Ukurannya sebesar anjing gembala Jerman. Mukanya mirip anjing. Cara bergeraknya pun mengingatkan pada anjing. Hampir semua orang yang melihatnya untuk pertama kali akan mengira hyena adalah kerabat dekat anjing. Tapi studi genetik sudah memutuskan sebaliknya: hyena jauh lebih dekat dengan kucing. Dan dari segi kecerdasan, ia melampaui keduanya.
Penelitian Dr. Sarah Benson-Amram dari University of St Andrews menyimpulkan bahwa hyena adalah salah satu hewan terpintar karena kemampuannya mengatasi masalah secara naluri sekaligus kemampuan berhitung. Hyena tutul (Crocuta crocuta), spesies terbesar dan paling umum, memiliki kecerdasan yang kerap disetarakan dengan primata. Mereka bisa memecahkan masalah sederhana, mengenali suara individu dalam kawanan, dan menghitung jumlah penyusup di wilayahnya untuk memperkirakan berapa banyak rekan yang harus dipanggil untuk mengusirnya. Kemampuan berhitung itu juga membantu mereka memutuskan apakah harus menghadapi musuh atau melarikan diri.
Lalu mengapa hyena terlihat seperti anjing jika kekerabatannya lebih dekat ke kucing? Jawabannya adalah evolusi konvergen, proses di mana organisme dari garis keturunan berbeda mengembangkan morfologi yang mirip sebagai respons terhadap tekanan lingkungan yang serupa. Secara filogeni, karnivora terbagi dalam dua superfamili besar: Caniformia yang mencakup anjing, beruang, musang, dan walrus; serta Feliformia yang mencakup kucing, linsang, dan hyena. Hyena satu kelompok besar dengan kucing, bukan anjing. Bahkan anjing ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan panda dibanding dengan hyena.
Pengurutan DNA mempertegas hal ini. Leluhur hyena dan leluhur kucing baru berpisah sekitar 35 juta tahun lalu. Sementara perpisahan leluhur hyena dengan leluhur anjing terjadi jauh lebih lama, sekitar 58 juta tahun lalu.
Saat ini ada empat spesies hyena yang masih hidup. Hyena tutul adalah yang terbesar, dengan kawanan yang bisa mencapai 120 individu. Hyena belang (Hyaena hyaena) mudah dikenali dari surainya yang panjang, tersebar dari Afrika barat laut hingga Asia. Hyena cokelat (Hyaena brunnea) selain memakan bangkai juga mengonsumsi buah-buahan dan bahkan anjing laut di kawasan pesisir. Sementara serigala aard (Proteles cristata), yang paling kecil, hampir sepenuhnya memakan rayap dengan bantuan lidahnya yang panjang, berbeda dari tiga kerabatnya yang memakan daging.
Dalam budaya populer, hyena kerap digambarkan sebagai hewan pengecut dan antagonis. Di alam, perannya justru sebaliknya. Sebagai pemakan bangkai yang efisien, hyena membantu mengurangi penyebaran penyakit seperti antraks, menekan populasi lalat, dan membersihkan bangkai dari ekosistem. Rahangnya yang sangat kuat bahkan mampu meremukkan tulang, menyapu bersih sisa-sisa mangsa yang tidak bisa dimakan predator lain.
Satu hal lagi yang membuat hyena unik: betinanya memiliki pseudopenis yang secara visual menyerupai organ jantan, membuat penentuan jenis kelamin sulit tanpa pengamatan jarak dekat. Sementara jantan tidak memiliki tulang penis sebagaimana anjing dan kucing. Keistimewaan anatomis ini menjadikan hyena subjek penelitian penting dalam studi evolusi organ reproduksi mamalia.