan kembali terpantau bersama anaknya di alam pada 2025,” katanya, 11 Juni lalu.
Data terbaru, katanya, menunjukkan hutan Jantho saja berhasil menyelamatkan dan melepasliarkan hampir 200 individu. Total, lebih 400 individu di Pusat Pelepasliaran Jantho Dan Jambi.
“Populasi orangutan sumatera diperkirakan sekitar 14.000 individu, namun tren populasinya menuntut perhatian serius.”

Indikator positif
Ristianto Pribadi, Kepala Biro Humas Dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, menyebut, kelahiran Badar sebagai bukti validitas program rehabilitasi satwa liar. Kemampuan sang induk beradaptasi, bertahan hidup, hingga bereproduksi di habitat aslinya merupakan indikator positif pemulihan populasi spesies endemik.
“Pasti hal tersebut merupakan perkembangan yang menggembirakan dan menjadi salah satu indikator positif bahwa upaya penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran satwa dapat memberikan kontribusi terhadap pemulihan populasi spesies di alam liar,” ujarnya.
Kemenhut, katanya, menerapkan sistem pemantauan pasca pelepasliaran. Tahapan ini bertujuan mengukur tingkat kemandirian dan keberhasilan satwa kunci di alam liar.
Langkah itu bersamaan dengan operasi keamanan kawasan, patroli penegakan hukum, serta koordinasi lintas sektor dengan pemerintah daerah dan stakeholder konservasi.
Dia juga menyoroti area di luar kawasan konservasi yang bisa berdampak pada keberlangsungan orangutan. Kebijakan penanganan masalah lahan, katanya, bersifat kondisional, tergantung zonasi resmi kawasan itu.
“Kementerian kehutanan secara konsisten melakukan upaya perlindungan kawasan hutan dan konservasi keanekaragaman hayati sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

*****
Kembali ke Habitat, Orangutan Kalimantan Hidup Bebas di Hutan Mesangat