Di kedalaman hutan hujan Amazon, tersembunyi seekor predator yang selama puluhan tahun nyaris tidak tercatat oleh sains. Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) begitu pandai menghilang sehingga para ilmuwan menjulukinya “anjing hantu.” Kini, setelah lebih dari dua dekade penelitian, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation (2026) mulai mengungkap misteri salah satu karnivora paling misterius di Amerika Latin tersbeut.
Anjing telinga pendek adalah satu-satunya anggota genus Atelocynus, dan satu-satunya spesies canid yang benar-benar endemik di kawasan Amazon. Sebelum penelitian ini, hampir tidak ada yang diketahui tentang perilaku, kepadatan populasi, maupun preferensi habitatnya secara pasti. Bahkan distribusi geografis dan habitatnya pun belum jelas, dan ekologinya hampir sepenuhnya tidak diketahui, kata Dr. Robert Wallace dari Wildlife Conservation Society (WCS), penulis utama studi ini.
Antara 2001 dan 2024, tim peneliti melakukan 34 survei intensif dengan perangkap kamera di wilayah dataran rendah Greater Madidi-Tambopata Landscape di Bolivia barat laut dan Peru tenggara, serta Llanos de Moxos Biocultural Landscape di Bolivia utara. Hasilnya: 594 foto individu terdokumentasi, lebih banyak dari yang pernah dikumpulkan sebelumnya.

Dari rekaman itu, peneliti mendapatkan gambaran fisik yang lebih jelas. Anjing ini berbobot sekitar 9 hingga 10 kg, bertubuh ramping dengan kepala besar, telinga bulat yang relatif kecil dibanding canid lain, kaki pendek, ekor panjang berbulu lebat, serta bulu gelap yang bervariasi dari cokelat kemerahan hingga abu-abu kehitaman. Yang menarik, anjing ini memiliki jari kaki berselaput sebagian, sebuah ciri yang tidak ditemukan pada anggota keluarga anjing Amazon lainnya, meskipun ternyata spesies ini bukanlah hewan air.
Temuan soal populasi inilah yang paling mengejutkan. Para peneliti menyatakan bahwa meskipun spesies ini selama ini dianggap seperti makhluk mitos, anjing telinga pendek ternyata jauh lebih banyak dari yang mereka bayangkan. Berdasarkan data kamera, tim memperkirakan kepadatan populasinya mencapai sekitar 15 individu per 100 kilometer persegi, menempatkan anjing telinga pendek di atas jaguar dalam hal kelimpahan relatif di kawasan yang sama, meski masih di bawah oselot. Temuan ini diperkuat oleh studi terpisah di Los Amigos Biological Station, Peru, di mana lebih dari 40.000 hari jebak kamera antara 2021 dan 2024 menghasilkan 1.115 deteksi independen anjing telinga pendek, jumlah tertinggi yang pernah dilaporkan untuk spesies ini di satu lokasi.
Spesialis Hutan yang Menghindari Manusia
Salah satu koreksi penting dari penelitian ini menyangkut habitat. Meski jari berselaput sempat membuat para ilmuwan menduga spesies ini berasosiasi dengan sungai atau rawa, data lapangan menunjukkan sebaliknya. Analisis skala benua menunjukkan bahwa anjing telinga pendek adalah spesialis hutan, dengan preferensi kuat terhadap hutan terra firme atau hutan lahan tinggi yang jauh dari sungai. Justru kecintaan pada habitat lebat inilah yang menjadi alasan utama mereka begitu jarang terlihat manusia, dipadukan dengan indera pendengaran dan penciuman yang sangat tajam sehingga mereka bisa mendeteksi kehadiran manusia jauh sebelum sebaliknya terjadi.
Penelitian juga mengungkap pola aktivitas spesies ini. Mereka paling aktif antara pukul 06.00 pagi hingga siang hari, menjadikannya salah satu canid yang tergolong diurnal, dan terkonfirmasi sebagai hewan yang sangat soliter. Soal makanan, studi diet pertama yang komprehensif untuk spesies ini memberikan kejutan tersendiri. Penelitian tersebut mengidentifikasi setidaknya 34 jenis makanan berbeda dalam menu anjing telinga pendek, mulai dari artropoda, berbagai vertebrata seperti ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia, hingga buah-buahan dan biji-bijian. Dengan temuan ini, spesies yang selama ini dianggap karnivora murni harus dikategorikan ulang sebagai omnivora oportunistik.
Populasi Lebih Besar, Ancaman Tetap Nyata
Kabar soal populasi yang lebih menggembirakan dari perkiraan tidak berarti ancaman terhadap kelangsungan hidupnya mereda. Laju deforestasi dan fragmentasi hutan Amazon yang terus tinggi menjadi ancaman utama bagi keanekaragaman hayati kawasan ini, termasuk anjing telinga pendek. Spesies yang sangat bergantung pada hutan primer yang utuh ini secara alami sangat rentan terhadap hilangnya tutupan hutan. IUCN saat ini mengkategorikannya sebagai Near Threatened (Hampir Terancam).
Pesan dari dua dekade lebih penelitian ini cukup jelas: anjing hantu Amazon masih ada, populasinya lebih besar dari yang pernah diduga, namun keberadaannya sepenuhnya bergantung pada terjaganya hutan yang selama ini membuatnya tak terlihat.
**
Referensi:
R.B. Wallace et al. 2026. Unveiling the ghost: short-eared dog (Atelocynus microtis) distribution, activity patterns, habitat use, relative abundance, and occupancy in Bolivia. Neotropical Biology and Conservation 21 (1): 49-66; doi: 10.3897/neotropical.21.e183324