<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=anton-muhajir-nusa-penida&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/anton-muhajir-nusa-penida/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 30 Jun 2026 14:11:52 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Ikan Buntal di Belitung Ini Membuka Jejak Sungai Purba yang Hilang Sejak Zaman Es</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 14:11:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012421/Ikan-buntal-air-tawar-di-Tebat-Rasau-secara-morfologi-dan-etologi-pemangsa-mirip-dengan-spesies-P.-hilgendorfii-dari-Kalimantan-Timur.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129945</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suhandi mendayung sampannya menerobos rapatnya tumbuhan rasau di Tebat Rasau, rawa luas di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur. Saat memeriksa bubunya, satu ikan menarik perhatian: ikan buntal yang langsung menggembung ketika dipegang. &#8220;Ini dia yang kita cari-cari, aman dipegang dan dikonsumsi karena tidak beracun seperti ikan buntal umumnya,&#8221; katanya. Bagi Suhandi dan masyarakat Desa Lintang, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/">Ikan Buntal di Belitung Ini Membuka Jejak Sungai Purba yang Hilang Sejak Zaman Es</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suhandi mendayung sampannya menerobos rapatnya tumbuhan rasau di Tebat Rasau, rawa luas di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur. Saat memeriksa bubunya, satu ikan menarik perhatian: ikan buntal yang langsung menggembung ketika dipegang. &#8220;Ini dia yang kita cari-cari, aman dipegang dan dikonsumsi karena tidak beracun seperti ikan buntal umumnya,&#8221; katanya. Bagi Suhandi dan masyarakat Desa Lintang, ikan ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dimasak untuk konsumsi pribadi, kulitnya yang kasar dipakai untuk mengamplas sampan. Tapi bagi para ilmuwan, ikan buntal air tawar ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar: bukti biologis tentang sungai purba yang pernah membentang jutaan tahun lalu, menghubungkan Belitung dengan Kalimantan jauh sebelum kedua wilayah ini terpisah oleh laut. Menurut jurnal Keim dkk. (2021), ikan buntal air tawar dari genus Pao tersebar dari lembah Sungai Mekong di Indochina hingga Sumatera. Di perairan air tawar Indonesia bagian barat, ada empat spesies yang teridentifikasi: P. bergii di Kalimantan Barat, P. hilgendorfii di Kalimantan Timur, P. leiurus dari Thailand hingga Jawa, dan P. palembangensis di anak-anak Sungai Musi, Palembang. Dari keempatnya, hanya P. bergii dan P. hilgendorfii yang tidak beracun dan aman dikonsumsi. Yang mengejutkan, spesies di Tebat Rasau justru lebih mirip dengan P. hilgendorfii dari Kalimantan Timur, bukan dengan P. bergii dari Kalimantan Barat yang secara geografis jauh lebih dekat ke Belitung. &#8220;Ikan buntal air tawar di Tebat Rasau memiliki morfologi dan etologi pemangsa yang sangat mirip dengan spesies Kalimantan Timur, P. hilgendorfii,&#8221; tulis jurnal tersebut. Kemiripan ini terlihat dari bentuk tubuh memanjang hingga bulat telur, posisi mata,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kucing Tidak Pernah Menabrak Dinding di Kegelapan? Jawabannya Ada di Kumisnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 13:09:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031808/kucing-China-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129944</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pernah memperhatikan kucing berjalan mulus di ruangan gelap tanpa menabrak apa pun, padahal mata manusia di posisi yang sama akan menabrak sofa atau meja? Jawabannya bukan soal penglihatan malam yang lebih baik saja. Jawabannya ada di kumisnya. Banyak yang mengira kumis kucing hanya pelengkap wajah, detail estetik yang membuatnya terlihat lucu. Padahal di baliknya tersembunyi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/">Mengapa Kucing Tidak Pernah Menabrak Dinding di Kegelapan? Jawabannya Ada di Kumisnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pernah memperhatikan kucing berjalan mulus di ruangan gelap tanpa menabrak apa pun, padahal mata manusia di posisi yang sama akan menabrak sofa atau meja? Jawabannya bukan soal penglihatan malam yang lebih baik saja. Jawabannya ada di kumisnya. Banyak yang mengira kumis kucing hanya pelengkap wajah, detail estetik yang membuatnya terlihat lucu. Padahal di baliknya tersembunyi salah satu sistem sensorik paling canggih di dunia hewan, alat navigasi yang memungkinkan kucing bergerak, berburu, dan bertahan hidup bahkan dalam kegelapan total. Leonie Richards, kepala praktik umum di Rumah Sakit Hewan U-Vet Universitas Melbourne, menjelaskan bahwa kumis kucing berfungsi sebagai alat navigasi sekaligus petunjuk arah bahaya yang akan terjadi. Secara ilmiah, kumis disebut vibrissae, berasal dari kata Latin vibrio yang berarti bergetar. Helai sensorik serupa juga tumbuh di alis, dagu, dan bagian belakang pergelangan kaki depan, di belakang cakar. &#8220;Semua punya sifat sensorik yang dapat membantu kucing mengetahui di mana mereka berada, secara spasial. Kumis menjadi organ sensorik yang ideal,&#8221; kata Richards. Cara kerjanya sederhana tapi sangat efektif. Setiap kali kumis menyentuh sesuatu, perubahan bentuk yang terjadi diteruskan ke mekanoreseptor di folikel pada pangkal kumis. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE (Januari 2023) menjelaskan bahwa vibrissae adalah struktur tipis, meruncing, dan fleksibel yang menjadi sumber informasi sensorik penting bagi banyak spesies mamalia, berbeda dari antena serangga yang memiliki sensor di sepanjang pangkalnya. Dengan kumis ini, kucing bisa mengetahui apakah tubuhnya cukup kecil untuk masuk ke dalam kotak atau ruang sempit, mendeteksi aliran udara untuk mengetahui kedekatannya dengan dinding atau objek lain di ruangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kungkang Disebut Hewan Pemalas?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 13:03:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/30125537/Kungkang1.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129939</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalannya pelan, hanya bergerak saat makan daun. Kegiatannya, nyaris tidur sepanjang hari. Inilah alasan kungkang disebut hewan pemalas. Namun, di balik simbol malas itu, kungkang memiliki strategi evolusi paling unik. Ketika dunia berubah drastis di sekelilingnya, kungkang tetap diam di atas pohon. Bukan karena tidak bisa bergerak lebih cepat, tapi karena ia telah menemukan cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/">Mengapa Kungkang Disebut Hewan Pemalas?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalannya pelan, hanya bergerak saat makan daun. Kegiatannya, nyaris tidur sepanjang hari. Inilah alasan kungkang disebut hewan pemalas. Namun, di balik simbol malas itu, kungkang memiliki strategi evolusi paling unik. Ketika dunia berubah drastis di sekelilingnya, kungkang tetap diam di atas pohon. Bukan karena tidak bisa bergerak lebih cepat, tapi karena ia telah menemukan cara untuk tidak perlu melakukannya. Kungkang dan kukang merupakan dua jenis satwa berbeda. Keduanya memang sama-sama bergerak lamban, sama-sama berbulu, dan namanya sama-sama membingungkan dalam Bahasa Indonesia. Kukang (Slow Loris, Genus Nycticebus), merupakan primata nokturnal yang hidup di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan berstatus dilindungi. Meskipun,  kerap menjadi korban perdagangan ilegal karena parasnya yang menggemaskan. Sementara kungkang, dikutip dari situs YIARI, merupakan mamalia arboreal yang hidup di pohon. Hewan ini berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama di Brasil, Panama, dan Kosta Rika. Dalam Bahasa Inggris, kungkang dikenal dengan nama sloth, yang berarti “kemalasan”, karena durasi tidurnya 15-20 jam per hari. Kungkang termasuk Ordo Pilosa, yang berkerabat dengan trenggiling bersisik dan armadillo. Kelompok ini merupakan satu garis mamalia tertua, yang telah menghuni bumi sekitar 65,5 juta tahun. Kungkang dijuluki hewan pemalas karena sebagian besar waktunya digunakan untuk tidur. Foto: Dok. The Sloth Conservation Foundation. Penelitian kungkang Para ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap kungkang, kini memiliki petunjuk mengapa jenis ini bisa bertahan hidup dengan bergerak lambat selama puluhan juta tahun. Jawabannya ada pada DNA-nya, yang oleh para genetikawan dijuluki &#8220;gen loncat&#8221;; potongan-potongan kode genetik yang mampu berpindah tempat di dalam genom. Sebuah studi genomik terbaru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Jejak Tambang Illegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 03:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15171025/3-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=129896</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Di balik kejadian alam, kerusakan lingkungan, hingga kerugian negara ada cerita masyarakat yang seringkali tak pernah muncul. Ada kerusakan lingkungan, ekonomi dan budaya yang tak pernah dihitung dalam angka oleh pemerintah. Pembangunan ekonomi menjadi salah satu tolak ukur yang seringkali hanya ilusi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/">Dari Jejak Tambang Illegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Di balik kejadian alam, kerusakan lingkungan, hingga kerugian negara ada cerita masyarakat yang seringkali tak pernah muncul. Ada kerusakan lingkungan, ekonomi dan budaya yang tak pernah dihitung dalam angka oleh pemerintah. Pembangunan ekonomi menjadi salah satu tolak ukur yang seringkali hanya ilusi bagi masyarakat di sekitarnya. Sementara itu, masyarakat dan alam terus berupaya melakukan adaptasi. Dalam kurun waktu terakhir, terdapat berbagai dinamika yang menunjukkan persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Dari Pulau Jawa, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur, ada cerita inspiratif hingga jejak gelap yang berkaitan dengan masa depan lingkungan hidup kita. Alam yang semakin sulit diprediksi berjalan bersamaan dengan aktivitas manusia yang meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan. Dari jejak tambang emas ilegal yang menyeret kerugian negara dan pencemaran merkuri, kehidupan nelayan kepiting di mangrove bangkalan, kemandirian energi warga Desa Banasu melalui mikro hidro hingga peluang ekonomi bambu di Flores. Kisah ini akan menggambarkan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Ada yang sebagai perusak demi kepentingan sesaat, ada pula yang menjadi penjaga kelestarian alam untuk jangka panjang. Mari simak lebih lanjut kisahnya lewat artikel pilihan bulan ini dalam Mongabay Snaps! 1. Jejak panjang kerugian negara akibat tambang emas ilegal Deretan ponton yang beroperasi di sungai di kawasan Geopark Silokek sebelum hanyut. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) terus marak terjadi di Indonesia. Data PPATK menunjukkan nilai transaksi mencurigakan yang mencapai angka Rp1.000 triliun dalam dua tahun terakhir. Sayangnya, pemerintah tidak tegas dalam penanganan kasus ini.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelisik Bisnis Minyak Hati Hiu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 01:06:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan dan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/27055358/20260412_135004-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129817</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, kelautan dan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan huku]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sulla, bukan nama sebenarnya,  pamit sebentar untuk masuk ke kamar. Sesaat kemudian dia keluar dengan dua botol produk berbahan minyak hati hiu di tangan. Satu botol berisi cairan 100 ml. Satunya, kapsul 60 butir. Dia pasarkan produk itu lewat platform media sosial, seperti Facebook, dan Tiktok. Marketplace macam Shopee juga menjadi pilihan Sul untuk membuka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/">Menelisik Bisnis Minyak Hati Hiu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sulla, bukan nama sebenarnya,  pamit sebentar untuk masuk ke kamar. Sesaat kemudian dia keluar dengan dua botol produk berbahan minyak hati hiu di tangan. Satu botol berisi cairan 100 ml. Satunya, kapsul 60 butir. Dia pasarkan produk itu lewat platform media sosial, seperti Facebook, dan Tiktok. Marketplace macam Shopee juga menjadi pilihan Sul untuk membuka lapak dagangan. Untuk botol ukuran 100 ml, dia patok harga Rp112.500 per botol, harga sama untuk kapsul 60 butir. Isi 30 butir Rp58.500 dan Rp215.000 untuk isi 120 butir. Bahan baku dia beli dalam bentuk minyak hati curah dari para nelayan Tanjung Luar. Setelah itu, dia kemas dalam botol berlabel. Proses produksi kapsul Sul lakukan secara manual menggunakan mesin press  bantuan pemerintah. Bahan-bahan lain seperti cangkang kapsul dan botol kemasan dia beli secara online. Dalam sebulan, Sul menghabiskan 4-5 liter bahan baku untuk jualan. Bahan baku itu dengan mudah dia dapatkan dari nelayan penangkap hiu yang cukup banyak di Tanjung Luar. Seorang nelayan di Lombok Timur membelah bagian tubuh hiu guna diambil hatinya. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, jadi satu  titik pendaratan nelayan hiu di Lombok. Abdulgus, bukan nama sebenarnya,  sejak 1999, aktif tangkap hiu. Saban tahun, terutama kurun Oktober-April, kala musim angin timur berhembus, pria asal Tanjung Luar itu melepas tambatan perahu untuk berburu hiu. Terkadang dia melaut berdua menggunakan kapal berukuran 5 GT menyusuri perairan Lombok yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Lokasinya sekitar 20 mil dari bibir pantai. Rawai dasar (bottom longline) dengan 400 mata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Kedaulatan Pangan Para Perempuan dari Lonca</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 16:05:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/29155649/Pampa-tamimi-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129914</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari di ufuk timur saat beberapa perempuan berjalan beriringan menuju kebun. Di kiri-kanan jalan terlihat pohon kakao dan durian. Ada juga pinus di kejauhan. Pagi itu,  langit cerah. Udara segar. Para perempuan itu adalah warga Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka tergabung dalam Komunitas Tobine Mohintuhu. Tobine Mohintuhu, berasal dari Bahasa Uma, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/">Cerita Kedaulatan Pangan Para Perempuan dari Lonca</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari di ufuk timur saat beberapa perempuan berjalan beriringan menuju kebun. Di kiri-kanan jalan terlihat pohon kakao dan durian. Ada juga pinus di kejauhan. Pagi itu,  langit cerah. Udara segar. Para perempuan itu adalah warga Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka tergabung dalam Komunitas Tobine Mohintuhu. Tobine Mohintuhu, berasal dari Bahasa Uma, berarti perempuan bersatu. Komunitas ini dari anggota sampai pengurus adalah perempuan. Kebun itu juga berisi ladang jagung, posisi tertinggi dibanding lahan sekitar. Ada pondok kayu di tengah-tengah lahan yang mereka sebut pampa. “Bahasa kampung sudah itu,” kata Elna Hadajuga juga Kominas Tobine kepada Mongabay, Kamis (7/5/26). Pampa merujuk kepada kebun dengan tanaman apa saja, termasuk pohon kayu keras seperti kopi, durian, atau kakao. “Iya, pampa semua.” Tanaman kakao di pampa perempuan Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia Selain pampa komunitas, setiap keluarga biasa punya pampa sendiri-sendiri. Setiap pampa itu para perempuan yang mengelolanya. Elda bilang, pampa di sana biasa tanam jagung, padi, sayur mayur, durian, kopi, hingga kakao. “Biasanya jagung, kalau (lahan) baru buka, buka jagung dulu,” kata Elna. Warga Desa Lonca biasa buka lahan di sekitar mereka, tidak jauh dari pemukiman. Saat ke lahan, mereka biasa bekerja gotong royong atau mereka sebut mapalus. Sayur mayur seperti sawi, terung, tomat, cabai, hasil dari pampa biasa mereka konsumsi untuk keluarga, kalaupun jual, kepada tetangga dekat mereka saja. Untuk mata pencarian, mereka lebih bergantung kepada tanaman cokelat, durian, getah pinus atau madu hutan. Kalau jagung mereka jadikan pakan ternak, kadang jual.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perdagangan Ilegal Lutung Jawa Masih Terjadi, Begini Modusnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 08:27:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/29082159/REHABILITASI-LUTUNG-JAWA-DI-JLC-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129907</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengapa lutung jawa yang dilindungi undang-undang masih banyak ditemukan di kandang peliharaan? Pertanyaan ini merupakan pekerjaan besar bagi perlindungan Trachypithecus auratus. Sebab, sebagian besar penghuni pusat rehabilitasi, merupakan hasil perdagangan ilegal dan peliharaan. Di Javan Langur Center (JLC) The Aspinall Foundation Indonesia, kisah seperti ini datang hampir setiap tahun. Ada yang disita dari perdagangan satwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/">Perdagangan Ilegal Lutung Jawa Masih Terjadi, Begini Modusnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengapa lutung jawa yang dilindungi undang-undang masih banyak ditemukan di kandang peliharaan? Pertanyaan ini merupakan pekerjaan besar bagi perlindungan Trachypithecus auratus. Sebab, sebagian besar penghuni pusat rehabilitasi, merupakan hasil perdagangan ilegal dan peliharaan. Di Javan Langur Center (JLC) The Aspinall Foundation Indonesia, kisah seperti ini datang hampir setiap tahun. Ada yang disita dari perdagangan satwa liar, ada yang diserahkan sukarela pemiliknya, ada juga  yang datang dalam kondisi memprihatinkan setelah hidup jauh dari habitat alaminya. Pusat rehabilitasi tersebut telah menangani 192 individu lutung jawa. Data JLC menunjukkan, hampir 60 persen primata endemik Jawa yang direhabilitasi ini berasal dari sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Gakkum Kementerian Kehutanan, maupun kepolisian. “Sisanya, peliharaan masyarakat yang diserahkan ke lembaga konservasi,” jelas Iwan Kurniawan, Manajer JLC The Aspinall Foundation Indonesia, Rabu (24/6/26). Meski demikian, dua tahun terakhir jumlah lutung yang masuk ke JLC justru lebih banyak dari penyerahan masyarakat. Namun, menurut Iwan, bila ditelusuri lebih jauh, sebagian besar kasus penyerahan tetap bermuara pada perdagangan ilegal. “Sebagian besar tetap dari perdagangan liar.” Pola yang umum terjadi adalah masyarakat membeli dan memelihara lutung jawa sebagai hewan peliharaan. Saat keberadaannya diketahui BKSDA, si pemilik diberi pilihan untuk menjalani proses hukum atau menyerahkan lutung sukarela. Sebagian besar pemilik menyerahkan ke BKSDA, yang kemudian dititipkan ke JLC untuk direhabilitasi. Menurut Iwan, banyak masyarakat memelihara lutung sejak masih bayi karena dianggap lucu dan jinak. Namun ketika beranjak dewasa, primata tersebut mulai menunjukkan sifat alaminya sebagai satwa liar. “Selucu apa pun ketika kecil, saat besar pasti akan bermasalah.” Dampaknya tak hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratusan Bangkai Paus Ditemukan di Kedalaman 7.000 Meter Samudra Hindia, Berusia hingga 5 Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 04:44:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/29044417/c5549d57-c283-4bbd-9099-992636621cac-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129900</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belum lama ini, para ilmuwan mengumumkan penemuan kuburan paus terbesar dan terdalam yang pernah tercatat di sebuah lembah bawah laut di Samudra Hindia bagian tenggara. Ratusan bangkai dan fosil paus ditemukan membentang sepanjang sekitar 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman lebih dari 7.000 meter. Temuan ini dipublikasikan pada 10 Juni 2026 dalam jurnal Nature. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/">Ratusan Bangkai Paus Ditemukan di Kedalaman 7.000 Meter Samudra Hindia, Berusia hingga 5 Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belum lama ini, para ilmuwan mengumumkan penemuan kuburan paus terbesar dan terdalam yang pernah tercatat di sebuah lembah bawah laut di Samudra Hindia bagian tenggara. Ratusan bangkai dan fosil paus ditemukan membentang sepanjang sekitar 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman lebih dari 7.000 meter. Temuan ini dipublikasikan pada 10 Juni 2026 dalam jurnal Nature. Lokasi yang dikenal sebagai Diamantina Fracture Zone ini pertama kali disurvei pada awal 2023 menggunakan kapal selam berawak. Tim peneliti melakukan 32 penyelaman dan menemukan 476 bangkai serta fosil paus, termasuk lima individu yang baru saja mati. Meskipun wilayah yang berhasil disurvei hanya sekitar 0,065 kilometer persegi, para peneliti memperkirakan kepadatan sisa-sisa paus di lokasi itu bisa mencapai 2.000 individu per kilometer persegi, menjadikan tempat ini sebagai nekropolis cetacea terbesar yang pernah diketahui. Fosil tengkorak berbagai spesies paus berparuh yang ditemukan di Diamantina Fracture Zone. Termasuk di antaranya dua spesies yang masih hidup hingga kini, Mesoplodon bowdoini (a,b) dan Mesoplodon layardii (c,d), serta spesies baru yang baru dideskripsikan, Pterocetus diamantinae (e,f,g), bersama fosil Pterocetus benguelae berusia 5,3 juta tahun (h) dan Izikoziphius rossi (i). Skala batang: 20 cm. Foto: Xiaotong Peng et al./Nature, CC BY 4.0 Fosil tertua yang ditemukan berasal dari paus berparuh jenis Pterocetus benguelae yang hidup sekitar 5,3 juta tahun lalu, menunjukkan bahwa bangkai paus telah terakumulasi di lokasi ini sejak zaman Pliosen awal. Tim juga menemukan fosil tengkorak dari spesies baru yang dinamai Pterocetus diamantinae, yang menurut peneliti membantu melengkapi pemahaman tentang sejarah evolusi kelompok paus berparuh. Mengapa Begitu Banyak Bangkai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Ilegal  Gerogoti  Banjarbaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 04:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28193659/DJI_0565-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129889</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pertambangan ilegal dari galian C sampai batubara menggerogoti Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Kalsel menemukan enam titik aktivitas ilegal itu yang berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan luas area terbuka sekitar 99,59 hektar. Tidak pernah ada penindakan hukum. Temuan itu tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kepatuhan atas Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/">Tambang Ilegal  Gerogoti  Banjarbaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pertambangan ilegal dari galian C sampai batubara menggerogoti Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Kalsel menemukan enam titik aktivitas ilegal itu yang berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan luas area terbuka sekitar 99,59 hektar. Tidak pernah ada penindakan hukum. Temuan itu tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kepatuhan atas Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun Anggaran 2023 hingga Triwulan III Tahun 2025 pada Pemerintah  Kalimantan Selatan dan instansi terkait lainnya. Andriyanto, Kepala BPK Perwakilan Kalsel, menjelaskan, seluruh kegiatan usaha pertambangan harusnya sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi maupun kota 2023-2043. &#8220;Itu kan harus sesuai, enggak boleh saling bertentangan,&#8221; katanya kepada Mongabay. Temuan itu,  dari uji petik yang menggabungkan analisis spasial citra satelit secara time series, pemeriksaan fisik lapangan, serta konfirmasi dengan sejumlah instansi terkait sebagai bagian dari proses verifikasi data. Temuan pertama, merupakan pertambangan galian C jenis tanah urug di Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Berada pada titik koordinat -3.469682, 114.861437. Analisis spasial menunjukkan lokasi  sangat dekat dengan kawasan permukiman warga itu memiliki luas pit terbesar, sekitar 83,47 hektar. Dari pemeriksaan fisik lapangan, BPK Kalsel menemukan kegiatan di lokasi tanpa izin usaha pertambangan itu berlangsung dengan mekanisme upah angkut Rp350.000-Rp400.000 per truk. Sebagai pengganti jual beli material galian secara langsung. Meski aktivitas tidak seramai dahulu, Mongabay masih mendapati satu eksavator serta satu mobil pikap di depan satu pondok untuk berjaga. Bergeser ke arah tenggara, tiga lokasi tambang pasir tanpa izin saling berdekatan. Dua di antaranya berada pada koordinat -3.519949, 114.861308 dan -3.522363, 114.862191, dengan luas pit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Lifuleo Keluhkan Hasil Rumput Laut Turun Setelah Ada PLTU Timor</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 01:00:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/24052816/FOTO-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129648</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tumpukan rumput laut basah memenuhi pondok di pesisir Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siang itu, Oktaf Alexander Saketu bersama istri dan keluarganya duduk melingkar sambil membersihkan hasil panen. Tangan mereka bergerak perlahan memisahkan rumput laut yang masih layak jual dan yang rusak akibat terjangkit ice-ice. Sejak September 2023, PLTU Timor-1 beroperasi di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/">Petani Lifuleo Keluhkan Hasil Rumput Laut Turun Setelah Ada PLTU Timor</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tumpukan rumput laut basah memenuhi pondok di pesisir Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siang itu, Oktaf Alexander Saketu bersama istri dan keluarganya duduk melingkar sambil membersihkan hasil panen. Tangan mereka bergerak perlahan memisahkan rumput laut yang masih layak jual dan yang rusak akibat terjangkit ice-ice. Sejak September 2023, PLTU Timor-1 beroperasi di Dusun Panaf, Desa Lifuleo, Kupang, NTT. Oktaf bercerita, banyak perubahan lingkungan dan hasil tangkapan yang warga desa rasakan. Tangkapan ikan menurun dan rumput terkena ice-ice yang membuat komoditas ini memucat, berlendir, lalu patah sebelum panen. “Kemarin-kemarin rumput laut di sini bagus sekali. Sekarang susah sekali dapat hasil,” kata Oktaf, Ketua Umum Pembudidaya Rumput Laut Desa Lifuleo, Kamis (21/5/26). Dia sudah lama hidup dari hasil laut. Sebelum membudidayakan rumput laut ini, dia sempat sebagai nelayan. Memasuki tahun 2000, dia memilih jadi petani rumput laut karena lebih menjanjikan dan tak perlu modal besar. “Kalau di sini, dulu cukup pakai sampan kecil. Kadang air surut, jalan kaki juga bisa sampai lokasi rumput laut,” katanya. Hasil panen rumput laut yang dikeringkan setelah dipisahkan dari tanaman yang terserang ice-ice. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia. Perairan Lifuleo dikenal sebagai kawasan budidaya rumput laut produktif sejak 1999. Hamparan rumput membentang luas di sepanjang perairan. Nelayan masih mudah memperoleh ikan di lepas Pantai Oesina. Bagi masyarakat, budidaya rumput laut menjadi sumber penghidupan utama, setelah hasil tangkapan ikan terus menurun. Seprianus Alexander merasakan pencemaran laut terjadi perlahan terjadi sesudah operasional PLTU. Terumbu karang rusak, ikan menjauh dan rumput laut sering mati sebelum masa panen tiba.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Tunu, Kuliner Sehat Masyarakat Lahan Basah Sungai Musi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 16:03:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28155653/Ikan-tunu-salah-satu-kuliner-leluhur-masyarakat-Tempirai.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129880</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, Lahan Basah, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di lahan basah melahirkan berbagai pengetahuan lokal, termasuk teknik pengolahan masakan berbahan ikan. Di Tempirai, masyarakat mengenal ikan tunu, yakni ikan bakar yang dibungkus daun serta tanah liat. “Ini teknik masak paling lama, sudah ada sejak zaman puyang (leluhur) kami,” kata Cik Mir (84), saat mempraktikkan teknik memasak ikan tunu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/">Ikan Tunu, Kuliner Sehat Masyarakat Lahan Basah Sungai Musi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di lahan basah melahirkan berbagai pengetahuan lokal, termasuk teknik pengolahan masakan berbahan ikan. Di Tempirai, masyarakat mengenal ikan tunu, yakni ikan bakar yang dibungkus daun serta tanah liat. “Ini teknik masak paling lama, sudah ada sejak zaman puyang (leluhur) kami,” kata Cik Mir (84), saat mempraktikkan teknik memasak ikan tunu pada Festival Lahan Basah Tempirai 2026, di Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Kamis (18/6/26). Ikan yang biasa mereka gunakan berasal dari keluarga Chanidae (sejenis gabus), misalnya ruan (Channa striata), bujuk (Channa lucius), dan serandang (Channa pleurophthalmus). Sementara daun yang digunakan berasal dari pohon pisang. “Kalau tanah liat, itu bisa didapat di sekitar talang atau tepian sungai,” kata Cik Mir. Sebelum di balut tanah liat, isi perut ikan dibuang. Kemudian, bumbu seperti bawang merah, garam, cabai, serta asam kandis, dimasukkan ke perut ikan. Setelah itu, ikan dibalut daun pisang lalu dibungkus lagi dengan tanah liat. Ikan siap disantap ketika tanah liat mulai merekah atau berubah kehitaman. “Kalau sudah matang betul, biasanya kulit ikan akan terkelupas sendirinya, atau menempel langsung dengan tanah liat. Jadi, kita makan dagingnya saja,” tutur Cik Mir. Di masa lalu, ikan tunu sering menjada santapan masyarakat Tempirai saat bermalam di kebun atau ume. Ikan tunu dinilai praktis, karena tidak perlu menggunakan alat bantu masak seperti panci atau wajan. “Teknik ini paling sering dipakai saat kami berhari-hari menangkap ikan di hutan atau rawa. Cukup cari daun, tanah liat, lalu panggang di api. Tanah liat yang membungkus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hewan yang Dikira Anjing Ini Ternyata Satu Keluarga dengan Kucing, dan Lebih Cerdas dari Keduanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 09:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22003122/Hyena_51846902165-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129879</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ukurannya sebesar anjing gembala Jerman. Mukanya mirip anjing. Cara bergeraknya pun mengingatkan pada anjing. Hampir semua orang yang melihatnya untuk pertama kali akan mengira hyena adalah kerabat dekat anjing. Tapi studi genetik sudah memutuskan sebaliknya: hyena jauh lebih dekat dengan kucing. Dan dari segi kecerdasan, ia melampaui keduanya. Penelitian Dr. Sarah Benson-Amram dari University of [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/">Hewan yang Dikira Anjing Ini Ternyata Satu Keluarga dengan Kucing, dan Lebih Cerdas dari Keduanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ukurannya sebesar anjing gembala Jerman. Mukanya mirip anjing. Cara bergeraknya pun mengingatkan pada anjing. Hampir semua orang yang melihatnya untuk pertama kali akan mengira hyena adalah kerabat dekat anjing. Tapi studi genetik sudah memutuskan sebaliknya: hyena jauh lebih dekat dengan kucing. Dan dari segi kecerdasan, ia melampaui keduanya. Penelitian Dr. Sarah Benson-Amram dari University of St Andrews menyimpulkan bahwa hyena adalah salah satu hewan terpintar karena kemampuannya mengatasi masalah secara naluri sekaligus kemampuan berhitung. Hyena tutul (Crocuta crocuta), spesies terbesar dan paling umum, memiliki kecerdasan yang kerap disetarakan dengan primata. Mereka bisa memecahkan masalah sederhana, mengenali suara individu dalam kawanan, dan menghitung jumlah penyusup di wilayahnya untuk memperkirakan berapa banyak rekan yang harus dipanggil untuk mengusirnya. Kemampuan berhitung itu juga membantu mereka memutuskan apakah harus menghadapi musuh atau melarikan diri. Lalu mengapa hyena terlihat seperti anjing jika kekerabatannya lebih dekat ke kucing? Jawabannya adalah evolusi konvergen, proses di mana organisme dari garis keturunan berbeda mengembangkan morfologi yang mirip sebagai respons terhadap tekanan lingkungan yang serupa. Secara filogeni, karnivora terbagi dalam dua superfamili besar: Caniformia yang mencakup anjing, beruang, musang, dan walrus; serta Feliformia yang mencakup kucing, linsang, dan hyena. Hyena satu kelompok besar dengan kucing, bukan anjing. Bahkan anjing ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan panda dibanding dengan hyena. Pengurutan DNA mempertegas hal ini. Leluhur hyena dan leluhur kucing baru berpisah sekitar 35 juta tahun lalu. Sementara perpisahan leluhur hyena dengan leluhur anjing terjadi jauh lebih lama, sekitar 58 juta tahun lalu. Saat ini ada empat spesies hyena yang masih hidup.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ubah Paradigma Pembangunan Abai Alam di Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 05:23:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14010436/Papua-Pusaka-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129869</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Anggrek Nusantara di Hutan yang Kian Menyempit dan Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Film Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita, yang rilis belum lama ini menyita perhatian masyarakat.   Film dokumenter yang memperlihatkan bagaimana proyek strategis nasional (PSN) pangan dan energi memarjinalkan masyarakat adat di Merauke, Papua Selatan. Hutan yang menjadi ruang hidup suku-suku seperti Auyu, Muyu, Yei, dan Malind, rusak demi proyek pangan dengan rencana lebih 2,7 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/">Ubah Paradigma Pembangunan Abai Alam di Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Film Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita, yang rilis belum lama ini menyita perhatian masyarakat.   Film dokumenter yang memperlihatkan bagaimana proyek strategis nasional (PSN) pangan dan energi memarjinalkan masyarakat adat di Merauke, Papua Selatan. Hutan yang menjadi ruang hidup suku-suku seperti Auyu, Muyu, Yei, dan Malind, rusak demi proyek pangan dengan rencana lebih 2,7 juta hektar ini. “Film Pesta Babi bukan hanya soal Papua,” kata Dandhy Dwi Laksono usai merilis Film Dokumenter Pesta Babi ke kanal Youtube Jubi TV, setelah sebelumnya selama lebih dari dua bulan, publik hanya bisa menyaksikan lewat nonton bareng (nobar). Sutradara film ini bilang, perampasan lahan, kehancuran ruang hidup hingga tersingkirnya masyarakat adat Papua berdalih investasi nasional juga terjadi di banyak tempat di Indonesia. “Film ini didasari keinginan kami membantu menyuarakan apa yang kami gelisahkan. Untuk sama-sama mengkritik militerisme, eksploitasi sumber daya alam dan masalah agraria,” katanya  di Jayapura, 22 Mei lalu. Film yang diproduksi selama tiga tahun oleh kolaborasi kelompok masyarakat sipil dan media Independen ini juga menunjukkan, konflik bersenjata serta militerisme membuat ribuan masyarakat Papua harus mengungsi. Pesta Babi pun tak hanya membahas soal kondisi Papua, juga Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang bernasib tak jauh berbeda. “Papua sebuah lokus yang kami anggap mewakili Indonesia yang digabung jadi satu semua masalahnya, tentang peminggirannya, tentang eksploitasi sumber daya alamnya dan tentang kejahatan kemanusiaannya. Kami pinjam cerita dari Papua karena skalanya sangat besar dan menumpuk,” katanya.  Polemik, ada apa? Semula, film ini lancar saat pemutaran perdana di Auckland, Australia 7 Maret 2026. Begitu juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Penyelesaian Masalah Agraria Perusahaan Tambang Batubara di Kotabaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 05:00:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28031911/batubara-kalsel-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129848</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik agraria warga Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel)  dengan perusahaan tambang batubara mulai mengarah pada penyelesaian. Meskipun demikian, Kantor Wilayah (Kanwil) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kotabaru masih belum bisa menerangkan akar persoalan. Organisasi Masyarakat Sipil melihat kerentanan kejadian berulang. Dalam tulisan Mongabay sebelumnya menceritakan kasus konflik lahan itu. Pertama, kasus Yoni Gunawan, warga Desa Megasari, Kecamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/">Menanti Penyelesaian Masalah Agraria Perusahaan Tambang Batubara di Kotabaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik agraria warga Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel)  dengan perusahaan tambang batubara mulai mengarah pada penyelesaian. Meskipun demikian, Kantor Wilayah (Kanwil) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kotabaru masih belum bisa menerangkan akar persoalan. Organisasi Masyarakat Sipil melihat kerentanan kejadian berulang. Dalam tulisan Mongabay sebelumnya menceritakan kasus konflik lahan itu. Pertama, kasus Yoni Gunawan, warga Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laut Utara yang lahannya masuk izin usaha pertambangan (IUP) perusahaan tambang saat mengajukan status lahan yang dia beli jadi sertifikat hak milik (SHM). Kedua, lahan Anton Timur dan Abdul Muthalib  berstatus  SHM di Desa Selaru sejak 2015.  Pada 2021, sebagian lahan masuk konsesi tambang. Ketiga, penghapusan 717 SHM warga eks transmigran Rawa Indah, Desa Bekambit, setelah terbit IUP batubara seluas 8.139 hektar. Muhammad Fajaruddin, Kepala Seksi Penanganan dan Pengendalian Sengketa BPN Kotabaru, menyampaikan, informasi yang mereka dapatkan, sengketa Yoni Gunawan maupun Anton Timur–Abdul Muthalib sudah mengarah pada penyelesaian. Para pihak, katanya, sudah  mencapai kesepakatan terkait penggantian lahan. Kini tengah menyelesaikan proses administrasi lanjutan. “Untuk besarannya berapa, kami tidak masuk ke ranah tersebut. Tapi yang kami terima informasinya, prosesnya sedang berjalan. Kabarnya bahkan sudah penandatanganan akta perdamaian dan menuju proses akta pelepasan,&#8221; katanya, Rabu (3/6/26). Lubang batubara dan tambak ikan air payau di kawasan pesisir yang masuk di area Hak Penggunaan Lahan (HPL) warga Transmigran, Kecamatan Pulau Laut Timur, Kotabaru. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia. Soal kasus Bekambit, dia menilai persoalan itu  secara normatif bukan lagi kewenangan BPN Kotabaru, setelah Kementerian ATR/BPN menerbitkan surat keputusan pencabutan pembatalan atau pemulihan 717 SHM warga. Bersama itu, aspirasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jaringan Jamur Bawah Tanah  Sepanjang 110 Kuadriliun Km Dipetakan untuk Pertama Kalinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 01:34:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28013054/pexels-zelch-30596223-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129851</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil memetakan jaringan jamur bawah tanah secara global dan hasilnya jauh melampaui perkiraan sebelumnya: total panjang filamen jamur di seluruh permukaan Bumi mencapai lebih dari 110 kuadriliun kilometer, setara hampir satu miliar kali jarak Bumi ke Matahari. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science dengan menganalisis lebih dari 16.000 sampel tanah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/">Jaringan Jamur Bawah Tanah  Sepanjang 110 Kuadriliun Km Dipetakan untuk Pertama Kalinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil memetakan jaringan jamur bawah tanah secara global dan hasilnya jauh melampaui perkiraan sebelumnya: total panjang filamen jamur di seluruh permukaan Bumi mencapai lebih dari 110 kuadriliun kilometer, setara hampir satu miliar kali jarak Bumi ke Matahari. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science dengan menganalisis lebih dari 16.000 sampel tanah dari 300 studi ilmiah yang dilakukan di berbagai wilayah dunia. Data kepadatan filamen jamur, atau hifa, dari sampel-sampel tersebut kemudian diproses menggunakan model pembelajaran mesin untuk membangun peta distribusi global di lapisan tanah atas. Ini adalah upaya pertama yang berhasil mengintegrasikan data dari ratusan penelitian lokal menjadi satu gambaran kohesif tentang ekosistem bawah tanah di tingkat planet. Jaringan hifa jamur mikoriza arbuskular yang divisualisasikan dengan pewarnaan berdasarkan ukuran radius filamen (1,5 hingga 5,0 mikrometer). Warna kuning-oranye pada bagian tengah menunjukkan hifa berdiameter lebih besar yang berfungsi sebagai jalur utama transportasi, sementara cabang-cabang ungu yang lebih tipis di bagian tepi berperan dalam penyerapan nutrisi. Jaringan ini bekerja sebagai sistem dua arah: menyalurkan air, fosfor, dan nitrogen ke tanaman, sekaligus mengangkut karbon dari tanaman ke dalam tanah. (Foto: Corentin Bisot &#8211; VU Amsterdam, AMOLF / Justin Stewart &#8211; SPUN) Jamur yang menjadi fokus studi ini adalah jamur mikoriza arbuskular, kelompok mikroorganisme yang hidup di lapisan tanah atas dan membentuk hubungan simbiosis dengan akar tanaman. Keberadaannya tidak mencolok, tapi skala dan fungsinya jauh dari sepele. Lebih dari 70 persen spesies tanaman darat bergantung pada kemitraan dengan jamur ini untuk menyerap air, fosfor, nitrogen, dan berbagai mineral dari tanah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratifikasi ILO C-188, Bagaimana Masa Depan Industri Perikanan Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 15:19:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074308/IKAN-DI-TPI-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129843</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Harapan muncul, ketika Indonesia meratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan, pada 1 Mei 2026. Terutama, pengembangan dan peningkatan nilai jual produk perikanan dari Indonesia di pasar internasional. Alasannya, aturan yang populer dengan sebutan ILO C-188 itu, mewajibkan proses pekerjaan dilakukan dengan menerapkan banyak hal, sebut saja keselamatan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/">Ratifikasi ILO C-188, Bagaimana Masa Depan Industri Perikanan Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Harapan muncul, ketika Indonesia meratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan, pada 1 Mei 2026. Terutama, pengembangan dan peningkatan nilai jual produk perikanan dari Indonesia di pasar internasional. Alasannya, aturan yang populer dengan sebutan ILO C-188 itu, mewajibkan proses pekerjaan dilakukan dengan menerapkan banyak hal, sebut saja keselamatan dan kesejahteraan para pekerja perikanan. Ketua Umum Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Saut P Hutagalung, meyakini C-188 bisa memajukan industri perikanan nasional, karena ada sejumlah tujuan baik. Selain memperkuat perlindungan awak kapal perikanan (AKP), ada juga tata kelola industri perikanan, serta keberlanjutan sektor perikanan nasional. “Namun, implementasi matang perlu dipersiapkan agar tidak menimbulkan gangguan operasional industri perikanan Indonesia,” ungkapnya kepada Mongabay baru-baru ini. Gangguan yang dimaksud berupa munculnya risiko besar disebabkan impelementasi yang terlalu cepat, sementara kesiapan teknis kurang. Atau, kurangnya dukungan pembiayaan, sumber daya manusia (SDM), dan harmonisasi antarkementerian. Kesiapan kapal juga penting, khususnya aturan turunan pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2026 melalui koordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Ketenagakerjaan. Astuin menilai, persiapan ini memerlukan peta jalan implementasi bertahap, konsultasi publik memadai, penilaian dampak regulasi (regulatory impact assessment), serta proyek percontohan kapal yang lebih siap. Tegasnya, C-188 tak hanya mendukung perlindungan AKP dan prinsip pekerjaan yang layak saja. Implementasi juga harus bisa berjalan realistis, bertahap, dan mempertimbangkan keberlanjutan industri perikanan nasional. Tantangan C-188 ada pada aspek desain fisik kapal, fasilitas AKP, serta sistem rekrutmen dan kesiapan operasional kapal. Dampaknya, penerapan standar fasilitas, ruang akomodasi, keselamatan, dan standar kerja tidak dapat dilakukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dorong Penguatan Pengakuan Wilayah Konservasi Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 08:31:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/23085918/Dalam-kawasan-Hutan-Adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129804</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat adat maupun komunitas lokal merupakan penjaga utama alam Indonesia.   Cindy Julianty, Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), mengatakan, selama berabad-abad, masyarakat adat dan komunitas lokal telah mengembangkan sistem pengetahuan, nilai budaya, aturan sosial, dan tata kelola yang memungkinkan manusia hidup berdampingan dengan alam. Di Maluku terkenal praktik sasi. Masyarakat Dayak di Kalimantan mengenal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/">Dorong Penguatan Pengakuan Wilayah Konservasi Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat adat maupun komunitas lokal merupakan penjaga utama alam Indonesia.   Cindy Julianty, Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), mengatakan, selama berabad-abad, masyarakat adat dan komunitas lokal telah mengembangkan sistem pengetahuan, nilai budaya, aturan sosial, dan tata kelola yang memungkinkan manusia hidup berdampingan dengan alam. Di Maluku terkenal praktik sasi. Masyarakat Dayak di Kalimantan mengenal tana ulen. Di Bali dan Nusa Tenggara berkembang sistem awig-awig, di Masyarakat Kasepuhan di Jawa Barat menjaga kawasan hutan melalui konsep leuweung titipan dan banyak lagi di berbagai komunitas adat. Praktik-praktik itu memperlihatkan, bahwa, konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan spesies dan kawasan,  juga hubungan antara manusia, budaya, dan alam. &#8220;Di dalamnya terdapat pengetahuan tradisional, nilai spiritual, sistem pangan, pengobatan tradisional, serta tata kelola sosial yang diwariskan lintas generasi,&#8221; katanya saat membuka Peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories (ICCAs), Jumat (5/6/26). Dengan berbagai temuan itu, katanya, Indonesia tidak hanya layak mendapat julukan negara megabiodiversitas, tetapi juga sebagai negara dengan kekayaan biokultural (bio-cultural megabiodiversity). Dialog publik bertajuk Mengakui Konservasi Rakyat dan Memajukan Kepemimpinan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam Tata Kelola Keanekaragaman Hayati Indonesia turut melengkapi kegiatan yang berlangsung di Aula Nusantara, Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, itu. Dialog publik oleh Working Group ICCAs Indonesia (WGII), bertajuk Mengakui Konservasi Rakyat dan Memajukan Kepemimpinan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam Tata Kelola Keanekaragaman Hayati Indonesia di Aula Nusantara, Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/26). Foto: Christ Belseran/Mongabay Indonesia. Satu juta hektar Jika praktik konservasi rakyat sudah lama hadir, seberapa besar sebenarnya kontribusinya?&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tersembunyi di Lumpur dan Dahan Bakau, Ular Ini Berbisa dan Tidak Segan Memangsa Ular Lain</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 05:44:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/25110244/Shore_pit_viper_from_Singapore-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129816</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan mangrove Asia Tenggara, ada ular yang tersembunyi sempurna di dua dunia sekaligus: di dahan rendah di antara dedaunan, dan di permukaan lumpur gelap di bawahnya. Warnanya bervariasi dari hitam legam, hijau gelap, abu-abu, hingga cokelat keunguan, menyatu sempurna dengan akar bakau, lumpur, dan bayangan kontras hutan pesisir. Siang hari ia hampir tidak bergerak, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/">Tersembunyi di Lumpur dan Dahan Bakau, Ular Ini Berbisa dan Tidak Segan Memangsa Ular Lain</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan mangrove Asia Tenggara, ada ular yang tersembunyi sempurna di dua dunia sekaligus: di dahan rendah di antara dedaunan, dan di permukaan lumpur gelap di bawahnya. Warnanya bervariasi dari hitam legam, hijau gelap, abu-abu, hingga cokelat keunguan, menyatu sempurna dengan akar bakau, lumpur, dan bayangan kontras hutan pesisir. Siang hari ia hampir tidak bergerak, melingkar satu hingga dua meter dari permukaan, menunggu dengan kesabaran yang hampir tidak terlihat. Namanya ular viper bakau (Trimeresurus purpureomaculatus), atau Mangrove Viper. Dan ia lebih berbahaya dari yang penampilannya sugestikan. Ular ini termasuk kelompok pit viper dari famili Viperidae, dengan panjang maksimum sekitar 100 sentimeter. Di antara mata dan hidungnya terdapat organ lubang yang sangat sensitif terhadap panas inframerah, memungkinkannya mendeteksi bayangan panas mangsa berdarah panas dalam kegelapan total. Saat malam, ia menjadi pemburu aktif. Saat siang, kamuflasenya adalah senjata utama. Bisanya bersifat hemotoksik, merusak jaringan sel, pembuluh darah, dan mengganggu sistem pembekuan darah. Selama ini gigitan ular pohon dianggap hanya menyebabkan efek lokal yang ringan. Bukti klinis menunjukkan sebaliknya. Sebuah laporan kasus dari Singapura mendokumentasikan seorang pria berusia 40 tahun yang digigit di tangan kanan oleh ular bakau. &#8220;Gigitannya berbisa parah, dapat menyebabkan efek lokal signifikan, seperti pembengkakan luas dan nekrosis jaringan,&#8221; tulis Mong dan Tan dalam publikasi mereka di jurnal Wilderness &amp; Environmental Medicine (2016). Pasien akhirnya membaik setelah mendapat enam vial antivenom polivalen India, meski antivenom spesifik untuk ular bakau sendiri tidak tersedia secara lokal. Persebarannya luas: Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Singapura, Semenanjung Malaysia, dan Indonesia. Hutan mangrove adalah habitatnya yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Adalah Hewan Peliharaan Terpopuler di Dunia, dan Salah Satu Predator Paling Merusak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 03:40:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031813/Feral-cat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129815</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Populasi kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, tersebar di hampir setiap negara. Tidak ada hewan peliharaan yang lebih populer. Tapi para ilmuwan sudah lama menempatkan kucing dalam daftar yang sangat berbeda: salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar. Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/">Kucing Adalah Hewan Peliharaan Terpopuler di Dunia, dan Salah Satu Predator Paling Merusak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Populasi kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, tersebar di hampir setiap negara. Tidak ada hewan peliharaan yang lebih populer. Tapi para ilmuwan sudah lama menempatkan kucing dalam daftar yang sangat berbeda: salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar. Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari satu miliar mamalia setiap tahun, ditambah ratusan juta burung dan reptil. Bukan hanya dari kucing liar, tapi juga dari kucing rumahan yang dibiarkan bebas berkeliaran. Kajian U.S. Fish and Wildlife Service mengaitkan kucing dengan kepunahan sedikitnya 33 spesies. Dampak paling parah terjadi di ekosistem pulau, di mana fauna berevolusi tanpa predator seperti kucing sehingga tidak punya pertahanan alami. Numbat di Australia Barat kini tersisa kurang dari 1.000 individu, dengan predasi kucing sebagai ancaman utama. Burung kakapo di Selandia Baru bertahan berkat upaya konservasi masif tapi tetap rentan. Di Tasmania, seekor kucing yang masuk ke fasilitas penangkaran burung beo perut oranye pada 2013 membunuh beberapa individu dari spesies yang sudah sangat tertekan. Ancaman dari kucing tidak hanya soal predasi langsung. Kucing adalah inang utama parasit Toxoplasma gondii. Di Hawaii, parasit ini berkontribusi pada kematian burung nene dan anjing laut biksu Hawaii. Di Florida, wabah leukemia kucing menyerang macan kumbang Florida pada 2000-an. Di Eropa, kawin silang kucing liar Skotlandia dengan kucing rumahan mengancam kemurnian genetik spesies liar itu secara perlahan. Bahkan kehadiran kucing saja sudah cukup mengubah perilaku satwa liar. Penelitian menemukan satwa kecil jauh lebih aktif ketika kucing tidak ada, tapi bersembunyi dan mengurangi aktivitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>25 Tahun Memburu Anjing Hantu Amazon, Ilmuwan Temukan Populasinya Jauh Lebih Besar dari Perkiraan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 02:54:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/27025356/9b2eff647804c9c039733ed29be8d74d4f22c22f8a3a1f44b4f2bac091f4f07e-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129808</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di kedalaman hutan hujan Amazon, tersembunyi seekor predator yang selama puluhan tahun nyaris tidak tercatat oleh sains. Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) begitu pandai menghilang sehingga para ilmuwan menjulukinya &#8220;anjing hantu.&#8221; Kini, setelah lebih dari dua dekade penelitian, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation (2026) mulai mengungkap misteri salah satu karnivora [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/">25 Tahun Memburu Anjing Hantu Amazon, Ilmuwan Temukan Populasinya Jauh Lebih Besar dari Perkiraan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di kedalaman hutan hujan Amazon, tersembunyi seekor predator yang selama puluhan tahun nyaris tidak tercatat oleh sains. Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) begitu pandai menghilang sehingga para ilmuwan menjulukinya &#8220;anjing hantu.&#8221; Kini, setelah lebih dari dua dekade penelitian, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation (2026) mulai mengungkap misteri salah satu karnivora paling misterius di Amerika Latin tersbeut. Anjing telinga pendek adalah satu-satunya anggota genus Atelocynus, dan satu-satunya spesies canid yang benar-benar endemik di kawasan Amazon. Sebelum penelitian ini, hampir tidak ada yang diketahui tentang perilaku, kepadatan populasi, maupun preferensi habitatnya secara pasti. Bahkan distribusi geografis dan habitatnya pun belum jelas, dan ekologinya hampir sepenuhnya tidak diketahui, kata Dr. Robert Wallace dari Wildlife Conservation Society (WCS), penulis utama studi ini. Antara 2001 dan 2024, tim peneliti melakukan 34 survei intensif dengan perangkap kamera di wilayah dataran rendah Greater Madidi-Tambopata Landscape di Bolivia barat laut dan Peru tenggara, serta Llanos de Moxos Biocultural Landscape di Bolivia utara. Hasilnya: 594 foto individu terdokumentasi, lebih banyak dari yang pernah dikumpulkan sebelumnya. Langka dan sulit dijumpai, dua ekor anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) tertangkap kamera di hutan Peru. Spesies endemik Amazon ini lebih sering meninggalkan jejak ketimbang menampakkan diri. Foto: Jon Irvine/GBIF (CC BY-NC 4.0) Dari rekaman itu, peneliti mendapatkan gambaran fisik yang lebih jelas. Anjing ini berbobot sekitar 9 hingga 10 kg, bertubuh ramping dengan kepala besar, telinga bulat yang relatif kecil dibanding canid lain, kaki pendek, ekor panjang berbulu lebat, serta bulu gelap yang bervariasi dari cokelat kemerahan hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>